My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Kelas Baru, Awal Baru


__ADS_3

Sudah 10 menit berlalu, Vania masih merapikan penampilan barunya di depan cermin. Vania memang sengaja memotong rambut panjangnya menjadi sebahu dengan gaya ikal barunya sebagai tanda 'buang sial'.


Hari ini, hari penting bagi Vania yang akan memulai harinya sebagai siswi kelas 2 SMP. Dia tidak ingin insiden buruk yang menimpanya saat Ujian Akhir Semester (UAS) di kelas 1 terulang kembali.


TOK TOK TOK


Terdengar suara ketukan di depan pintu kamarnya. "Vania, kamu sudah siap belum, sayang? Mama tunggu dibawah ya!" ujar Mama Vania dengan nada lembut.


"Oke, Ma. Vania sudah siap. Vania akan turun sekarang," balas Vania. Dia mengecek kembali semua barang keperluannya di dalam tas dan berjalan menuju ruang tamu di lantai 1.


Khusus hari ini, Mama Vania yang akan mengantarkan Vania langsung ke SMP Sinar Putih karena Pak Broto, supir mereka harus mengantarkan Papa Vania ke kantor untuk rapat sejak Subuh. Sesampainya di parkiran SMP, Vania segera turun karena tidak sabar untuk melihat kelas barunya, kelas 8A.


"Selamat belajar ya, Putri kecilku. Semoga harimu menyenangkan, Sayang," ucap Mama Vania seraya mengecup kedua pipi Vania sebelum pergi ke kampus untuk mengajar.


Setelah berpamitan dengan sang Mama, Vania bergegas menuju lantai 2 tempat kelas barunya berada. Vania berjalan penuh semangat karena dia berhasil mendapatkan kelas unggulan kembali. Dia merasa semakin dekat dengan impiannya untuk bersekolah di SMA Negeri.


"Oke, kali ini, aku juga harus belajar keras agar mendapatkan peringkat 1 kembali. Langkah pertama, aku harus dapat kursi paling depan seperti biasa," putus Vania.


Matanya mulai mengamati sekeliling kelas barunya untuk mencari kursi paling depan yang ada. Beruntung, kali ini, masih banyak kursi di bagian paling depan kelas yang masih kosong. Vania memutuskan duduk di kursi terdepan dari barisan tengah yang bersebrangan langsung dengan meja guru.


"Oke, posisi yang bagus! Aku tidak sabar menjalani hari-hari yang tenang di kelas baru ini dan bersaing dengan siswa unggulan lainnya," gumam Vania dengan mata membara.


Sambil menunggu waktu pelajaran pertama di mulai, Vania mulai melihat-lihat materi selama kelas 2 di buku paket miliknya. Saat sedang serius membaca, Vania merasakan adanya tepukan di bahunya.


"Sorry, boleh gue duduk di sini?" terdengar suara perempuan yang agak keras.


Vania yang penasaran kemudian menghadap ke arah suara perempuan yang didengarnya. Terlihat seorang perempuan yang lebih mungil darinya berdiri dengan senyum lebar. Rambutnya di kuncir ke atas asal, kulitnya kuning langsat, kedua lengan baju seragamnya di gulung, bajunya di keluarkan. Penampilannya sangat bertolak belakang dengan Christa, teman semeja nya di kelas 7.


"Hei, kok malah diam aja? boleh nggak kalau gue duduk di sini?" tanya perempuan itu lagi.


"A-ah iya boleh kok," balas Vania ramah.


"Wah, terimakasih! Mari berteman akrab setahun ke depan!" ucap perempuan itu antusias. Sejujurnya, Vania merasa nyaman dengan keantusiasan perempuan itu karena mengingatkannya dengan sosok Delima.


"Oh iya, kenalin, nama gue, Vena Hermilia, panggil gue, Ve. Nama Lo siapa?" tanya Vena seraya mengulurkan tangannya antusias.


"Ahh, iya, nama aku, Vania Sastrowiyoto," balas Vania seramah mungkin. Namun, wajahnya yang ceria mendadak berubah pucat pasi kala melihat sosok yang baru saja memasuki kelas barunya itu. Sosok yang paling tidak ingin ditemukannya kembali di kelas 2.


