
"Kenapa kamu ketawa, Zaki?" tanya Vania. Matanya menatap penuh kecurigaan akan tingkah aneh Zaki.
"Haha, enggak apa-apa. Gue lucu aja lihat Lo makan Es Cream kayak anak SD," cibir Zaki.
"Apa? Anak SD? Maksud kamu apa bicara seperti itu?" protes Vania tidak suka.
"Ya, Lihat aja bibir Lo, Belepotan banget sama es cream," sindir Zaki seraya menahan tawa.
Vania segera mengeluarkan kaca kecil dari dalam tempat pensil Barbie miliknya. Ia mulai bercermin untuk membuktikan ucapan Zaki.
"Ya ampun, Benar belepotan ternyata, Malu banget," batin Vania dengan pipi merona.
Vania segera mengelap sisa-sisa Es Cream yang menghiasi bibir mungilnya. Setelah bersih, ia memasang ekspresi cool kembali. Zaki tampak menyunggingkan senyum kecil.
"Untung aja plastik satunya ketemu, Lain kali jangan ceroboh dong, Dewa!" gerutu Ve. Di belakangnya, Dewa hanya bisa diam menerima Omelan dari sang bendahara kelas.
"Iya iya, Lain kali gue akan lebih hati-hati, Udah deh ngomelnya, Kuping gue panas nih!" protes Dewa seraya memasukkan jarinya ke telinga.
"Ya udah, Kita pulang aja sekarang. Gue takut kita enggak kebagian angkot," usul Zaki.
Mereka berempat akhirnya berjalan agak jauh dari area parkir The Breeze Mall untuk mencari angkot yang ngetem. Terlihat hanya sisa satu angkot di sana. Mereka bergegas naik angkot.
Angkot hitam bertuliskan 'Kaisar' cukup besar dan memiliki banyak tempat duduk. Sayangnya, angkot sudah hampir penuh. Hanya tersisa empat tempat duduk yang kosong. Dua kursi di bagian belakang dan dua kursi di tengah.
Vania dan Zaki memutuskan duduk di kursi tengah. Ve dan Dewa terpaksa mengambil kursi di bagian belakang. Angkot langsung berjalan dengan cepat memecah jalanan.
Zaki tertarik melihat gerak gerik Vania. Dia tampak celingak celinguk melihat sekeliling angkot dengan ekspresi takjub.
"Lo baru pertama naik angkot ya, Vania?" selidik Zaki penasaran akan tingkah Vania.
"Iya, biasanya, kan, aku selalu diantar jemput oleh supir naik mobil," jelas Vania jujur.
"Terus, gimana menurut Lo soal angkot ini?" tanya Zaki kepo.
"Ternyata, angkot ini lebih nyaman dari yang aku duga, kursinya cukup empuk, ada pewangi ruangan juga," papar Vania antusias.
"Wah, ada yang belum Lo sebutkan dan menjadi hal paling asyik di angkot ini," tandas Zaki.
"Masa? Apa itu?" tanya Vania penasaran.
"Ada musik yang sedang hits dan masuk tangga lagu tertinggi di radio," jelas Zaki.
Tak berselang lama, mulai terdengar lantunan musik dari VCD mini di sebelah supir.
Aku 'kan selalu ada di dekatmu...
Aku 'kan selalu menemani harimu...
__ADS_1
Kau harus tahu...
Betapa aku mencintaimu...
"Wah, lagunya bagus, apa judulnya?" tanya Vania kepada Zaki.
"Oh, ini lagunya Vagetoz Band, judulnya 'Betapa Aku Mencintaimu'. Lo suka lagunya?" ujar Zaki.
"Sepertinya aku akan suka band ini, sih, suara vocalisnya merdu, musiknya keren, liriknya juga bagus," papar Vania penuh semangat.
"Gue juga suka sama Vagetoz Band. Walaupun mereka masih band baru, tapi lagu-lagunya bagus banget. Pantas, sih, mereka meraih tangga nada nomor 1 di radio-radio akhir-akhir ini," jelas Zaki penuh kebanggaan sebagai fans.
Saat tengah asyik mengobrol soal Vagetoz Band, mobil angkot berhenti. Dewa ternyata sudah sampai di dekat rumahnya.
"Bro, Vania, gue turun duluan ya, sampai bertemu lagi besok di kelas," ucap Dewa.
"Woi! Lo enggak pamit sama gue?" gerutu Ve.
"Ngapain? enggak penting banget pamitan sama cewek bawel macam Lo," ketus Dewa.
"Ih! Dasar cowok nyebelin!" hardik Ve murka. Dewa mengacuhkan hardikan Ve dan turun dari angkot dengan santainya diiringi senyum kecil.
Selang sepuluh menit kemudian, giliran Ve yang harus turun dari angkot karena sudah sampai di area perkampungannya.
"Vania, gue turun duluan ya. Lo hati-hati. Sampai ketemu besok di kelas," pamit Ve.
"Zaki! Lo jagain ya Vania sampai rumahnya. Awas kalau Lo macam-macam," ancam Ve. Ia menunjukkan kepalan tangannya dalam pose meninju sebagai bentuk ancaman kepada Zaki.
