My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Zaki Vs Ken


__ADS_3

1 jam lamanya Zaki dan Vania berlatih mendribble dan shooting bola basket penuh konsentrasi. Akhirnya, Zaki berhasil melatih Vania yang sebelumnya sama sekali tidak bisa melakukannya dengan benar.


"Wah, cara mendribble Lo udah jauh lebih baik nih. Coba deh Lo dribble bolanya sendiri," usul Zaki dan langsung melepaskan tangannya dari punggung tangan Vania.


"Oke, aku coba ya sekarang," balas Vania dengan hati berdebar. Untunglah, Vania berhasil mendribble bola sendiri selama 10 menit lamanya tanpa terlepas seperti sebelumnya di kelas PENJASKES hari ini.


"Wah! Mantap! Akhirnya Lo bisa mendribble dengan benar sekarang," bangga Zaki dengan senyum puasnya.


"Asyik! Aku bisa mendribble bola sendiri. Sekarang, aku mau coba shooting bola ini ke ring di sana deh!" Putus Vania penuh semangat dan fokus menatap Ring Basket yang berjarak cukup jauh di depan matanya.


PLUUUUNNGGG


Bola basket yang dilempar oleh Vania berhasil terlempar mulus ke dalam ring. Vania begitu senang dengan keberhasilannya. Dia refleks memegang kedua tangan Zaki seraya melompat-lompat kegirangan.


"Hore! Aku berhasil shooting! Aku bisa!" kekeh Vania dengan tubuh yang melompat-lompat diiringi oleh Zaki yang ditariknya.


"Hahaha! Senang banget ya Lo! Tapi, ini kapan kita mau berhenti lompat-lompat, Capek gue," keluh Zaki dengan ekspresi serius tapi dalam hatinya tertawa oleh tingkah lucu Vania.


"Ahh, Ehmm, maaf refleks aku," sadar Vania dan langsung melepaskan genggaman tangannya di kedua tangan Zaki dan berhenti melompat.


"Hahaha, nggak apa-apa. Gue cuma bercanda kok. Selamat ya, Vania. Lo akhirnya berhasil mempelajari teknik dasar bermain basket," puji Nurzaki. Tangannya refleks mengacak-acak ujung rambut di kepala Vania.


"Ya, ini semua berkat Lo, terimakasih ya. Tapi, bukan berarti aku akan mengalah kepada pelajaran lainnya. Kamu tetap rival nomor 1 ku," tegas Vania dengan ekspresi yang dibuat sedingin dan secuek mungkin.


"Hahaha, ya terserah Lo deh. Mau anggap gue rival kek musuh kek. Toh, gue juga nggak akan kalah kalau soal pelajaran," bangga Zaki dengan raut penuh percaya diri.


Mereka berdua pun tertawa bersama. Sampai, ketenangan mereka terusik oleh sebuah lemparan bola besar ke kepala Zaki.


"Aww! Sakit!" Teriak Zaki kesakitan sambil memegangi belakang kepalanya. Ada rasa pusing yang menjalar ke kepalanya akibat terkena lemparan yang keras.


"UPS, sorry, gue nggak sengaja," ucap Ken dengan cuek. Dibelakangnya, ada 2 lelaki yang tinggi tertawa terbahak-bahak.


"Ken! Kamu ya yang melempar bola itu ke Zaki! Kamu apa-apaan sih!" Tuduh Vania emosi.


"Ehh? nggak kok, Van. Gue kebetulan aja lagi main basket sama teman-teman gue ini. Eh, pas lempar bolanya, itu bola malah terlempar jauh ke arah sini," kilah Ken dengan muka sok polosnya.


"Mana mungkin bisa begitu! Jarak posisimu sebelumnya aja berlawanan jauh dengan posisi ini. Nggak masuk akal banget!" omel Vania.

__ADS_1


"Beneran, Lo lihat dengan tampang gue. Masa cowok sekeren gue bohong sih," balas Ken dengan ekspresi kepedean.


"Maksud lo apa ngelempar bola ke gue! Lo sengaja ya! Ada masalah apa sih Lo sama gue!" Bentak Zaki yang sudah mulai bisa mengontrol dirinya lagi setelah pusing kepalanya memudar.


"Kenapa ya? mungkin karena wajah Lo cocok buat objek pelemparan bola kali! Ya sebelas dua belas lah sama ring basket di sana," cibir Ken yang diikuti tertawaan kedua temannya.


"Gila ya! Zaki, udah jangan diladeni, kita pulang aja yuk!" ajak Vania dengan raut khawatir.


"Nggak bisa, Vania! Orang kayak dia harus dikasih pelajaran biar nggak seenaknya!" tolak Zaki dengan tatapan berapi-api.


"Ihh, takuuutt! Hahaha, terus Lo mau apa? mau berantem sama gue? oke! Lagipula, gue juga nggak sendiri!" balas Ken tak kalah berapi-api.


"Berantem? CK! Nggak level! Kita tanding basket aja. Toh, Lo yang sudah duluan bermain-main dengan bola ini," tantang Zaki.


"Hahaha, oke! Siapa takut! Kalau tanding, harus ada taruhannya dong biar seru!" imbuh Ken.


"Taruhan apa? gue nggak suka bertaruh yang aneh-aneh!" putus Zaki waspada.


"Nggak aneh kok! Taruhannya, kalau gue menang, Lo jangan pernah berada di dekat Vania lagi dan mengganggunya selama 1 tahun, gimana? berani nggak!" tantang Ken.


"Ya, cukup waktu 1 tahun, gue yakin dalam waktu 1 tahun, gue bisa mendapatkan hati Vania," batin Ken bergelora.


