My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Ujian Bahasa Arab


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, semenjak kejadian perbedaan pandangan setelah mengerjakan tugas kelompok Bahasa Indonesia, Zaki dan Vania jadi lebih menjaga jarak.


Hari ini adalah hari pertama Ujian Tengah Semester 1 kelas 8. Vania berjalan menuju Papan Informasi di Aula untuk melihat dengan siapa dia duduk selama UTS berlangsung 3 Hari karena tradisi SMP Sinar Putih selalu mengacak posisi duduk selama Ujian.


Vania mengamati papan informasi dengan seksama untuk mencari namanya. Tak lama, dia berhenti di barisan ke 20 dan melihat namanya terpampang beserta nama Nurzaki Suganda. Vania begitu shock mengetahuinya.


"CK! Kenapa sih dari sekian banyak anak kelas 8A, aku harus duduk sama dia selama UTS," gerutu Vania dengan wajah tak suka.


"Wah! Enak ya! Lo bisa duduk sama si Zaki. Kalian, kan, sama-sama anak pintar. Pasti gampang ngerjain UTS," ungkap Ve yang baru saja tiba di sekolah.


"Huh! Sama sekali enggak enak, Ve. Kalau bisa ditukar, aku mending tukar tempat duduk deh," tampik Vania dengan nada tajam.


"Sebenarnya lo lagi ada masalah apa, sih, sama si Zaki akhir-akhir ini," tanya Ve mulai curiga.


"Enggak ada apa-apa. Udah, kita ke kelas aja," tandas Vania dingin. Ve hanya bisa diam mengikuti sahabatnya berjalan ke kelas.


Sesampainya di kelas, Ve langsung menuju ke barisan belakang karena dia duduk dengan Dewa. Sedangkan, di tempat duduk Vania, sudah ada Zaki yang sedang belajar.


"Pagi, Vania," sapa Zaki ragu-ragu.


"Hmm," balas Vania dingin. Zaki sadar bahwa Vania masih marah kepadanya. Ia hanya bisa diam mendapati Vania yang dingin.


Ujian pertama hari ini adalah IPA, Vania sudah banyak belajar dan menghafal materi yang mungkin diujikan. Vania yakin bisa mengerjakan ujian pertama dengan lancar.


Vania begitu asyik mengerjakan soal demi soal IPA yang tertulis di lembar soal. Namun, tiba-tiba dia berhenti karena sesuatu mengenai kepalanya saat tengah asyik mengerjakan soal.


"Aduh! Kertas apa, nih," gerutu Vania memegangi kepalanya. Di mejanya ada sebuah bulatan kertas. Ia tahu pasti kertas apa itu. Vania melirik ke kursi pengawas dan ternyata sang pengawas ujian sedang keluar.


Vania membuka bulatan kertas itu dan tertulis "Bro! Minta jawaban soal nomor 15-20 dong."


Vania melirik arah lemparan kertas yang mengenai kepalanya. Terlihat Gilang dengan wajah paniknya. "Van, tolong kasih kertas itu ke Zaki ya!" bisik Gilang tanpa rasa bersalah.


Vania segera membelikan bulatan kertas itu ke Zaki yang berada di sebelahnya sebelum Pengawas Ujian masuk karena dia tidak mau terlibat masalah yang sama seperti kelas 1.


"Zaki! Urus ini sendiri! Jangan libatkan aku. Kamu masih ingat insiden kelas 1 itu bukan?" ancam Vania dengan tatapan tajam.


"Ah, iya. Maaf, Vania. Gue jamin enggak akan melibatkan lo seperti insiden dulu," ucap Zaki seraya mengambil bulatan kertas itu dan mengisi jawaban miliknya.


"Bagus deh!" tandas Vania dingin. Ia kembali fokus mengerjakan soal ujian IPA miliknya.


Zaki segera mengisi jawaban yang diminta oleh Gilang dan melemparkan bulatan kertas itu kembali ke posisi duduk Gilang.

__ADS_1


"Bro! Lo kalau mau minta jawaban lempar langsung aja ke gue! Jangan lempar ke arah Vania, ya!" teriak Zaki dan dibalas anggukan oleh Gilang dengan wajah ceria.


"CK! Enak banget dapat contekan gitu. Sudah jelas apa yang aku yakini benar. Tugas utama di sekolah ya belajar dan belajar biar enggak jadi tukang nyontek!" cibir Vania dengan sinis.


"Ini namanya bukan menyontek tetapi kerjasama. Suatu saat, mungkin aku juga butuh jawaban soal yang tidak bisa aku kerjakan dari Gilang," tampik Zaki dengan senyuman.


"Terserah, deh. Itu, kan, masalahmu, bukan aku," pungkas Vania dan mereka kembali terdiam.


Waktu 1,5 jam untuk mengerjakan ujian pertama sudah habis. Vania terlihat puas karena bisa mengerjakan semua soal ujian IPA yang diberikan dengan lancar. Ia yakin akan mendapat nilai tinggi di Ujian IPA.


Ujian kedua hari ini adalah Bahasa Arab. Berbeda dengan Bahasa Inggris yang begitu di kuasai oleh Vania. Bahasa Arab adalah pelajaran yang sudah di mengerti oleh Vania.


Saat guru mulai membagikan kertas ujian Bahasa Arab, Vania menanti dengan hati berdebar. Ia berharap setidaknya bisa berhasil mengerjakan setengah soal ujian Bahasa Arab.


Saat soal ujian Bahasa Arab sudah dibagikan kepadanya. Vania segera membuka lembar soal berharap setidaknya setengah hafalannya semalam bisa berguna.


