
Terlihat sekumpulan orangtua sedang duduk menunggu giliran pembagian raport anaknya. Di lapangan, anak-anak berseragam merah putih asyik bermain dan berlarian.
"Vania, nanti kamu sekolah SMP dimana? kalau aku mau di SMPN 1 Serpong." ucap gadis kecil berambut kuncir dua bangga.
"Aku juga mau sekolah di SMP Negeri itu kayak kamu, Delima." Balas gadis kecil berambut panjang yang sedang memakan permen kaki.
"Wah, asyik. Kita bakalan main bareng lagi dong ya!" ucap gadis kecil bernama Delima itu senang.
"Ya, dong! Nanti kita main layangan, main hujan-hujanan, main petak umpet bareng-bareng lagi ya, Delima." Balas Vania tak kalah semangatnya.
Kedua sahabat kecil itupun saling berpelukan. Namun, kedua orangtua Vania datang dengan membawa raport bersampul merah.
"Mama, Papa, gimana nilai Raport aku? pasti bagus semua 'kan?" cecar Vania antusias.
"Ahh, iya bagus dong. Anak siapa dulu, anak Papa Gandi Sastrowiyoto!" balas laki-laki paruh baya berkacamata dan jas silver.
"Asyik! Berarti aku bisa masuk ke SMPN 1 Serpong kayak Delima 'kan?" lanjut Vania begitu riang dan semangat.
Mendadak, kedua orangtuanya Vania terdiam dengan raut sedih. Vania bingung melihat perubahan sikap kedua orangtuanya itu.
"Vania sayang, nilai kamu memang bagus. Tapi, nilai raport kamu tidak mencukupi untuk daftar ke SMP Negeri. Kita pilih sekolah lain aja ya?" tawar sang Mama yang memakai dress hitam dan blazer silver senada dengan sang Papa.
"Apa? Nggak mau! Vania mau sekolah di SMP Negeri, Vania mau main sama Delima dan teman-teman yang lain lagi! Hiks...Hiks." Rengek Vania yang dibalas pelukan hangat dari kedua orangtuanya.
Sebelum acara pembagian raport itu selesai, Vania berpamitan kepada teman-temannya di SDN Serpong 1 dengan haru biru karena tidak bisa ikut masuk ke sekolah yang sama.
"Vania..Vania jangan nangis lagi ya. Nanti Delima ikutan sedih. Kita ketemu lagi ya nanti di SMAN 1 Serpong, semangat Vania!" hibur Delima sahabat Vania selama di SD.
"Ya, Vania janji akan rajin belajar biar nanti bisa masuk ke SMAN 1 Serpong dan ketemu sama kalian lagi." ucap Vania dengan lebih ceria.
Kedua orangtua Vania mengajak Vania pulang. Mereka menuju Sedan Hitam yang terparkir di gerbang belakang sekolah. Pak Broto, supir mereka sudah bersiap di samping mobil untuk membuka pintu bagi keluarga Sastrowiyoto.
Mereka memang keluarga yang berkecukupan. Papa Vania, Gandi Sastrowiyoto adalah pemilik beberapa Homestay terkenal di Yogyakarta dan masih ada garis keturunan Keraton Jogja. Sedangkan, Mama Vania, Rasty Sastrowiyoto adalah penari profesional dan dosen Seni Tari di beberapa Universitas di Jakarta. Sejak, Vania masuk SD, mereka memilih pindah ke Jakarta untuk mengembangkan bisnis mereka.
"Vania, anak Papa yang manis jangan sedih. Kita daftar ke SMP Swasta Elite terbaik di kota ini ya! Kamu pasti akan menemukan banyak teman baru." Hibur sang Papa.
"Nggak! Nggak mau! Vania maunya sekolah di Negeri bukan di Swasta! Vania mau sama Delima dan teman-teman yang lain!" Balas Vania dengan ekspresi cemberutnya.
"Tapi, sayang. Mama sudah mengecek semua sekolah Negeri di Kota ini, tapi nilai sekolahmu tidak ada yang mencukupi. Kamu sabar dulu ya, Nak. Kita coba jalani dulu di SMP Swasta. Mama yakin, kamu tidak akan menyesal." Bujuk Sang Mama penuh kelembutan.
