
"Temukan gadisku sampai dapat, atau kalian semua kubunuh!" Ucap seorang laki-laki dengan nada dinginnya.
Orang yang di sebrang telfon hanya meringis mendengar tuannya marah.
"Ba-Baik tuan, kami akan segera menemukan nona Veronica."
"Cepat!"
Pip.
Dimian melempar telfonnya kasar! Ya laki-laki itu adalah Dimian. Dia sangat kesal karna gadisnya yang kabur begitu saja, dan bodohnya para pengawal itu mudah ditipu Veronica.
"Kau.Hanya.Milikku."
Dimian tertidur lagi di bangkar karna merasakan dadanya sesak, entah kenapa mendengar Veronica jauh dari pengawasannya membuat kekhawatirannya tidak terkondisikan.
Srettt...
"Hi sayang...." ucap seorang perempuan dengan suara melengking, Kayla.
"Apa yang kau inginkan Kayla?" Tanya Dimian dengan dingin.
"Aku? Aku tak ingin apa-apa selain dirimu," ucap Kayla dengan senyuman manis.
"Ck! Kau ingin hartaku? Ambilah, aku tak butuh!"
"Aku tak ingin hartamu sayang, aku hanya ingin kamu," elak Kayla dengan nada merajuk.
Dimian memutar bola matanya malas, "Whatever *****!"
"Ku dengar GADISMU itu pergi dari rumahmu, ckckck... TUNANGANNYA sedang sakit tetapi dia malah pergi, memang tidak berguna," ucap Kayla dengan heran, Dimian yang mendengarnya langsung menarik kerah baju Kayla.
"Jika satu kali saja kau mengatakan keburukan tentang Veronica, kau akan kubunuh!" Ucap Dimian dengan tajam.
Kayla yang melihat itu hanya ketakutan, dia tidak pernah melihat sisi Dimian yang ini, tapi Kayla tidak boleh terlihat takut, dia langsung memasang wajah smirk nya.
"Kau berani melukaiku? Akan kubuat Veronica jauh lebih terluka," ancam Kayla membuat Dimian menahan amarahnya.
"Pergi!"
"Aku akan pergi jika aku boleh menginap di mansion mu," ucap Kayla dengan senyuman smirk nya.
"Lakukanlah sesukamu," ucap Dimian dengan kesal.
"Baiklah, aku pergi dulu baby, cepat sembuh, aku menunggumu di mansion," ucap Kayla lalu mengecup dahi Dimian lalu pergi.
Dimian menghela nafasnya kesal lalu menghapus jejak kecupan Kayla. Dimian memang masih akan diam, dan menuruti kemauan Kayla.
"Sial!"
Tiba-tiba ponsel Dimian bergetar, menandakan sebuah panggilan.
Jack's Calling
"Hallo tuan, kami sudah
menemukan nona Veronica."
"Dia dimana? Apa dia
baik-baik saja?"
"Dia di Apartment nona
Shelter, tuan."
"Shelter? Melissa
Shelter?"
"Benar tuan."
"Mata-matai dia, jangan
sampai dia terluka
sedikit pun."
"Apa kami harus membawanya
__ADS_1
pulang?"
"Tidak, jangan, aku tidak
ingin Veronica terluka
karna perempuan licik itu."
"Baik tuan."
"Awasi dia dari jauh."
"Baik!"
Pip.
Dimian meremas ponselnya pelan, karna dia masih membutuhkan informasi dari Jack menenai Veronica, jika ponsel ini dia lempar juga, akan susah mendapatkan informasi, ya ponsel yang di lemparnya tadi sudah hancur tak terbentuk.
"Ckckck... let's see *****!" Gumam Dimian dengan smirk-nya.
+++
Veronica sangat bosan, karna dia sendirian di apartment Melissa, karna Melissa dan James sedang kencan, tentu saja Veronica tidak ingin menjadi orang ketiga.
"Apa tidak ada tayangan yang mena..." Ucapannya terhenti saat melihat berita yang mengejutkannya.
Kayla Dominique resmi bertunangan dengan Dimian Edward Althaf, apakah berita ini benar? Lalu bagaimana dengan perempuan yang pernah di lamar oleh Mr Althaf tempo lalu? Berikut pernyataan langsung dari Ms Dominique.
"Dimian dan aku memang bertunangan, ini cincinnya," ucap Kayla lalu mempeelihatkan cincin yang berada di jari manis Kayla.
