My Rival, My First Love

My Rival, My First Love
Berita Duka


__ADS_3

Vania mulai kelelahan di setengah perjalanannya menuju ke sekolah. Dari dulu, fisiknya memang kurang kuat jika berolahraga dalam waktu lama.


"Vania, lo udah capek? mau istirahat sebentar?" saran Zaki melihat napas Vania ngos-ngosan.


"Wah, ide bagus, istirahat sebentar ya. Aku capek banget," ungkap Vania jujur.


Zaki mengajak Vania untuk duduk di kursi depan sebuah cafe mini yang sedang tutup.


"Vania, lo pernah makan di cafe ini belum?" tanya Zaki. Ia menunjuk ke dalam cafe.


"Cafe Soulmate? Hmm, nama yang unik. Belum pernah, aku kan biasanya makan hanya di kantin sekolah atau bawa bekal dari rumah," tandas Vania seraya memperhatikan cafe.


"Wah, Sayang banget. Cafe ini harga makanannya terjangkau. Tetapi soal rasa, gue jamin enak," papar Zaki layaknya Sales cafe.


"Hahaha, kayaknya kamu sering banget makan di sini ya, Zaki," sergah Vania menyelidik.


"Ya, bisa dibilang gitu, sih. Namun, daya tarik utama cafe ini karena ada live music setiap malam dari band lokal, lho." ujar Zaki.


"Wah, Ada live music band? Menarik. Kapan-kapan, aku mampir deh," tandas Vania.


"Harus itu.Oh iya, saran gue, jika lo mau mampir ke Cafe Soulmate, lo ajak orang yang spesial. Mitosnya, pasangan yang datang bersama ke sini akan menjadi soulmate. Mereka akan bisa bersama selamanya," ungkap Zaki serius.


"Hahaha, mitos yang aneh! Jika benar, Aku akan ajak Ve aja ke sini," kelakar Vania diiringi tawa.


"Kenapa malah jadi ajak Ve? Emangnya nggak ada cowok spesial yang mau diajak ke sini?" tanya Zaki. Wajahnya menunjukkan keheranan.


"Enggak ada. Ayo kita lanjut jalan lagi. Rasa capek aku sudah hilang," ajak Vania semangat.


Mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju sekolah. Kesempatan jalan bersama membuat Vania dan Zaki mengobrol berbagai hal hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan sekolah.


Tak jauh dari gerbang, Ve tampak berdiri seraya menatap murid-murid yang tiba. Ia menanti kedatangan Vania dengan ekspresi bersalah.


"Vania! Maaf banget ya gue meninggalkan lo sendirian. Lo pasti bosan, deh, harus jalan santai sendirian," cecar Ve yang langsung berlari menghampiri Vania di depan gerbang.


"Enggak juga sih. Toh, Zaki juga menemani aku jalan dan mengobrol banyak hal," tandas Vania.


"Apa? Lo ditemenin si cowok menyebalkan ini? Vania, lo enggak di modusin si Zaki kan selama jalan santai tadi?" tanya Ve dengan tatapan tajam ke arah Zaki.


"Hei! Jangan sembarangan ya, Ve! Ngapain juga gue modusin si cewek kuper ini," elak Zaki.


Deg!


"Huh, Aku enggak ngerti sama Zaki.

__ADS_1


Terkadang dia bisa ramah, Terkadang dia berubah dingin dan menyebalkan" batin Vania.


"Siapa yang kuper? Vania itu anaknya selektif dalam memilih teman. Enggak kayak geng lo yang asal berteman sama siapa aja," tampik Ve.


"Ve, Sudah ya debatnya. Aku capek banget mau minum dan istirahat di kelas," ujar Vania.


"Oh, oke. Kita cukupkan sampai di sini. Ayo ke kelas aja, Vania," ajak Ve dengan suara lembut.


Ve segera merangkul lengan sahabatnya itu dan berjalan menjauhi Zaki yang termenung.


