
Vania begitu antusias memasuki Toko Buku yang berada di The Breeze Mall. Baru pertama kali Vania datang sendiri ke Toko untuk membeli buku. Biasanya, Vania hanya memberikan judul buku yang ingin dibeli kepada Asisten Rumah Tangganya dan tinggal menunggu mereka membelikan untuknya.
"Oke, cocok banget di Toko ini tersedia beragam buku tulis dengan ukuran dan model yang berbeda, kita beli di sini aja," Putus Dewa.
Mereka berempat mulai memilih buku-buku tulis yang cocok disumbangkan anak-anak.
"Wah, buku tulis bersampul Barbie ini lucu-lucu banget, kita beli ini aja deh," saran Ve.
"Hah? lucu apanya? kekanakan banget sih gambar Barbie. Buat anak-anak itu cocoknya buku tulis bergambar mobil ini," sanggah Dewa.
Dan, dimulailah perdebatan pertama yang panjang antara Dewa dan Ve dalam memilih buku tulis yang cocok. Sementara, Zaki dan Vania hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan kedua temannya yang bagaikan Tom and Jerry itu.
"Hei! Bisa nggak kalian berdua berhenti? baru juga 5 menit masuk ke sini udah mulai debat aja," tukas Zaki. Wajahnya terlihat kesal.
"Ya, nih! Belum apa-apa udah berantem aja kalian. Gimana kalau kita ambil buku tulis bersampul hewan lucu saja yang pasti disukai anak-anak?" usul Vania meredakan suasana.
"Nah, ide bagus itu. Gue setuju sama Vania. Mau anak perempuan ataupun anak laki-laki pasti suka hewan lucu," timpal Zaki.
"Okeee," ucap Dewa dan Ve serempak dengan raut kecewa pilihannya tidak diambil.
Setelah permasalahan buku tulis selesai, mereka berempat mulai berpindah ke area buku anak-anak untuk bahan bacaan di Panti.
"Wah, ada kumpulan buku-buku karya Hans Cristian Andersen, ada buku gadis penjual korek api, Itik buruk rupa, Putri Duyung, dll. Anak-anak Panti pasti akan suka ceritanya, mereka jadi lebih tahu negara luar," jelas Dewa penuh semangat.
"Ih, apaan? buku karya anak bangsa tetap yang paling bagus lah. Ada buku Timun Emas, Bawang Merah Bawang Putih, Kancil, dll. Anak-anak jadi lebih kenal negaranya sendiri," bantah Ve tak mau kalah.
"Pokoknya, kita beli buku karya Hans C.A. Gue ketuanya, jadi kalian harus setuju!" Putus Dewa.
"Nggak bisa lah! Kita juga punya hak yang sama buat milih buku sumbangannya!" Protes Ve tak terima penyalahgunaan kekuasaannya.
"Sudah-sudah! Dari pada debat terus, kita beli 2-2nya aja deh!" Putus Zaki. Dia nampak sudah tidak kuat mendengar perdebatan mereka.
"Ya, benar. Toh, 2 jenis buku itu pasti punya pelajaran yang sama-sama bagus bagi perkembangan anak-anak," tukas Vania.
"Oke, sepakat!" Jawab Ve dan Dewa kompak.
Setelah permasalahan buku dongeng selesai, Ve dan Dewa langsung berjalan ke bagian Pensil dan Pulpen. Namun, Vania justru berjalan ke arah sebaliknya.
Zaki yang penasaran dengan tingkah Vania pun mengikutinya. Vania berdiri di bagian Novel dengan wajah serius. Di tangannya, ada sebuah buku yang cukup tebal berwarna-warni.
"Lo tertarik sama novel itu?" tanya Zaki kepo.
"Ahh, iya. Sampul dan judulnya cantik banget," balas Vania. Matanya begitu lekat mengamati sampul novel tersebut.
"Novel Laskar Pelangi? beli aja. Bagus kok kisahnya," saran Zaki dengan senyum hangat.
