My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Pengalaman Berharga


__ADS_3

"Lo punya ide apa, Zaki?" tanya Dewa bingung.


"Gimana jika kita menunggu mobil Vania diperbaiki di tempat lain?" usul Zaki semangat.


"Tempat lain? Dimana itu?" tandas Dewa.


"Di Toko Sembako Larisa, gimana?" tanya Zaki.


"Oh, iya benar juga. Toko itu kan hanya berjarak 1 Km dari bengkel ini," imbuh Dewa antusias.


"Hmm, sepertinya, menunggu di Toko lebih baik dibandingkan kita menunggu di sini. Kita juga bisa beli beberapa camilan dan minuman," saran Ve kepada Vania yang masih ragu.


"Oke, deh. Aku bilang dulu lokasi Toko tempat kita menunggu jemputan," putus Vania. Ia segera menghampiri Pak Broto dan menceritakan ide Zaki.


"Oke, Pak Broto sudah setuju. Jadi, bagaimana caranya kita menuju toko itu?" tanya Vania.


"Ya, jalan. Toh, hanya 1 km jaraknya dari sini. dekat kan?" ujar Dewa dengan seringai kecil.


"Hah? Jalan lagi? Hari ini jalan terus," gerutu Ve.


"Ya, sudah, deh. Apa boleh buat," ucap Vania.


Mereka berempat memutuskan untuk berjalan menuju Toko Sembako Larisa yang berlokasi tidak jauh dari bengkel mobil Vania. Awalnya, semua berjalan lancar, sampai, di suatu jalan tanah yang basah, Ve terpleset.


BRUK!


Ve tampak terpleset hingga jatuh tertelungkup ke tanah akibat jalanan yang licin selepas hujan kemarin malam.


"Ve! Lo enggak apa-apa?" ujar Vania panik. Ia mencoba membantu Ve bangun.


"Aduh! Sakit! Vania, sepertinya kaki gue keseleo deh. Kaki gue rasanya sakit banget untuk berdiri," ungkap Ve lirih dan meringis kesakitan.


"Apa? Aduh gimana, dong?" ungkap Vania.


Di tengah kepanikan yang sedang dirasa oleh Vania dan Ve masih terduduk seraya memegangi kakinya yang keseleo. Dewa mendadak menghampiri Ve. Kemudian, dia jongkok membelakangi Ve.


"Mau apa lo?" sergah Ve waspada.


"Cepat naik ke punggung gue! Gue gendong lo sampai ke Toko Sembako Larisa," seru Dewa.


"Apa? Enggak! Emangnya gue anak kecil sampai di gendong belakang segala!" tolak Vania dengan tegas.


"Sudah, deh. Jangan keras kepala! Lo mau kita nunggu dua jam di pinggir jalan seperti ini? Lo enggak kasihan sama si Kuper!" hardik Dewa.


Ve mengamati Vania yang napasnya ngos-ngosan, peluh sudah membasahi wajah manisnya. Dia tahu benar jika sahabatnya itu memang lemah dalam aktivitas fisik.


"Oke, kali ini gue terima tawaran lo. Tetapi, ingat! Lo gendong, gendong aja. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!" cibir Ve.

__ADS_1


"Hah? Lo tenang aja! Enggak akan gue curi kesempatan sama cewek boncel macam lo! Kecuali lo secantik si Dewi," tampik Dewa.


Dengan raut wajah penuh kekesalan, Ve akhirnya memutuskan untuk pasrah di gendong belakang oleh Dewa hingga sampai di toko.


"Dewa, kamu yakin kuat gendong Ve?" tanya Vania. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.


"Lo tenang aja, Vania. Kalau soal kekuatan fisik, si Dewa ini nomor 1. Wajar dia jadi kandidat kuat Ketua Basket selanjutnya," tandas Zaki.


"Wow! Aku baru tahu jika si Dewa sudah ditetapkan jadi kandidat Ketua Basket selanjutnya. Semoga memang benar," ujar Vania. Raut kekhawatiran itu mulai memudar.


15 menit berjalan, akhirnya mereka berempat sampai di Toko Sembako Larisa. Toko sembako itu cukup besar dan luas. Ada banyak pembeli yang sedang bertransaksi di sana.


"Lho Zaki, kamu datang hari ini? Jadwal jaga kamu kan besok?" tanya seorang pria paruh bahaya berkacamata. Rupanya, dia adalah pemilik Toko Sembako Larisa.


"Ah, iya, Pak Gito. Saya hari ini datang buat kerja, Pak. Gilang ada di dalam rumah?" ujar Zaki begitu hormat dan sopan.


"Oh, gitu. Ya, ada, kok. Kalian langsung masuk saja ya ke dalam rumah seperti biasa? Bapak masih harus melayani beberapa pembeli ini," jelas Pak Gito yang sibuk melayani pembeli.


"Oke, Pak. Kalau begitu, kami langsung masuk saja," balas Zaki. Ia berjalan memasuki rumah.


"Zaki, kamu kerja di sini?" tanya Vania kaget.


