
Setelah Pak Angga menyelesaikan pemilihan perangkat kelas, Pak Angga langsung ke luar kelas karena pelajaran pertama akan dimulai. Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Indonesia. Vania sudah tidak sabar memulai pelajaran hari ini.
"Vania, kamu ngapain sih nawarin diri jadi Perangkat Kelas gitu?" tanya Christa dengan raut wajah bingung.
"Ya, nggak apa-apa, aku mau tambah pengalaman aja," balas Vania tulus.
"Ihh, orang kayak kita nggak perlu ngurusin hal kayak gitu? biarin aja masalah sepele itu di urus sama anak-anak miskin kayak mereka," ucap Vania dengan polosnya sambil menunjuk anak-anak di barisan belakang.
"Hah? orang kayak kita gimana maksudnya?" tanya Vania bingung atas maksud Christa.
"Ihh, Papa Christa bilang, orang kaya itu kalangan kelas atas, nggak pantas mengurus urusan sepele, biar orang miskin dari kalangan kelas bawah saja yang mengurusnya. Kita ditakdirkan untuk memimpin gitu," jelas Christa dengan wajah penuh kebanggaan.
"Apa semua itu yang diajarkan sama Papa Christa?" tanya Vania dengan raut tidak suka. Christa hanya membalasnya dengan anggukan.
"Heem, kalau Vania diajarkan sama Papa, kita semua itu sama di mata Tuhan. Tidak ada kelas atas ataupun kelas bawah," balas Vania.
"Huh, Vania dibilanginnya batu nih. Ya udah terserah Vania aja deh. Andai aku bisa dapat kelas 7E dibandingkan kelas 7A," gerutu Christa
"Memangnya kenapa dengan kelas 7E? bukannya kelas 7A itu kelas unggulan ya?" tanya Vania penasaran.
"Ya sesuai namanya, Vania. Kelas 7 E, E itu artinya Elite. Memang sih kelas 7A terkenal dengan kelas unggulan karena anak-anak yang pintar. Tapi, Papa Christa bilang, kelas 7E lah yang paling populer di sekolah ini," jawabnya.
"Kenapa kelas 7E yang populer, Christa?" tanya Vania semakin penasaran.
"Kata Papa, karena kelas 7E itu khusus di isi oleh anak-anak yang kaya, konglomerat atau anak pengusaha gitu," jawab Christa semangat.
"Heem jadi gitu," jawab Vania mengangguk paham. "Kalau di kelas 7A, kebanyakan anak-anak biasa atau murid beasiswa, nggak asyik!" Lanjut Christa kembali. Terlihat raut wajah yang tidak puas dari teman sebelahnya.
"Syukurlah aku di sini, Vania lebih suka kelas ini," ucap Vania setengah berbisik.
Pembicaraan Vania dan Christa berhenti saat terlihat guru wanita yang masuk membawa buku cukup tebal.
"Pagi semuanya, saya Bu Pangestu yang akan mengajarkan kalian Bahasa Indonesia. Hari ini kita akan mulai pembelajaran dengan mengenal puisi," jelas Bu Pangestu antusias.
Terlihat keramaian di antara anak-anak sekelas mendengar puisi. Mereka merasa antusias untuk mempelajarinya termasuk Vania.
"Jadi, puisi yang paling populer adalah puisi dengan sajak ABAB seperti berikut," jelas Bu Pangestu sebelum menuliskan sebuah rangkaian puisi di papan tulis.
Ibu..
Kaulah wanita terbaik dalam hidupku
Kaulah pahlawan hidup kami
Ku ucapkan terima kasih atas segala-galanya untukmu
Karena kaulah sang surya yang menyinari dunia ini
Semua anak-anak terkesima dengan penghayatan pembacaan puisi Bu Pangestu itu. Bu Pangestu juga menjelaskan materi puisi dengan sangat baik dan mudah di mengerti.
"Oke, jadi tugas pertama kalian adalah coba buatlah sebuah rangkaian puisi sajak ABAB," ucap Bu Pangestu penuh semangat.
Setelah waktu 15 menit yang di berikan Bu Pangestu untuk membuat puisi habis, Bu Pangestu memberikan kesempatan yang mengejutkan.
