My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Indahnya Perdamaian


__ADS_3

"Kamu hebat juga ya, Zaki. Bisa mengerjakan soal Bahasa Arab dengan lancar," puji Vania.


"Enggak kok, gue agak mengerti Bahasa Arab juga dari orang lain," tandas Zaki merendah.


"Maksudnya dari orang lain?" tanya Vania mulai tertarik dengan tanggapan Zaki.


"Jadi, gue itu dulu punya teman masa kecil yang bagus banget mengaji-nya. Gue penasaran aja dari mana dia belajar mengaji sehebat itu," ungkap Zaki mengenang masa lalu. "Terus?" tanya Vania semakin kepo.


"Nah, setelah dekat sama dia, ternyata gue baru tahu kalau keluarganya itu punya pesantren kecil di desa sebelah. Berhubung kita dekat jadi dia sesekali mengajak gue ke sana," papar Zaki.


"Wah, asyik dong bisa main ke Pesantren," balas Vania semakin antusias.


"Bukan hanya asyik, di sana, gue bisa melihat anak-anak pesantren belajar Bahasa Arab. Setiap gue main ke sana, gue juga otomatis ikut memperhatikan pelajaran itu. Jadi, ya, lumayan paham, lah, kalau soal Bahasa Arab dasar," ungkap Zaki dengan nada merendah.


"Wah, pantas saja, kamu jago mengerjakan soal ujian Bahasa Arab tadi. Jujur aja, aku cuma mengenal Bahasa Arab saat mengaji waktu kecil. Kedua orangtua-ku terlalu sibuk untuk mengajarkanku lebih dalam tentang Bahasa Arab," ujar Vania dengan ekspresi sedih.


"Gue juga sama kok, cuma mengenal Bahasa Arab saat mengaji waktu kecil. Bedanya, gue bisa berteman dengan anak dari seorang pemilik pesantren dan diajak belajar di sana," balas Zaki dengan penuh ketulusan.


"Kamu beruntung, Zaki," pungkas Vania.


"Itu mengapa bagiku, belajar itu tidak harus di sekolah saja. Terkadang, kita juga bisa belajar lebih banyak hal di luar sekolah. Itulah mengapa pentingnya menikmati setiap momen di hidup baik di sekolah maupun di luar," jelas Zaki dengan ekspresi yang bijak.


"Hahaha, lama-lama kamu seperti kakek-kakek tua deh! Aku sampai kadang lupa kita seumuran dari cara berpikir tentang suatu hal" celoteh Vania diiringi kekeh kecil.


"Hahaha, lo bukan orang pertama yang bilang gue kayak kakek tua," balas Zaki dengan tawa.


"Iya, setelah aku pikir-pikir, jalan pikiran kamu benar juga. Kita sama-sama kelas 2 SMP tetapi cara pandang kamu lebih dewasa karena pengalaman hidup dengan banyak orang," ungkap Vania dengan ekspresi bangga.


"Enggak ah! Gue biasa aja kok," tampik Zaki.


"Zaki, aku juga minta maaf sudah meremehkan jalan pikiranmu selama ini. Ya, mungkin, aku juga harus lebih menikmati setiap momen dan kenangan di masa sekolah ini," putus Vania.


"Oke, sekarang, lo sudah tidak terlihat sebagai anak kecil yang kekanak-kanakan," puji Zaki.


"Hahaha, apaan, sih, dasar kakek tua!" cibir Vania. Zaki hanya membalasnya dengan tawa.


Bel tanda istirahat selesai sudah berbunyi. Mereka mengakhiri percakapan dengan perdamaian yang indah. Zaki dan Vania mulai kembali fokus menghadapi ujian yang tersisa hari ini dengan lebih tenang.


***


"Akhirnya selesai juga UTS hari pertama ini," gumam Vania dengan wajah lega.


"Ya, tinggal 2 hari lagi, semangat!" balas Zaki.


