My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Tugas Pertama


__ADS_3

"Oke, pelajaran hari ini, Ibu cukupkan. Selanjutnya, ibu akan mengumumkan hal penting bagi Perangkat Kelas yang baru," jelas Bu Meisya mulai serius.


"Duh, deg-degan gue, kira-kira ada apa ya?" gumam Ve dipenuhi raut kecemasan.


"Jadi, sebagai perangkat kelas baru, Ibu akan memberikan tugas pertama. SMP Sinar Putih selalu mengadakan Bakti Sosial (BAKSOS) ke Panti Asuhan Cahaya tiap kenaikan kelas. Kali ini, tema BAKSOS kita adalah Belajar dan Bermain Bersama. Jadi, para perangkat kelas Ibu tugaskan untuk mengumpulkan sumbangan kelas ini dan membelikannya perlengkapan belajar yang bisa disumbangkan kepada anak-anak Panti Asuhan Cahaya," jelas Bu Meisya sumringah dan antusias.


"Wah, tugas yang penuh kebaikan, semangat Ve!" ujar Vania menyemangati Ve.


"Jadi, Sekretaris bertugas menulis apa saja barang yang hendak disumbangkan sementara Bendahara mengumpulkan uang sumbangan kelas ini, apa kalian mengerti?"


"Mengerti, Bu," jawab para perangkat kelas kompak dan penuh semangat.


"Baik, ibu tunggu, laporannya segera karena acaranya akan berlangsung Minggu depan," ujar Bu Meisya sebelum pergi keluar bertepatan dengan bel jam istirahat berbunyi.


Sebelum siswa kelas 8A berhamburan untuk istirahat keluar, Dewa dan Zaki langsung berjalan ke depan kelas untuk memberikan pengumuman terkait sumbangan.


"Oke, gue mohon perhatiannya sebentar, teman-teman. Sehubungan dengan kegiatan BAKSOS, gue minta waktu kalian sebentar untuk memberikan sumbangan sebelum keluar untuk istirahat," jelas Dewa serius.


"Wah, ternyata bisa jadi Ketua Kelas yang serius juga Dewa, aku nggak nyangka," Batin Vania tak menyangka perubahan sifat Dewa.


Anak-anak di kelas juga nampak menghormati Dewa sebagai Ketua Kelas 8A. Mereka bersedia duduk di tempat untuk menyumbang dulu.


"Terimakasih atas pengertian kalian, Ve cepat kumpulkan sumbangannya," perintah Dewa.


"CK! Bisa ngomong lebih ramah nggak sih, berasa kayak pembantu gue," gerutu Ve sebelum mulai berkeliling untuk mengumpulkan sumbangan anak-anak.


Dalam 5 menit, kotak sumbangan sudah terisi penuh. Sejujurnya, walaupun mayoritas anak-anak SMP Sinar Putih termasuk kalangan menengah keatas, tapi jiwa sosial mereka cukup tinggi. Mereka tidak tanggung-tanggung dalam menyisihkan uang saku mereka.


"Oke, terimakasih atas bantuan dan perhatian kalian, silahkan yang mau istirahat keluar," ujar Dewa penuh wibawa berbeda sekali dengan sosoknya saat berhadapan dengan Ve.


"Gimana Ve? berapa sumbangan yang kita dapat?" tanya Dewa dengan raut penasaran.


"Belum tahu, gue belum hitung hasil sumbangannya," balas Ve dengan tatapan tajam ke arah Dewa.


"Kenapa Lo ngelihatin gue kayak gitu?" ungkap Dewa yang merasa terganggu.


"Semua anak-anak di kelas udah kasih sumbangan kecuali Lo, Pak Ketua," Sindir Ve.


"Ah, ya sumbangannya udah dapat banyak 'kan? Jadi gue nggak usah aja deh, lagipula gue ketuanya ini," balas Dewa begitu santai.


"Hah? Enak aja! Mau Lo ketua kek, guru kek, kalau ada pengumpulan sumbangan ya tetap harus ikut dong!" Protes Ve dengan nada tinggi.


"CK! Dasar boncel pelit! Ya udah, nih gue ikut nyumbang, puas Lo!" Balas Dewa seraya melemparkan uang 20 ribu ke kotak.


"CK! Dari tadi kek! Vania, bantuin gue menghitung hasil sumbangannya yuk," pinta Ve.


