
Selama 1,5 jam anak-anak kelas 8A sibuk mengerjakan ujian PENJASKES sebagai ujian terakhir Ujian Tengah Semester 1. Seiring bel sekolah yang berbunyi, mereka menampakkan raut wajah lega dan senang karena berakhirnya UTS Semester 1.
"Hore! Akhirnya selesai juga UTS Semester 1!" Teriak Zaki penuh kegembiraan.
"Ya, aku sudah tidak sabar menanti hasil raport UTS pertamaku di kelas 2 ini," timpal Vania.
"Tenang aja. Gue yakin lo pasti dapat nilai yang bagus kok. Bahkan, mungkin lo bisa jadi juara kelas," ucap Zaki percaya diri.
"Ah, kamu terlalu memujiku. Sebaliknya, aku merasa mungkin saja posisi juara 1 impianku direbut sama kamu. Kamu, kan, Rival nomor 1 aku, Zaki," balas Vania dengan wajah serius.
"Hahaha, enggak mungkin lah, Vania. Lo aja yang terlalu berekspektasi tinggi sama kemampuan gue. Gue itu enggak sepintar dan sehebat itu," ujar Zaki merendah.
"Ya, kita lihat saja hasilnya Minggu depan saat pembagian raport," ujar Vania serius.
"Ya, terserah deh. Vania, ke Kantin yuk! Anggap saja sebagai pembubaran kerjasama kita di UTS ini," ajak Zaki penuh semangat.
"Oke, boleh. Aku juga lapar sekali karena bekerja keras mengerjakan soal-soal PENJASKES," ucap Vania. Mereka bersiap keluar kelas, tetapi Ve datang menghampiri.
"Lo mau ke mana, Vania?" tanya Ve kepo.
"Oh, aku sama Zaki mau ke kantin sebagai perayaan selesainya UTS hari ini," balas Vania.
"Wah, kayaknya, seru. Gue ikut deh!" ucap Ve.
Saat mereka bertiga sudah di depan kelas, Dewa menyusul mereka. Di belakangnya, ada Dewi dan Sissy yang mengikuti.
"De, mau ke mana terburu-buru?" tanya Dewi.
"Gue mau merayakan selesainya UTS hari ini bareng Zaki dan Vania di Kantin, Bang," balas Ve bersemangat.
"Wah, boleh juga. Gue ikut dong!" pinta Dewa.
"Kita juga ikut!" Ujar Dewi dan Sissy serempak.
"Ya, udah. Kalau kalian mau ikut ya ikut aja," balas Zaki santai. Akhirnya, mereka berenam sepakat makan bersama di Kantin.
***
Sesampainya di kantin, mereka memesan menu yang sama yaitu nasi goreng ayam. Sambil menunggu pesanan datang, mereka mulai membahas soal ujian hari ini.
"Vania, gimana lo berhasil enggak mengerjakan soal-soal ujian PENJASKES tadi?" tanya Zaki.
__ADS_1
"Ehm, aku lumayan percaya diri sih dalam mengerjakan soal-soalnya. Untungnya, banyak hafalanku yang keluar di ujian. Apalagi, kebanyakan soalnya tentang Basket," balas Vania penuh percaya diri.
"Oh, ngomong-ngomong soal Basket, gue jadi ingat kejadian kelas 1 dulu," ujar Zaki.
"Memangnya ada kejadian apa waktu kelas 1?" tanya Sissy begitu penasaran.
"Oh, kalian pasti enggak tahu. Jadi, waktu kelas 1 itu si Vania payah banget soal basket. Untuk Mendribble bola dan memasukkan-nya ke dalam ring aja setengah mati, haha," ejek Zaki.
"Hei! Aku, kan, belum pernah bermain basket. Jadi, wajar aja kalau enggak bisa," kilah Vania.
"Hahaha, iya kalau gue ingat soal kejadian praktek olahraga waktu kelas 1 dulu, lucu banget. Vania main basketnya lebih mirip robot yang kaku," imbuh Dewa diselingi tawa jahil.
"Huh! Itu, kan, masa lalu. Sekarang, aku udah lumayan bisa kok main basket," tandas Vania.
"Berkat siapa dulu memangnya?" pancing Zaki.
"Iya iya, ini semua berkat Pak Guru Nurzaki Suganda yang sudah mengajari aku bermain basket," ujar Vania jujur.
"Apa! Jadi yang membuat Vania bisa bermain basket itu karena ajaran Lo, Zaki?" tanya Sissy.
"Hehe, ya, begitulah. Kebetulan kita 1 kelompok saat praktek, jadi harus bisa kerjasama biar dapat nilai praktek yang bagus," papar Zaki.
