
Vania berjalan dengan penuh semangat menuju ruang kelas 8A. Ia ingin segera menyelesaikan ujian tengah semester 1 hari terakhir ini. Sesampainya di kelas, Zaki sudah membaca buku kesenian dengan serius.
"Wah, tumben banget kamu pagi-pagi sudah belajar seserius ini? Biasanya juga santai-santai aja," sindir Vania.
"Iya, dong. Hari ini, kan, ujian Seni Musik, mata pelajaran kesukaan gue. Jadi, gue harus mendapat nilai sempurna," ucap Zaki antusias.
"Hei, ralat. Bukan hanya Seni Musik, tetapi ada juga Seni rupa di ujian kesenian hari ini," ungkap Vania dengan wajah serius.
"Ya, kalau soal Seni Rupa, sih, gue menghitung kancing aja deh, hahaha," kekeh Zaki bercanda.
"Huh! Ada-ada aja kamu. Masa menggantungkan jawaban soal ujian sama kancing," protes Vania tak suka.
Zaki semakin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi protes Vania yang begitu lucu. Apalagi melihat bibir mungil Vania yang manyun. Tak lama, bel masuk sekolah berbunyi. Mereka bersiap mengerjakan soal Ujian Kesenian.
***
Selama 20 menit, Vania berhasil mengerjakan soal ujian Kesenian dengan lancar berkat hafalannya semalam. Sampailah, Vania di soal yang sangat sulit tentang instrumen musik.
"Aduh, Zaki. Kamu tahu jawaban soal nomor 25-30 tidak tentang bagian-bagian drum?" bisik Vania dengan wajah panik.
"Tahu kok. Jawabannya ABBAC," balas Vania.
"Kamu yakin jawabannya itu benar?" tanya Vania dengan ragu-ragu.
"Yakin kok. Lo percaya aja sama gue, Vania. Gue hampir setiap hari main drum jadi udah hafal deh bagian-bagiannya," balas Zaki yakin.
"Hah? Kok bisa? Bukannya posisi kamu di Band bareng Dewa itu sebagai gitaris ya?" tanya Vania dengan ekspresi bingung.
"Enggak kok. Posisi gue selama ini di band bareng Dewa itu sebagai drummer," balasnya.
"Apa? Kok bisa?" tanya Vania kaget.
"Nanti aja deh ceritanya. Sekarang, kita fokus menyelesaikan ujian ini dulu aja," ujar Zaki.
"Oke, deh. Terimakasih ya, jawabannya," ungkap Vania penuh ketulusan.
Mereka berdua kembali konsentrasi mengerjakan soal-soal ujian Kesenian. Waktu tinggal tersisa 10 menit lagi. Vania tampak panik dengan wajah pucat pasi dan keringat bercucuran. Ia kesulitan mengerjakan 10 soal terakhir bagian Seni Rupa.
"Zaki, kamu tahu tidak jawaban soal nomor 40-50?" bisik Vania dengan nada panik.
"Aduh, gue juga dari tadi pusing di bagian itu. Semuanya, kan, soal Seni Rupa, jadi gue juga enggak tahu apa jawaban yang benar," ujar Zaki.
"Aduh, terus gimana dong ini? Waktunya semakin sedikit lagi," cecar Vania.
"Oke. Saatnya mengeluarkan jurus rahasia gue," tandas Zaki dengan wajah aneh.
__ADS_1
"Hah?Jurus rahasia apa maksud kamu?" tanya Vania kebingungan melihat Zaki yang aneh.
"Jurus menghitung kancing!" pungkas Zaki.
"Hah? kamu ada-ada aja deh. Masa jawabannya dari hitung kancing," gerutu Vania tak suka.
"Ya, kalau lo enggak suka, ya cari jawaban sendiri aja. Gue tetap hitung kancing," putus Zaki. Ia mulai menghitung kancing bajunya secara acak dan menggantinya dengan ABCDE.
"CK! Terserah deh. Aku tidak punya pilihan," tandas Vania. Ia pun mengikuti langkah Zaki dengan cara menghitung kancing bajunya.
Bel tanda ujian berakhir sudah berbunyi. Vania dan Zaki berhasil menyelesaikan semua soal ujian Kesenian hari ini. Walaupun, di 10 soal terakhir, mereka mengerjakannya asal-asalan dengan menghitung kancing.
"Huh! akhirnya selesai juga ujian di jam pertama. Habis ini masih ada ujian PENJASKES. Tetapi, gue percaya diri deh kalau soal olahraga," gumam Zaki sendiri.
"CK! Baru kali ini, aku mengerjakan soal ujian dengan cara aneh seperti menghitung kancing. Ah, sepertinya hasil ujian Kesenianku akan jelek," ungkap Vania dengan wajah frustasi.
"Ya, tenang aja. Toh, selain di ujian Kesenian, Lo pasti dapat hasil ujian yang bagus, kan?" ujar Zaki menenangkan Vania yang frustasi.
"Ya, aku harap juga begitu. Jadi, bagaimana bisa kamu menjadi Drummer di band-nya Dewa? Padahal, waktu di kantin, aku lihat kamu membawa gitar," papar Vania penasaran.
"Oh itu. Ya memang terkadang gue sama Dewa suka main gitar saat sedang senggang untuk menghibur diri. Tetapi, untuk posisi resmi gue di band-nya Dewa itu drummer," jelas Zaki.
"Hah? Jadi maksud kamu, kamu bisa main alat musik gitar dan drum?" tanya Vania kepo.
"Hehe, ya, bisa sedikit-sedikit," jawab Zaki merendah. Terlihat wajah bangga dari Vania.
"Enggak kok. Gue biasa aja," balas Zaki singkat. Ia kemudian hendak pergi keluar.
