
"Jadi, siapa yang memenangkan game Basket kali ini?" celetuk Zaki mengalihkan topik.
"Sudah jelas, gue lah!" ungkap Ve sombong.
"Wah, aku nggak menyangka ternyata kamu jago bermain basket, Ve," tutur Vania kagum.
"Ya, dong! Gue dari kecil sudah biasa diajarkan main basket oleh Ayah gue," papar Ve dengan begitu antusias. Ada tatapan penuh kebanggaan saat Ve menceritakan Ayahnya.
"Hore! Akhirnya gue menang dengan skor 2-1 dari si Playboy itu," ujar Ve bahagia.
"Eits, enak aja! Tunggu dulu, ini belum selesai. Masih ada 1 game lagi sebagai penentuan," pungkas Dewa. Sontak wajah riang Ve berubah muram kembali.
"CK! Ribet banget ih. Kali ini game apa lagi?" tanya Ve mulai tidak sabar.
"Kali ini game yang berbeda. Kita tanding bernyanyi!" tantang Dewa. Dia berjalan menuju sebuah kotak besar dengan dinding bercorak tangga nada dan not balok.
"Hahaha, menarik ini. Lo salah menantang gue adu bernyanyi. Gini-gini suara gue termasuk merdu," sombong Ve diikuti senyum tengil.
"Benarkah? kalau begitu, kita langsung buktikan saja," balas Dewa dan langsung memasuki kotak karaoke itu. Sementara Zaki dan Vania menunggu di luar sambil menunggu lantunan lagu dari kedua temannya.
Giliran pertama sudah dimulai. Vania mulai mendengar suara yang begitu dikenalnya. Suara Ve namun dengan versi yang lebih lembut dan merdu. Lamat-lamat terdengar lantunan lagu yang begitu sendu.
Aku memujimu...hingga jauh...terdengar syahdu ke angkasa...rintihan hatiku...memanggilmu...dapatkah kau dengar...nyawa hidupku...
Lantunan lagu dari Ve berhasil menyayat-nyayat perasaannya. Padahal, Vania belum pernah merasakan yang namanya cinta ataupun rasa suka. Tapi, dia mendadak ikut sedih.
"Wah, gue nggak nyangka, Ve ternyata jago juga nyanyinya terutama penghayatannya," gumam Zaki. Tatapan matanya menunjukkan kagum. Vania mengiyakan Zaki dengan anggukan.
Setelah Ve selesai bernyanyi, muncul skor 90 di layar kecil bagian depan kotak karaoke.
"Wow! Ve dapat skor 90! Aku rasa kali ini, dia akan menang lagi!" Pekik Vania gembira.
"Benarkah? gue nggak yakin soal itu. Dewa 'kan belum mendapat giliran bernyanyi," tampik Zaki.
Tak lama, dimulailah giliran kedua. Kali ini, Vania mendengar suara yang lebih serak dan barat. Dia sadar bahwa itulah suara dari Dewa. Berbeda dengan lantunan lagu dari Ve yang begitu sendu dan mendayu-dayu.
Dewa menyanyikan lagu yang lebih ceria dengan lirik-lirik manis nan romantis. Cocok untuk dijadikan contekan surat cinta jika ingin menyatakan cinta kepada seseorang.
Aku jatuh cinta kepada dirinya...
Sungguh-sungguh cinta, oh, apa adanya...
Tak pernah ku ragu...
namun tetap selalu menunggu...
Sungguh aku...jatuh cinta kepadanya, oh...
Kali ini, hati Vania mendadak seperti berbunga-bunga kala mendengar lantunan lagu Dewa. Seolah-olah ada seseorang yang menyatakan cinta kepada dirinya.
__ADS_1
"Gila! Suara si Dewa kok bisa sebagus ini sih! Aku benar-benar nggak nyangka dibalik sosok berandalnya, dia bisa semanis ini saat bernyanyi," pekik Vania tak percaya.
"Hahaha, jelas lah. Asal Lo tahu ya, Vania. Sebenarnya, Dewa itu adalah seorang vokalis Band," papar Zaki dengan mata berbinar-binar.
"Apa! Pantas saja dia sehebat ini," imbuh Vania.
