My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Partner


__ADS_3

Pagi yang damai, sedamai hati Vania. Ia berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kelasnya dengan perasaan lega setelah perdamaian antara Zaki dan Ken.


"Pagi, Vania. Sudah siap untuk UTS hari ini?" sapa Ve yang berjalan menyusulnya dari arah parkiran sekolah.


"Siap banget dong!" balas Vania semangat. Ia juga bersiul-siul dengan riang.


"Ehem, kayaknya ada yang lagi bahagia,nih. Apa ada hal baik yang terjadi?" tanya Ve mulai kepo.


"Ya, memang ada. Tetapi, aku enggak akan kasih tahu kamu," goda Vania dengan lidah melet dan langsung berlari meninggalkan Ve.


"Ih, kasih tahu gue dong! Gue kepo!" balas Ve dan langsung berlari mengejar Vania.


Mereka berdua sampai di depan kelas 8A dengan napas ngos-ngosan. Keringat mengalir dari kening Vania dan Ve.


"Kenapa Lo, De?" tanya Dewa penasaran.


"Enggak tahu itu, Bang. Si Vania ngajak gue balap lari pagi-pagi," celoteh Ve sekenanya. Vania hanya membalas celotehan Ve dengan senyuman manis.


Dewa dan Ve langsung duduk di kursi mereka. Vania juga duduk di kursi miliknya. Di sebelah Vania, Zaki sudah duduk manis dan menatap Vania dengan hangat.


"Pagi, Vania!" sapa Zaki begitu ramah.


"Pagi juga, Zaki!" balas Vania tak kalah ramah.


"Sudah siap untuk ujian Bahasa Indonesia pagi ini?" tanya Zaki kepada Vania yang dibalas dengan anggukan.


"Bagus deh! Gue juga sudah enggak sabar menghadapi soal Bahasa Indonesia hari ini," imbuh Zaki penuh semangat. Zaki mengeluarkan sebuah pensil seukuran kelingking. Ia mulai meraut-nya dengan rautan berukuran kotak mini.


"Kamu masih pakai pensil sependek itu, Zaki? Buang aja, deh," pungkas Vania.


"Hah? Kenapa harus dibuang? Sayang tahu, Vania. Masih bisa dipakai juga," tolak Zaki.


"Ih, memangnya kamu enggak tahu ya kalau masih pakai pensil seukuran kelingking itu bisa pamali?" tandas Vania dengan mimik serius.


"Hah? Pamali gimana?" tanya Zaki bingung.


"Konon, ya, kalau kita masih pakai pensil seukuran kelingking, bisa-bisa umur Ibu kita itu tidak panjang dan meninggal," ujar Vania dengan ekspresi ketakutan.


"Ah, takhayul, itu. Masa pensil bisa bikin Ibu meninggal, aneh banget," balas Zaki ragu.


"Ih, beneran tahu! Udah, deh, kamu ikutin saran teman-mu ini. Buang pensil itu!" Ancam Vania.


"Oke, oke. Cuma masalah pensil aja, ribet. Gue buang, deh. Daripada pertemanan kita rusak lagi," balas Zaki pasrah. Ia segera membuang pensil mini miliknya ke tempat sampah.


"Keputusan yang bagus! Ini, aku kasih pensil baru. Toh, aku juga punya banyak," tawar Vania. Tangan-nya memberikan sebuah pensil baru kepada Zaki. Wajahnya terlihat lega.


"Oke, terima kasih, ya. Tetapi, lo bilang kalau gue itu omongan-nya tua kayak kakek-kakek," gumam Zaki dengan seringai licik.


"Ya, memang. Terus kenapa?" ungkap Vania.

__ADS_1


"Lo sendiri persis kayak nenek-nenek yang masih percaya sama takhayul gitu, hehehe," kekeh Zaki yang sontak membuat Vania kesal.


"Ih enak aja aku kayak nenek-nenek! Dasar nyebelin!" protes Vania dengan bibir manyun.


Zaki terkekeh-kekeh melihat ekspresi kesal Vania. Ia justru semakin suka menggoda Vania karena ekspresi-nya yang lucu setiap kesal.


Bel masuk sudah menggema ke seluruh ruangan kelas. Zaki dan Vania mulai serius menanti kedatangan guru pengawas yang membawa soal ujian Bahasa Indonesia.


Ujian Bahasa Indonesia sudah berlangsung selama 30 menit, Vania dan Zaki begitu fokus mengerjakan soal yang diberikan. Namun, mendadak, Zaki menanyakan sesuatu kepada Vania yang tengah mengerjakan soal.


"Vania, jawaban nomor 15 itu B, kan? Gue agak ragu," bisik Zaki sekecil mungkin.


Vania melihat guru pengawas yang tengah fokus mengoreksi tumpukan soal-soal. Saat merasa aman, Vania membalik lembar soalnya untuk melihat soal nomor 15 yang dimaksud.


"Ke Blora ia akan menikmati,


Ke Blora ia akan kembali bermimpi,


Masa kanak dan cinta yang gagal,


Ia terlalu hafal."


"Isi puisi itu tentang Blora yang tidak menjanjikan kehidupan baik, kan?" imbuh Zaki.


"Kenapa kamu berpikir begitu?" balas Vania.


"Soalnya, penulis puisi menceritakan di Blora masa kanak dan cintanya gagal. Jadi, kehidupan di sana tidak baik," papar Zaki.


