
Minggu pagi, Vania sudah berdiri di depan pintu gerbang sekolah yang terkunci. Ia menunggu kedatangan Zaki untuk mengerjakan tugas bahasa Indonesia dari Bu Ida.
"Maaf, ya, gue baru datang. Lo sudah dari tadi, Vania?" tanya Zaki dengan napas ngos-ngosan.
"Enggak kok. Gue juga baru datang. Ya, udah, ayo kita naik mobil," ajak Vania semangat.
"Hah? Ngapain naik mobil? Ultra Disc itu tempatnya enggak jauh kok dari sekolah," tandas Zaki dengan napas mulai beraturan.
"Terus kita ke sana naik apa?" tanya Vania.
"Kita jalan aja," putus Zaki tersenyum polos. Vania hanya bisa pasrah mengikuti keputusan rekan sekelompok-nya itu.
Zaki dan Vania berjalan menyebrangi jalan raya di depan sekolah menuju ke arah seberang. Nampak ada beberapa toko kecil yang berjejer di sekitar SMP Putera Utama.
Setelah berjalan sepuluh menit, mereka akhirnya sampai di sebuah toko kecil dengan kaca transparan dan didominasi dinding berwarna biru. Ada banyak rak berjejer dengan aneka koleksi VCD terpajang.
"Ayo, cepat kita masuk!" teriak Vania tak sabar.
"Hahaha, kayaknya ada yang senang banget sama tempat ini," cibir Zaki disertai tawa usil.
"Selamat datang di Ultra Disc!" Sapa cowok berseragam biru di depan kasir.
Vania segera mengelilingi tiap sudut Ultra Disc dan mengamati VCD apa saja yang terpajang di tiap rak. Ia tampak begitu ceria dan antusias.
"Aduh, aku pusing banget mau ambil film yang mana untuk tugas kita. Semua VCD mempunyai sinopsis yang menarik," keluh Vania bingung.
"Ya, udah. Kalau begitu, bagaimana kalau kita menonton film ini aja untuk tugas bahasa Indonesia?" tanya Zaki seraya menunjukkan VCD bersampul boneka kepala batok kelapa.
"Hah? Jelangkung? Film apa ini?" tanya Vania.
"Film horor! Sinopsisnya, sih, tentang sekumpulan pemuda yang bermain jelangkung untuk memanggil arwah dan berakhir dengan teror dari para hantu," papar Zaki antusias.
"Hah? Gila! Enggak deh, seram banget. Enggak mau, aku takut," ungkap Vania dengan wajah pucat pasi mendengar isi film itu dari Zaki.
"Ah, payah! Padahal, gue pikir pasti akan seru jika kita mengulas unsur intrinsik film ini," ujar Zaki dengan raut wajah kecewa.
"Enggak! Pokoknya aku enggak akan mau mengulas film ini!" tolak Vania tegas.
"CK! Terus kita mau mengulas film apa? Film tentang perjuangan siswa berprestasi?" ucap Zaki setengah bercanda.
__ADS_1
"Wah! Ide bagus itu! Kamu tahu aja film yang aku suka," balas Vania ceria.
"CK! Emang dasar Kutu Buku!" cibir Zaki kesal.
Saat tengah berdebat tentang film yang akan dipilih untuk tugas Bahasa Indonesia. Perhatian Vania mendadak teralihkan oleh sebuah VCD bersampul cewek yang bersandar di punggung seorang pria dengan wajah sendu.
"Zaki, bagaimana kalau kita mengulas film ini saja?" tanya Vania penuh harap seraya menunjukkan VCD itu di depan Zaki.
"Hah? Cinta Pertama?" balas Zaki bingung.
"Ya, dari sampulnya, film berjudul 'Cinta Pertama' ini akan menarik diulas," tandas Vania.
"Lo enggak lagi sakit, Vania? Sejak kapan lo tertarik dengan hal-hal seperti percintaan?" cecar Zaki dengan tatapan tak percaya.
"Ehm, sejak aku melihat betapa bahagianya Dewa saat menceritakan cintanya diterima oleh Dewi," balas Vania jujur dengan pipi merona.
"Hah? bagaimana bisa?" tanya Zaki bingung.
"Ya, sejak itu, aku penasaran aja, apa benar cinta itu bisa membuat seseorang bisa jadi sebahagia itu," ungkap Vania.
"Hahaha, Vania..Vania. Lo itu sebenarnya terlalu polos apa emang bodoh sih?" cibir Zaki.
"Oke, kita pilih film ini aja untuk tugas Bahasa Indonesia. Biar lo ada bayangan seperti apa rasanya jatuh cinta. Lalu, lo juga bisa menemukan jawaban soal sikap Dewa," putus Zaki bijak. Ia juga terlihat mulai antusias.