"Jadi, Bagaimana hasil pertandingan kamu dengan si Dewa, Ve?" tanya Vania kepo.


"Gue sebal banget! Lagi-lagi kita sampai di sekolahnya barengan jadi ya seri lagi, deh," ungkap Ve. Ada raut kekecewaan di wajahnya.


"Ya sudah. Masih banyak kesempatan lain untuk membuktikan pemenangnya. Tetapi, ya lebih bagus jika kalian bisa damai, sih," nasihat Vania dengan senyuman hangat.


"Apa? Damai? Gue sama si Playboy itu? Enggak akan!" tandas Ve berapi-api. Vania hanya bisa menggelengkan kepalanya atas keputusan Ve.


...***...


Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid begitu semangat hendak keluar kelas. Namun, tanpa disangka, Bu Meisya memasuki kelas dengan tergesa-gesa.


"Maaf, Ibu sudah mengganggu waktu pulang sekolah kalian. Namun, Ibu harus menyampaikan berita Duka dari salah satu teman kalian," papar Bu Meisya serius.


"Ibu baru mendapat kabar bahwa Ayah dari teman kalian, Sissy baru saja meninggal dunia setelah dirawat di Rumah Sakit selama 3 hari," ucap Bu Meisya dengan wajah berduka.


"Apa? Enggak mungkin! Sissy....," tandas Dewi dengan wajah pucat pasi karena shock.


Sissy memang salah satu anggota dari geng Dewi yang paling dekat dengannya. Sudah 2 hari, Sissy memang izin tidak masuk sekolah karena alasan keluarga.


"Ibu meminta para perangkat kelas untuk mengumpulkan sumbangan dan langsung mengunjungi rumah Sissy sebagai perwakilan teman sekelas sekarang. Setelah Ibu selesai memesan karangan bunga, Ibu juga akan menyusul kalian di sana," Ujar Bu Meisya.


"Baik, Bu. Kami mengerti," ujar Dewa sigap.


Setelah Bu Meisya meninggalkan kelas, Ve mulai mengumpulkan sumbangan dari anak-anak sebelum mereka pulang. Dewa mencoba menenangkan Dewi yang terlihat sedih dan lemas.


Setelah semuanya terkumpul, Dewa, Zaki, Dewi dan Ve bersiap menuju rumah Sissy dengan mobil jemputan Dewi. Sayangnya, jemputan Dewi belum tiba. Hanya ada mobil Vania dengan Pak Broto yang sedang duduk menanti.


"Aduh, gimana ,dong, sepertinya mobil jemputan ku telat datangnya. Aku sudah ingin segera menemani Sissy. Dia pasti sedih banget sekarang," ungkap Dewi. Matanya berkaca-kaca


"Ya, udah. Kalian ikut mobil aku aja. Aku sekalian ikut melayat ke rumah Sissy," tawar Vania dan langsung menceritakan soal melayat kepada Pak Broto. Akhirnya mereka berlima memutuskan untuk menuju rumah Sissy naik mobil Vania.


Di dalam mobil. Dewi tampak begitu sedih. Sesekali dia menyeka air mata yang menetes ke pipi indahnya.

__ADS_1


"Dewi, Lo harus kuat ya. Jika lo sedih begini siapa yang akan menghibur dan menguatkan Sissy," ungkap Dewa begitu lembut.


"Ya, Kamu benar, Dewa. Aku harus kuat demi Sissy. Aku harus bisa sedikit menghibur dukanya. Terimakasih, ya," ujar Dewi mulai menahan air matanya. Ia juga mencoba menyunggingkan seulas senyuman manis.


"Nah, gitu, dong. Jika lo senyum seperti ini, kecantikan lo semakin terpancar nyata," pungkas Dewa seraya memberikan selembar tisu hasil meminta Vania.


"CK! Mulai beraksi si playboy karbitan. Bisa-bisanya lagi suasana berduka gini dia malah meluncurkan gombalan," gerutu Ve.