"Ya, hanya saat Sabtu-Minggu. Lumayan untuk tambah-tambah uang jajan," ujar Zaki ramah.


"Gila! Kok bisa dia sudah kepikiran untuk bekerja padahal kita masih sekolah," batin Vania tak percaya.


"Ja-jadi, ini rumahnya Gilang?" ucap Vania semakin kaget. Zaki menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan Vania.


"Sudah, Gilang. Lo jangan banyak tanya dulu. Lo tolong bawakan gue balsem ya," pinta Dewa.


"Oke, deh. Siap, Bro!" jawab Gilang Patih. Ia segera masuk ke sebuah kamar.


Dewa menurunkan Ve dari gendongannya di sebuah sofa berwarna cokelat. Ve masih memegangi kakinya yang sakit. Tak lama, Gilang sudah kembali dan membawa balsem.


"Hei! Lo mau ngapain, Dewa?" sergah Ve takut.


"Sudah, jangan berisik! Gue mau memijat kaki lo yang keseleo," balas Dewa singkat.


"Apa? Emangnya lo bisa?" ucap Ve kembali.


"Tenang aja, Ve. Dewa sudah biasa menangani anak-anak basket yang keseleo kok," ujar Zaki.


"Lo bawel banget sih, Boncel! Tahan ya, agak sedikit sakit," tandas Dewa mulai serius. Ia segera mengoleskan balsem dan memijit kaki Ve yang keseleo perlahan.


"Aduh! Ini sih bukan sedikit, tetapi banyak sakitnya!" protes Ve seraya meringis kesakitan.


Setelah sepuluh menit, Dewa menghentikan pijatannya di kaki Ve. Ve juga sudah terlihat lebih tenang dan tidak meringis kesakitan lagi. Ibu Gilang datang membawakan beberapa gelas es teh dan camilan kering.

__ADS_1


"Wah! Gila! Sakit di kaki gue sungguh mulai menghilang. Ajaib!" teriak Ve takjub.


"Gue bilang juga apa!" ungkap Dewa sombong.


"Ehm, terima kasih," bisik Ve pelan.


"Lo bilang apa? Gue enggak dengar," ungkap Dewa diikuti seringai kecil.


"Gue bilang terima kasih!" teriak Ve emosi.


"Hahahaha, sebenarnya gue juga sudah dengar sebelumnya, sih," kelakar Dewa usil.


"Dasar playboy karbitan!" hardik Ve dengan wajah memerah menahan malu. Gilang dan Zaki ikut menertawakan Ve. Hanya Vania yang menggelengkan kepala atas keusilan Dewa.


"Jadi, sekarang kalian bisa cerita, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Gilang kepo.


Dewa pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi dari mulai melayat ke rumah Sissy sampai mobil Vania mendadak mogok.


"Oh, gitu. Ya, sudah. Kalian menunggu di sini saja sampai Pak Broto datang menjemput," putus Gilang begitu ramah.


"Oke, terima kasih ya, Bro!" ungkap Zaki.


"Santai aja! Lo kayak sama siapa aja. Kita kan sahabat, sudah bagai saudara," balas Gilang.


"Tetapi jujur ya, gue enggak menyangka kalau lo bekerja di sini," ungkap Ve takjub.


"Ya, gue juga enggak menyangka Zaki menawarkan diri saat gue cerita kalau Bapak gue lagi butuh orang buat bantu jaga di Toko," papar Gilang dengan tatapan bangga ke Zaki.


"Ya, kalian kan tahu, gue bisa sekolah di SMP Elite seperti SMP Sinar Putih karena beasiswa. Jadi, dengan kerja, gue bisa bantu-bantu sedikit buat kebutuhan memasak ibu. Sisanya, bisa buat jajan," jelas Zaki percaya diri.


"Wah! Gue salut banget sama lo, Zaki!" ucap Ve seraya memberikan jempolnya tanda bangga.


"Kamu keren, Zaki," gumam Vania tanpa sadar. Ia refleks menutup mulutnya yang keceplosan. Pipinya semerah tomat karena malu.


"Cieee! Ada apa ini antara Zaki sama Vania?" goda Dewa dengan tatapan aneh.


"Hahaha, mimpi apa lo bro, dibilang keren sama si Kuper," imbuh Gilang.


"E-eh? terima kasih pujiannya, Vania," balas Zaki salah tingkah. Ia menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal.


"Gilang, sepertinya ada yang datang mencari teman-teman kalian," ujar Pak Gito yang berjalan tergesa-gesa ke dalam rumah.


"Ah, sepertinya Pak Broto sudah selesai memperbaiki mobil," tandas Vania ceria.


"Ya, sudah, kami pamit pulang ya, Gilang. Terima kasih sudah bersedia menerima kedatangan kami," ucap Vania tulus.


Mereka segera berpamitan kepada Bapak dan Ibu Gilang. Lalu, mereka menaiki mobil Vania dan diantarkan ke rumah masing-masing.

__ADS_1


"Lagi-lagi, aku mendapatkan pengalaman berharga dan tak terlupakan berkat mereka," batin Vania bahagia.


__ADS_2