"Ya udah, terserah Mama dan Papa saja. Dimana pun itu, Vania akan rajin belajar biar nanti bisa masuk ke SMAN 1 Serpong dan bisa bareng Delima lagi." Putus Vani penuh tekad. Kedua orangtua Vania terlihat lega setelah mendengar keputusan anak semata wayang kesayangan mereka itu.
*****
__ADS_1
"Jadi, ini sekolah yang akan Vania jalani selama 3 tahun ke depan." Gumam Vania.
"Ya, sayang. Gimana? Bagus 'kan sekolahnya? Ini sekolah Swasta Elite peringkat 1 di kota ini, SMP Sinar Putih." Jelas Sang Papa yang terlihat puas dan bangga.
"Masih bagus sekolahku di SDN 1 Serpong." jawab Vania jujur yang membuat Sang Papa sedikit kecewa.
Mama Vania hanya tertawa kecil melihat perdebatan di antara Papa dan anak itu.
Bagi anak-anak lain, mungkin sekolah ini adalah sekolah impian. Gedungnya berlantai 3, ada sebuah lapangan basket yang sangat luas. Ada kantin yang bersih dan besar di dekat gerbang sekolah yang tinggi dan megah. Di parkiran sekolah, berderet beragam mobil tipe terbaru. Hanya ada beberapa motor saja yang terparkir di sana menandakan betapa Elitnya sekolah itu seperti ucapan Sang Papa.
Tapi, tidak bagi, Vania Sastrowiyoto. Dia lebih senang dan nyaman melihat pemandangan aneka sepeda warna warni di depan sekolah. Anak-anak yang bermain riang gembira di lapangan tanah dengan banyak genangan air hujan. Bagi Vania, itulah keseruan sebenarnya.
Tapi, Vania sudah bertekad untuk menjalani sekolah dengan tenang dan hanya fokus untuk belajar serta mengumpulkan sebanyak mungkin nilai yang dapat membawanya ke SMAN 1 Serpong seperti impiannya.
Setelah berpamitan dengan Vania, kedua orangtuanya pergi bekerja diantar oleh Pak Broto. Saat jam pulang sekolah, Pak Broto akan menjemput Vania untuk pulang.
Vania bergegas masuk ke kelas, tujuannya hanya 1. Dia harus mendapatkan kursi terdepan agar membuatnya fokus belajar dan mendapat nilai tertinggi. Di barisan depan kelas A, hampir semua kursi sudah penuh. Hanya tinggal 1 kursi lagi di samping seorang gadis berambut ikal panjang.
"Maaf, boleh aku duduk di sini?" tanya Vania dengan senyum terbaiknya.
Gadis berambut ikal itu hanya mengamati Vania dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan dingin sampai tatapannya berhenti di tas punggung yang dibawa Vania.
"Itu! Itu 'kan tas Export merk paling baru? Wah keren!" ucap gadis itu tiba-tiba dengan ekspresi antusias yang membuat Vania bingung.
"I-iya?" balas Vania bingung mendengar perkataan gadis itu. Namun, dia tidak tentu tidak melepaskan kesempatan untuk duduk di kursi terdepan itu.
"Oh iya, nama gue, Christa Rahadian, anak semata wayang Rahadian Hertian, pemilik Restoran Ayam terpopuler di kota ini." ucap Christa dengan penuh kebanggaan. Dia menunggu balasan perkenalan Vania.
"Ahh iya, nama aku, Vania Sastrowiyoto, salam kenal, Christa." balas Vania ceria.
"Apa? Ayah kamu yang sedang membangun Hotel Tentram di kota ini itu?! Keren. Mohon bantuannya ya 1 tahun ke depan, Vania." ucap Christa dengan mata berbinar.
"Ada apa sih dengan anak ini? aku kangen kamu, Delima." batin Vania.
*****
Bel sekolah berbunyi, seorang lelaki paruh baya berkacamata masuk ke kelas dengan membawa sebuah buku absen panjang.