"Ada apa nih rame-rame?" tanya Dewa yang sudah berdiri di belakang Vania dengan seragam yang acak-acakan.


"Dewa! Untunglah kamu datang, cepat hentikan Zaki. Dia menantang Ken dan gengnya tanding basket!" jelas Vania dengan wajah cemas.


"Apa Lo bilang!" Kaget Dewa dan langsung menghampiri Zaki yang sedang bertaruh.


"Apa nih! Siapa yang berani ganggu sobat gue! Cih! Nggak adil banget 1 Vs 3, Tanding basket? Ayo! Jadikan itu 2 Vs 3. Gue pastikan kalian bertiga menyesal!" tantang Dewa.


Vania hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya kehadiran Dewa bukan membantu Vania menghentikan Zaki tetapi malah memperkeruh suasana yang sudah tercipta.


"Hahaha, siapa Lo! Mau jadi pahlawan di siang bolong! Oke, Ken Fernandez tak pernah takut! Kita tanding sekarang! Tim yang paling banyak memasukkan bola ke ring lah yang menang," putus Ken dan mulai mengatur formasi tim.


Pertandingan basket berjalan dengan sengit. Tim Ken dan Duo Zaki Dewa saling melancarkan serangan. Setelah 1 jam berlalu, hasil pertandingan pun akhirnya keluar. 10 poin untuk Duo Zaki Dewa dan 9 poin untuk tim Ken.


"Lihat! Gue nggak suka orang yang banyak tingkah kayak Lo! Ya, tapi gue akui sih Tim Lo lumayan hebat. Tapi, janji adalah janji. Lo jangan pernah muncul di di hadapan gue ataupun Vania selama 1 tahun ke depan!" jelas Zaki dengan wajah penuh kebanggaan karena menang begitupun dengan Dewa.

__ADS_1


"CK! Oke, kali ini gue kalah! Tapi, ini nggak akan selesai begitu aja! Lo ingat ini, Gue itu Ken Fernandez, gue selalu mendapatkan apapun yang gue mau dan nggak akan menyerah gitu aja!" balas Ken berapi-api sebelum pergi.


Setelah pertandingan selesai, Vania langsung menghampiri Ken dan Dewa yang terduduk kelelahan setelah pertandingan yang sengit. Dia juga membawa 2 botol air mineral dingin untuk mereka.


"Zaki! Syukurlah kamu nggak apa-apa. Selamat ya karena sudah menang lawan Ken! Ini minum dulu," ucap Vania seraya memberikan kedua botol mineral itu kepadanya dan Dewa.


"Terimakasih ya minumnya! Ya, syukurlah gue bisa menang. Jadi, Vania...Lo nggak perlu lagi merasa terganggu sama kehadiran cowok itu," balas Zaki dengan senyumannya yang tulus.


"Deg! Bagaimana dia bisa tahu jika aku risih dengan kehadiran Ken?" tanya Vania dalam hati


"Ya, terimakasih, Zaki. Sekarang, aku bisa fokus belajar selama kelas 1 ini," balas Vania tulus.


Dewa hanya menatap Vania dan Zaki bingung. Dia tidak mengerti sejak kapan mereka berdua akrab seperti ini. Biasanya, mereka selalu bertengkar dan bersaing dalam hal pelajaran.


*****


Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Vania. Hari ini akan ada penilaian praktek PENJASKES dalam hal teknik dasar Basket. Setiap tim maju dan diberikan waktu untuk dribble dan shooting bola selama 30 menit. Jika mereka berhasil melakukannya dengan baik, mereka akan mendapat nilai 100.


Sekarang, Giliran tim Vania dan Zaki yang maju ke lapangan. Vania memasuki lapangan dengan hati berdebar tak karuan. Dia ingat sekali Papanya paling anti mengajaknya olahraga yang berat seperti basket, volley atau bulutangkis.


Papa Vania hanya mengizinkan Sang Putri kesayangannya itu untuk olahraga renang. Jadi, sejak kecil, Vania belum pernah bermain basket dan ini pertama kalinya Vania mempelajari teknik basket.


"Tenang aja, Vania. Lo ingat lagi aja semua teknik yang gue ajarkan kemarin. Gue yakin Lo pasti bisa," bisik Zaki di telinga Vania.


"Oke, aku coba. Semoga aku ingat latihan kita kemarin," balas Vania setengah berbisik.


Saat Pluit terdengar, pertama Zaki yang melakukan dribble dan shooting dengan lancar. Kemudian, dia mengambil bola basket itu dan mengopernya ke Vania. Vania menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.


Dia mulai mendribble bola dengan lancar. Dia juga berhasil memasukkan bola itu ke Ring dengan tepat sasaran dan mulus.


"Hore, aku berhasil, Zaki!" Teriak Vania begitu senang dan langsung refleks memeluk Zaki yang nampak diam mematung karena kaget.


"CIIIEEEEEEEE," Sorak Sorai teman-teman sekelas Vania dan Zaki.


Vania yang baru sadar akan tingkah lakunya yang memalukan itu langsung melepaskan pelukannya dengan pipi Semerah tomat.


"Ah, maaf, aku refleks karena kesenangan," ucap Vania. Kepalanya langsung berpaling ke arah lain akibat terlalu malu.

__ADS_1


"Ahh, iya nggak apa-apa kok," balas Zaki canggung dengan wajah yang juga berpaling ke arah lain.


Baru pertama kali dalam hidup Zaki, dia dipeluk oleh seorang perempuan selain ibunya. Dia begitu malu hingga wajahnya berubah merah bagaikan kepiting rebus.


__ADS_2