My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Obsesi


__ADS_3

Jam istirahat adalah jam yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak di kelas. Termasuk oleh Vania, tapi berbeda siang hari ini. Vania nampak tidak bersemangat mendengar bel istirahat berbunyi.


"Vania, ke kantin bareng yuk?" ajak Christa semangat. Vania hanya menghela napas berat "Siang ini, aku sudah janji makan siang sama orang lain," balas Vania ogah-ogahan.


"Wih, tumben. Cie, janjian sama siapa nih?" tanya Christa kepo. Belum sempat Vania menjawab pertanyaannya, Zaki dengan semangat menghampiri meja Vania.


"Lo masih ingat perjanjian kita 'kan? jadi makan apa kita siang ini?" ucap Zaki begitu antusias.


"Hah?ada angin apa nih Lo mau makan siang sama cowok rese kayak dia," sindir Christa.


"Sstt, Lo nggak perlu tahu. Ini adalah rahasia diantara gue dengan Vania. Yuk, kita makan sekarang, sudah lapar banget gue," balas Zaki dengan senyum tengilnya.


Vania pun hanya bisa pasrah menuruti Zaki karena janji tetaplah janji. Mereka berdua berjalan ke kantin utama SMP Sinar Putih.


"Wih, luas banget kantin di sini. Banyak macam makanan yang belum pernah gue coba juga," ucap Zaki takjub dan membuat Vania bingung.


"Memangnya kamu baru pertama kali ke kantin ini? biasanya tiap jam istirahat makan dimana?" tanya Vania kepo melihat Zaki yang antusias.


"Iya, memang baru pertama. Biasanya gue nggak makan siang di kantin ini. Soalnya gue tahu pasti harga makanannya mahal," ucap Zaki dengan polosnya.


"Hah? memangnya ada kantin lain selain ini di lingkungan sekolah?" batin Vania. Namun, dia tak mau ambil pusing. Dia hanya ingin segera membayar hutangnya kepada Zaki.


"Jadi, Lo mau makan apa, Zaki?" tanya Vania.


"Gue ngikut yang Lo pesan aja deh," putusnya.


Vania pun mengajak Zaki ke sebuah stand makanan khas Italia yang masih sangat jarang. "Ya, udah. Kita pesan spaghetti aja deh di sini. Aku jamin rasanya enak," putus Vania.


"Waduh, gue baru pertama kali dengar makanan itu, terserah Lo aja deh. Yang penting perut gue kenyang," balas Zaki cuek.


Ada rasa canggung ketika mereka menunggu pesanan datang. Namun, tiba-tiba, dari belakang Vania, ada seseorang yang memegang pundaknya.


"Hei, kita ketemu lagi. Lo masih ingat gue 'kan?" tanya Ken dengan mata berbinar.


"Ahh, iya. Kamu yang kena lempar aku tadi 'kan? Ehm, Ken Fernandez ya?" balas Vania.


"Wah, syukurlah kalau Lo masih ingat. Tadi kita belum sempat kenalan lebih jauh," ucapnya sok akrab dan langsung ambil posisi duduk di samping Vania.


"I-iya, gimana luka di dahi kamu itu?" tanya Vania dengan wajah bersalah.


"Tenang, tadi gue udah ke UKS dan diobati kok. Terimakasih ya sudah khawatir," balas Ken.

__ADS_1


"Oh, syukurlah jika begitu," balas Vania lega.


"Vania, kamu suka juga makan spaghetti di sini?" tanya Ken dengan senyum manisnya. Vania hanya membalasnya dengan anggukan.


"Oke, kalau begitu, hari ini, biar gue traktir ya!" tawar Ken dengan wajah percaya diri.


"Ehm, nggak perlu, aku bisa bayar sendiri kok. Lagipula, aku sudah pesan bareng temanku," tolak Vania dengan senyum manisnya.


"Teman? mana?" tanya Ken yang pura-pura tidak tahu.


"Ehem..Ehem...Maaf nih ganggu! tapi gue ini manusia ya bukan setan yang nggak kelihatan," gerutu Zaki yang merasa diabaikan.


"Oh, dia ini teman Lo. Gue kira dia pelayan di stand makanan ini," sindir Ken santai.


"Apa Lo bilang!" protes Zaki mulai emosi.


"Sudah, ada apa sih sama kalian. Bisa nggak jangan ribut di depan aku," gerutu Vania kesal.


Ken dan Zaki akhirnya hanya diam hingga pesanan spaghetti mereka tiba.


"Oh, jadi spaghetti itu kayak indomie biasa cuma pakai daging sama saos sambal gini," tutur Zaki dengan polosnya.


"Hahaha, masa spaghetti disamain sama Indomie sih, dasar norak!" Sindir Ken yang masih tetap duduk di samping Vania.


"Uhuk! Uhuk!" ucap Zaki yang tersedak akibat disindir oleh lelaki di samping Vania.


