My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
PDKT


__ADS_3

Pagi hari di SMP Sinar Putih ramai dan riuh oleh aktivitas anak-anak di kelas. Seperti biasa, di saat teman sekelasnya yang lain berkumpul dan saling mengobrol, Vania sibuk mempelajari materi pelajaran hari ini.


"Dasar Kutu Buku! Pagi-pagi seperti ini sudah asyik banget baca buku," tandas Ve yang baru saja Tiba di kelas.


"Ya, emang," balas Vania singkat kepada sahabatnya yang tidak puas atas balasannya.


"Rajin banget, sih, Vania. Pagi-pagi sudah belajar aja," imbuh Elsa yang menghampiri tempat duduk Vania dan Ve.


"Ya, kalau mau dapat peringkat 1, tentu aku harus rajin belajar," jawab Vania yang masih fokus membaca buku Bahasa Indonesia.


"Ya, ya, enggak usah belajar pun, lo pasti bisa dapat peringkat 1. Lagipula, siapa lagi yang bisa lebih pintar dari lo di kelas ini," timpal Fita yang ikut menghampiri ketiga sahabatnya.


"Betul itu, walaupun gue murid beasiswa, tapi tetap aja gue punya kelemahan di pelajaran Matematika dan IPA, enggak seperti lo, Vania. Lo jago di kedua pelajaran itu," keluh Ve pasrah.


"Nah, kan, Ve yang pintar dan murid beasiswa aja mengaku kalah dari lo. Jadi, pasti enggak ada anak lain di kelas ini yang bisa merebut posisi lo. Coba deh santai sedikit," tutur Elsa.


"Ada, ada 1 orang yang bisa menjadi rival nomor 1 aku sejak dulu untuk mengambil posisi juara kelas. Aku harus rajin belajar agar tidak kalah dari dia," ujar Vania berapi-api.


"Wih, siapa itu orang yang bisa dianggap rival nomor 1 dari seorang Vania Sastrowiyoto?" tanya Fita dengan mata berbinar.


"Sejak dulu, tidak berubah, rival nomor 1 aku adalah Nurzaki Suganda," jawab Vania antusias.


"Wah, hebat juga si Zaki, bisa dianggap rival sama lo sampai seperti ini," ungkap Ve kagum.


"Kalau soal Zaki, kayaknya lo bisa lebih tenang deh, Vania. Dia sepertinya sedang asyik PDKT sama si Sissy," pungkas Elsa seraya menunjuk Sissy yang memberikan sekotak kue ke Zaki.


"Pagi, Zaki. Lo sudah sarapan belum? gue buat kue bolu banyak. Ini gue kasih sekotak buat lo," tandas Sissy begitu riang setelah mendatangi tempat duduk Zaki dan Dewa.


"Wah! Rejeki nomplok, nih, pagi-pagi gue sudah dapat sarapan gratis," ucap Dewa penuh semangat. Tangannya segera bergerak mengambil sepotong kue bolu. Namun, tangannya segera ditepis oleh Sissy.


"Enak aja! Kue bolu ini khusus buat Zaki. Kalau buat lo, minta aja sana sama si Dewi!" Gerutu Sissy dengan tatapan penuh emosi.


"CK! Pelit banget, sih, Sissy. Ya udah lah, mending gue ketemu si cantik Dewi aja," tandas Dewa kesal dan langsung berjalan menghampiri Dewi yang duduk sendiri.


"Zaki, ini silakan Lo makan kue bolunya, gue jamin rasanya pasti enak kok!" ungkap Sissy penuh semangat seraya menyodorkan sekotak kue bolu buatannya.


"Ah, iya. Terima kasih, nanti gue makan kok kue bolu dari lo," balas Zaki ramah. Sissy tampak begitu senang mendengar balasan dari Zaki. Dia mengangguk dan segera kembali ke Dewi.


"Beruntung banget, ya, Zaki. Dia bisa mengambil hati cewek secantik, sepopuler dan sekaya si Sissy," ungkap Elsa kagum.


"Benar, apalagi, usaha Dewa PDKT sama si Dewi juga akhirnya berhasil. Dewi, Sang Primadona kelas 8A semakin dekat dengannya," imbuh Fita ceria.