Vania begitu menikmati lantunan lagu dari Dewa. Tak sengaja, dia menatap ke sebuah kotak besar lain di sebelah kotak karaoke. Kotak yang dipenuhi corak love dan begitu warna warni. Di bagian depannya, ada beberapa foto-foto pasangan terpajang dalam berbagai pose dan ekspresi yang lucu.
"Lo baru pertama kali lihat?" tanya Zaki yang menyadari tatapan Vania begitu lekat ke arah kotak besar lain.
"Iya, itu apaan sih? kayaknya lucu," balas Vania.
"Oh, itu namanya Photobox, Vania. Biasanya anak-anak yang datang ke sini sama pasangan atau teman-temannya berfoto di sana sebagai kenang-kenangan. Soalnya, jika berfoto di Photobox, kita bisa memilih berbagai tema foto dan bisa langsung dicetak," jelas Zaki antusias.
"Wah, kayaknya seru ya. Aku jadi mau coba foto di sana juga," ungkap Vania polos.
"Haha, Lo yakin mau foto di sana? cari pacar dulu sana!" Sindir Zaki dengan tawa kecil.
"Pacar? Ih ngapain. Nggak penting. Buat aku yang terpenting itu hanya belajar," balas Vania.
Lantunan lagu dari Dewa akhirnya berhenti. Tak lama, muncul skor 100 di layar depan kotak karaoke. Mereka berdua akhirnya keluar dari kotak karaoke dengan ekspresi bertolak belakang. Ve dengan wajah kesal. Dewa dengan ekspresi sumringahnya.
"Haha, akhirnya gue berhasil mengejar ketertinggalan skor tadi. Jadi sekarang skor kita seri 2-2," papar Dewa diiringi tawa tengil. Ve hanya bisa terdiam tanpa kata.
"Kalian sudah puas 'kan bertandingnya? udah ya. Kita pulang aja sekarang," usul Zaki.
"Ya, aku juga takutnya, Pak Broto sudah diparkiran untuk menjemput aku," imbuh Vania.
"Ya, gue setuju. Kasihan Vania kalau kita kelamaan di sini," imbuh Ve sepakat.
Akhirnya mereka berempat berjalan menuju taman depan The Breeze Mall yang dilengkapi kolam beserta air mancurnya untuk menunggu kedatangan jemputan Vania. Mereka berempat duduk di sebuah kursi panjang dekat kolam.
Saat menunggu jemputan, Vania mendapatkan sebuah panggilan. Saat dia melihat nomor yang tertera, ada tulisan 'Pak Broto'. Sontak Vania langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo, Pak Broto, bapak sudah sampai mana?" tanya Vania di telepon.
"Maaf, Non. Mobilnya mendadak mogok. Bapak sudah di bengkel, tapi menurut tukang bengkelnya, mobil ini agak parah. Jadi, butuh waktu 3 jam untuk perbaikan," jelas Pak Broto.
"Apa? 3 jam? lama sekali. Vania udah lelah banget ini, Pak. Gimana ya?" keluh Vania.
"Ada apa Vania?" bisik Ve yang khawatir.
"Mobilku lagi di bengkel, Ve. Katanya, 3 jam baru selesai. Aku kayaknya nggak kuat kalau harus nunggu 3 jam lagi," papar Vania.
"Oh, ya udah, Lo naik angkot aja sama gue dan anak-anak. Daripada Lo harus nunggu sampai 3 jam gitu. Gimana, Vania?" usul Ve.
"Ehm, angkot ya? jujur, aku belum pernah naik angkot sih. Tapi, oke lah. Daripada aku nunggu kelamaan di sini," putus Vania.
"Pak, Vania pulang naik angkot saja sama teman-teman. Nanti, habis dari bengkel, bapak langsung pulang ke rumah aja ya," ujar Vania lewat telepon kepada Pak Broto.
__ADS_1
"Baik, Non. Bapak mohon maaf ya nggak bisa jemput. Non, pulangnya hati-hati ya," jawab Pak Broto. Ada nada kekhawatiran dalam suaranya.
"Oke, Pak. Tenang aja, Vania bareng teman-teman kok. Mudah-mudahan aman," ungkap Vania sebelum mematikan teleponnya.
