
Pagi yang cerah, Vania berjalan penuh semangat menaiki tangga menuju kelas 8A. Dia senang pelajaran pertama adalah salah satu pelajaran favoritnya yaitu Bahasa Inggris. Vania begitu antusias menunggu materi apa yang akan dipelajari pagi ini.
"Selamat pagi, Vania sayang," sapa Ve ceria.
"Selamat pagi juga, Ve. Sepertinya ada yang lagi senang, nih. Cerita, dong," pinta Vania kepo.
"Ehm, ya bisa di bilang begitu, sih. Jadi, setelah gue pikir-pikir, gue memutuskan untuk berdamai dengan Dewa," ungkap Ve jujur.
"Apa? Kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk berdamai dengan Dewa?" tanya Vania.
"Ya, gue sudah capek aja berantem sama dia terus. Lagipula, perdamaian itu lebih indah kan?" ujar Ve dengan senyuman tulus.
"Ya, sih, benar. Tetapi, apa ini bukan efek dari kejadian mobil aku mogok tempo hari?" selidik Vania masih kurang puas atas jawabannya.
"Itu memang salah satu alasan utamanya,sih. Ya, intinya, gue mau lebih baik aja deh sama si Dewa," ucap Ve mantap.
"Ya, bagus jika memang begitu. Jadi berkurang deh alasanku sakit kepala selama di kelas, hahaha," cibir Vania disertai tawa kecil.
"Memang ya adik kecil gue ini sering bikin orang sakit kepala," ucap Dewa mendadak saat memasuki kelas.
"Adik? Apa maksudnya?" tanya Vania bingung.
"Enak aja. Abang juga yang memicu keributan dengan gue terlebih dahulu. Jadi, secara enggak langsung, Abang juga yang bikin orang sakit kepala," protes Ve tak terima.
"Abang? Adik? Ada yang bisa menjelaskan maksudnya?" tanya Vania semakin bingung.
"Hahaha, Biar gue aja yang menjelaskan. Jadi, Dewa dan Ve memutuskan untuk berdamai. Mereka juga sepakat jadi Abang dan Adik," papar Zaki yang menyusul Dewa.
"Ya begitulah, punya adik Boncel dan jago basket seperti Ve tidak buruk juga," puji Dewa.
"Punya Abang yang resek tapi hebat memimpin orang sepertinya akan seru," imbuh Ve.
Mereka berdua pun tertawa setelah saling memuji diri masing-masing. Vania hanya menatap kedua orang itu dengan bingung.
"Aduh, terserah. Gue senang pokoknya biang keributan kelas sudah damai," tandas Vania.
Bel pelajaran pertama sudah berbunyi, Dewa dan Zaki kembali ke tempat duduk mereka di barisan belakang. Seorang wanita berkerudung memasuki kelas seraya membawa kamus besar bertuliskan Indonesia-Inggris.
"Good morning, Students. Are you ready for English today?" ucap wanita itu semangat.
"Ready, Mrs.Salma!" Teriak murid-murid kelas 8A kompak dan antusias.
"Oke, hari ini kita akan mempelajari tentang Descriptive Text," tutur Mrs.Salma. Dia mulai menjelaskan materi itu selama 15 menit.
"Oke, apa kalian sudah mengerti?" tanya Mrs. Salma. "Ya, kami mengerti, Mrs," sahut anak-anak kelas 8A serempak.
"Bagus. Jika begitu, selanjutnya, Ibu akan memberikan tugas kelompok untuk kalian. 1 kelompok beranggotakan empat orang. Tugas kalian adalah untuk membuat satu Descriptive Text dan mempresentasikannya di depan kelas," papar Mrs. Salma penuh semangat.
__ADS_1
Setelah pemberitahuan tugas kelompok, anak-anak kelas 8A mulai memilih kelompok masing-masing. Kelompok cepat terbangun karena mayoritas mereka memilih mengerjakan tugas ini dengan anggota geng mereka.
"Aduh, Ve. Gimana ya rata-rata sudah penuh kelompoknya empat orang? Kita masih baru berdua saja," ungkap Vania panik.
"Lo tenang dahulu, Vania. Kita cari anak yang tidak punya geng untuk ikut kelompok kita," ucap Ve menenangkan sahabatnya itu.
"Hei, kalian masih kurang dua orang kan? Boleh kami gabung?" sapa cewek berambut sebahu ikal. Di sampingnya, ada cewek berambut panjang hitam lurus.
"Ah, untung lah. Kami baru saja hendak mencari dua anggota yang kurang. Ayo, kita sekelompok saja," ajak Ve seramah mungkin. Vania hanya terdiam. Dia memang tidak mudah bergaul dengan orang yang baru dikenal.
"Kalau tidak salah kalian itu Elsa dan Fita kan?" tanya Ve mengingat daftar absen kelas.
"Ya, benar. Gue Elsa dan yang di sebelah gue ini namanya Fita," balas cewek berambut ikal bernama Elsa ramah.
"Oke, deh. Selamat bergabung ke kelompok ini. Gue, Ve dan dia, Vania. Ya sudah, kita mulai saja diskusinya," ucap Ve percaya diri.
"Jadi, apa kalian ada ide tentang topik yang akan kita tulis sebagai Descriptive Text?" tandas Ve yang menjadi pemimpin diskusi.