"Oh, iya, lo benar juga. Sepertinya, gue memang kurang teliti ngerjainnya," ungkap Zaki. Ia segera menghapus jawabannya dari B menjadi A seperti yang dibilang Vania.


"Terus untuk jawaban soal nomor 16 tentang citraan yang menonjol dari puisi itu adalah perasaan, kan?" tanya Vania penuh harap.


"Ya, benar. Sudah jelas kalimat menikmati, mimpi dan cinta itu menggambarkan tentang perasaan," balas Zaki percaya diri.


"Ah, syukurlah, jika benar," gumam Vania lega.


"Tetapi, gue enggak menyangka. Waktu kelas 1 dulu, lo itu kurang mengerti soal sastra terutama puisi, kan. Sekarang, Lo sudah jago soal puisi sepertinya," puji Zaki bangga.


"Ya, ini semua berkat bantuan Ken," tandas Vania dengan senyuman manis.


"Ah, iya. Syukurlah, jika dia ada gunanya juga," balas Zaki dingin. Ia mendadak diam dan mulai fokus mengerjakan soal ujian yang tersisa.


"Zaki, kenapa, sih. Tadi mengajak diskusi, tetapi kok mendadak dingin dan diam," batin Vania.


***


Ujian Tengah Semester hari kedua sudah selesai. Setelah guru pengawas keluar, Vania langsung merebahkan kepalanya ke meja.


"Ah, akhirnya UTS hari kedua selesai juga. Tinggal besok, semangat!" gumam Vania.

__ADS_1


"Kerja bagus. Seberapa yakin lo bisa mengerjakan soal Bahasa Indonesia hari ini, Vania?" tanya Zaki penasaran.


"Ehm, berapa ya? Mungkin sekitar 80%, aku yakin sudah mengerjakan soal Bahasa Indonesia dengan benar," tutur Vania antusias.


"Wah, hebat! Vania akhirnya bisa mengalahkan salah satu pelajaran yang ditakutinya," ujar Zaki.


"Ya, ini semua berkat bantuan Ken Fernandez, aku sepertinya harus berterimakasih sama dia," ungkap Vania penuh ketulusan.


"Deg! Kenapa ya, gue kurang nyaman nama Ken disebut terus," batin Zaki bingung.


"Vania, apa lo enggak berlebihan menganggap semua kelancaran ujian Bahasa Indonesia ini berkat bantuan Ken. Ujian lo bisa lancar dikerjakan ya karena usaha belajar lo sendiri," papar Zaki dengan tatapan tajam.


"Memang benar, sih. Namun, aku rasa bantuan Ken waktu di Perpustakaan kemarin cukup banyak membantu ujian-ku hari ini," balasnya.


"Ya, terserah lo aja deh Vania," pungkas Zaki.


"Oke, ujian Bahasa Indonesia lumayan lancar. Sekarang, aku deg-degan dengan ujian Seni Musik besok. Aku juga lemah di mata pelajaran itu," gerutu Vania. Wajahnya penuh keraguan.


"Oh, kalau soal Seni Musik, lo tenang aja karena ada gue. Gue yakin bisa mengerjakan ujian Seni Musik dengan lancar," ujar Zaki percaya diri.


"Oh, iya, benar juga. Kamu kan anak band, pasti hafal instrumen musik," balas Vania ceria.


"Iya dong! Serahkan aja sama Nurzaki Suganda!" pungkas Zaki ceria.


"Oke, sepertinya kita cocok jadi partner ujian. Kamu bukan anak yang mau ambil enaknya aja dan langsung menyontek semua jawaban," ucap Vania jujur.


"Ya, lah. Gue juga memikirkan jawaban sendiri dulu sesuai hasil belajar gue. Kalau ada jawaban yang meragukan, gue baru diskusi sama yang lain termasuk lo," kilah Zaki.


"Memang harusnya begitu. Usaha dulu kalau enggak bisa baru minta bantuan orang lain," timpal Vania yang dibalas dengan senyuman.


Saat tengah asyik berbincang, terlihat ada Ken yang berjalan memasuki ruangan kelas 8A. Ia tampak membawa sebuah ice cream strawberry besar.


"Ini hadiah buat kerja keras Lo dalam mengerjakan UTS Bahasa Indonesia hari ini!" ujar Ken ceria dan menyerahkan ice cream strawberry itu kepada Vania.


"Wah, ice cream strawberry! Kok kamu tahu kalau aku suka ice cream rasa strawberry?" tanya Vania dengan mata berbinar-binar.


"Ya, lah. Cewek semanis Lo memang paling cocok sama buah strawberry," balas Ken tulus.


"Haha, bisa aja kamu. Oke, terima kasih buat ice cream-nya," ungkap Vania ceria. Ia langsung memakan ice cream yang diberikan.


"CK! Bawa ice cream kok cuma satu. Jatah gue mana," gerutu Zaki sambil menelan ludah akibat tenggorokan yang kering.


"Lo mau ice cream juga? Beli sendiri dong!" cibir Ken dengan tawa yang mengejek.


"CK! Dasar cowok pelit!" Cibir Zaki kembali.


"Hei! Jangan bertengkar! Kalian bisa membuat cita rasa ice cream yang lagi aku makan ini jadi pahit tahu!" ancam Vania dengan mata melotot.


Kedua cowok itu langsung berhenti bertengkar. Mereka sudah tahu betapa seramnya wajah Vania jika sedang kesal. Mereka bisa diomeli habis-habisan oleh Vania sampai telinga panas.

__ADS_1


"Nah, gitu, dong!" pungkas Vania senang.


__ADS_2