"Oke, berarti kita semua pulang sekarang aja ya naik angkot," ujar Dewa mulai berjalan. Namun, belum sempat lanjut melangkah, Ve merasa ada sesuatu yang janggal.
"Tunggu, Dewa. Mana kantong plastik yang berisi buku-buku dongeng kita?" tanya Ve.
"Hah? pakai tanya. Jelas-jelas, kantongnya ada disi-" belum sempat menyelesaikan ucapannya. Dewa akhirnya sadar bahwa dia hanya membawa 1 kantong plastik saja. Sebelumnya, Dewa membawa 2 kantong plastik.
"Astaga, Ve! Kayaknya kantongnya ketinggalan di Timezone deh!" Teriak Dewa bingung.
"Ah, Lo gimana sih! Disuruh bawa kantong plastik aja nggak becus!" Hardik Ve kesal.
"CK! Udah ngomelnya nanti lagi aja. Sekarang, yang penting, Lo bantu gue cari ke dalam Timezone," perintah Dewa mulai panik.
"Dasar cowok nyusahin! Vania Lo tunggu di sini aja ya, Lo pasti capek. Zaki Lo juga di sini aja jagain Vania. Biar gue dan Dewa aja yang masuk," putus Ve segera berlari ke dalam mall.
Kini, tinggal Vania dan Zaki yang duduk di depan air mancur dengan canggung.
"Vania, boleh gue tanya sesuatu?" ungkap Zaki mendadak dan mulai membuka percakapan.
"Ya, boleh. Tanya aja," balas Vania singkat.
"Apa Lo masih benci sama gue gara-gara insiden waktu UAS kelas 2 dulu?" tanya Zaki.
"Sejujurnya, memang iya. Aku merasa harga diriku begitu tercoreng akibat perbuatan yang nggak aku lakukan sama sekali," jujur Vania.
"Vania, gue benar-benar minta maaf ya atas kesalahan gue waktu itu. Gue menyesal banget. Gue memang sudah menganggap Dewa lebih dari sahabat. Bagi gue, membela dia adalah suatu kewajiban. Tapi, gue sadar itu bukan hal yang benar. Walaupun dia sahabat dekat gue, kalau dia salah, tentu dia harus bertanggung jawab," jelas Zaki penuh penyesalan.
"Iya, itulah hal yang benar. Tapi, semuanya sudah terlambat. Waktu tidak bisa diputar kembali," tandas Vania dingin.
"Vania, gue mohon Lo maafin gue ya. Gue benar-benar menyesal. Gue janji nggak akan melakukan hal seperti itu lagi. Jujur, gue nggak mau kehilangan teman seperti Lo," jujur Zaki.
"Gimana ya, aku masih berat untuk memaafkan kamu," balas Vania datar.
Tiba-tiba Zaki meninggalkan Vania sendiri di dekat kolam. Zaki terlihat memasuki Mall.
"Hah? apakah Zaki marah ya makanya dia ninggalin aku sendiri? aduh gimana ini? batin Vania mulai menyesali penolakannya.
Tanpa di duga, tak berselang lama, Zaki sudah kembali menghampirinya dan membawa sesuatu di tangannya.
"Oke, sebagai permintaan maaf gue. Ini gue belikan es Cream strawberry paling mahal di Mall ini, jadi rasanya pasti enak," ungkap Zaki.
"Hahaha, jadi kamu hendak menyuap aku dengan es Cream ini?" cibir Vania.
"Iya. Gimana? Lo mau 'kan maafin gue?" pinta Zaki penuh harap.
"Baiklah. Tapi, kamu harus janji nggak akan melakukan hal buruk kepada aku lagi," ujar Vania seraya mengambil es Cream strawberry.
__ADS_1
"Iya, gue janji. Jadi, mulai sekarang, kita berteman lagi 'kan?" tanya Zaki senang. Vania membalas pertanyaan Zaki dengan anggukan kepala. Vania begitu menikmati es Cream yang dibelikan Zaki. Tanpa sadar, Zaki tertawa kecil ketika melihat Vania memakan es Cream-nya.
"Kenapa kamu ketawa gitu?" tanya Vania heran.