"Besok saatnya menghadapi Ujian Bahasa Indonesia. Aku harus belajar sungguh-sungguh," ungkap Vania semangat.

__ADS_1


"Santai aja kali, Vania. Gue yakin lo pasti bisa mengerjakannya. Jadi, sekarang, lo mau langsung pulang?" tanya Zaki kepo.


"Enggak, mumpung masih jam 2, aku mau mampir ke perpustakaan buat belajar materi Bahasa Indonesia," balas Vania.


"Wah, ide bagus. Gue ikut belajar ke Perpustakaan boleh enggak?" tanya Zaki.


"Boleh kok. Belajar bareng pasti akan lebih mudah memahami materinya," tandas Vania.


Vania dan Zaki sudah bersiap untuk keluar kelas bersama menuju Perpustakaan dan belajar bareng. Namun, mendadak, Sissy menghampiri Zaki.


"Zaki, tolong ajari gue beberapa materi ini, dong. Lo, kan, pintar, pasti sudah hafal materi ini. Gue benar-benar enggak ngerti materinya, besok ada ujiannya juga," ujar Sissy dengan wajah memelas.


"A-aduh gimana, ya, gue sudah ada janji lebih dulu sama Vania buat belajar di Perpustakaan," balas Zaki tak enak hati.


"Vania, gue boleh, kan, pinjam Zaki dulu. Gue beneran butuh dia buat mengajarkan materi ini buat ujian besok?" tanya Vania penuh harap.


"Ah, iya, enggak apa-apa kok. Zaki, kamu ajari Sissy aja, kasihan dia. Aku biasa belajar sendiri kok di Perpustakaan," ujar Vania tulus.


"Terima kasih, ya, Vania!" ungkap Sissy dengan wajah sumringah.


"Ya, sudah, kalau Lo, enggak keberatan Vania," balas Zaki dan mulai mengajarkan materi kepada Sissy di kelas.


Vania memutuskan untuk belajar sendirian di perpustakaan. Ia sedang belajar serius sampai tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sebelahnya.


"Lagi belajar apa, sih? Kayaknya lo serius banget?" tutur seseorang di sebelahnya.


"Ken, ngapain kamu di sini? Kamu ngikutin aku, ya!" tuduh Vania dengan wajah tak suka.


"Hah? ngapain lagi orang di perpustakaan kalau bukan untuk belajar Vania. Gue lagi cari referensi buat ujian besok," kilah Ken.


Vania yang tidak percaya begitu saja, langsung memeriksa buku yang dibawa Ken. Memang benar, buku-buku itu merupakan buku bahasa Indonesia yang tertulis di list referensi buku dari pihak sekolah untuk UTS.


"Vania, gue itu bukan stalker yang suka mengikuti seseorang," pungkas Ken kesal.


"Oke, aku minta maaf sudah menuduh kamu. Silakan belajar lagi," balas Vania dingin.


"Lucu banget sih, cewek satu ini," batin Ken.


"Oh, lo juga lagi belajar tentang Puisi ya?" tanya Ken tiba-tiba kepada Vania.


"Ya, aku belum terlalu memahami materi tentang puisi," balas Vania serius.


"Mau gue ajarkan? Kebetulan, guru les bahasa gue itu salah satu penyair yang cukup terkenal di Serpong. Jadi, gue lumayan paham lah soal puisi karena gue juga suka," papar Ken.


"Wah, benarkah? oke," balas Vania antusias.

__ADS_1


Vania dan Ken akhirnya belajar bahasa Indonesia bersama. Vania akhirnya menyadari bahwa Ken tidak menakutkan dan resek seperti yang dia kira sebelumnya. Justru, Ken bisa menjadi teman diskusi yang asyik untuk membahas masalah sastra Indonesia.


"Wah, aku enggak menyangka kalau pemahaman kamu soal sastra Indonesia sangat luas dan dalam," puji Vania tulus.