"Hah? kamu sudah pernah baca novelnya, Zaki?" tanya Vania mulai menatap Zaki serius.
"Ya, gue 'kan memang suka banget sastra. Gue pernah dipinjamkan Novel ini sama sepupu gue," balas Zaki. Vania mendadak teringat kejadian pembacaan puisi saat kelas 1 dulu.
__ADS_1
"Pantas saja Zaki begitu hebat. Dia sungguh pecinta karya sastra rupanya," batin Vania.
"Awalnya, aku tertarik sampulnya saja karena kebetulan aku suka banget pelangi. Tapi, kalau kamu yang bilang mungkin memang novel ini bagus dan layak dibeli," tukas Vania ramah.
"Ya, novel itu tentang kisah perjuangan kesepuluh anak-anak Belitong dalam belajar di SD yang sangat sederhana dan minimnya fasilitas. Namun, mereka tetap bisa berprestasi," jelas Zaki menggebu-gebu.
"Oke, aku akan beli novel ini. Terimakasih buat rekomendasinya ya, Zaki," putus Vania.
"Pilihan bagus. Sama-sama, senang bisa membantu. Ehm, Vania soal insiden waktu kelas 1 du..." belum sempat Zaki menyelesaikan ucapannya, mereka berdua dikagetkan oleh perdebatan sengit Ve dan Dewa yang ketiga kalinya.
Vania dan Zaki pun langsung menghampiri sang Tom and Jerry itu. Dewa dan Ve terdengar saling berdebat soal pensil warna.
"Dewa, udah deh kita pilih beli krayon ini saja. Selain warnanya banyak, bahannya juga lunak buat memudahkan anak-anak yang baru belajar mewarnai," ujar Ve percaya diri.
"Nggak deh! Krayon itu gampang patah dan rusak. Mending kita beli Pensil Warna saja, bahannya kuat dan bisa diraut berulang kali," bantah Dewa tak mau kalah.
"Apa lagi sekarang? bisa nggak sih kalian tenang dan nggak berdebat sekali aja," gerutu Zaki mulai kewalahan menghadapi mereka.
"Iya, benar. Masa cuma masalah pewarna aja sampai debat gitu sih," timpal Vania.
"Ya, habisnya. Si Ve ini hobi banget ngajak gue debat!" Kilah Dewa.
"Enak aja! Ada juga Lo yang ngajakin gue ribut terus," sanggah Ve.
"Udah lah. Berhenti oke. Kepala gue pusing mendengarkan perdebatan kalian terus," jujur Zaki yang diikuti anggukan Vania tanda setuju.
" Ya, udah. Kalau begitu, menurut kalian lebih baik kita beli Pensil Warna atau Krayon?" tanya Dewa mencoba bermusyawarah.
"Gue juga pilih kasih Krayon aja buat anak-anak Panti," timpal Vania cepat agar segera selesai.
"Hahaha, gue bilang juga apa! Gue menang 'kan?" tukas Ve sumringah.
"CK! Ya, udahlah. Kita beli Krayon aja," putus Dewa mengalah. Terlihat raut tak puas darinya.
"Udah semua 'kan barang sumbangannya? Pulang yuk! Capek banget gue," keluh Zaki.
Mereka berempat sepakat untuk mengakhiri sesi belanja barang sumbangannya dan berencana pulang. Namun, di tengah perjalanan ke pintu keluar Mall, Dewa nampak resah dan gelisah sendiri.
"Ahh, dipikir berapapun, gue nggak terima kalah dari si Boncel Ve!" Gerutu Dewa mendadak.
"Hah? Lo nggak terima?! Terus mau Lo apa sekarang?" tantang Ve berapi-api.
"Gue mau kita tanding Game Timezone buat menentukan siapa pemenangnya!" balas Dewa.
"Hahaha, oke, siapa takut! Ayo!" ucap Ve.
"Apa?!" Teriak Vania dan Zaki serempak. Mereka terlihat lunglai karena masih harus mampir ke Timezone dan menyaksikan kembali perkelahian kedua Tom and Jerry itu.