"Gimana ya? Jika membahas soal deskripsi sesuatu kok gue malah kepikiran sama kucing di rumah," gumam cewek berambut panjang hitam lurus bernama Fita.
"Hah? Kamu pecinta kucing juga, Fita?" sergah Vania tiba-tiba dengan antusias.
"Ya, kebetulan, gue punya satu kucing Persia di rumah," jawab Fita mulai ceria.
"Wah, Persia ya, pasti lucu banget. Aku juga punya kucing peliharaan di rumah," balas Vania.
"Ya, aku punya seekor Kucing Maine Coon di rumah," jawab Vania begitu riang.
"Gila! Maine Coon? Itu kan kucing yang sedang populer saat ini. Harganya juga sangat mahal!" teriak Elsa. Ada mimik takjub di wajahnya.
"Be-begitu ya. Kucing itu hanya diberikan oleh Om-ku. Katanya kucing ini bisa jadi teman terbaik saat kesepian di rumah karena kedua orangtuaku sibuk bekerja," ungkap Vania.
"Memang benar apa yang di bilang Om lo. Gue juga punya kucing Anggora di rumah. Dia selalu bisa menghibur gue saat sedih," ujar Elsa.
"Kebetulan yang aneh ya. Gue juga kebetulan memelihara seekor kucing di rumah," tandas Ve ikut membahas topik kucing.
"Wah, kucing lo jenisnya apa, Ve?" tanya Fita dengan mata berbinar menanti jawaban.
"Ehm, kucing gue jenisnya...Kucing Oren, hehe," balas Ve agak malu-malu karena kucing peliharaannya hanya kucing kampung yang banyak ditemukan di jalanan.
"Keren! Kucing Oren! Oke, semua kucing kita sudah pasti kalah sama kucingnya, Ve," kelakar Elsa diiringi tawa dari Vania dan Fita.
"Oh, Aku jadi punya ide tentang topik yang perlu kita bahas sebagai Descriptive Text," ujar Vania tiba-tiba dengan wajah percaya diri.
"Sungguh? Kamu punya ide apa buat topik kita?" tanya Fita mulai serius.
"Gimana kalau kita membuat Descriptive Text tentang kucing saja? Kita semua kan sama-sama pecinta kucing," usul Vania.
__ADS_1
"Wah, ide bagus! Gue setuju. Murid peringkat 1 di kelas itu memang beda ya," puji Elsa.
"Apaan, sih. Enggak kok, aku biasa aja," balas Vania malu-malu.
"Memang benar kok. Lo enggak perlu merendah gitu, Vania," imbuh Fita tulus.
"Oke, berarti kita sudah sepakat ya mau membuat Descriptive Text tentang kucing saja?" tanya Ve memastikan kembali. Ketiga cewek itu mengangguk tanda setuju.
Vania, Fita, Elsa dan Ve mulai menulis teks tentang kucing. Tak lama, mereka memberanikan diri untuk melakukan presentasi. Vania memimpin presentasi.
Kelompok mereka berhasil mempresentasikan teks tentang kucing dengan baik. Terbukti, teman sekelasnya yang lain sampai bertepuk tangan meriah untuk penampilan mereka.
***
Bel tanda waktu istirahat telah berbunyi. Vania dan Ve bersiap untuk makan di kantin sekolah.
"Kalian mau ke Kantin ya? kami boleh ikut enggak?" tanya Fita penuh harap.
"Tentu saja! Ayo kita rayakan kesuksesan presentasi kita hari ini," ujar Ve semangat.
Kali ini, Vania tidak hanya makan siang bersama Ve saja tetapi juga dengan Fita dan Elsa, teman sekelompok mereka.
"Ternyata kalian anaknya asyik ya," tandas Elsa seraya membawa sebuah burger.
"Sejujurnya, awalnya gue kira kalian anaknya sombong karena kemana-mana hanya berdua terutama Vania. Kalau Ve, sih, gue masih suka lihat dia ngobrol sama yang lain," imbuh Fita jujur yang membuat Vania tampak kaget.
"Sombong? Aku enggak sangka sifat pendiam ku membuat orang lain menilai diriku sombong. Padahal, aku hanya tidak mudah bergaul saja dengan orang asing," tutur Vania ramah.
"Ya, kita minta maaf karena sudah salah menilai kalian. Ternyata, jika sudah kenal, kalian anak yang sangat asyik dan menyenangkan," ungkap Elsa penuh ketulusan.
"Syukurlah jika kalian sudah mengerti," ucap Ve.
"Jadi, bolehkah kita terus berteman seperti ini? Tidak mudah bertemu teman sesama penyuka kucing," tanya Fita penuh harap.
"Tentu saja! Mari kita berteman seterusnya seperti sekarang," ujar Vania begitu bahagia.
"Terima kasih!" tandas Fita dan Elsa kompak.
"Karena kita sudah sepakat untuk berteman seterusnya, boleh aku tanya sesuatu ke lo, Vania?" tanya Fita agak ragu-ragu.
"Boleh, silakan. Kamu mau tanya apa, Fita?" ujar Vania dengan hati berdebar.
"Vania, apa benar rumor kalau lo pacaran sama Zaki, Wakil Ketua Kelas?" tanya Fita kepo.
Uhuk! Uhuk!
Vania tampak terbatuk-batuk akibat pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh teman barunya itu.
__ADS_1
"A-apa? Bagaimana kalian bisa berpikir seperti itu?" teriak Vania begitu shock.