Veronica terkejut melihatnya, itu cincin tunangannya dengan Dimian, apa laki-laki itu memberinya pada Kayla? Apa dia benar-benar dilupakan?
"Lalu bagaimana dengan perempuan yang tempo lalu di lamar oleh Mr Althaf?"
"Itu hanya sebagai latihan sebelum dia melamarku," ucap Kayla dengan senyumannya.
Karna kesal bercampur sedih, Veronica mematikan televisi dan langsung menuju kamarnya.
"He's Jerk! Bastard! Stupid! You are fucking stupid V! Kau dengan mudah percaya perkataannya?" Tanya Veronica dengan dirinya, dia langsung mengambil gunting dan mensayatnya ke lengannya.
"Veronica?" Panggil seorang perempuan yang di yakini adalah Melissa.
Veronica buru-buru meletakan gunting dan menyembunyikan lukanya.
Veronica tersenyum, "Ada apa Lisa?"
"Tidak apa-apa... hey... kau... menangis?" Tanya Melissa lalu mengusap kelopak mata Veronica.
"I'm fine Lisa," ucap Veronica dengan fake smile yang terukir.
Veronica mengamati wajah Melissa, lalu menyeringit bingung.
"Wajahmu kenapa memerah?"
"I-Itu karna suhu kamar ini panas, jadi a-aku me-merah."
"Tapi ini seperti bekas tam...."
"Sudah, lebih baik kau makan malam dan istirahat, aku yakin kau lelah oke?" Veronica hanya mengangguk tapi sungguh dia sangat penasaran dengan bekas tamparan yang berada di pipi Melissa.
+++
"Sial! Sial! Sial!" Maki Dimian dengan kesal.
"Berita sampah! Apa-apaan dia?!" Ucap Dimian saat melihat berita di televisi saat Kayla menayangkan tentang Dimian dan Kayla yang bertunangan.
"Jack! Aku sudah tidak tahan lagi! Ayo! Lakukan plan B!" Jack hanya mengangguk patuh dan langsung mengikuti Dimian dari belakang.
Dimian dan Jack langsung pergi ke mansion-nya, memang tadi Dimian sedang di Rumah Sakit, tapi dia sudah tidak peduli, dia harus menemui Kayla, harapannya adalah semoga saja Veronica tidak melihat berita sialan itu.
Tak lama dia sudah sampai di mansion-nya, dia langsung turun di ikuti Jack di belakangnya.
"Dimian? Kau sudah sembuh?" Tanya Kayla dengan senyum senang tapi ada raut wajah takut di wajah cantiknya.
"Kayla, aku ingin berbicara padamu," ucap Dimian tanpa menjawab pertanyaan Kayla.
"Apa?" Tanya Kayla masih dengan raut wajah yang sama.
"Kau ke kamarku duluan, aku ingin mengambil minum," ucap Dimian sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Kayla dengan senyuman manisnya dan langsung pergi ke kamar Dimian.
Sedangkan Dimian kedapur untuk mengambil minum dirinya dan Kayla, Dimian tersenyum miring lalu pergi keatas.
"Maaf menunggu, kau minumlah dulu," ucap Dimian lalu menyondorkan segelas teh.
"Sepertinya aku tidak ingin teh, aku ingin kopimu," ucap Kayla dengan seringainya.
"Kenapa? Bukankah kau tidak suka kopi?" Tanya Dimian dengan wajah bingung.
"Hanya ingin mencoba, kurasa kopi tidak terlalu buruk," Dimian menimang-nimang lalu kemudian mengangguk dan memberikan segelas kopinya. Mereka meminumnya dengan santai.
"Jadi? Apa yang kau ingin bicarakan?" Tanya Kayla lalu menaruh gelas kopinya.
"Apa maksudmu dengan tunangan hm?" Tanya Dimian dengan nada tajam.
"Itu benarkan? Lagipula aku akan menikah denganmu."
"In your fucking dream *****!"
"Apa?! Kau harus menikahiku! Well, setidaknya bilang ya sekarang! Dan hartamu akan untukku, karna kau akan mati bukan?" Tanya Kayla dengan sudut bibir kanan yang ditarik.
"Mati? Aku? Aku tidak mengharapkan kematianku datang dengan cepat."
