My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Tentang Cinta


__ADS_3

"Berdasarkan film ini, aku jadi tahu bahwa tak semua cinta berakhir dengan kebahagiaan. Terkadang, cinta juga bisa berakhir dengan menyakitkan," balas Vania dengan serius.


"Jawaban yang tepat, tidak semua cinta berujung bahagia seperti Dewa dan Dewi. Gue paham banget soal itu," ungkap Zaki sendu.


"Kenapa raut wajah Zaki berubah menjadi sendu gitu ya?" tanya Vania dalam hati.


"Ya, walaupun filmnya berakhir dengan sad ending, aku suka banget sih kata-kata penutup yang ditulis oleh Alia," ujar Vania.


"Wah, sama, gue juga. Manusia memiliki mimpi. Ada yang mengejar dan mewujudkannya, ada yang mundur dan membuangnya, ada pula yang diam dan hanya menyimpannya sepanjang sisa hidupnya. Dan aku, akan menjadi manusia yang terakhir itu," papar Zaki.


"Ya, menyentuh banget kata-kata itu. Zaki, kalau seandainya kamu ada di posisi Alia. Kamu akan memilih menjadi manusia yang mana saat punya mimpi?" tanya Vania penasaran.


"Kalau gue, sih, tergantung situasi dan kondisi," balas Zaki penuh teka teki.


"Maksudnya?" tanya Vania tak mengerti.


"Ya, kalau mimpi itu peluangnya besar untuk terwujud, gue akan mengejarnya. Tetapi, kalau mimpi itu sulit terwujud, gue lebih baik mundur dari pada stres sendiri. Kalau lo?" ucap Zaki.


"Kalau aku, jika sudah punya mimpi, aku akan sekuat tenaga mengejar dan mewujudkannya terlepas peluangnya besar atau kecil. Setidaknya, aku sudah berusaha dan tidak akan menyesalinya," ungkap Vania serius.


"Wow! Lo hebat, Vania. Baik mundur ataupun maju, itu jauh lebih baik dibandingkan hanya diam dan memendamnya sendiri. Akhirnya, ya, seperti Alia, menahan sakit sendiri seumur hidup," tandas Zaki tak kalah serius.


"Ya, aku setuju sama kamu. Hanya orang bodoh yang memilih untuk melukai diri sendiri," timpal Vania. Ada rasa emosi di tatapan matanya.


"Jadi, apa pelajaran yang bisa Lo ambil dari sosok Alia?" celoteh Zaki penasaran.


"Apa ya, mungkin kalau kamu cinta kepada seseorang, kamu harus berani mengutarakannya sebelum terlambat," balas Vania sekenanya.


"Benar. Kalau pelajaran yang bisa gue ambil dari Abi, tunangan Alia, cinta itu tidak harus memiliki. Jika dengan mempertemukan Alia dengan cinta pertamanya bisa membuat ia bahagia, Abi siap melakukannya walaupun hatinya terluka," imbuh Zaki penuh perasaan.


"Oh iya, aku juga dapat pelajaran dari sosok Sunny, cinta pertama Alia. Dari kisah Sunny, aku tahu bahwa cinta itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Namun, kenangan tetap akan tersimpan di hati terdalam," ujar Vania.


"Benar. Ya, sudah, cukup dengan pembahasan tentang cinta. Sekarang, kita harus mengerjakan tugas Bahasa Indonesia," putus Zaki mulai serius yang diikuti anggukan Vania.


Dalam waktu tiga puluh menit saja, Zaki dan Vania berhasil mengerjakan tugas dari Bu Ida dengan lancar. Mereka segera membayar biaya sewa bilik dan keluar dari warnet.


"Zaki, apa warnet ini selalu seramai dan sepenuh hari ini ya?" tanya Vania bingung.


"Sepertinya iya, Vania. Gue dengar dari anak-anak katanya sekarang lagi heboh mIRC di warnet," papar Zaki.

__ADS_1


"Hah? mIRC itu apa?" tanya Vania penasaran.


"Gue dengar-dengar katanya, dengan mIRC, kita bisa chatting sama orang enggak di kenal. Mereka bilang bisa dapat pacar dari sana," ungkap Zaki.


"Hah? sepertinya menarik. Kapan-kapan aku juga mau coba deh," tandas Vania semangat.


"Cie, mau cari pacar dari sana?" cibir Zaki.


"Enggak! Aku hanya penasaran saja seperti mIRC yang sedang hits itu," kilah Vania.


"Benar juga enggak apa-apa kok. Eh, Pak Broto sudah nunggu kita di depan Ultra Disc, kan?" tanya Zaki seraya berjalan menjauhi warnet.


"Enggak deh. Aku enggak mau jadi bodoh seperti Alia karena cinta. Ya, Pak Broto sudah menunggu kita di sana. Aku enggak kuat jika harus berjalan lagi," pungkas Vania.


"Ya, cinta, kan, memang bisa membuat seseorang menjadi bodoh," tandas Zaki.


"Jika begitu, aku memilih untuk tidak jatuh cinta," ujar Vania dengan suara datar.


