
Vania memang masih kesal dengan kejadian di Perpustakaan itu. Namun, dia tetap harus fokus mengikuti pelajaran IPA agar bisa mewujudkan impiannya untuk belajar di SMAN 1 Serpong bersama teman-teman SD-nya.
Untunglah, setelah Vania dan Zaki menebus kelalaian mereka dengan membawa buku paket untuk anak sekelas, Bu Meisya bisa lebih tenang dan tidak marah lagi.
Sayangnya, ketenangan itu hanya berlangsung sebentar bagi Vania karena jam pelajaran selanjutnya adalah jam pelajaran yang paling Vania tidak sukai yaitu Pendidikan Jasmani dan Rohani. Apalagi, hari ini, jadwal mereka melakukan praktek di lapangan.
Belum apa-apa saja, Pak Fery, Sang Guru Penjaskes sudah menyuruh mereka untuk berlari mengelilingi lapangan olahraga sebanyak 3 putaran sebagai pemanasan. Terlihat Christa dan Vania di posisi terakhir dibandingkan teman-teman 7A yang lain. Terlihat keringat bercucuran dan wajah Semerah kepiting pada mereka berdua.
"Hah...Hah...Van, gue udah nggak kuat lagi, kaki gue seperti mau lepas dari posisinya," ucap Christa lirih sambil berlari pelan.
"Hei, bertahanlah, Christa! Kita hampir sampai di titik kumpul," balas Vania dengan nafas terengah-engah di belakang Christa.
"Aduh, pokoknya, sisanya, gue serahkan semua pada Lo ya, Vania," ucap Christa mendadak.
"Hah? maksud kamu serahkan padaku apa, Christa?" tanya Vania bingung sambil tetap berlari pelan tapi pasti.
Belum sempat pertanyaan Vania terjawab, Christa mendadak berhenti dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah sambil memejamkan matanya.
"Hah? apa nih maksudnya? dia sengaja pingsan ya?" batin Vania coba menerka drama Christa.
Dari kejauhan, Pak Fery setengah panik berlari menuju ke arah mereka berdua. Beliau juga ditemani beberapa anggota PMR.
"Vania, apa yang terjadi dengan Christa?" tanya Pak Fery dengan wajah yang cukup panik.
"Ka-kayaknya, Christa pingsan deh Pak," jawab Vania agak ragu antara harus bohong apa jujur.
"Ya, sudah cepat kalian bawa Christa ke ruang UKS. Dan, kamu, Vania. Cepat ke titik kumpul untuk praktek selanjutnya," ucap Pak Fery.
Vania hanya mengikuti ucapan Pak Fery dengan batin yang bergejolak.
"CK! Bisa-bisanya Christa suruh aku berbohong gini. Andai aku nggak ingat nilai PENJASKES juga berpengaruh ke raport, aku juga ingin pingsan aja," batin Vania.
"Oke, praktek kita selanjutnya adalah bermain basket, kalian akan dibagi menjadi beberapa tim, setiap tim beranggotakan 2 orang. Pertama-tama, saya akan mencontohkan cara mendribble bola dan memasukkan ke dalam ring yang benar, selanjutnya giliran kalian," jelas Pak Fery yang langsung mempraktekan teknik dasar bermain basket.
Setelah beberapa kali mempraktekkannya, Pak Fery kemudian membagi tiap tim secara acak berdasarkan absensi kelas 7A. Vania selalu siap untuk bekerjasama dengan siapapun demi hasil raport yang bagus.
"Oke, tim selanjutnya adalah Vania Sastrowiyoto dan Nurzaki Suganda," putus Pak Fery yang bagai petir menyambar kesadaran Vania atas apa yang di dengarnya.
__ADS_1
"Apa?! Aku harus 1 tim sama si Zaki!" Gerutu Vania yang tidak dipedulikan Pak Fery.
"Ya, terus kenapa? Lo nggak suka?" ucap Zaki yang sudah ada di belakangnya.
"Hah, kenapa sih aku harus terjebak sama kamu terus," gerutu Vania dengan wajah kesal.
"Ihh, gue juga males kali 1 tim sama cewek aneh kayak Lo. Tapi, apa boleh buat. Gue harus dapat nilai bagus demi kelangsungan beasiswa gue. Jadi, tolong pengertiannya," ucap Zaki.
"CK! Terserah lah. Awas aja kalau kamu nyusahin aku," ucap Vania jutek. Terlihat, wajah yang emosi tapi berusaha ditahan oleh Zaki.
Setelah beberapa tim sebelumnya praktek Mendribble dan Shooting, sekarang, saatnya tim Vania dan Zaki yang mempraktekkan materi yang diajarkan oleh Pak Zaki.
"Kalian sudah siap Vania dan Zaki?" tanya Pak Fery sebelum menghidupkan stop watch. Mereka berdua hanya membalasnya dengan anggukan dan dimulailah giliran mereka.
Vania tampak kesulitan mendribble bola karena memang dia tidak pernah bermain basket sebelumnya. Dia berusaha mendribble bola dengan sangat pelan dan hati-hati.
"Hahaha, kayaknya pernyataan Lo tadi terbalik deh. Bukannya gue yang bakal nyusahin tim ini tapi Lo, Vania," ejek Zaki dengan tawa jahatnya.