"Mau kemana, Zaki? Di luar mendung," ujar Vania. "Habis istirahat ini, kan, ada ujian PENJASKES. Jadi, gue mau menenangkan pikiran dulu dengan bermain basket di lapangan," papar Zaki penuh kesungguhan.
"Aku ikut deh! Bosan juga di kelas terus," ucap Vania yang dibalas anggukan oleh Zaki.
Zaki dan Vania segera berjalan ke luar kelas menuju lapangan. Langit yang mendung dan mulai gelap tak menyurutkan niat Zaki untuk bermain basket. Sedangkan, Vania duduk di pinggir lapangan seraya menyaksikan permainan basket Zaki.
Saat sedang asyik bermain basket, mendadak, hujan turun cukup deras. Namun, bukannya menyingkir dari lapangan dan berteduh, Zaki tetap melanjutkan permainan basket-nya.
"Zaki! Ayo berteduh, hujannya cukup deras!" Teriak Vania khawatir dari pinggir lapangan.
"Gue enggak apa-apa kok. Lo berteduh aja!" balas Zaki tetap asyik bermain basket walaupun kehujanan.
Vania yang khawatir hujannya semakin deras dan membuat Zaki basah kuyup berinisiatif mengambil payung dari dalam mobilnya.
"Zaki! Kamu gila ya! Kita masih ada ujian kedua, kenapa malah hujan-hujanan seperti ini!" Gerutu Vania seraya memayungi Zaki yang kehujanan di tengah lapangan.
"Kenapa? Ya, karena gue suka hujan, Vania. Saat hujan membasahi gue, seketika semua beban pikiran gue mendadak hilang begitu saja," ungkap Zaki serius dengan mata menatap netra indah milik Vania.
__ADS_1
"Suka sih suka, tetapi, enggak hujan-hujanan seperti ini juga Zaki. Ayo kita kembali ke kelas. Hujannya semakin deras," ujar Vania cemas.
"Sebentar lagi. Vania, lo tahu enggak apa impian gue?" tanya Zaki serius.
"Enggak. Memangnya apa?" balas Vania kepo.
"Gue suka banget sama dunia musik. Gue ingin seperti Kangen Band, Band yang sedang hits saat ini. Mereka memulai nge-band benar-benar dari 0 hingga terkenal seperti sekarang," papar Zaki dengan mata menatap langit mendung.
"Jadi itu alasan kenapa kamu bisa memainkan beragam alat musik? Itu juga tujuan-mu membuat band bersama dengan Dewa," selidik Vania seakan lupa dengan keadaan mereka yang berbagi payung di tengah lapangan.
"Ya, bisa dibilang begitu. Gue harap band gue dan Dewa bisa terkenal seperti Kangen Band. Impian yang konyol, ya," balas Zaki sendu.
"Kenapa konyol?" ungkap Vania keberatan.
"Mana mungkin bisa terkenal. Band kami saja hanya band amatir yang biasanya bermain di Studio saja. Belum pernah ikut acara musik sekolah dan tidak pernah diminta mengisi cafe-cafe," papar Zaki putus asa.
"Zaki, tidak ada impian yang konyol. Yang ada hanya mimpi yang dipendam dalam hati atau mimpi yang dikejar hingga terwujud. Aku yakin, jika kalian terus berusaha dan berani mengambil setiap peluang yang ada, bukan tidak mungkin band kalian terkenal," ujar Vania.
"Ya, lo benar, Vania. Gue akan terus latihan keras saat nge-band. Jika ada kesempatan untuk band kami tampil, kami tidak akan menyia-nyiakannya," ujar Zaki mulai ceria lagi.
"Nah, itu baru Rival yang aku akui. Semangat, kalian pasti bisa!" tandas Vania menyemangati.
"Terima kasih, ya, Vania. Lo udah mau menyemangati gue," ungkap Zaki tulus.
"Sama-sama. Kamu ingat aja bahwa rival yang Vania Sastrowiyoto akui itu sudah pasti orang yang hebat," pungkas Vania penuh percaya diri.
"Hahaha, iya aja deh. Tetapi, posisi kita ini mengingatkan lo sama sesuatu enggak, sih?" ucap Zaki spontan diiringi kekeh kecil.
"Hah? mengingatkan apa?" balasnya bingung.
"Itu lho, Vania. Adegan Alia dan Sunny yang hujan-hujanan di film Cinta Pertama yang kita tonton bareng dulu," jelas Zaki antusias.
"Oh, iya, kamu benar. Aku baru ingat, posisi mereka sama persis seperti kita sekarang. Bedanya, kalau di film itu, Alia kan menari-nari di tengah gerimis hujan. Kalau aku tidak," tandas Vania tak kalah antusias.
"Iya, lo enggak mau menari-nari di tengah hujan kayak Alia, Vania?" goda Zaki kepada Vania.
"Enggak, lah!" teriak Vania spontan.
"Kalau gitu, gimana kalau gue aja yang menari-nari di tengah hujan, hahaha?" kekeh Zaki. Ia bersiap keluar dari payung Vania.
"Zaki! Jangan gila deh!" teriak Vania frustasi.
"Hahahaha, lo lucu banget, sih, kalau lagi ngambek gitu, Vania," celetuk Zaki tulus.
"Ih, apaan, sih. Udah lah, ayo kita kembali ke kelas. Sebentar lagi ujian PENJASKES akan dimulai," ucap Vania mengalihkan topik.
__ADS_1
Akhirnya, Zaki luluh dan mengikuti keinginan Vania untuk kembali ke kelas. Sepanjang perjalanan menuju kelas, hati Vania terus berdebar-debar tak karuan.
"Aku kenapa sih? Apa mungkin mau flu," batin Vania bingung.