"Sepertinya, sebentar lagi, kelas kita akan punya dua pasangan kekasih baru," ucap Elsa yang diamini oleh Fita. Vania dan Ve hanya terdiam mendengar celotehan keduanya.


"Vania, lo enggak apa-apa soal Zaki dan Sissy?" ujar Ve dengan raut wajah khawatir

__ADS_1


"Enggak apa-apa, lah. Toh, itu semua bukan urusanku. Tujuanku hanya belajar dan belajar, bukan mengurusi percintaan orang lain," balas Vania percaya diri. Ve hanya tersenyum menanggapi balasan sahabatnya itu. Obrolan mereka harus terhenti dengan suara bel masuk.


*****


Bel pulang sekolah berbunyi, anak-anak kelas 8A berhamburan keluar kelas dengan riang gembira termasuk Fita dan Elsa yang pamit untuk pulang duluan karena ada urusan keluarga kepada Vania dan Ve.


"Ade gue yang boncel! Besok lo antar gue ke The Breeze Mall, ya!" Teriak Dewa sesaat setelah kelas sepi dan tersisa Ve juga Vania.


"Hah? Ngapain gue harus menemani lo ke The Breeze Mall, bang?" tanya Ve bingung.


"Ya, Lo harus bantu gue untuk memilih hadiah yang tepat buat si Dewi," perintah Dewa.


"Hah? Emang ada apa sama Dewi?" tanya Ve.


"Sabtu malam, dia mengundang gue ke acara Ulang Tahunnya, jadi gue harus beli kado dong!" tandas Dewa penuh semangat.


"Hah? Emangnya si Dewi mau mengadakan acara Ulang Tahun ya? Kok gue enggak tahu. Lo dapat undangan ulang tahunnya enggak, Vania?" tanya Ve semakin bingung. Vania hanya menggelengkan kepalanya.


"Masa kalian berdua enggak dapat undangan dari Dewi, sih? Gue aja dikasih undangan acaranya sama Sissy," timpal Zaki.


"Enggak, kita enggak dapat undangan apa-apa," gerutu Ve. Ada raut kekecewaan di wajahnya.


"Mungkin Dewi lupa kali mengundang kalian. Apa perlu gue mintakan undangan buat kalian?" tawar Dewa tidak enak.


"Enggak perlu. Kalian aja yang pergi. Kita enggak ada waktu," putus Ve yang terlihat kesal. Vania mengangguk tanda setuju.


"Hah? Aku juga ikut ke sana?" tanya Vania.


"Ya, ikut aja. Gue juga ikut kok. Kapan lagi bisa refreshing gratis," ajak Zaki semangat.


"Maksudnya gratis?" tanya Ve tak paham.


"Ya, sebagai ganti bantuan kalian buat memilih kado, gue traktir kalian makan deh!" ucap Dewa.


"CK! Sok-sokan mau traktir gue sama Vania segala. Emangnya Lo punya uang, Dewa?" cibir Ve dengan tatapan meremehkan. Dewa hanya membalas cibiran Ve dengan senyuman aneh.


"Udah tinggal bilang mau atau enggak aja, yang lain enggak usah dipikirkan," balas Zaki.


"Oke, deh. Abang gue minta bantuan masa enggak gue bantu, sih. Lo ikut juga, kan, Vania?" tanya Ve penuh harap. Vania menghela napas.


"Ya,udah. Kalau kamu ikut, aku juga ikut deh, Ve," putus Vania dengan senyuman tulus.


"Asyik! Oke, besok kita langsung ketemu di The Breeze Mall saja jam 9," putus Dewa ceria. Vania, Ve dan Zaki hanya bisa mengangguk tanda setuju atas keputusan Sang Ketua Kelas.


******

__ADS_1


Jam 9 Pagi, mereka berempat sudah berkumpul di Taman The Breeze Mall. Mereka langsung berjalan memasuki Mall dan menuju sebuah toko yang dipenuhi pernak pernik berwarna merah muda.


"Oke, sepertinya toko ini cocok untuk memilih hadiah ulang tahun buat cewek feminim seperti Dewi," gumam Ve percaya diri.


"Wah, Ade gue ini memang hebat ya soal berbelanja," puji Dewa yang dibalas ekspresi bangga dari wajah Ve. Merek berempat segera mengelilingi toko untuk mencari hadiah yang cocok untuk Dewi.