"Hahaha, itu bukan suatu hal yang bisa lo atur sesuka hati, Vania," kekeh Zaki puas.


"Tentu saja bisa. Coba si Alia itu di sekolah hanya fokus untuk belajar dan bukan malah mengejar-ngejar Sunny. Ia mungkin tidak akan menyakiti dirinya sendiri," celoteh Vania.


"Ya, itu, kan, menurutmu, Zaki. Kalau menurutku sih, di sekolah yang terpenting itu belajar dan mendapatkan nilai bagus demi masa depan," cecar Vania tak mau kalah.


"Memang benar. Namun, tidak ada salahnya juga, kan, lo menikmati setiap momen selama di sekolah karena semua tidak akan pernah terulang lagi," ujar Zaki bijak.


"Ya, itu pendapatmu. Bagi aku, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mendapatkan nilai terbaik agar bisa masuk di SMA Negeri. Momen di sekolah, ya, aku nikmati seadanya saja seiring waktu berjalan," putus Vania.


"Haha, sungguh kekanak-kanakan," cibir Zaki.


"Apa? Kamu bilang aku kekanak-kanakan? Bagaimana bisa?" protes Vania tak suka.


"Vania, mau sekolah Negeri atau Swasta, tidak menjamin masa depan seseorang. Semua tergantung kemampuan diri sendiri, jika memang dasarnya pintar, mau itu di Negeri atau Swasta, iya tetap akan bersinar," ujar Zaki.


"Terserah deh. Aku capek debat sama kamu. Sudah jelas, kita bertolak belakang dalam memaknai kehidupan sekolah," pungkas Vania.


"Ya, gue juga capek ngomong sama anak kecil seperti lo, Vania," tandas Zaki kesal.


"Anak kecil kamu bilang? Enak aja!" gerutu Vania. Mata Vania mulai memerah menahan emosi yang hendak menyeruak keluar.

__ADS_1


"Memang kenyataan kok. Cara pikir lo itu sungguh kekanakan dan seperti anak kecil," tandas Zaki dengan tatapan tajam.


"Memangnya kamu merasa lebih dewasa dibandingkan dengan aku?" cecar Vania.


"Jelas! Jangan samakan gue kayak cewek kekanakan seperti lo. Gue jadi kasihan sama Lo, Vania," ujar Zaki dengan ekspresi prihatin.


"Apa! Kasihan kenapa!" teriak Vania emosi.


"Ya, kasihan. Di dalam pikiran lo itu cuma ada belajar dan belajar saja. Jadi, lo tidak bisa merasakan nikmatnya kehidupan sekolah diluar pelajaran," balas Zaki angkuh.


"Siapa kamu berani mengasihani aku! Aku enggak butuh belas kasihan kamu! Aku bangga dengan jalan hidup yang aku ikuti!" teriak Vania dengan mata berapi-api.


Zaki memilih diam agar tidak semakin tersulut emosi. Mereka berdua akhirnya sampai ke tempat Pak Broto menunggu. Vania dan Zaki sama-sama terdiam serta saling memalingkan wajah tanda sedang bertengkar.


Pak Broto hanya diam seraya membukakan pintu mobil untuk mereka. Vania mengambil tempat duduk di depan dan di sebelah Pak Broto. Sedangkan, Zaki duduk sendiri di kursi belakang dengan memangku tangan.


"Jadi, sekarang kita mau ke mana, Non?" tanya Pak Broto selembut mungkin.


"Antar dia ke gerbang sekolah," putus Vania.


"E-eh? Kita enggak mengantarkan Den Zaki hingga ke rumahnya?" tanya Pak Broto bingung.


"Enggak usah! Dia bisa pulang sendiri kok!" titah Vania dengan raut wajah dingin.


"CK! Dasar anak kecil!" cibir Zaki emosi.


Vania hanya memelototi Zaki ketika mendengar cibiran dari mulut teman sekelompok-nya itu. Sepanjang perjalanan, mereka hanya saling diam tanpa kata membuat Pak Broto canggung.


Setelah mengantarkan Zaki pulang ke rumahnya, Vania segera masuk ke kediaman Sastrowiyoto dengan wajah penuh amarah. Kedua orangtuanya tahu jika ada hal buruk yang terjadi kepada Putri kesayangan mereka.


"Kamu ada masalah, Sayang? Kok mukanya kusut banget gitu," ucap Mama Vania cemas.


"Enggak apa-apa kok, Ma. Vania hanya lelah saja habis mengerjakan tugas," kilah Vania.


"Oh, ya sudah. Kamu langsung istirahat saja di kamar," ujar sang Mama penuh kelembutan.


Vania bergegas menuju ke kamarnya di lantai atas dan menutup pintu kamar dengan keras.


"CK! Apa-apaan si Nurzaki Suganda itu! Dia pikir dia siapa berani menghina jalan hidupku. Aku pikir, kami bisa berteman akrab," ujar Vania. Ada raut kekecewaan dari wajah manisnya.

__ADS_1


"Dasar cowok resek! Nyebelin! Sombong!" umpat Vania berapi-api.


__ADS_2