"Oh, Oke, Ve," balas Vania dan langsung menghampiri meja Dewa.


"Biar gue bantu hitung juga," tawar Zaki ramah.


"Terserah," ketus Vania. Dia mulai menghitung lembar demi lembar sumbangan tanpa mempedulikan keberadaan Zaki di sebelah Ve.


"Ada apa sih sama mereka berdua?" batin Ve.

__ADS_1


"Jadi, Dewi, apa Lo sudah selesai menulis apa saja barang yang perlu disumbangkan?" tanya Dewa seramah mungkin dengan senyum terbaiknya. Pemandangan yang sangat berbeda 180 derajat dibandingkan saat dengan Ve.


"CK! Dasar cowok nyebelin, giliran sama cewek cantik aja di lembut-lembutin ngomongnya," gerutu Ve dengan raut kesal.


"Ah, iya, Dewa. Sudah, coba kamu periksa, mungkin ada barang yang kurang?" jawab Dewi begitu lembut dan ramah. Dewa langsung mengamati list barang yang dibuat Dewi.


"Oke, sudah bagus kok. Kamu memang cocok jadi sekretaris. Nggak cuma cantik tapi pintar juga, wajar dinamakan Dewi," gombal Dewa.


"E-eh? terimakasih, pujiannya dewa," balas Dewi dengan pipi semerah tomat.


"Jadi, terkumpul berapa uang sumbangannya, Ve?" tanya Dewa dengan nada keras dan datar.


"Bisa lebih ramah sedikit nggak sih Lo? giliran sama Dewi aja ramah banget. Terserah lah, hasil sumbangannya Rp. 1.000.000," balasnya.


"Ih, suka-suka gue lah mau ramah ke siapa, bukan urusan Lo. Oke, bagus. Berarti, besok Minggu kita tinggal belanja keperluannya aja, kalian bisa 'kan?" tanya Dewa kembali serius.


"Ahh, soal itu...maaf banget, Dewa. Besok Minggu, kayaknya aku nggak bisa ikut belanja deh, soalnya aku ada les ballet," balas Dewi.


"Oh, gitu. Oke, nggak apa-apa kok, Dewi. Toh, ada gue, Zaki dan Ve yang siap belanja," balas Dewa tetap dengan nada lembutnya.


"Hei, gue belum jawab apa-apa," protes Ve.


"Lo pasti bisa ikut kita 'kan, Ve?" tanya Dewa kembali dengan tatapan mengancam.


"CK! Ya udah lah. Toh, gue juga nggak yakin barang-barangnya akan lengkap kalau cuma mengandalkan kalian berdua," balas Ve dengan tatapan meremehkan.


"Oke, terimakasih ya, Zaki, Ve dan Dewa," balas Dewi dengan wajah cerianya.


*****


"Vania, besok Minggu Lo ada acara nggak?" tanya Ve tiba-tiba.


"Ehm, nggak ada sih kayaknya. Kenapa?" balas Vania dan mengehentikan sejenak kegiatan merapikan buku tulisnya.


"Lo mau nggak nemenin gue ikut belanja barang sumbangan di The Breeze Mall besok Minggu?" tanya Ve penuh harap.


"E-eh, memangnya kenapa?" tanya Vania kaget.


"Gue malas banget harus bareng duo rese itu selama belanja. Bisa-bisa belanjanya nggak selesai gara-gara gue berantem sama si Dewa nyebelin itu," celoteh Ve putus asa.


"Aduh, gimana ya? aku juga nggak mau ketemu si Zaki di luar sekolah," balas Vania ragu.


"Mau dong, Vania...ya..ya...gue mohon," pinta Ve setengah memelas. Vania nampak tidak tega mengecewakan teman barunya itu.


"Oke deh, aku ikut. Sejujurnya, aku juga belum pernah memasuki Mall itu, biasanya hanya sekadar lewat saja," putus Vania.


"Hore, terimakasih, Vania. Lo emang teman terbaik gue pokoknya!" balas Ve ceria lagi.


"Oke, jadi besok Minggu kita ketemu di mana dan jam berapa?" tanya Vania penasaran.


"Dewa minta ketemu langsung aja di The Breeze Mall jam 10 katanya," balas Ve. Dia sudah selesai merapikan barang ke tasnya.