Mereka segera ke meja kasir dan menyerahkan biaya sewa VCD untuk 2 hari. Setelah selesai, mereka segera keluar dari Ultra Disc.
"Oke, sekarang kita sudah punya filmnya. Lantas, di mana kita akan menonton film ini?" tanya Vania dengan wajah puas.
"Bagaimana jika kita menonton film ini di warnet saja? Gue dapat info dari anak-anak ada warnet baru yang buka di dekat sini," ujar Zaki.
"Baiklah, kita coba ke sana. Apa kita akan berjalan kaki lagi ke warnet itu?" tebak Vania.
"Pintar! Anggap saja ini Minggu sehat, jadi kita sekalian olahraga," balas Zaki semangat.
"Sudah kuduga! Aku berharap tugas ini cepat selesai. Aku tidak mau lebih lama sama kamu dan dibuat berjalan kaki terus," gerutu Vania. Zaki hanya menanggapi Vania dengan tawa.
Vania dan Zaki sudah berjalan selama sepuluh menit, mereka akhirnya tiba di sebuah toko kecil bertingkat. Di atas pintu depan warnet' tertulis 'Gaul Net'.
"Hah? Gaul net? Nama yang aneh!" gumam Vania. Zaki menanggapi Vania dengan tawa kecil. "Itu karena kabarnya, anak-anak yang mampir ke sini dicap anak gaul," ungkap Zaki.
__ADS_1
"Haha, boleh juga. Berarti, aku sudah naik tingkat dari anak cupu menjadi anak gaul," ujar Vania dengan ekspresi bangga yang semakin terlihat lucu di mata Zaki.
Mereka segera masuk ke dalam warnet dan mendapat bilik nomor 8. Bilik mereka cukup nyaman untuk dua orang. Alas duduknya juga bersih dan cukup empuk.
"Oke, kita mulai putar film-nya!" ucap Vania begitu antusias dan langsung memilih tombol putar yang tertera di monitor.
Film dimulai dengan scene sepasang kekasih yang mengobrol di balkon setelah acara pertunangan. Keesokan harinya, Alia, ditemukan tak sadarkan diri dengan hidung berdarah seraya menggenggam erat sebuah buku diary.
Ia dibawa ke rumah sakit dan koma. Selama koma, sang tunangan Pria, membaca kisah Alia yang tertulis di buku diary. Dimulailah, flashback kisah cinta Alia bersama cinta pertamanya bernama Sunny dahulu.
*****
Selama 1,5 jam Zaki dan Vania menonton film itu dengan penuh konsentrasi dan penghayatan. Saking menikmatinya, mereka sampai tidak mencatat hal-hal penting untuk tugas Bahasa Indonesia mereka.
"Hiks..Hiks..Sumpah! Film ini sedih banget," ungkap Vania seraya menangis tersedu.
"Sst! Filmnya, kan, sudah selesai. Lo berhenti nangis dong! Gue enggak mau sampai digrebek penjaga warnet karena disangka ngapa-ngapain Lo," tutur Zaki ketakutan.
"Iya, gue juga lagi berusaha menghentikan air mata gue tapi belum bisa," gerutu Vania.
Zaki hanya bisa menunggu Vania menyelesaikan tangisannya seraya berdoa semoga tidak ada yang mencurigainya berbuat hal yang aneh-aneh.
"Oke, aku sudah bisa mengontrol perasaanku lagi sekarang," ungkap Vania dengan mata merah akibat menangis.
"Syukurlah enggak ada yang curiga sama gue," ucap Zaki dengan ekspresi lega.
"Vania, jadi bagaimana hasilnya? lo masih penasaran dengan yang namanya Cinta?" ujar Zaki penuh rasa penasaran.
"Ya, berkat film ini, rasa penasaran gue lumayan terobati lah," balas Vania cukup puas.
"Kalau begitu, gue mau tanya. Apa lo sudah punya bayangan tentang bagaimana rasanya jatuh cinta?" cecar Zaki begitu antusias.
"Ya, kurang lebih. Menurut yang aku lihat dari film ini, jatuh cinta itu bisa membuat seseorang menjadi orang bodoh," pungkas Vania cuek.
"Hahahaha, 100 buat lo!" puji Zaki senang.
"Ya, bagaimana tidak. Ketika seseorang jatuh cinta, dia sudah merasa begitu bahagia saat melihat pujaannya dari kejauhan. Dia juga bisa melakukan apapun demi kebahagiaan pujaannya walaupun itu membuat dirinya terlihat bodoh di mata orang lain," imbuh Vania.
"Benar sekali. Lantas, dari film ini, menurut lo, apakah benar jika cinta hanya akan menghadirkan kebahagiaan buat seseorang? Ya, seperti yang sedang Dewa rasakan saat ini" tanya Zaki kembali serius.
__ADS_1