
Waktu berjalan begitu cepat. Berkat hasil pertandingan basket yang dimenangkan oleh Duo Zaki Dewa, hidup Vania menjadi lebih tenang tanpa ada gangguan Ken 1 tahun lamanya. Hari-hari dilewati Vania dengan belajar dan belajar demi menjadi peringkat 1.
"Pagi, Vania. Gimana Lo udah siap buat UAS pertama hari ini?" sapa Zaki penuh semangat.
"Pagi juga, Zaki. Pastinya dong! Aku sudah belajar dengan keras di sekolah dan di rumah. Aku yakin bisa mendapat nilai UAS yang memuaskan!" Yakin Vania percaya diri.
"Wah, gue suka kepercayaan diri Lo itu. Semangat ya!" ujar Zaki dengan senyum tulus.
"Ya, kamu juga semangat ya!" balas Vania.
Semenjak peristiwa pertandingan basket itu, Vania dan Zaki jadi lebih dekat. Terkadang, mereka saling bertukar pikiran soal materi pelajaran. Terkadang, mereka juga saling berdebat dalam menjawab suatu soal.
Namun, walaupun sering berselisih pendapat, mereka bisa menjalankan tugas sebagai Ketua Kelas dan Wakil Ketua Kelas dengan baik. Tibalah, saat Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang menentukan kenaikan kelas 8.
Ujian jam pertama hari ini adalah ujian IPA yang diawasi oleh Bu Meisya yang terkenal killer. Mayoritas anak kelas 7A begitu was was dengan pengawasan langsung oleh sang guru killer. Namun, tidak bagi Vania yang menyukai pelajaran IPA dan sudah belajar begitu jelas menghafal tiap materi yang mungkin keluar.
Bel mulai berbunyi pertanda ujian pertama akan segera dimulai. Tak lama, Bu Meisya terlihat berjalan memasuki kelas 7A. Namun, ada yang berbeda dengan penampilannya hari ini. Bu Meisya datang dengan wajah yang pucat pasi, hidungnya memerah dan mengeluarkan lendir. Sesekali, Bu Meisya bersin dan mengelap hidungnya dengan tisu.
"Pagi ini, Ujian Akhir Sekolah akan dimulai, ujian yang pertama ini adalah ujian IPA. Saya sendiri yang mengawasi kelas ini," ujar Bu Meisya setegas mungkin.
Awalnya, anak-anak memang merasa kesulitan mengerjakan ujian pertama karena tatapan Bu Meisya yang mengawasi tiap sudut kelas sehingga tidak ada kemungkinan untuk berbuat curang. Hanya Vania yang nampak penuh konsentrasi mengerjakan tiap butir soal dan sama sekali tidak terganggu dengan pengawasan sang Guru Killer.
Setelah 40 menit berlalu, Bu Meisya nampak mulai gelisah dan tidak nyaman. Intensitas bersinnya semakin tinggi, wajahnya juga semakin memucat. Agaknya, Dewi Fortuna sedang memihak anak-anak kelas 7E di sisa-sisa menit terakhir waktu ujian.
"Anak-anak, ibu harus pergi sebentar ke UKS untuk meminta obat. Ingat! Kalian kerjakan soal dengan kemampuan sendiri, jangan pernah menyontek!" Tegas Bu Meisya sebelum berjalan keluar kelas terburu-buru.
Tak lama berselang, kelas yang sebelumnya sesepi kuburan mendadak seramai pasar malam. Beberapa anak mulai melancarkan aksinya untuk saling bertukar jawaban.
Mulai terdapat lemparan-lemparan kertas yang lalu lalang di kelas. Mereka mulai saling bekerjasama menyelesaikan soal ujian.
"Woi, Zaki! Jawaban Pilihan Ganda no 1-10 dong!" Teriak Dewa setelah melemparkan sebuah kertas putih ke depan. Selama Ujian, tempat duduk memang diacak dan murid-murid duduk sendiri. Kebetulan, Zaki mendapat meja di sebelah Vania.
"Oke,Sob! Jawabannya udah gue tulis di kertas ini," balas Zaki seraya melemparkan kembali kertas yang diberikan oleh Dewa.
" Zaki, kamu ngapain sih kasih dia contekan? Nanti dia keenakan dan nggak mau belajar," tegur Vania sambil tetap mengerjakan soal.
__ADS_1
"Ya, nggak apa-apa lah. Toh, kita harus saling membantu apalagi sama sahabat sendiri. Mungkin, suatu saat, nanti gantian gue yang butuh bantuan dia," balas Zaki cuek.
"Ah, terserah kamu aja deh. Apapun alasannya, menyontek itu tidak baik. Nilai yang didapat dengan usaha sendiri itu jauh memuaskan," nasehat Vania.
"Iya, iya gue tahu kok," balas Zaki tak mau berdebat lebih jauh saat sedang ujian.
"Sob! Minta jawaban essai nomor 25-30 dong!" Teriak Dewa kembali seraya melemparkan sebuah kertas ke arah Zaki. Sayangnya, kali ini, lemparannya kurang tepat. Kertas itu malah mengenai kepala Vania.
"Aduh, sakit! Apaan nih?" gerutu Vania kesal dan mengambil kertas yang terpental ke mejanya setelah mengenai kepala.
"Oi, Vania! Cepat lempar kertas itu ke meja Zaki! Ini menyangkut hidup dan mati gue!" Perintah Dewa sok berkuasa.
"Ihh,kamu ganggu aku aja deh! Tinggal sedikit lagi selesai nih!" protes Vania.
"Udah deh! Nggak usah bawel, cepat kasih itu kertas ke si Zaki!" Perintah Dewa kembali.