Namun, mereka tidak punya pilihan lain. Jika Ve dan Dewa sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa menggoyahkannya. Vania dan Zaki hanya bisa pasrah menemani mereka.
__ADS_1
*****
Suasana Timezone begitu ramai karena mereka datang di saat weekend. Namun, tidak ada pengaruhnya kepada Ve dan Dewa yang diselimuti jiwa kompetisi nan menggebu itu.
Pertama, Dewa mengajak Ve ke sebuah game tembakan zombie dengan percaya diri.
"Gue tantang Lo buat main game tembakan ini! Siapa yang paling banyak membunuh Zombie, dialah pemenangnya," tantang Dewa.
"Itu aja? oke, siapa takut!" balas Ve semangat.
Vania dan Zaki hanya terduduk lemah di sebuah bangku berbentuk ulat seraya menatap pertandingan kedua temannya itu. Tak lama, hasilnya keluar, Dewa menang telak.
"Hore, gue menang! 1-1," ujar Dewa senang. Ve hanya bisa terdiam meratapi kekalahannya.
"Hahaha, Lo salah ngelawan Dewa dalam game tembak menembak, Ve. Dialah pasti menang, apalagi kalau soal nembak cewek. Dewa jagonya!" Teriak Zaki gembira.
"Haha, benar banget! Lo emang sahabat gue, Zaki!" balas Dewa penuh kebanggaan.
"CK! Apanya yang bisa dibanggakan dari Playboy!" gerutu Vania jutek. Zaki hanya bisa terkekeh kecil dan kemudian terdiam.
"Oke, kali ini gue kalah. Jadi, game selanjutnya apa?" tantang Ve tak gentar.
Dewa pun berjalan menuju ke sebuah mesin game basket berukuran cukup besar.
"Game kedua, kita tanding basket aja! Siapa yang paling banyak memasukkan bola ke dalam ring, dialah pemenangnya," jelas Dewa.
"Hahaha, oke! Gue harap Lo nggak menyesali tantangan Lo kali ini!" ujar Ve percaya diri.
"Wah, game basket, jadi ingat waktu kelas 1 dulu. Vania, mau main bareng gue nggak?" ajak Zaki penuh harap.
"Hah? ngapain? mau ikut-ikutan tanding kayak Ve dan Dewa?" selidik Vania.
"Ya, siapa tahu, Lo sudah lupa caranya memasukkan bola ke dalam ring!" sindir Zaki.
"Enak aja! Gue nggak amnesia sampai lupa yang Lo ajarkan dulu! Oke, kita ikutan main game ini deh," putus Vania mulai semangat.
"Nah, itu baru Vania yang gue kenal!" Tukas Zaki diiringi senyuman manisnya.
Selama bermain, Vania mengingat kembali momen dimana Zaki mengajarkannya teknik dasar shooting bola ke dalam ring demi ujian praktek PENJASKES. Tanpa sadar, Vania tersenyum sendiri.
"Wah, ternyata Lo sungguh masih ingat ya teknik yang gue ajarkan dulu," ujar Zaki bangga.
"Iya dong! Gue 'kan emang pintar!" balas Vania.
Tanpa disangka, Vania dan Zaki berhasil meraih poin tertinggi di game basket itu. Mereka juga berhasil mendapatkan banyak kupon penukaran. Begitu senangnya, Zaki dan Vania refleks berjingkrak-jingkrak dengan tangan yang masih saling menggenggam karena TOS.
"Ehem, ehem, kayaknya ada yang lagi asyik sendiri nih!" Sindir Ve tiba-tiba.
"Iya, kita yang tanding, tapi kok malah mereka yang lebih menikmati," timpal Dewa.
__ADS_1
Zaki dan Vania refleks melepas genggaman tangan mereka. Vania langsung mengalihkan pandangannya ke arah kanan dengan pipi merona. Sedangkan, Zaki mengalihkan pandangannya ke arah kiri. Ve dan Dewa saling tatap dan tersenyum kecil.