"Dewa, bagaimana kalau kamu kasih kado tas bermotif bunga-bunga ini saja buat Dewi? Aku yakin dia pasti suka," saran Vania semangat.


"Ehm, cantik sih tasnya, muat banyak barang juga. Tetapi, rasanya kok kayak kurang romantis kalau kasih tas," jawab Dewa ragu-ragu.


"Hah? memangnya kenapa harus romantis segala, Bang?" tanya Ve bingung.


"Masa kalian enggak tahu, sih, Dewa selain mau memberikan kado ulangtahun buat Dewi, dia juga berencana buat sekalian menyatakan cintanya di acara itu" papar Zaki.


"Apa! Benarkah begitu?" tanya Ve dan Vania serempak dengan wajah kaget.


"Hehe, iya benar yang dibilang Zaki. Gue rasa momen ultah Dewi adalah saat yang tepat buat menyatakan cinta gue ke dia," balas Dewa malu-malu. Sosok dewa yang berandal berubah 180 derajat saat menyatakan rencananya.


"Gila! Secepat itu!" gumam Ve tak percaya.


"Apa sih sebenarnya alasanmu ingin berpacaran sama Dewi? Kalian enggak mau fokus belajar aja?" saran Vania tak mengerti.


"Hahaha, cewek kutu buku seperti lo enggak akan ngerti Vania. Gue itu suka banget sama Dewi. Dia cantik, anggun, lembut dan ramah. Gue mau dia jadi pacar gue," tekad Dewa.


"Ya, gue memang enggak ngerti apapun soal cinta," gumam Vania setengah berbisik. Tanpa disadari, Zaki mendengar gumaman Vania. Ia hanya bisa tersenyum lucu.


"Kalau gitu, bagaimana kalau Lo kasih Dewi boneka beruang ini sebagai kado?" saran Ve. Dia menunjuk sebuah Boneka beruang merah mudah berukuran besar. Di perut Boneka itu tertulis 'I Love You' dengan motif hati.


"Wah, lucu banget. Oke, gue ambil Boneka ini. Lo emang Ade gue yang hebat, Ve!" teriak Dewa begitu bahagia karena menemukan kado yang cocok untuk calon pacarnya.


Vania tampak melihat harga yang tertera untuk Boneka beruang itu. "Gila! Harga Boneka ini Rp. 100.000? Mahal banget. Emangnya lo punya uang sebanyak itu? Mau gue pinjamkan uang?" tanya Vania dengan ekspresi merendahkan.


Dewa hanya tertawa seraya membawa Boneka beruang besar itu menuju ke kasir. Tanpa ragu, ia mengeluarkan selembar uang 100 ribuan kepada pihak kasir dari dalam dompetnya.


"Gila! Kok Dewa punya uang sebanyak itu? bukannya dia siswa beasiswa seperti kamu, Zaki?" cecar Vania kebingungan.


"Hahaha, lo salah paham, Vania. Dewa itu dari kalangan atas seperti lo. Ayahnya pemilik Showroom Mobil terbesar di kota ini," ungkap Zaki tanpa keraguan.


"Apa? Ba-bagaimana bisa?" tanya Ve dan Vania serempak tak percaya.


"Ya, wajar sih kalian berpikir seperti itu. Mungkin kalian melihat dia dari penampilan sederhananya. Dia juga bersahabat dengan kalangan biasa seperti gue. Tapi, itu memanglah sosok Dewa yang sebenarnya," jelas Zaki dengan penuh kebanggaan.


"Sudah selesai, nih, ayo gue traktir kalian makan siang!" tawar Dewa penuh ketulusan. Mereka hanya bisa diam mengangguk karena masih kaget dengan kenyataan latar belakang Dewa Haryanto yang mereka kenal selama ini.


Dewa mengajak mereka makan di restoran ayam panggang paling terkenal di Mall itu. Dia juga memesankan mereka minuman yang paling mahal dari restoran. Vania dan Ve semakin yakin akan kebenaran latar belakang yang disampaikan oleh Zaki selaku sahabatnya.

__ADS_1


"Ternyata, Si Berandal itu sungguh orang kaya!" bisik Vania dan Ve pelan.


__ADS_2