
"Jadi, gimana rasa makanannya? kalian suka?" tanya Dewa sesaat setelah menghabiskan makanan pesanannya.
"Ya, enak banget, Bang. Thanks ya!" balas Ve.
"Syukurlah, jika memang Lo suka makanannya," tandas Dewa diiringi senyuman puas.
"Terus, habis makan kita mau pulang atau gimana, Bro?" tanya Zaki mendadak.
"Mumpung masih siang, gimana kalau kita mampir dulu ke Timezone sebelum pulang?" usul Dewa penuh semangat.
"Wah, ide bagus, Bang! Gue juga mau main game basket lagi di sana!" ungkap Ve riang.
"Ehm, kayaknya, aku enggak ikut ke Timezone deh," pungkas Vania dengan wajah bersalah.
"Loh, kenapa, Vania?" tanya Ve penasaran.
"Aku mau ke Toko Buku saja, Ve. Mau lihat-lihat, mungkin ada buku baru yang bagus," ujar Vania dengan wajah berseri-seri.
"Hahaha, sahabat Lo ini emang kutu buku ya, De," cibir Dewa dan dibalas senyuman tipis dari bibir mungil Ve.
"Gue juga ke Toko Buku aja deh. Ada buku yang mau gue cari," timpal Zaki percaya diri.
"Ya, udah. Kita ketemu aja di Taman 1 jam mendatang ya!" putus Dewa yang diikuti oleh anggukan dari Vania dan Zaki.
Dewa dan Ve berjalan menuju lantai 3 tempat Timezone berada. Sedangkan, Zaki dan Vania tetap di lantai 2 untuk mengunjungi toko buku. Di dalam toko, mereka berpisah. Vania menuju rak buku Sastra Indonesia dan Zaki menuju rak buku Seni Musik.
Saat sedang melihat-lihat rak novel terbaru, pandangan mata Vania terhenti di sebuah buku bersampul hujan. "Wah, buku ini lagi," gumam Vania. Ia kembali teringat kejadian di perpustakaan tempo hari bersama Ken.
Saat tengah asyik mengamati buku berjudul 'Hujan Bulan Juni' itu, Vania dikagetkan oleh suara seseorang dari arah belakang tubuhnya.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada," tutur seseorang dari balik punggung Vania.
Vania yang kaget dan seperti merasa Dejavu membalikkan tubuhnya menghadap sosok misterius itu. "Ken Fernandez!" teriak Vania spontan. Namun, sosok yang ada di belakangnya bukanlah Ken melainkan Zaki.
"Ken Fernandez? Maksud lo cowok resek dari kelas 1 itu?" tanya Zaki dengan raut tak suka.
"Zaki! Ngapain kamu di sini? Kamu mengagetkan aku aja deh," gerutu Vania.
"Ya, gue udah dapat buku yang gue cari. Jadi, gue memutuskan untuk menemui lo aja," papar Zaki penuh kejujuran.
"Oh, gitu. Lantas, dari mana kamu dapat kata-kata puisi itu?" tanya Vania belum puas.
__ADS_1
"Ya, gue enggak sengaja baca bait puisi itu dari Cover belakang buku yang lo pegang," tutur Zaki. "Vania, lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa lo bisa menyebut nama cowok resek itu lagi?" cecar Zaki dengan wajah kepo.
"Ah, enggak. Kemarin, aku sempat ketemu dia lagi tanpa sengaja. Dia hafal banget puisi di buku ini?" papar Vania jujur.
"Wah, terus dia bilang apa? Masa sih, dia hafal karya puisi dalam buku ini? Gue enggak percaya," kilah Zaki.
"Ya, terserah kamu mau percaya enggak. Dia bilang karena waktu perjanjian kamu dengan dia sudah berakhir. Dia mau mulai mendekati aku lagi," celoteh Vania polos.
"Apa! Gila! Obsesif banget dia sama lo. Berani-beraninya dia mau mendekati lo lagi," ucap Zaki dengan nada emosi.
"Sudahlah, tidak usah bahas dia lagi. Jadi, buku apa yang kamu cari, Zaki?" tanya Vania kepo.
Zaki yang malu dengan buku yang dibeli menyembunyikan buku itu dibalik punggungnya. Namun, Vania yang terlanjur kepo segera bisa meraih buku Zaki.
"Hah? Vagetoz? Buku apa ini?" tanya Vania penasaran.
"Bukan apa-apa kok. Ini namanya buku chord gitar. Di dalamnya ada kunci-kunci gitar dari lagu-lagunya Vagetoz Band," pungkas Zaki.
"Wah, keren! Berarti, dengan buku ini, kamu bisa memainkan lagu-lagu Vagetoz dengan gitarmu dong!" celoteh Vania begitu antusias.
"Hehe, iya, begitulah," balas Zaki malu-malu.
"Lain kali, aku mau dengar kamu bawakan lagu Vagetoz dengan gitar sendiri dong," ungkap Vania. Zaki tampak kaget melihat keantusiasan temannya itu. Ia lalu tersenyum dan berkata "Tentu, dengan senang hati."
Vania begitu senang mendapat jawaban dari Zaki. Ia tak sabar menunggu waktu saat Zaki memainkan lagu Vagetoz di hadapannya. Satu jam berlalu, Vania dan Zaki memutuskan untuk menemui Vania dan Dewa di Taman. Setelah bertemu, mereka memutuskan untuk pulang.