Zaki bergidik ngeri membayangkan tinju Ve mendarat di wajahnya jika mengabaikan ancaman itu. Ia pun segera mengangguk cepat sebelum Ve turun dari angkot.
Sekitar lima belas menit dari tempat Ve turun, Vania mulai melihat gerbang menuju perumahan Citra Garuda tempat tinggalnya.
"Zaki, aku mau turun di dekat gerbang itu," ujar Vania hendak beranjak dari kursinya.
"Oke. Kiri bang!" Teriak Zaki seraya mengetuk jendela angkot dengan koin. Angkot hitam itu mulai berjalan pelan dan berhenti.
"Terimakasih, ya, Zaki. Sampai ketemu besok," pamit Vania mulai berjalan melewatinya.
"Sama-sama, terimakasih juga buat hari ini," jawab Zaki dengan senyum terbaiknya.
Setelah hari yang melelahkan, Vania berhasil sampai di depan rumahnya dengan aman. Dia tidak akan pernah melupakan pengalaman barunya hari ini.
"Ternyata, di luar hal pelajaran, ada banyak hal lain yang sangat menyenangkan," batin Vania.
*****
Hari itu ada yang berbeda dalam jam pelajaran olahraga kelas 8A. Tidak seperti biasanya, hari ini, mereka akan mengadakan jalan santai mengelilingi SMP Sinar Putih untuk mengisi jam olahraga. Anak-anak begitu antusias termasuk Vania yang belum pernah melewati desa sekitar sekolahnya.
__ADS_1
Anak-anak mulai mengikuti rute yang diberikan oleh guru PENJASKES mereka. Ada yang berjalan bersama geng mereka, ada yang berjalan bergerombol. Sedangkan Vania hanya berjalan berdua bersama Ve saja.
Sejak hari pertama kelas 8A, Vania hanya dekat dengan Ve saja. Berbeda dengan kebanyakan teman sekelasnya yang sudah membuat geng sendiri. Vania tidak mudah bergaul dengan sembarang orang. Ia hanya dekat dengan orang yang membuatnya nyaman.
"Wah, ternyata, banyak tempat menarik juga, ya, di sekitar SMP kita," tutur Ve seraya menggandeng lengan Vania saat berjalan.
"Ya, Ve. Banyak pepohonan juga di sekitar sini. Aku jadi merasa sejuk," balas Vania ceria.
Ketenangan Vania dan Ve terusik dengan kedatangan Dewa dari arah belakang mereka. Ia lalu berlari mendahului Ve dan Vania.
"Oi, Ve! Ayo kita tentukan pemenang pertandingan di Mall tempo hari sekarang!" Tantang Dewa tiba-tiba.
"Hah? Lo nantang gue? Ayo, mau tanding apa lagi?" sambut Ve dengan tatapan membara.
"Kita tanding berlari. Siapa yang duluan sampai di sekolah, dia yang menjadi pemenang," jelas Dewa percaya diri.
"Oke, siapa takut! Kita mulai aja sekarang," putus Ve seraya melepaskan gandengan tangannya di lengan Vania.
Ve begitu semangat menanggapi tantangan dari Dewa. Ia lupa bahwa sedang berjalan bersama Vania dan meninggalkannya sendirian. Vania mau tak mau harus berjalan sendirian. Ada rasa sepi menghampiri.
"Dasar Ve. Kalau sudah menyangkut soal Dewa, semuanya dilupakan termasuk aku," batin Vania
"Ehem, ada yang sendirian nih. Ke mana bodyguard Lo itu?" ucap Zaki yang sudah berada di samping Vania.
"Zaki? Kok kamu bisa di sini?" tanya Vania bingung.
"Ya, tadi gue lagi jalan sama anak-anak, eh, gue lihat ada cewek sebatang kara, gue kasihan jadi gue datangi deh," sindir Zaki.
"Hah? siapa yang sebatang kara? Aku enggak apa-apa kok jalan sendirian, malah tenang," kilah Vania. Sebenarnya, ada perasaan senang saat Zaki menemaninya berjalan sendirian. Tetapi, Vania terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Terlambat, gue lebih tertarik jalan bareng cewek kuper macam Lo," cibir Zaki kembali.
"CK! Enak aja bilang aku kuper. Aku itu hanya selektif dalam memilih teman," tampik Vania.
"Zaki, ayo cepat ke kelas. Gue udah lapar banget tahu," ungkap Dito, anggota geng Dewa Zaki di kelas 8A.
"Ya, Zaki. Ayo kita susul Dewa yang sudah jauh di depan," imbuh Gilang, anggota geng Dewa dan Zaki lainnya.
"Kalian jalan duluan aja deh! Ada hal penting yang mau gue urus dulu," tandas Zaki.
"Hal penting? Apa maksudnya itu aku?" batin Vania bertanya-tanya.
"Oke, deh. Kalau gitu, kita ke kelas duluan ya! Nikmati waktu Lo sama si kuper deh," sindir Dito. Kedua teman gengnya itu berjalan mendahului Zaki dan Ve diiringi senyum aneh.
"Kamu yakin enggak ikut bareng mereka aja?" tanya Vania.
"Enggak deh. Jalan sama lo kayaknya lebih seru," ungkap Zaki penuh keyakinan.
__ADS_1
"CK! Terserah," balas Vania secuek mungkin.