"Bisa diam nggak? aku juga lagi berusaha yang terbaik tahu!" Protes Vania tak terima.
"Woi, Vania! Lo itu lagi mendribble bola basket apa main bola bekel sih, pelan banget, hahahaha," sindir Dewa dari bawah pohon dengan santainya sambil meminum es jeruk.
"Berisik! Memangnya kamu bisa lebih baik mendribble bolanya dibandingkan aku?" ucap Vania masih mendribble bola dengan pelan.
"Bisa dong! Mau taruhan? Kalau gue lebih baik dari Lo, Lo harus traktir gue makan siang gimana?" tantang Zaki penuh percaya diri.
"Siapa takut! Aku yakin cowok pintar pelajaran kayak kamu pasti minus di olahraga," balas Vania yang langsung memberikan bolanya kepada Zaki secara spontan.
Dengan cepat, Zaki mengambil bola yang diberikan oleh Vania. Dia kemudian mulai mendribble bolanya. Vania tampak tak percaya atas apa yang dilihatnya, Zaki bisa dengan mudahnya mendribble bola basket itu seperti bukan apa-apa.
"Gimana? jadi makan siang dimana kita nanti?" ucap Zaki dengan santainya.
"Kamu! Oke, aku akui kamu memang rival nomor 1 aku! Terserah makan dimana!" ucap Vania dengan wajah kesalnya karena kalah untuk kesekian kalinya.
"Wah, asyik! Kita makan di kantin utama aja siang ini," putus Zaki yang langsung melakukan shooting dan berhasil memasukkan bole ke dalam ring yang cukup jauh.
Aksi itu langsung mendapat sorak Sorai anak-anak kelas 7A yang sudah selesai gilirannya. Hanya Vania yang melotot ke arah ring karena tidak percaya Zaki sehebat itu.
__ADS_1
Harga diri Vania memaksanya untuk tidak mau kalah lagi dari Zaki. Dia berlari mengambil bola basket yang berhasil dilempar Zaki. Dia membawanya ke posisi pelemparan Zaki.
"CK! Kalau cuma lempar bola ke dalam ring sih aku juga bisa!" ucap Vania percaya diri.
"Hahaha, masa sih? coba buktikan!" tantang Zaki dengan wajah tengilnya.
Dengan penuh semangat, Vania berkonsentrasi penuh ke arah ring. Dia menarik nafas dalam sebelum mengerahkan seluruh tenaganya untuk melempar bola itu ke dalam ring.
BRAAAKKKK
Namun, bukannya meluncur ke arah ring, bola itu justru terlempar ke arah samping ring dimana seseorang sedang berdiri memperhatikan praktek olahraga kelas mereka.
"Aduh! Sakit Woi! Siapa nih yang lempar bola ini ke gue!" Teriak lelaki itu dengan penuh emosi.
Vania yang kaget lemparan bolanya mengenai seseorang langsung berlari menghampiri orang itu untuk meminta maaf.
Vania melihat siswa lelaki yang sangat tinggi sedang memegangi dahinya yang agak memar akibat lemparan bolanya. Lelaki itu memiliki kulit yang putih, hidung mancung dan bermata sipit. Terlihat dia bukan murid sembarangan.
"Aduh, aku minta maaf. Aku benar-benar nggak sengaja lempar bolanya ke arah kamu," ucap Vania dengan raut wajah bersalah. Dia sudah siap jika harus dimarahin habis-habisan.
Namun, bukannya memarahi Vania, lelaki itu justru nampak mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata berbinar.
"Ahh, nggak apa-apa kok. Gue yakin Lo pasti nggak sengaja melemparnya. By the way, kenalin, nama gue, Ken Fernandez," ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.
"Ah, a-aku Vania Sastrowiyoto. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf ya, Ken," ucap Vania dengan wajah melasnya.
"It's okay. Sastrowiyoto? kamu Putri dari pemilik hotel Tentram yang sedang dibangun itu?" tanya Ken semakin antusias dan bersemangat.
Belum sempat Vania membalas pertanyaan Ken, Zaki langsung berlari menghampirinya.
"Oi, Vania! Lo udah minta maaf belum sama orang yang Lo lempar? Kalau sudah, cepat balik ke lapangan, bolanya mau dipakai untuk tim selanjutnya," jelas Zaki cuek.
"Ya, sudah kok. Sekali lagi maaf ya, Ken. Jangan lupa lukanya diobati agar tidak infeksi," ucap Vania sebelum meninggalkan Ken.
"CK! Baru juga mau kenalan, ada aja pengganggu!" gerutu Ken dengan wajah kesal.
"Oke, untuk praktek hari ini cukup, besok akan ada penilaian untuk praktek kita hari ini. Ingat nilai ini berdasarkan hasil dari kedua anggota tim. Jadi, pastikan kalian latihan dengan baik demi nilai yang bagus," pesan Pak Ferdy sebelum meninggalkan lapangan olahraga.
__ADS_1
"Aduh! Kenapa harus penilaian tim sih! Pokoknya aku harus latihan dengan baik. Aku nggak mau di cap sebagai cewek nyusahin sama Nurzaki!" Batin Vania penuh semangat.