*****
"Ade gue yang boncel! Thanks banget ya. Berkat kado pilihan lo, Dewi akhirnya mau menerima pernyataan cinta gue!" teriak Dewa begitu kegirangan.
"Wah, sungguh? selamat deh ya, Bang. Akhirnya, lo resmi pacaran sama Dewi," balas Ve secuek mungkin.
"Iya! Gue senang banget bisa dapat pacar impian gue selama ini. Pokoknya, ini semua berkat lo!" balas Dewa tulus.
"Gue ikut senang kalau lo senang, Bang," balas Ve penuh ketulusan.
"Memangnya pacaran sama seseorang bisa bikin sebahagia itu, ya?" gumam Vania bingung.
"Hahaha, iya, lah. Lo enggak akan ngerti betapa indahnya dunia saat menyukai seseorang. Sayang, di otak lo cuma ada belajar," cibir Dewa.
"CK! Syukurlah kalau aku enggak mengerti. Aku harap juga enggak akan ngerti untuk saat ini," ungkap Vania dingin.
Setelah mengabarkan berita bahagianya, Mereka segera memasuki kelas untuk belajar Bahasa Indonesia di jam pertama.
"Selamat pagi, anak-anak! Materi pelajaran hari ini adalah tentang unsur intrinsik dalam sebuah drama atau film," sapa Bu Ida, Guru Bahasa Indonesia kelas 8A. Bu Ida mulai menjelaskan materi pelajaran secara detail selama 1 jam.
__ADS_1
"Jadi, begitulah materi Bahasa Indonesia kita hari ini. Untuk pekerjaan rumah, akan ada tugas kelompok. Satu kelompok berisi dua orang yang sudah Ibu pilih acak. Tugas kalian adalah untuk merangkum unsur intrinsik dalam sebuah drama atau film," papar Bu Ida serius.
"Bu, saya mau tanya untuk tugas ini, tema drama atau filmnya tertentu atau bebas?" tanya Vania penuh keseriusan.
"Pertanyaan yang bagus, Vania. Untuk tema film atau drama yang dipilih bebas. Kalian boleh memilih film horor, romantis, komedi dan sebagainya. Ibu tunggu pengumpulan tugas kalian Minggu depan," putus Bu Ida sebelum menentukan kelompok.
"Oke langsung saja, kelompok pertama Dewa dan Ve, kelompok kedua Zaki dan Vania, kelompok ketiga Fita dan Elsa..." Bu Ida menyebutkan masing-masing anggota kelompok terpilih.
"Apa ada pertanyaan yang lain terkait tugas kelompok ini?" tanya Bu Ida kembali.
"Bu! Bolehkah saya bertukar dengan anggota kelompok lain?" ujar Sissy mendadak.
"Memangnya kamu ingin sekelompok dengan siapa?" tanya Bu Ida penasaran.
"Sa-saya ingin sekelompok dengan Zaki," jawab Sissy dengan pipi merah merona.
"Cieee.....," ejek anak-anak kelas 8A yang lain.
"Sayang sekali, Sissy. Kelompok yang saya buat sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat," putus Bu Ida diselingi senyum jahil. Terlihat raut kekecewaan dari wajah cantik Sissy.
******
Bel pulang sekolah berbunyi. Tetapi, tidak seperti biasanya, anak-anak masih bergerombol di kelas dan membahas sesuatu dengan serius. Zaki bergegas duduk di sebelah Vania untuk membahas tugas kelompok mereka. Sementara, Ve sudah duduk di samping Dewa dan berdiskusi.
"Jadi, dimana kita akan mencari film atau drama untuk tugas Bahasa Indonesia? Bioskop?" tanya Vania serius.
"Ehm, maaf, Vania. Kalau untuk ke bioskop, sepertinya gue enggak bisa. Minggu ini uang jajan gue lagi menipis banget," sesal Zaki.
"Kamu enggak usah memikirkan masalah itu. Aku bisa bayar tiket untukmu," tawar Vania.
"Enggak deh. Gue enggak mau merepotkan lo," tolak Zaki dengan wajah bersalah.
"Lalu, bagaimana dengan tugas Bahasa Indonesia kita?" cecar Vania frustasi.
"Gimana kalau kita cari film di Ultra Disc?" saran Zaki penuh harap.
"Hah? Ultra Disc? Tempat apa itu? Aku baru pertama kali dengar," tandas Vania aneh.
"Waduh! Norak! Masa Lo enggak tahu Ultra Disc, sih. Tempat itu kan lagi tenar," cibir Zaki.
"Ih, enggak udah meledek juga. Aku sungguh enggak tahu soal Ultra Disc," balas Vania.
"Ultra Disc itu tempat penyewaan VCD Film, kita bisa menonton film harian dan harga sewanya juga lebih murah dibandingkan harga tiket di bioskop," papar Zaki sejelas mungkin.
"Wah, sepertinya, tempat itu menarik. Ya, sudah. Kita cari film di sana saja untuk tugas Bahasa Indonesia," putus Vania ceria.
__ADS_1
"Keputusan yang bagus. Terima kasih, ya, atas pengertian dari lo, Vania," ungkap Zaki tulus.