"Oke, waktu menulis kalian habis, jadi siapa yang berani maju ke depan dan membacakan karya puisinya?" tawar Bu Pangestu yang dibalas diam oleh anak-anak kelas 7A.
"Sungguh tidak ada yang mau? padahal jika kalian maju, Ibu akan kasih nilai tambahan 8 di pelajaran bahasa Indonesia hari ini," tawarnya.
Tawaran itu membuat kelas menjadi ramai karena ada beberapa anak yang tertarik termasuk Vania Sastrowiyoto.
__ADS_1
"Saya, Bu!" Ucap Vania mantap dan maju ke depan kelas penuh percaya diri.
"Wah, hebat! Anak pemberani pertama, siapa namamu, Nak?" tanya Bu Pangestu ramah.
"Nama saya, Vania Sastrowiyoto, Bu," balasnya.
"Oke, Vania, silahkan bacakan puisi karyamu," ucap Bu Pangestu dan siap menuliskan nilai.
Vania mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak dan memberanikan diri untuk membaca puisi buatannya.
Aku hanyalah insan biasa
Bernaung di gedung ini untuk belajar
Berjuang demi cita-cita
Sampai di manapun akan kukejar
Terdengar tepuk tangan dari teman-teman sekelasnya atas keberanian Vania.
"Wah, puisi yang bagus dan penuh semangat!" Puji Bu Pangestu.
Vania terlihat begitu senang mendapatkan pujian di pelajaran pertamanya itu.
"Tapi, Vania. Penghayatan kamu masih kurang saat pembacaan puisi. Puisi itu tidak hanya dibaca saja tapi dibaca dengan hati penuh penghayatan sehingga tercermin irama spontan di tiap syairnya," saran Bu Pangestu.
Raut wajah Vania berubah menjadi kecewa mendengar kritik gurunya itu. Vania merasa gagal di pelajaran pertama sekolahnya.
"Tapi, tidak apa-apa, masih banyak waktu belajar, tetap semangat! Ibu kasih kamu nilai tambahan 8 ya!" Hibur Bu Pangestu.
"Hahahaha, iya Bu, Vania itu baca puisi apa baca berita sih! Datar dan Kaku banget kayak robot!" Ejek teman satu kursi Zaki.
Vania yang merasa diejek menatap Dewa dengan tajam setengah melotot.
"Heem, saya sih nggak berani, Bu. Tapi, saya yakin sahabat saya, Zaki bisa lebih baik dari dia," balas Dewa percaya diri.
"Hei, kok jadi gue yang dikorbankan sih!" Gerutu Zaki tidak suka sambil memukul lengan Dewa.
"Ya, sudah kita buktikan saja. Zaki coba kamu maju dan bacakan puisi karyamu," tantang Bu Pangestu kepadanya.
"Baik, Bu," balas Zaki pasrah sambil mengomeli sahabatnya, Dewa yang ceplas ceplos itu.
Sepanjang jalan ke depan kelas, Zaki merasa merinding karena ditatap dengan tajam oleh Vania seolah ingin menghajarnya.
Zaki menarik nafas dalam dan mulai membacakan karya puisinya di depan kelas.
Guruku, engkaulah pahlawanku
Yang mengajariku dengan penuh kasih sayang
Dengan apa aku harus membalas kebaikanmu
Dirimu akan selalu ku kenang
Setelah membaca puisi itu, kelas menjadi hening beberapa saat sebelum kemudian kelas penuh dengan riuh tepuk tangan.
"Hebat! Kamu sungguh hebat, Zaki! Kamu bisa membuat puisi yang bagus dan membacanya dengan penuh penghayatan, Ibu sampai terharu," puji Bu Pangestu dengan mata berkaca-kaca mendengar puisi Zaki.
Vania hanya menatap Zaki dengan tak percaya karena bisa membaca puisi seindah dan berirama itu, tak sepertinya yang terlalu kaku dan datar.
__ADS_1
"Wah! Lo keren my Bro! Itu baru sohib gue!" Teriak Dewa penuh kebanggaan.
"Ibu sudah memutuskan, khusus untuk kamu, Nurzaki Suganda, Ibu kasih nilai tambahan 10," putus Bu Pangestu yang langsung menuliskan angka 10 di lembar nilai Zaki.
