
"Ya, itu tidak mungkin!" Mendengar suara yang sangat familiar membuat Veronica menoleh mendapati Dimian dengan alat bantu agar berdiri tegap.
"Dimian? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Veronica sambil menghampiri Dimian dan membantunya.
"Menjemput CALON ISTERI-ku," ucap Dimian dengan menekankan kata 'Calon Isteri'.
"Ma-Maafkan aku Eric, mama, aku permisi dulu," ucap Veronica sopan lalu melangkah keluar dengan Dimian di sampingnya.
"Kau! Tunanganmu sedang sakit dan kau malah berduaan dengan lelaki lain!"
"Aku tidak berduaan dengannya Dimi, Maaf," cicit Veronica pela karna takut dengan Dimian yang sedang marah.
"Apa jangan-jangan kau mencintai Eric? Iya?!" Tanya Dimian dengan nada meninggi.
"Itu tidak ada hubungannya Dimi! Aku tidak mencintai Eric atau siapapun selain kamu."
"Ck... bullshit!" Ucapan Dimian membuat langkah Veronica berhenti dan otomatis Dimian pun berhenti.
"Bullshit? Katamu aku bullshit? Iya? Thinking with your brain before speak jerk!" Ucap Veronica dengan kesal ada kemarahan dimatanya.
"Apa? Aku benarkan? You a bullshit! Your words are bullshit!"
"Whats?"
"You just love my money not me! *****!" Ucapan Dimian sangat menohok hati Veronica, bagaimana bisa Dimian berbicara seperti itu?
Veronica tersenyum miring dengan mata yang berkaca-kaca, "Terimakasih telah menyadarkanku, menyadarkan jika kau sama brengseknya dengan papaku!"
"Ya! I'm a bastard like your father! And you like a ***** same like my mother!" Ucap Dimian dengan datar lalu melangkah pergi meninggalkan Veronica yang terluka.
Veronica hanya diam dan menatap kepergian Dimian. Pikiran Veronica penuh dengan pertanyaan-pertanyaan, kemana Dimiannya? Apa karna pertemuan Dimian dengan Kayla? Apa Kayla berbicara sesuatu tentangnya? Veronica mengacak-acak rambutnya frustasi dan memilih pergi ke mansion Dimian untuk mengambil barang-barangnya.
+++
Veronica sudah membereskan barang-barangnya, ya barang-barang miliknya yang ia beli pakai uangnya sendiri, pemberian Dimian sudah ia taruh seperti semula, cincin tunangan mereka ia taruh di nakas.
"Nona, nona ingin pergi kemana?"
"Aku ingin menginap dirumah temanku, aku sudah izin ke Dimian, jadi tidak usah khawatir Dimian marah," dusta Veronica sambil tersenyum manis, tentu saja dia harus berbohong kalau tidak dia tidak akan boleh keluar dari mansion terkutuk ini.
"Mau saya antar nona?" Tawar Jack sambil membungkukan badan.
"Tidak usah, jaga Dimian, bilang padanya jangan lupa makan, istirahat yang cukup, jangan memaksakan berkerja, ini surat untuknya."
"Nona sudah bilang ke tuan kalau nona menginap dirumah teman bukan? Kenapa anda menulis pesan?" Tanya Jack yang mulai curiga, Veronica mengigit bibir bawahnya gugup.
"Su-Surat itu... Surat itu agar dia tidak merindukan aku... jadi... a-aku bikin surat," alibi Veronica, Veronica berdoa semoga Jack percaya.
"Baiklah, nanti akan saya sampaikan," Veronica menghela nafas lega.
"Terimakasih Jack, aku pergi dulu."
Veronica pun melangkah pergi keluar dari mansion, ponsel Veronica tiba-tiba berdering.
Melissa's Shelter is Calling
Hai Melissa?
Kau dimana?
Aku? Di jalan, ada apa?
__ADS_1
Tak apa, tadinya aku ingin
mengajakmu pergi, tapi
sepertinya kau tidak bisa.
Ah tidak, aku bisa, jam
berapa?
Sekarang, aku sangat
merindukanmu!
Baiklah, calm down
Lisa, dimana?
Cafe biasa.
Okay aku akan sampai 5
menit lagi
Okay, see you
See you too.
Pip
Veronica pun langsung menuju Cafe biasa yang suka di datangi mereka berdua, dengan koper yang dibawanya. Tidak membutuhkan waktu lama dia sampai di Cafe, dia memilih untuk memesan terlebih dahulu.
"V?"
