My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
A Devil


__ADS_3

Aku merasa risih karna sinar matahari yang terus saja mengetuk kelopak mataku, memaksaku untuk membuka mata.


"Hoamm....," aku pun terpaksa membuka mataku, dan mengejapkan mataku sesekali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


Saat sudah benar-benar fokus aku terkejut melihat wajah Dimian tepat di depan wajahku, "Astaga, kau membuatku kaget!" Dimian tetap melihatku dengan wajah yang tidan bisa dibacacm, sial ini sangat dekat, dia menjadikan tangannya untuk bertumpu sehingga tidak menindihku.


"Morning sweetheart," ucap Dimian lalu wajahnya mendekat, sial aku tidak bisa mundur.


Cup.


"Morning kiss?" Ah sial pipiku panas, aku menarik selimut untuk menutupi wajahku yang memerah.


"Kau lucu jika blushing jangan ditutupi," ucap Dimian seraya menahan tanganku.


"Ahm... minggir, aku ingin ke kamar mandi," ucapku gugup seraya mendorong tubuhnya agar aku bisa berdiri.


Tapi tubuhnya terlalu berat, sehingga dia tidak bergerak sedikitpun, "Minggir Dimian, aku ingin bersih-bersih," tanganku tetap mendorong Dimian tapi tetap saja dia tidak bergerak.


"Kiss me first and i will move," apa aku harus berciuman untuk sebuah kamar mandi lagi?


"Tadikan kau sudah menciumku."


"Itu aku yang menciumu, bukan kau yang memciumku jadi beda," aku memutar bola mataku malas.


Aku pun mendekat dan menutup mataku, ah sial aku deg-degan.


Cup


Aku pun menarik wajahku tapi Dimian menahan tengkuk leherku, Dimian menciumku dengan ganas, sial aku terbuai. Dimian tidak memberiku ruang untuk bernafas, akhirnya aku memukul punggungnya.


"Aku... ingin... ber... nafas," ucapku tersenggal-senggal Dimian pun melepas ciumannya.


"Bodoh, kau ingin membuatku mati?!" Ucapku tepat di depan wajahnya, Dimian hanya terkekeh.


Aku pun mendorong Dimian kuat, lalu langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, saat aku sedang mandi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.


Tok... Tok... Tok...


"Hey! Kau sedang bertapa atau mandi huh?! Lama sekali," lama dia bilang? Bahkan aku baru saja masuk ke kamar mandi.


"Bahkan aku baru masuk Dimian!" Ucapku dengan kesal dan tetap melanjutkan aktivitasku.


"Tidak, kau lama, cepat sedikit."


"Kau berisik!" Omelku dengan kesal, aku pun memakai handukku.


"Sial! Aku lupa membawa baju ganti!" Gumamku kesal, lalu aku bagaimana? Ah sial.


"Keluarlah, atau aku dobrak pintu ini," buru-buru aku keluar, hanya dengan handuk yang melilit.


Dimian terdiam melihatku, ah sial, aku malu sekali, "Kau sengaja ingin menggodaku?" Tanyanya dengan alis terangkat.


Aku memukul lengannya cukup keras, "Hilangkan pikiranmu itu, pinjamkan aku baju."


"Kalau aku tidak mau?" Sungguh menguju kesabaran laki-laki ini.


"Aku akan keluar penthouse-mu seperti ini," ucapku santai well itu hanya ancaman, aku bisa dikatan gila nanti.


"Coba saja kalau berani," oh dia menantangku, baiklah aku akan keluar.


"Oke see you," ucapku lalu pergi dari hadapannya dan memutar knop pintu kamarnya dan membukanya.


Brak...


Pintu kembali tertutup dengan kencang, Dimian sudah berdiri tepat di hadapanku, "Kau gila?!"


"Apa? Kau sendiri yang tidak mau meminjamkanku baju!" Ucapku tidak terima, Dimian mendengus kesal.


"Kalau supir dan pengawalku melihat kau begini bagaimana?"


"Ah mungkin aku bisa menggodanya lalu aku meminjam baju mereka, pasti akan di berikan," Dimian mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Jangan berani kau seperti itu, jika kau tidak ingin di rumah ini berlumuran darah," sial! Apa dia psychopath? Ah mungkin hanya ancaman sampahnya.


"Dan aku bukan laki-laki yang hanya bisa mengancam."


"Aku tidak peduli, sekarang berikan aku baju, dan antarkan aku pulang," ucapku dengan kesal, Dimian pun mengambil beberapa kaos dan memberikannya kepadaku.


"Ini rumahmu," aku menaikan sebelah alisku.


"Ini rumahmu, bukan rumahku, lebih baik aku ganti baju," ucapku lalu masuk kedalam kamar mandi dan berganti baju. Setelah selesai, aku keluar.


"Ayo kita sarapan," ucapnya sambil menarik tanganku lembut.


"Aku kan ingin pulang, aku ingin berkerja," ucapku dengan kesal dan melipatkan tangaku di depan perutku.


"APA?! KAU BERKERJA?!"


"Ya, ada yang salah?" Tanyaku dengan santai.


"Kau tidak perlu berkerja lagi, dan sekarang rumah ini milikmu," aku membelakan mataku.


"Kau gila?! Kalau aku tidak berkerja, lalu aku makan pakai apa?" Teriaku tepat di depan wajahnya.


"Tentu saja dengan makanan yang layak, aku akan menafkahimu."


"Menafkahi? Kau bukan suamiku."