"Ya, soalnya gue juga tertarik dengan bidang Sastra Indonesia. Kebetulan juga, Mama gue, punya beberapa perusahaan penerbitan sendiri," ungkap Zaki dengan ekspresi bangga.


"Pantas saja! Mama kamu pastilah wanita yang hebat!" puji Vania begitu tulus. Ketulusan Vania sungguh menenangkan hati Ken Fernandez.


Tanpa diduga, Nurzaki Suganda menyusul Vania ke Perpustakaan. Ia kaget melihat Vania sedang berbicara serius dengan sosok yang menjadi lawan basketnya di kelas 1 dulu.


"Ken Fernandez! Ngapain lo di sini? Lo pasti ganggu Vania lagi, kan!" teriak Zaki emosi.


"Lo jangan sok tahu jadi orang!" balas Ken.


"Zaki! Tenang dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," tandas Vania mencairkan suasana.


"Sstt! Jangan berisik! Ini perpustakaan, bukan lapangan olahraga! Kalau mau bertengkar di luar sana," tegur penjaga perpustakaan tegas.


"Kalian berdua, ikut aku keluar!" putus Vania.


Zaki dan Ken akhirnya mengikuti perkataan Vania untuk keluar dari perpustakaan. Mereka mulai berdebat kembali dengan sengit.


"Ken! Lo lupa perjanjian kita dulu, Lo enggak boleh muncul di hadapan gue dan Vania lagi!" teriak Zaki dengan murka.


"Lo itu yang lupa. Ingat! Perjanjian kita itu hanya berlaku selama 1 tahun. Sekarang, sudah lebih dari 1 tahun. Lo enggak ada hak buat melarang gue berteman dengan Vania," balas Ken tegas.


"Sudah, kalian jangan bertengkar lagi. Zaki, Ken ini sudah membantu aku memahami materi bahasa Indonesia yang belum aku mengerti untuk ujian besok. Dia tidak ada niat jahat," bela Vania sungguh-sungguh.


"Lo dengar sendiri, kan, apa yang sudah dibilang Vania, Zaki," tandas Ken dengan senyum kemenangan.


"Tetapi, Vania, gue cuma enggak mau lo merasa terganggu lagi dengan semua tingkah dia," ujar Zaki dengan penuh ketulusan.


"Enggak kok, Zaki. Ternyata, Ken sebenarnya anak yang baik kok. Mungkin insiden di kelas 1 dulu itu hanya kesalahpahaman saja," ungkap Vania begitu yakin.


"Baiklah, jika itu yang lo pikirkan. Gue cuma enggak mau lo merasa terganggu. Lo itu teman dekat gue, Vania," balas Zaki lebih tenang.


"Ya, terima kasih, sudah khawatir sama aku, Zaki. Kamu juga teman terdekat aku. Jadi, aku mau kalian berdamai dan melupakan kesalahpahaman di kelas 1 dulu," pinta Vania.


"Gue sih enggak keberatan, Vania. Mungkin gue juga salah karena terlalu berlebihan ingin mengenal lo saat kelas 1 sampai lo merasa tidak nyaman," ungkap Ken tulus.


"Ya, sudah jika itu memang keputusan lo, Vania. Gue sih enggak ada masalah selama Ken tidak membuat lo merasa tidak nyaman," balas Zaki.


"Bagus! Kalau begitu, kalian harus berjabat tangan tanda perdamaian. Mari kita lupakan masa lalu dan berteman," usul Vania ceria.


"Oke," balas Zaki dan Ken serempak. Mereka kemudian saling berjabat tangan dan meminta maaf. Vania ikut meletakkan tangannya di atas jabatan tangan Zaki dan Ken.

__ADS_1


"Nah, gitu, dong! Perdamaian itu, kan, indah!" ungkap Vania dengan ekspresi bahagia.


Vania merasa bahagia karena mendapat satu lagi teman baru di SMP Sinar Putih. Dia hanya berharap hubungan pertemanan mereka bertiga tetap terjaga dengan baik.


__ADS_2