"Kalah...Lagi-lagi aku kalah sama dia, Nurzaki Suganda!" Batin Vania tak terima.
Tanpa sadar, Vania mengacak-acak rambut panjangnya sendiri karena kesal. Zaki yang tak sengaja melihat itu tertawa kecil.
"Hahaha, lucu banget sih dia," batin Zaki.
Setelah pelajaran Bahasa Indonesia selesai, pelajaran terakhir hari ini adalah pelajaran unggulan dari Vania Sastrowiyoto. Walaupun sempat kesal, dia kembali semangat karena pelajaran selanjutnya adalah Matematika.
"Oke, nggak apa-apa aku kalah di pelajaran Bahasa Indonesia, tapi aku yakin di pelajaran Matematika, aku bisa menang dari Zaki," tekad Vania di dalam hatinya.
*****
"Siang anak-anak, saya adalah Pak Sudrajat, Guru Matematika kalian di kelas 1 ini. Pelajaran pertama kita hari ini adalah bilangan desimal," jelas Pak Sudrajat dan langsung menuliskan rumus-rumus di papan tulis.
"Materi hari in cukup, sekarang saatnya kalian mengerjakan soal-soal di halaman 20 dan kumpulkan dalam waktu 30 menit!" Perintah Pak Sudrajat yang membuat panik teman-teman sekelas kecuali Vania.
"Nggak sia-sia, aku minta Papa berikan guru les Privat Matematika terbaik, semua soal ini sudah pernah aku kerjakan sebelumnya," bisik Vania diiringi kekeh kecilnya.
Setelah waktu 30 menit berlalu, semua buku dikumpulkan dan di nilai langsung oleh Pak Sudrajat sebelum bel pulang sekolah.
"Oke, Bapak sudah menilai hasil kalian di halaman 20 dan cukup memuaskan. Tapi, nilai tertinggi hari ini didapatkan oleh Vania Sastrowiyoto...." jelas Pak Sudrajat.
"Yes! Akhirnya aku berhasil menang kali ini!" gumam Vania sangat gembira.
"Dan...Nurzaki Suganda, yang mendapatkan nilai 10," lanjut guru matematika Vania itu.
"Apa?!" Teriak Vania spontan karena harus seri dengan Zaki kali ini.
"Ada apa, Vania? Kenapa kamu teriak kepada Bapak?" ucap Pak Sudrajat tak suka.
"Ma-maaf, Pak. Bukan maksud saya begitu," ucap Vania dengan raut wajah bersalah.
"Sudah, kamu tolong bawakan buku-buku ini ke kantor saya," perintah Pak Sudrajat sebelum meninggalkan kelas.
Bel pulang sekolah berbunyi, Vania segera menumpuk buku-buku matematika di tangannya dan membawanya ke Ruangan Pak Sudrajat. Banyaknya buku sampai menutupi wajahnya yang masih kesal.
Vania berjalan agak sempoyongan karena membawa terlalu banyak buku. Mendadak, ada seseorang yang membawa setengah tumpukan bukunya dan berjalan ke Ruang Guru.
"Zaki! Aku nggak butuh bantuan kamu!" Teriak Vania sambil mengejarnya untuk mengambil bukunya kembali.
"Nggak usah bawel deh! Gue bantu Lo karena emang bagian tanggung jawab gue sebagai Ketua Kelas, ada masalah?" cecar Zaki.
Vania tidak bisa berkata apa-apa lagi, mereka berdua berjalan dalam diam hingga sampai di Ruang Pak Sudrajat.
Setelah selesai, mereka berdua ke luar kantor dan bersiap untuk pulang.
"Zaki, kamu belajar les Matematika di mana?" tanya Vania spontan.
"Hah? gue nggak les dimana-mana. Uang dari mana bisa bayar les segala. Gue aja sekolah di sini hasil dari beasiswa," jawab Zaki dengan polosnya.
Batin Vania semakin kecewa karena harus kalah dari seseorang yang bahkan tidak pakai jasa Guru Les atau Guru Privat.
"Nurzaki Suganda! Aku nggak akan kalah lagi dari kamu!" Teriak Vania penuh semangat sebelum berlari menuju Parkiran Mobil. .
"Hah? Dia ada masalah apa sih?" gumam Zaki sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman sekelasnya yang aneh itu.
__ADS_1