"Zaki, gue juga mau diajari bermain basket dong, gue enggak bisa main basket" pinta Sissy penuh harap. Zaki mulai berpikir panjang.
"O-oke deh. Lo tentukan aja mau diajarkan bermain basket," balas Zaki dengan terpaksa.
"Hore! Terimakasih banyak ya, Zaki!" ucap Sissy. Wajahnya begitu terlihat bahagia.
"Deg! Perasaan aneh apa lagi ini," batin Vania.
"Lo kenapa mendadak diam aja?" tanya Ve.
"Ah, enggak apa-apa kok. Sepertinya, aku kurang enak badan karena kehujanan," balas Vania. Ve merasa ada yang aneh kepada sahabatnya tetapi dia tidak tahu apa itu.
"Oh kalau ngomongin soal basket, gue yakin sih diantara semua siswa perempuan sekolah ini hanya si Ve yang paling jago!" celetuk Dewa.
"Haha, kalau itu sih, aku setuju banget," balas Vania. Ve menjadi salah tingkah karena dipuji seperti itu oleh orang yang dianggapnya Abang.
"Ah, kalian berlebih. Permainan basket gue biasa aja kok," ujar Ve merendah.
"Biasa apanya, De! Selama ini, kalau kita tanding di mesin basket Timezone gue selalu kalah telak sama lo," pungkas Dewa jujur.
__ADS_1
"Apa! Kamu sering main bareng di Timezone sama Ve?" tanya Dewi dengan nada ketus.
"Ya, sayang. Kenapa memangnya?" tanya Dewa.
"Kenapa kamu enggak pernah mengajak aku main bareng di Timezone juga!" cecar Dewi.
"Hah? kita, kan, juga sudah sering ke Mall dan menonton film bareng di bioskop," balas Dewa.
"Ya, memang. Tetapi, kita cuma menonton film di bioskop dan pulang. Kamu enggak pernah ajak aku main bareng ke Timezone!" gerutunya.
"Ah, ya, gue kira lo enggak akan suka bermain game di Timezone," kilah Dewa serba salah.
"Alasan aja! Bilang aja kalau kamu lebih suka main sama ade-adean kamu itu dibandingkan sama aku!" cecar Dewi penuh emosi.
"E-enggak gitu, Sayang. Kamu kenapa sih?" tanya Dewa bingung melihat sikap pacarnya.
"Udahlah! Aku pulang!" putus Dewi emosi. Dia langsung meninggalkan kantin menuju parkiran. Dewa langsung menyusulnya.
"Hah? Dewi kenapa ya? Aku baru pertama kali melihat sikapnya yang emosi seperti itu. Biasanya sikap Dewi di kelas begitu tenang dan murah senyum," ungkap Vania bingung.
"Ya, wajarlah! Namanya juga orang pacaran," ujar Sissy yang sedang memakan nasinya seraya menatap lekat Zaki.
"Emangnya kalau orang pacaran bisa seperti itu ya, Ve?" tanya Vania kepo.
"Ya, kalau yang sering gue tonton di sinetron inikah rasanya cinta, sih, begitu," balas Ve cuek.
"Hah? Sinetron inikah rasanya cinta? Sinetron apa itu, Ve?" tandas Vania semakin penasaran.
"Bagus kok sinetronnya. Lo coba tonton sendiri aja deh," pungkas Ve tetap asyik memakan nasi gorengnya sambil mendengarkan musik MP3.
"Ah, aku malas kalau sinetron tentang cinta-cintaan," balas Vania tidak tertarik.
"Kenapa? Bagus tahu sinetronnya sebagai referensi jika Lo sedang berpacaran sama seseorang," timpal Sissy.
"Hem, sepertinya pacaran itu menyusahkan. Aku tidak tertarik," balas Vania dingin.
"Uhuk! Uhuk!" teriak Zaki. Ia mendadak tersedak saat minum es teh pesanannya.
"Zaki! Lo kenapa?" ucap Sissy cemas. Ia langsung mengelap mulut Zaki dengan sapu tangan pink miliknya.
"Gu-gue enggak apa-apa kok. Thanks ya, Sissy," ujar Zaki diselingi senyum manis. Hal ini sontak membuat wajah Sissy memerah.
__ADS_1
"Sama-sama, apa, sih, yang enggak buat kamu, Zaki," ungkap Sissy penuh kejujuran.
"Aku mulai merasa mual dan tidak nyaman. Sepertinya aku harus segera meminum obat flu sesampainya di rumah," batin Vania.