"Kamu nggak apa-apa, Zaki? Ken, bisa tolong jangan ganggu kami makan siang," pinta Vania.


"CK! Ok, kali ini aku pergi dulu ya, Vania. Lain kali kita makan siang berdua aja ya tanpa cowok norak ini," balas Ken dengan nada merendahkan sebelum pergi menghampiri teman-temannya yang kumpul di stand lain.


Akhirnya, siang itu, Vania dan Nurzaki bisa makan siang dengan tenang dan damai sebelum kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


"Gimana makan siang Lo sama si cowok rese itu?" tanya Christa yang langsung kepo saat Vania baru tiba di kelas.


"Heem, ya biasa aja sih. Ya, sempat ada pengganggu sih tapi akhirnya kita bisa makan dengan tenang," ucap Vania santai.


"Hah? pengganggu? siapa, Vania?" lanjut Christa semakin kepo.


"Ehm, siapa itu namanya? Ken Fernandez," jawab Vania cuek.


"Apa? Ken Fernandez dari kelas 7E? Gila! Masa cowok tampan dan kaya raya kayak dia Lo bilang pengganggu sih!" Protes Christa.

__ADS_1


"Kamu kenal dia, Christa?" tanya Vania kepo.


"Siapa sih yang nggak kenal dia, Vania. Dia itu cowok kelas 1 paling populer di sekolah ini. Ayahnya pemilik beberapa hotel bintang 3 di kota ini," jelas Christa begitu antusias.


"Masa sih? berlebihan ah! Aku lihat dia biasa aja kok," ujar Vania santainya.


"Hah? biasa apanya! Sumpah ya. Gue nggak ngerti lagi sama jalan pikiran Lo. Kayaknya, emang di pikiran Lo cuma ada belajar dan belajar deh," sindir Christa frustasi.


"Emang iya!" jawab Vania percaya diri. Obrolan mereka terhenti karena guru jam pelajaran selanjutnya sudah tiba.


*****


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Vania bergegas menuju toilet untuk mengganti seragamnya dengan baju olahraga. Dia sebelumnya sudah menelpon Pak Broto untuk menjemputnya lebih sore karena ada urusan penting yang harus Vania lakukan terlebih dahulu sepulang sekolah.


Vania bertekad untuk latihan mendribble dan shooting lagi agar saat penilaian besok, dia sudah lebih lancar dan tidak menyusahkan Zaki. Dia kemudian ke gudang olahraga, untuk meminjam bola basket sebentar.


"Tenanglah, Vania. Kamu pasti bisa. Ingat cara mendribble dan shooting yang Pak Fery ajarkan dengan detail," batin Vania penuh tekad.


Dia mulai mengikuti langkah demi langkah mendribble bola yang diingatnya dari Pak Fery. Tiba-tiba, punggung tangannya ada yang menyentuh saat sedang mendribble bola.


"Nggak gitu caranya. Lo harus mendribble bolanya lebih tinggi agar seimbang," ucap Zaki yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Zaki! Kamu ngapain di sini? bukannya pulang ke rumah?" tanya Vania dengan wajah kaget.


"Partner tim basket gue lagi latihan, masa gue diam aja. Kita latihan bareng. Besok, kita harus bisa dapat nilai praktek yang bagus," jawabnya.


"Oke, kali ini kita gencatan senjata dulu demi kesuksesan nilai PENJASKES!" ucap Vania dengan tatapan mata penuh api membara.


"Hahaha, gencatan senjata apanya. Dari awal juga cuma Lo sendiri kok yang anggap gue sebagai rival, gue sih sama sekali nggak anggap Lo rival gue," kilah Zaki. .


"Apa? kamu nggak anggap aku rival kamu! Maksudnya kamu anggap aku nggak sebanding sama kamu gitu!" protes Vania tak suka.


"Aduh, bukan begitu maksud gue, Vania," balas Zaki mencoba menghilangkan kesalahpahaman Vania kepadanya.


"Udahlah! Kamu fokus aja ngajarin aku teknik mendribble dan shooting bola yang benar!" putus Vania dengan wajah emosi.


Zaki hanya bisa mengikuti ucapan Vania agar dia tidak semakin marah. Zaki mulai memegang tangan Vania untuk mengajarkan teknik mendribble dan shooting yang benar.


Tanpa mereka sadari, tidak jauh dari lapangan sekolah, ada seseorang yang sedang menatap mereka dengan tajam dan sinis. Dia nampak terganggu dan tidak suka melihat kedekatan Vania dan Zaki di lapangan.


"Kali ini, tidak akan selesai begitu saja. Berani-beraninya Lo ngedeketin cewek yang berhasil membuat gue tertarik dan jatuh hati pada pandangan pertama," ucap seseorang itu dengan senyum jahatnya.

__ADS_1


__ADS_2