"Oke, kalau begitu, sampai ketemu di sana besok Minggu," balas Vania yang juga sudah selesai merapikan barangnya ke dalam tas.

__ADS_1


Mereka berdua pun bergegas keluar kelas dan berpisah di parkiran sekolah. Vania dijemput oleh Pak Broto, supirnya. Sementara, Ve berjalan ke jalan raya di depan gerbang sekolah untuk menunggu angkot.


*****


Vania berjalan memasuki The Breeze Mall dengan penuh ketakjuban. Memang dari jauh Mall ini terlihat megah tapi setelah masuk ternyata Mall ini lebih dari sekadar megah tetap juga indah.


Mall berlantai 3 ini dikelilingi oleh pepohonan hijau di sekitarnya. Tak hanya itu, di depan Mall ini juga terdapat kolam buatan Yang luas dengan air mancur di tengahnya.


"Vania, di sini!" Teriak Ve yang membuyarkan lamunan Vania akan keindahan Mall ini.


Ve terlihat santai dengan setelan kaos oblong dan celana jeansnya. Berbanding terbalik dengan penampilan Vania yang lebih heboh dengan dress polkadot selutut berwarna Navy.


"Hai, Ve. Kamu sudah sampai duluan ternyata, dimana Dewa dan Zaki?" tanya Vania bingung.


"Itulah, Vania yang bikin emosi. Padahal, mereka yang janji kumpul jam 10 tapi sampai sekarang mereka belum datang juga!" Keluh Ve.


"Oh pantas aja telinga gue dari tadi kerasa berdengung, ternyata kalian membicarakan gue ya di belakang," protes Dewa berjalan dengan santainya dari kejauhan diikuti oleh Zaki.


"Hahaha, mau ke mana Lo, Dewa? heboh banget! Mau ngemall apa mau ke pesta sih!" ejek Ve dengan tawa terbahak-bahak.


"Gini nih kalau jalan sama cewek udik, ini itu tampilan kekinian yang lagi hits tahu," balas Dewa penuh percaya diri.


Dewa datang ke The Breeze Mall dengan memakai kemeja kotak-kotak silver dengan jeans hitam selutut. Tak lupa, dia mengenakan kacamata hitam. Sedangkan, Zaki hanya memakai kaos merah dan jeans hitam selutut.


"Syukurlah, ternyata ada yang lebih heboh dari aku, hihihi," batin Vania lega.


"Vania, Lo ternyata ikut belanja juga?" tanya Zaki dengan ekspresi senang.


"Ya, gue diminta sama Ve buat nemenin," balas Vania singkat dengan suara datarnya.


"Ve, Lo kayak bocah aja deh minta ditemenin segala," sindir Dewa diiringi senyum tengil.


"Biarin lah, gue malas banget kalau cuma belanja sama kalian berdua. Bisa-bisa nggak selesai acara belanja hari ini," jujur Ve.


"Ya, udahlah. Lagipula, semakin banyak orang semakin bagus, ayo masuk deh!" ajak Dewa.


Mereka berempat berjalan memasuki The Breeze Mall seraya memegang selembar catatan yang sudah dituliskan oleh Dewi.


"Wah, ternyata bagian dalam Mall ini jauh lebih luas dibandingkan tampilan luarnya," gumam Vania tak henti menatap setiap sudut Mall.


"Memangnya Lo baru pertama kali masuk ke Mall ini, Vania?" tanya Dewa kepo.


"Ya, biasanya hanya sekadar lewat aja."


"Hahaha, pantas saja norak!" ejek Dewa.


"Hei, jaga ya omongan Lo! Sekali lagi, Lo ngehina Vania, kalian berdua aja yang belanja!" Ancam Ve tak suka temannya dihina.


"Dewa, sudah deh. Jangan mulai memancing keributan. Ingat, tujuan kita datang ke sini," Ungkap Zaki menenangkan suasana.


"CK! Oke, kita ke Toko Buku langsung aja di lantai 2," putus Zaki menuju Elevator.


"Hah? jadi tempat kita belanja barang sumbangan itu di toko buku?" tanya Vania.

__ADS_1


"Ya, kita akan membeli alat-alat tulis dan beberapa buku anak-anak untuk sumbangan ke Panti Asuhan Cahaya," jelas Zaki.


"Wah, aku sudah nggak sabar segera ke Toko Buku!" Ujar Vania begitu ceria dan antusias.


__ADS_2