"Maka dari itu, menikahlah denganku," aku membulatkan mataku, pria ini gila.


"Tidak, aku tidak mau, kau itu hanya seorang player aku tidak ingin suatu saat di campakan begitu saja, dan aku ingin menikah satu kali seumur hidupku," ucapku penuh dengan penekanan.


"Dengar! Aku bermain wanita hanya karna kau pergi saat itu!"


"Pergi? Saat itu? Bahkan kita baru pertama kali bertemu, apapun alasanmu, aku tidak akan menikah dengan laki-laki brengsek seperti ayahku."


"Aku tidak brengsek seperti ayahmu!" Ucapnya sambil menemplengi kepalaku.


"Kau sama!"


"Sama."


"Tidak."


"Ah terserahlah, pokoknya aku ingin pulang!"


"Aku sudah menjual apartement-mu," ucapnya santai, aku tang mendengarnya langsung menginjak kakinya dengan kesal.


"APA?! Kau... kau jangan seenaknya!"


Baby you got me sick, i don't know what i did...


Bunyi ringtone di ponselku, akupun segera mengangkatnya, aku tau Dimian sempat melirik ponselku juga. Padahal disitu tertera Unknow.


"Hallo, ini Veronica?"


"Ya itu aku, kau siapa?"


"Aku Damian."


"Ah Dami, ada apa?"


"Kau kemana saja? Shelin dan aku sibuk mencarimu, kita khawatir."


"Ah maaf membuat kalian khawatir, aku baik-baik saja, nanti aku akan pulang."


"Perlu kujemput?"


"Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu."


"Aku sama sekali tidak keberatan."


"Terserah kau saja."

__ADS_1


"Yasudah share location-mu."


"Oke, see you."


"See you too."


Pip.


"Siapa tadi?" Tanya Dimian demgan nada dingin.


"Temanku," ucapku singkat, padat, jelas.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


"Apa yang di katakannya?" Kenapa dia sangat ingin tahu sih?


"Bukan urusanmu," ucapku dengan mengetikan lokasi ke Damian.


"Tentu itu urusanku, kau calon istriku!"


"Aku tidak pernah menerimanya."


"Dan aku tidak pernah menanyakan persetujuanmu," kenapa laki-laki di hadapanku menyebalkan sekali tuhan?


"Terserah, temanku akan menjemputku disini, jadi sekarang minggir," ucapku lalu melangkahkan kaki menuju pintu, tapi sialnya pintu ini tidak bisa di buka.


"Kau kira kau bisa pergi semudah itu? Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi," ucap Dimian yang sudah di belakangku, lalu mengambil ponselku dan mengetikan sesuatu.


"Kau sebenarnya siapa huh?! Aku tidak mengenalmu."


"Kau lupa padaku? Bahkan kau masih memakai kalung yang waktu dulu aku kasih," kalung? Aku memegang leherku, memang aku selalu memakai kalung ini, ini satu-satunya yang ditinggal oleh Edward.


"Bohong, ini kalung dari teman kecilku, dia baik tidak seperti dirimu," ucapku sambil melihat kalung itu.


"Terimakasih pujiannya."


Aku memutar bola mataku malas. "Teman masa kecilku namanya Ed bukan Dimian."


"Kau lupa nama panjangku?" Aku menaikan sebelah alisku lalu terkekeh.


"Ya aku lupa, karna itu tidak penting."


"Dimian Edward Althaf," ucapnnya membuatku diam, apa benar dia Ed?


"Bo-bohong."


"Well, aku sering menyebutmu Jill, right?" Aku mengangguk, dia Ed? Dia Ed ku?!


"A-Aku tidak peduli jika kau Ed atau bukan! Aku sama-sama benci keduanya!" Ucapku sedikit gemetar, ya aku memang benci dengan Ed, dia bilang akan kembali tapi apa? Hanya omong kosong.


"Apa yang salah?"


"Aku menunggu Ed, aku menunggunya kembali, tapi apa? Ed tidak pernah kembali! Bahkan kukira dia sudah mati, tapi termyata aku salah, dia mungkin sudah lupa dengan janjinya dan bermain dengan *****-nya," ucapku dengan menundukan kepala, sial aku tidak boleh menangis.


"Kau tau? Aku mencarimu, tapi hanya ada papan kalau rumah itu di jual, aku frustasi mencarimu," ucapnya sambil memegang kedua pipiku, dan menarik wajahku agar aku melihat wajahnya.


"Ka-Kau terlambat, disitu ayahku... ayahku sudah.... ah sudahlah aku tak mau membahasnya."


"Sudah apa V? Kau di apakan olehnya?" Aku hanya menggeleng, tiba-tiba bel rumah membuat kita menoleh ke arah pintu.


"Tungggu disini, biar aku yang buka," aku hanya mengangguk, Dimian keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu utama. Veronica memilih diam di kamar dan membuat pesan ke Damian untuk tidak jadi menjemputnya, karna si bastard itu tidak akan melepasnya.


"SEDANG APA KAU DISINI?!" Aku terkejut mendengar teriakan Dimian, siapa yang datang? Aku pun mengintip dari pintu kamar Dimian.


Aku melihat seorang perempuan cantik yang memandang Dimian dengan tatapan sendu, siapa dia? Kenapa Dimian sangat marah, tapi seepertinya, wajahnya tidak terlalu familiar di mataku. Ah aku ingat, dia...


TBC


Holla guys, thank's to read my story, don't forget vomment's love you.

__ADS_1


-Alena


__ADS_2