"Selamat pagi, anak-anak. Perkenalkan, nama saya adalah Angga Hanandi, wali kelas 7A setahun ke depan. Untuk hari ini, kita hanya akan memilih perangkat kelas dari mulai Ketua sampai Bendahara. Siapa yang bersedia menawarkan diri? jika tidak ada, saya akan memilih perangkat kelas secara acak." jelas Pak Angga yang sudah membuka buku absen.
"Wah, mungkin jika aku menawarkan diri sebagai Ketua Kelas, aku bisa dapat nilai tambah. Oke, aku akan menawarkan diri." Tekad Vania dalam hati kecilnya.
"Pertama-tama, siapa yang bersedia menjadi Ketua Kelas 7A?" tawar Pak Angga serius.
__ADS_1
Vania sudah mantap berdiri dan hendak menawarkan diri. Namun, mendadak beberapa anak yang duduk di belakang mengajukan nama seseorang.
"Pak Angga, Nurzaki saja Pak yang jadi Ketua Kelas!" Teriak anak lelaki berambut berantakan yang duduk di barisan kursi belakang. Beberapa anak di barisan yang sama juga mengusulkan nama yang sama.
Pak Angga terlihat mengecek daftar nama di buku absensi sebelum melanjutkan pemilihan ketuanya.
"Jadi, siapa yang bernama Nurzaki Suganda?" tanya Pak Angga sambil mengamati sekeliling kelas untuk mencari siswa yang dimaksud.
"Sa-saya Pak." balas seorang siswa yang berdiri dengan ragu-ragu sambil menggerutu kepada teman-teman yang mengusulkannya.
Vania yang kesal karena merasa tersaingi pun mengamati siapa anak yang berani melawannya itu. Dia melihat seorang siswa lelaki berkacamata. Rambutnya agak berantakan dengan tubuh yang sangat tinggi dan kulit kecokelatan.
"Huh! Jadi dia sainganku." Gerutu Vania kesal.
"Ya sudah, sesuai permintaan kalian, Ketua Kelas 7A adalah Nurzaki Suganda selama 1 tahun ke depan." Putus Pak Angga dan mengalihkan pandangannya kepada Vania yang masih berdiri.
"Vania, Lo ngapain? Duduk sini." Bisik Christa.
"Lalu, kamu kenapa berdiri?" tanya Pak Angga.
"Saya mau menawarkan diri sebagai Ketua Kelas, Pak." Jawab Vania percaya diri.
"Sayang sekali, kamu terlambat. Jadi, kamu ambil posisi saja sebagai Wakil Ketua Kelas 7A," putus Pak Angga dan melanjutkan pemilihan perangkat kelas.
"Baik, Pak," balas Vania dengan raut kecewa.
"Oh iya, nama kamu siapa?" tanya Pak Angga.
"Nama saya, Vania Sastrowiyoto, Pak," balas Vania ramah.
"Oke, berarti, Wakil Ketua Kelas 7A adalah Vania Sastrowiyoto. Ingat! Zaki, Vania, bekerjasama lah dengan baik setahun ke depan," pesan Pak Angga yang melanjutkan pemilihan Sekretaris dan Bendahara kelas secara acak karena tidak ada siswa lagi yang menawarkan diri.
Vania menatap Zaki dengan kesal karena sudah merebut posisi impiannya di kelas 7. Ternyata, Zaki balas menatapnya dengan ekspresi hangat.
"Vania, mohon bantuannya ya 1 tahun ke depan." Ucap Zaki dengan senyum tulus.
"Huh!" balas Vania dan langsung membuang mukanya. Vania kembali duduk dengan ekspresi kesal dan tidak puas.
Zaki terlihat kebingungan melihat balasan sikap Vania kepadanya yang begitu dingin dan tidak ramah itu.
"Ihh, kesal hanya jadi Wakil Ketua Kelas. Semua gara-gara anak bernama Zaki itu." Batin Vania.
Ya begitulah, awal perkenalan kedua anak berbeda sifat, latar belakang dan tujuan itu.
__ADS_1