Vania yang tidak mau konsentrasinya terganggu dengan teriakan Dewa akhirnya melemparkan kertas itu ke meja Zaki yang terletak di sebelahnya. Sayangnya, saat sedang melemparkan kertas itu, Bu Meisya mendadak memasuki kelas kembali. Alhasil, Bu Meisya salah paham dengan tingkah Vania.
"Vania! Apa-apaan ini! Kamu menyontek ya!" Tuduh Bu Meisya seraya merebut kertas yang sudah mendarat di meja Zaki.
"Apakah benar yang dibilang Vania, Dewa?" tanya Bu Meisya dengan tatapan tajamnya.
"Bu-bukan Bu! I-itu bukan kertas saya! Kalau Ibu nggak percaya, ibu tanya aja sama Zaki," saran Dewa. Wajah Dewa mulai memucat.
"Zaki! Benarkah kertas ini bukan milik Dewa?" tanya Bu Meisya untuk mencari tahu pelaku.
"Zaki, please jangan buat aku kecewa. Aku tahu kamu itu anak yang jujur," batin Vania berdebar.
"Be-benar, Bu," jawab Zaki. Wajahnya tertunduk karena perasaan bersalah. Tapi, bagi Zaki, persahabatan adalah di atas segalanya.
DEG
"Vania, sudah jelas kamu yang salah! Ini adalah kertas milik kamu, tapi beraninya kamu menuduh orang lain yang tak bersalah," cecar Bu Meisya. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
"Tapi, Bu, sungguh, itu bukan kertas saya," jawab Vania. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca karena dituduh menyontek.
__ADS_1
"Sudah, ibu tidak mau dengar lagi! Ibu kecewa dengan kamu, Vania. Kamu harus dihukum," putus Bu Meisya setegas mungkin.
Vania hanya bisa terdiam mendapat tuduhan ini. Dalam hatinya memaki-maki Zaki yang tega menuduhnya seperti ini demi melindungi Dewa.
"Vania, kamu harus disetrap! Berdiri di depan kelas 10 menit! Jika sudah 10 menit, kamu boleh mengerjakan kembali ujian-mu di sisa waktu yang ada," tegas Bu Meisya.
"Baik, Bu," jawab Vania yang berjalan tertatih menuju depan kelas untuk menjalani hukuman yang tidak seharusnya dia terima.
Setelah 10 menit berlalu, Vania segera kembali ke tempat duduknya untuk menyelesaikan soal yang tersisa. Rasa kecewanya ditumpahkan dalam jawaban-jawaban soal IPA yang sudah dihafalkan selama ini.
"Aku cukup tahu betapa jahatnya kamu, Zaki! Aku akan buktikan, aku mampu mengalahkan kamu!" Putus Vania dalam hati.
Bel berbunyi, tandanya ujian pertama sudah selesai. Vania berhasil mengerjakan sisa soal yang tersisa tepat waktu. Setelah kelas sepi, Vania berencana keluar untuk membeli es demi menenangkan emosinya akibat insiden itu.
"Vania, tunggu gue!" Teriak Zaki yang segera mengejarnya sebelum keluar kelas.
"Apa?! Kamu mau apa! Belum cukup bikin aku dihukum atas tuduhan mencontek!" Bentak Vania meletup-letup.
"Gue mau minta maaf! Gue juga nggak nyangka kalau Lo bakal dihukum kaya gitu. Gue kira cuma akan ditegur aja," kilah Zaki.
"Ditegur aja kamu bilang? Kalaupun ditegur, tetap saja, harga diriku sudah tercoreng di depan Bu Meisya! Seumur hidup, aku belum pernah dipermalukan kayak gini!" balasnya.
"Gue benar-benar minta maaf, Vania," ucap Zaki selembut mungkin. Terlihat raut wajah yang penuh rasa bersalah atas tindakannya.
"Minta maaf kamu bilang? Sudahlah! Mulai sekarang, jangan sok akrab lagi sama aku! Kita rival sejati mulai detik ini. Aku buktikan akan jadi nomor 1 dan mengalahkan kamu!" Putus Vania dan langsung berlalu meninggalkan Zaki sendirian. Kepalanya tertunduk lesu.
Sejak hari itu, Vania membuktikan kata-katanya. Dia berinteraksi dengan Zaki sebatas tugas sebagai Wakil Ketua Kelas itupun dengan sikap sedingin es. Vania juga semakin rajin belajar baik di sekolah maupun di rumah dengan guru lesnya demi mendapatkan nilai UAS terbaik.
Puncaknya, hari ini, pembagian raport kelas 7A dilaksanakan. Vania berhasil mewujudkan tekadnya dan menjadi nomor 1 di kelas 7A. Papa dan Mama Vania begitu bangga terhadap pencapaian sang Putri Semata Wayang. Sedangkan, Zaki hanya berhasil mendapatkan peringkat ke 10 di kelas. Memang tidak buruk, tetapi bukan hasil yang cukup memuaskan bagi seorang murid beasiswa.
"Zaki! Kamu lihat aku berhasil mendapat peringkat 1 di kelas! Aku akhirnya berhasil mengalahkan kamu!" pamer Vania bangga.
"Ya, Lo berhasil. Selamat ya!" balas Zaki penuh ketulusan tanpa ada ekspresi iri.
"CK! Apapun itu! Gue harap setelah ini kita nggak ketemu lagi, My Rival!" ucap Vania sebelum menyusul orangtuanya yang sudah terlebih dahulu ke mobil.
__ADS_1
"Hmm, sampai akhir pun cuma Lo sendiri yang anggap gue sebagai rival. Gue nggak pernah sekalipun menganggap Lo sebagai rival gue, Vania," gumam Zaki dengan ekspresi kecewa.