"Zaki! Ngapain kamu di sini!" Teriak Vania spontan dengan wajah memucat.

__ADS_1


"Wah, gue nggak nyangka kita bisa sekelas lagi. Mohon bantuannya ya, Vania 1 tahun ke depan!" Balas Zaki dengan wajah antusias.


"Nggak akan! Jangan sok akrab sama aku," ketus Vania yang kembali duduk. Zaki hanya bisa diam seribu bahasa, dia baru sadar jika Vania masih menyimpan kebenciannya akibat insiden UAS di kelas 1.


"Woi! Lo apaan sih? Sombong banget. Lo sendiri 'kan yang sok kenal dan nyapa Zaki duluan," Bela Dewa yang mendadak menyusul Zaki memasuki ruang kelas 8A.


"Hah? Dewa? kamu juga masuk ke kelas ini? kok bisa?" tanya Vania tak percaya harus bertemu lagi dengan 2 orang yang paling mengganggunya selama di kelas 1 dulu.


"Ya, bisalah! Emangnya kelas ini cuma buat anak pintar kayak Lo doang mentang-mentang Lo peringkat 1 kelas, dasar sok pintar," ketus Dewa tak terima karena diremehkan kemampuannya secara tidak langsung.


"Hei! Lo siapa pagi-pagi udah buat rusuh di kelas ini, lagipula sebutan 'Sok Pintar' itu terlalu kasar tahu!" Protes Ve tak terima teman semejanya diejek oleh cowok kasar.


"Hah? siapa juga ini cewek boncel 1? mau jadi pahlawan kesiangan ceritanya," balas Dewa.


"Apa Lo bilang? boncel?! sini Lo maju kalau berani!" Tantang Ve yang mulai semakin menggulung lengan bajunya.


"Hahahah, nggak salah ini cewek boncel nantangin gue, oke ayo, siapa takut!" balas Dewa yang mulai mendekati Ve.


Melihat suasana kelas yang semakin memanas dan Keos antara Dewa dan Ve membuat Vania mencoba untuk menenangkan suasana agar tidak semakin buruk.


"Ve, tenang dulu. Aku nggak apa-apa kok, sungguh. Udah ya, jangan berantem lagi," ujar Vania seraya menarik lengan Ve agar duduk kembali dengan senyum terbaiknya.


"CK! Ya udah lah. Mood gue juga takut tambah buruk kalau terus-terusan debat sama cewek boncel itu," balas Dewa seraya memberikan tatapan tajam ke arah Ve seakan berkata 'Masalah ini belum selesai'. Ve yang seakan mengerti maksud tatapan Dewa itu balas menatapnya tak kalah seakan berkata 'Sini aja kalau berani'. Keduanya saling adu melotot.


"Huh! Pagi-pagi udah bikin emosi aja deh. Mereka siapa sih, Van?" tanya Ve yang sudah mulai tenang kembali.


"Mereka namanya Dewa dan Zaki, ya mereka bisa dibilang sahabat dekat. Aku waktu kelas 1 kebetulan bareng mereka," balas Vania.


"CK! Memangnya sejak kelas 1 mereka menyebalkan seperti itu ya khususnya si Dewa-Dewa itu?!" Ketus Ve dengan tatapan berapi-api dan dibalas dengan anggukan beriringan senyum masam dari wajah Vania.


******


"Selamat pagi anak-anak, selama 1 tahun ke depan, Ibu yang akan menjadi wali kelas 8A ini, mohon bantuannya!" ujar seorang wanita dengan suara tegas yang baru saja memasuki ruangan kelas.


Detak jantung Vania seakan berhenti beberapa detik kala tahu sosok yang akan menjadi wali kelas barunya itu. Sosok yang berkaitan dengan insiden UAS yang menimpanya. Ya, dialah Bu Meisya, wali kelas 8A.


"Ya Allah, belum cukup harus sekelas dengan Zaki yang menyebalkan. Wali kelasku juga Bu Meisya yang terkenal killer dan tegas itu. Cobaan apa lagi ini, Gusti." Batin Vania nestapa.