"Jangan bodoh Dimian, aku tau kau mencampurkan sesuatu ke teh sialan itu, mangkannya aku meminta kopi, aku tidak sebodoh itu!" Ucap Kayla dengan wajah kemenangan dan berdiri.
"Aku mencintaimu, sangat, tapi kau ingin membunuhku dan berbalik padamu, benar-benar senjata makan tuan hahahaha—huek," tiba-tiba Kayla mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Kau bilang kau tidak bodoh? Sayang sekali Nona Dominique, menurutku kau adalah manusia paling bodoh!" Ucap Dimian dengan menyeringai, matanya sudah mengeluarkan tatapan tajam, badannya sudah di selimuti oleh aura hitamnya.
"Sialan! Apa yang kau campurkan?!" Tanya Kayla dengan kesal.
"Apa ya? Entah, aku lupa, itu tidak membuatmu langsung mati, karna aku lebih suka melihatmu sengsara terlebih dahulu," ucap Dimian tanpa ada nada penyesalan.
"Dimian, aku mencintaimu dengan tulus, aku ingin dirimu—huek..." lagi-lagi Kayla memuntahkan darah, Dimian yang melihatnya hanya menyeringai.
"Ckckck, aku tidak ingin menikah dengan seorang wanita dengan satu anak," tubuh Kayla menegang.
"Apa maksudmu?!"
"Kayla, I'm not stupid, aku tau kau mempunyai anak, seorang gadis kecil, lihatlah berita," ucap Dimian dan menunjuk kearah televisi yang menyala.
Kayla Dominique ternyata sudah memiliki anak berumur 2 tahun dari hubungan gelapnya, hal ini sangat mengejutkan karna belum sampai 1 hari berita dirinya bertunangan, tetapi sudah ada skandal baru.
"Bagaimana? Terkejut?"
"Jangan sentuh Helena—Huek!" Lagi-lagi mengeluarkan darah.
"Hell tentu saja tidak!"
Tiba-tiba Kayla terjatuh ke lantai, "Kakiku!"
"Ah ternyata mulai bereaksi ya. Lumpuh," ucap Dimian dengan menyeringai.
"Kau tau? Kau sudah bermain dengan orang yang salah," sambung Dimian dengan tatapan mata yang menusuk.
"Sial! Kau bisa lihat akibatnya nanti!" Pekik Kayla dengan wajah sakitnya.
"Well aku tau kau dan papa sialanmu itu sangat berbahaya, jadi aku tidak mungkin langsung menyerangmu bukan? Aku tidak sebodoh dirimu," ucap Dimian dengan wajah penuh kemenangan.
"Aku harus pastikan gadisku dan aku aman dari segala ancaman sampahmu," sambung Dimian dengan senyum meremehkan.
"Sialan! Seharusnya kau yang meminum campuran minuman itu! Bagaimana bisa?-huek," Kayla mengeluarkan darah lagi, membuat Dimian menyeringai.
"Ckckck kau kira aku bodoh? Aku memang sengaja terlihat mencurigakan dimatamu agar kau menyurigaiku dan menukar minuman yang seharusnya tertuju padaku."
"Sialan! ARGHHH..." badan Kayla yangbtadi bertumpu dengan kedua tangannya tiba-tiba tangannya mati rasanjuga atau bisa disebut lumpuh.
Obat yang di campurkan memang akan bereaksi seperti itu, pertama akan pusing, mengeluarkan darah, lumpuh dan mati.
"Aku bersumpah akan membalasmu Dimian Althaf..." lalu tak lama Kayla menutup matanya.
Dimian menyeringai dan menghampiri Kayla yang sudah tak bernyawa, tangannya menjulur kearah leher wanita itu untuk di pastikan jika wanita di depannya benar-benar mati.
"Sudah kuperingati bukan?" Tanya Dimian lalu matanya tak sengaja melihat cincin yang berada di jari manis wanita itu tapi Dimian hanya melihatnya tanpa berniat mengambilnya.
Dimian langsung menelfon Jack untuk membereskan semua kekacauan ini dan meminta maid membereskan.
Dimian tersenyum menang, tak sia-sia dia selalu menemani wanita itu kemanapun, wanita itu terlalu bodoh untuk ditipu, Dimian pun memilih mengganti baju dan pergi ke apartment Melissa untuk menjemput gadisnya.
__ADS_1
+++++++++++++++++++++++++++++
-To Be Continue-