Dewa menatap tajam Ve layaknya peluru pistol siap ditembakkan kepada Ve. Dia sudah siap meluncurkan umpatan yang sudah berada di kerongkongannya. Namun, dia memilih untuk menahannya karena tidak ingin terlihat buruk di depan calon gebetannya.


Rumah Sissy berada di Komplek Perumahan Intan Permai, tak jauh dari sekolah. Cukup dalam waktu 15 menit, mereka sudah sampai. Terlihat ada banyak pelayat yang mengerumuni sebuah rumah tingkat dua berdinding abu-abu. Di pekarangan rumah, sudah berjejer banyak karangan bunga belasungkawa.


Sesampainya di rumah Sissy, Dewi segera berlari masuk ke dalam rumah. Terlihat Sissy yang menangis tersedu sedan di depan jenazah sang ayah. Melihat itu, Dewi segera memeluknya. Ia dan Sissy menangis bersama.


"Sissy, gue mewakili anak-anak kelas 8A mengucapkan turut berdukacita ya atas meninggalnya Ayah lo. Semoga beliau tenang di sisi-Nya," ungkap Dewa penuh ketulusan.


"Ya, ini juga ada sedikit titipan dari anak-anak sebagai ucapan belasungkawa, semoga sedikit membantu," imbuh Ve lemah lembut.


"Ya, terimakasih ya, kalian sudah menyempatkan waktu untuk melayat ke sini sepulang sekolah," jawab Sissy sendu.


Tak berselang lama, Bu Meisya akhirnya tiba di rumah Sissy. Dia membawa sebuah karangan bunga besar mewakili SMP Sinar Putih.


"Sissy, kamu yang sabar ya. Ibu turut berdukacita atas meninggalnya ayahmu. Kamu harus kuat. Ibu yakin beliau sudah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya," hibur Bu Meisya begitu tulus.


"Ya, terimakasih banyak, Bu Meisya. Aku akan mencoba tabah menghadapi ini," ujar Sissy.


"Sekarang, biar Ibu saja yang menemani Sissy. Kalian sebaiknya pulang sekarang. Orangtua kalian pasti sudah menunggu," ucap Bu Meisya.


"Bu, aku juga masih mau di sini menemani Sissy," pinta Dewi dengan wajah sedih.


"Ya sudah, Dewi nanti biar pulang bareng Ibu saja. Vania, Zaki, Ve dan Dewa sebaiknya pulang saja," saran Bu Meisya.


Mereka pun menuruti saran dari Bu Meisya. Zaki, Ve, Vania dan Dewa berpamitan dengan Sissy beserta keluarganya. Mereka segera berjalan menuju mobil Vania.


Awalnya semua berjalan lancar. Setelah dua puluh menit melaju di jalanan, mendadak mobil milik Vania berhenti dan mogok. Beruntung, sekitar 1 km dari posisi mobil berhenti, ada sebuah bengkel yang buka dan cukup ramai. Akhirnya, Pak Broto dibantu oleh Zaki dan Dewa mendorong mobil menuju bengkel. Sementara, Vania dan Ve berjalan di sebelah mobil.


"Wah, Pak, sepertinya kabel mesin mobil ini ada yang putus. Setidaknya, butuh waktu satu jam untuk memperbaikinya. Kebetulan, bengkel sedang ramai. Jadi, bapak harus menunggu giliran sekitar satu jam lagi, bagaimana?" ungkap Montir bengkel paruh baya.


"Menurut Non Vania bagaimana? kita harus menunggu sekitar dua jam untuk memperbaiki mobil ini," tanya Pak Broto bingung.


"Dua jam? Lama banget, Pak. Aku sepertinya enggak kuat jika harus berdiri selama dua jam di depan bengkel ini," ungkap Vania keberatan.


"Ah, gue punya ide bagus," ujar Zaki mendadak.

__ADS_1


__ADS_2