"Oke, langsung saja, ibu tak suka membuang-buang waktu. Kita mulai saja pemilihan perangkat kelas 8A," Ujar Bu Meisya.

__ADS_1


"Baik, Bu," jawab anak kelas 8A kompak.


"Ya Allah, hamba mohon, jangan sampai hamba terpilih kembali menjadi perangkat kelas, hamba hanya ingin fokus belajar dan tidak ingin sampai berurusan lagi dengan Zaki," doa Vania dalam hati begitu khusyuk.


"Baiklah, ibu sudah menyiapkan 4 kertas bertuliskan Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara di dalam kaleng ini. Kalian maju dan ambil 1 kertas, jika kertas yang kalian ambil bertuliskan 1 dari 4 kertas itu, maka kalianlah yang terpilih menjadi perangkat kelas 8A selama 1 tahun ke depan," jelas Bu Meisya.


Setiap anak maju ke depan kelas untuk mengambil sebuah kertas. Vania maju ke depan kelas dengan terus berdoa dalam hati agar tidak mendapat kertas bertuliskan perangkat kelas. Saat sampai di tempat duduknya, Vania membuka kertas yang digenggamnya itu. Seketika, wajah Vania begitu lega dan ceria karena kertas miliknya kosong.


"Oh sial! Ini merepotkan!" gerutu Ve di sebelahnya. Vania melihat kertas yang ada di genggaman Ve dan tertulis kata 'Bendahara' di sana. Vania mengerti perasaan teman semejanya itu, tugas perangkat kelas memang merepotkan. Vania sudah mengalaminya.


"Oke, jadi bagi anak-anak yang mendapatkan kertas bertuliskan perangkat kelas silahkan berdiri ya ketika saya minta," jelas Bu Meisya.


"Siapa yang mendapatkan kertas Ketua Kelas?" tanya Bu Meisya seraya bersiap menuliskannya di catatan kelas 8A.


"Saya Bu, Dewa Haryanto," jawab Dewa cuek.


"Apa! Astaga! Ini lebih dari buruk! Kenapa sih gue harus kerja bareng si cowok nyebelin itu selama 1 tahun ke depan!" Gerutu Ve dengan raut kesal. Vania hanya bisa menatap Ve prihatin atas ketidakberuntungannya.


"Oke, lalu siapa yang mendapatkan kertas Wakil Ketua Kelas?" lanjut Bu Meisya.


"Saya Bu, Nurzaki Suganda," jawab Zaki lemah.


"Nah! Sudah aku duga! Dia memang ditakdirkan selalu berurusan dengan tanggung jawab perangkat kelas. Syukurlah, kali ini aku tidak perlu berurusan dengannya lagi," gumam Vania dengan senyuman lega.


"Oke, selanjutnya, siapa yang mendapatkan kertas Sekretaris?" tanya Bu Meisya kembali.


"Saya, Bu, Dewi Kirania," jawab seorang perempuan berambut panjang hitam, hidung mancung dan kulit putih. Jika ada definisi perempuan cantik, sudah pasti dia sosoknya.


Bahkan sosok menyebalkan seperti Dewa saja langsung terpesona olehnya. Terlihat Tatapan berbinar dari netra Dewa kala melihat sang Dewi menunjukkan dirinya.


"Terakhir, siapa yang mendapat kertas bertuliskan Bendahara?" lanjut Bu Meisya.


"Saya Bu, Vena Hermilia," jawab Ve lemas.


"Apa? CK! Takdir macam apa ini. Baru juga mood gue membaik jadi jelek lagi gara-gara harus tugas bareng si boncel," gerutu Dewa cukup keras hingga terdengar ke telinga Ve.


Dengan wajah bersungut-sungut, Ve membalas perkataan Dewa dengan penuh emosi.


"Hei! Kalau bisa milih, gue juga ogah kali harus kerja bareng Lo, cowok nyebelin!" balas Ve.

__ADS_1


"Sudah cukup! Mulai sekarang, sebagai perangkat kelas 8A, kalian berdua harus akur dan kompak. Saya tidak mau dengar kalian bertengkar seperti ini lagi," tegas Bu Meisya sebelum memulai pelajaran pertama.


__ADS_2