"Kenapa kau membawa koper? Kau tidak berniat mencuri Caffe ini kan?"
"Tentu saja tidak bodoh! Melissa boleh aku bertanya?"
"Tentu."
kau tinggal dimana?"
"Di Apartement, kenapa?"
"Tak apa," ucap Veronica dengan ragu-ragu.
"Hey, ceritakan saja masalahmu," ucap Melissa sambil menyentuh tangan Veronica lembut.
"A-Aku... bo-boleh aku tinggal denganmu? Hanya untuk beberapa hari sampai aku mendapatkan apartement-ku, kumohon," ucap Veronica dengan menunduk.
"Hey, tentu saja boleh, kau jangan sungkang padaku, we are bestfriend, right?" Ucap Melissa lalu memeluk Veronica kuat.
"Thank You Melissa."
"Kau ingin bercerita? Aku tidak akan memaksamu bercerita jika kau belum siap."
"Maaf, aku belum siap," ucap Veronica dengan mengigit bibir bawahnya.
"It's okay, aku akan menunggumu sampai siap cerita."
"You are my best, best, best friend Lisa," ucap Veronica lalu memeluk Melissa dengan lembut.
__ADS_1
"Yasudah lebih baik kita pulang dulu, nanti akan aku ajak jalan-jalan agar kau tenang," Veronica hanya mengangguk dan mengikuti langkah Melissa.
"Lisa, jika Dimian mencariku, bilang saja kalau kau tidak tau."
"Baiklah," Melissa memang tidak mau bertanya-tanya lagi, takut dirinya salah bertanya, jadi dia hanya akan mengiyakan sahabatnya ini.
"Yasudah lebih baik kau taruh barang-barangmu dulu di apartement-ku," ucap Melissa dengan senyuman hangatnya.
"Terimakasih Lisa."
"Sudah jangan berterimakasih terus, aku lelah dengarnya, ayo kita berangkat," Veronica hanya mengangguk mereka pun keluar dari Caffe menunggu Taxi.
Tak lama Taxi datang mereka langsung pergi ketempat apartment Melissa berada, tidak membutuhkan waktu lama, hanya dua puluh menit mereka sudah sampai di apartment Melissa.
"Ayo masuk aja," Veronica mengangguk lalu memasuki apartment Melissa dengan ragu-ragu.
"Ini kamarku dan yang disana kamarmu, silahkan pakai saja."
"Thank's."
"Ayo cepat beres-beres barangmu lalu kita pergi bersama keluar, agar kau tidak sedih lagi," Veronica mengangguk semangat lalu pergi kedalam kamar yang tadi sudah diberitahu Melissa.
Apartment Melissa memang cukup luas, ada 3 kamar dan 2 kamar mandi, dengan ruang tamu dan TV, cukup besar bukan?
Veronica melihat-lihat kamarnya, tidak jauh beda dengan kamar yang dulu dia pakai di mansion Dimian, sial! Dimian lagi, dia harus melupakannya.
"Lia apa sudah selesai?" Tanya Melissa di ambang pintu.
"Sudah, ayo," ucap Veronica dengan senang berusaha menutupi kesedihannya.
Tok... Tok... Tok...
"Sebentar aku buka pintu dulu," Veronica hanya mengangguk.
Melissa pun membuka pintu sedangkan Veronica sedang memakai sepatunya.
"Hi James, ada apa?" Tanya Melissa dengan senyum senang.
"Tidak ada apa-apa sweetheart, aku hanya kangen denganmu," ucap James sambil mengelus pipi Melissa membuat Veronica yang melihatnya sedikit rindu dengan Dimian.
"James! Ada Veronica disini, aku malu," peringat Melissa sambil menepuk pundak James.
"E-Eh... Maaf," cicit Veronica merasa tak enak.
"Hi V, long time no see," ucap James sambil merangkul Melissa.
"Hi James, ya long time no see," ucap Veronica dengan senyuman ragunya.
"James, hari ini aku dan Veronica akan pergi, kau ingin ikut atau tidak?"
"Tidak-tidak, aku tidak ingin menggangu waktu kalian, aku hanya ingin melihatmu saja, aku akan pulang sekarang, take care babe," ucap James sambil mengelus pucuk kepala Melissa lembut.
"Take care too," ucap Melissa dengan senyuman manis.
"V, pulang dulu ya," pamit James, Veronica hanya mengangguk.
James pun keluar dengan smirk di wajahnya dan langsung menelfon
"We got her again, dad."
+++++++++++++++++++++++++++++
__ADS_1
-To Be Continue-