Setelah membuka lembar soal ujian Bahasa Arab, wajah Vania mendadak berubah pucat pasi. Peluh keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar merasa blank.


"Astaga! Bagaimana ini, hilang ke mana hafalan-hafalan kosakata Bahasa Arab-ku semalam. Aku tidak ingat jawaban atas soal-soal ini," batin Vania penuh kepanikan.


Untunglah, 20 soal pertama adalah pilihan ganda. Vania bisa sedikit menebak-nebak akan jawaban yang benar dari sisa-sisa ingatan-nya semalam saat belajar materi Bahasa Arab.


Namun, Vania semakin panik kala harus mengerjakan 10 soal essai dengan waktu yang semakin tersisa sedikit. Ia tidak ingat jawaban apapun untuk soal essainya. Karena panik, tanpa sadar, tangannya bergetar dan ikut menggetarkan meja.


"Astaga, Vania. Lo enggak apa-apa? Lo lagi sakit?" tanya Zaki dengan wajah khawatir.


"E-enggak kok," balas Vania senormal mungkin.


Zaki merasa ada hal yang janggal pada teman semejanya itu. Ia melirik lembar jawaban milik Vania yang masih kosong di 10 soal Essai terakhir. Ia tahu apa yang sedang terjadi.


"Vania, lo kesusahan mengerjakan soal Essai Bahasa Arab ini? Mau lihat jawaban gue?" tawar Zaki dengan ramah.


"Enggak! Aku bukan tukang nyontek!" tampik Vania dengan agak emosi karena merasa harga dirinya direndahkan.


"Oh, oke kalau enggak mau," balas Zaki cuek.


Waktu semakin menipis, sisa waktu ujian tinggal 15 menit lagi. Soal Essai milik Vania masih kosong. Bayangan tentang kegagalan Vania masuk ke SMAN 1 Serpong dan Delima yang melambai pergi terlintas di benaknya.


"Tidak! Aku enggak boleh gagal masuk SMAN 1 Serpong dan bertemu Delima kembali hanya karena soal ujian Bahasa Arab ini," batin Vania.


"E-ehm, Zaki. Bo-boleh aku lihat jawaban 10 soal Essai terakhir punya kamu," bisik Vania dengan pipi Semerah tomat menahan malu.

__ADS_1


"Boleh, silakan," balas Zaki dengan senyuman tulus. Ia juga mendekatkan lembar jawabannya kepada Vania agar mudah di salin.


Vania segera menyalin jawaban yang tertulis di lembar jawaban Zaki dengan cepat. Ia tidak mau sampai kehabisan waktu ujian ataupun kehilangan kesempatan karena Guru Pengawas berhenti memainkan hp miliknya.


Setelah bergulat dengan waktu yang terus berjalan, Vania berhasil mengerjakan 10 soal Essai terakhir hingga waktu ujian selesai. Saat bel berbunyi dan semua lembar ujian di kumpulkan, Vania segera menjatuhkan kepalanya ke atas meja.


"Fyuh! Akhirnya selesai tepat waktu. Capek banget," gumam Vania dengan lirih.


"Capek ya? Istirahat deh. Mumpung dikasih waktu 1 jam buat istirahat," ujar Zaki ramah.


"Ehm, terima kasih, ya, Zaki. Kamu udah membolehkan aku menyalin jawabanmu," ujar Vania malu-malu.


"Bagaimana rasanya menyontek untuk pertama kali?" tanya Zaki dengan senyum usil.


"Rasanya aneh. Ada rasa deg-degan takut ketahuan Guru Pengawas, adrenalin aku juga terpacu karena menyalin secepat mungkin," celoteh Vania dengan antusias.


"Haha, asyik, kan, sensasinya?" ujar Zaki.


"Ehm, ya, lumayan, lah," balas Vania cuek.


"Oh, iya, Vania. Gue sebenarnya sudah lama mau ngomong sesuatu sama lo," ungkap Zaki dengan wajah mulai serius.


"Mau ngomong apa?" tanya Vania bingung.


"Gue mau minta maaf atas semua omongan buruk gue soal jalan hidup lo saat selesai mengerjakan tugas Bahasa Indonesia dulu,"papar Zaki dengan ekspresi bersalah.


"Oh, soal kejadian waktu itu," imbuh Vania.


"Ya, gue sadar. Enggak seharusnya, gue menghina jalan hidup orang lain. Semua orang punya jalan hidupnya sendiri yang diyakini. Gue juga sadar, omongan lo soal tugas belajar di sekolah memang benar," ujar Zaki serius.


"Syukurlah jika kamu sudah sadar," balas Vania.


"Ya, jadi, Vania. Mau enggak Lo memaafkan gue dan memaafkan semua kata-kata buruk gue tempo hari?" tanya Zaki penuh harap.


"Ehm, bagaimana, ya," tandas Vania serius.


"Please.." pinta Zaki dengan kedua tangan ditangkupkan di dada.


"Berhubung kamu sudah bersedia memberikan contekan jawaban 10 soal Essay Bahasa Arab terakhir ke aku, tentu saja aku sudah memaafkan-mu, Zaki," balas Vania tulus.


"Ah, syukurlah! Jadi, kita berteman kembali, kan?" cecar Zaki antusias.

__ADS_1


"Tentu saja!" teriak Vania penuh keceriaan.


Raut wajah mereka berdua terlihat bahagia karena sudah berbaikan dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi tempo hari.


__ADS_2