
Pagi itu, Vania nampak terburu-buru menuju kelas 7A karena semalam dia tidur jam 12 akibat belajar Matematika dan Bahasa Indonesia demi bisa mengalahkan Zaki.
"Huh, untunglah masih tersisa 15 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi," human Vania dengan wajah yang lega.
"Pagi, Vania. Tumben Lo datangnya agak telat biasanya pasti paling pertama sampai di kelas," ucap Christa yang asyik bercermin.
"Pagi juga, Christa. Iya nih, aku hari ini bangunnya kesiangan jadi agak telat deh," jelas Vania dengan senyum kecilnya.
"Oh gitu, Lo sudah selesai ngerjain PR IPA?" tanya Christa sambil menyisir rambutnya.
"Sudah dong, kamu sendiri sudah selesai belum PR-nya?" tanya Vania penasaran.
"Eemm, Nggak tahu deh. Mungkin udah kali, bentar gue pastikan dulu," jawab Christa ragu.
"Hah? gimana? kok kamu bisa nggak tahu, Christa? 'kan kamu sendiri yang ngerjain?" tanya Vania bingung.
Mendadak, Christa memanggil Siti, teman sekelas yang duduk di barisan belakang. Siti, gadis yang manis dengan rambut kepang dua dan kacamata besarnya.
"Siti, gimana? PR IPA gue udah selesai dikerjakan belum?" tanya Christa serius.
"Su-sudah, Christa. Ini PR IPA kamu," jawab Siti sambil memberikan sebuah buku catatan bersampul beruang pink kepada Christa. Dia menerima buku catatan itu dan langsung memeriksa PR IPA miliknya.
"Astaga, Christa! Kok bisa sih kamu menyuruh orang lain untuk mengerjakan PR milikmu?" protes Vania dengan raut tak percaya kelakuan teman 1 tempat duduknya itu.
"Gue nggak maksa kok, Vania. Dia sendiri yang mau mengerjakannya. Toh, ini nggak gratis," balas Christa cuek.
"Oke, kerja bagus, Siti! Ini imbalan buat Lo," ucap Christa dan memberikan sebuah kamus tebal bertuliskan Bahasa Indonesia - Bahasa Inggris kepada Siti.
Siti terlihat begitu senang mengambil kamus tebal itu. "Terimakasih banyak ya, Christa," ucap Siti tulus dan langsung kembali ke kursinya.
"Lihat, dia senang kok ngerjainnya! Dia sudah lama ingin kamus itu, tapi tidak punya cukup uang untuk membelinya," balas Christa cuek.
"Ya, tapi bukan berarti kamu bisa memanfaatkan dia gitu dong Christa. PR itu 'kan tanggung jawab kamu," nasehat Vania.
"CK! Santai aja deh. Papa bilang kalau ada cara yang mudah kenapa harus ambil cara yang sulit," lanjut Christa dengan penuh kebanggaan.
Vania hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya atas kelakuan temannya itu. Waktu masuk kelas tinggal 10 menit lagi, tapi PR IPA kelas 7A belum dikumpulkan di meja depan.
"Sebentar lagi bel kelas berbunyi, tapi kok, Zaki belum ngumpulin PR IPA anak-anak sekelas di depan sih!" Gerutu Vania dan langsung menyisir seisi kelas untuk menemukan Sang Ketua Kelas itu.
__ADS_1
Bukannya mengumpulkan buku anak-anak sesuai permintaan Bu Meisya, Zaki malah asik bercanda bersama beberapa anak di barisan belakang dengan santainya.
"Zaki! Kok kamu belum ngumpulin PR IPA anak-anak di meja depan sih? Nanti Bu Meisya marah," protes Vania dengan wajah kesal.
"Santai aja kali, Vania. Masih ada sisa waktu 5 menit lagi kok. Dewa dan anak lain ada yang belum selesai PR-nya," balas Zaki santai.
"Hah? biarkan aja! Salah mereka sendiri nggak ngerjain PR dari semalam," lanjut Vania.
"Bisa diam nggak sih Lo! Nggak lihat gue lagi sibuk ngerjain PR IPA-nya?" timpal Dewa emosi.
"Terserah kalian aja deh! Aku nggak mau kalau sampai di hukum Bu Meisya yang terkenal Killer!" Putus Vania yang langsung mulai mengumpulkan buku PR anak-anak di kelas.
Vania sudah hampir selesai mengumpulkan semuanya hingga sampai di kursi Dewa.
"Dewa! Kamu belum selesai juga! Udah sini kumpulin PR-nya!" pinta Vania emosi.
"Sebentar! Sedikit lagi ini." Balas Dewa cuek.
"Bel masuk sudah berbunyi! Cepat kumpulkan PR kamu!" pinta Vania lagi dan langsung menarik buku PR milik Dewa.
"Sebentar, Bawel! 2 soal lagi!" Balas Dewa tak mau kalah dan tak melepaskan bukunya.
"Ada apa ini? Kenapa PR IPA kalian belum terkumpul di meja saya!" Tegur Bu Meisya yang sudah tiba di kelas.
" I-ini, Bu Meisya. Dewa tidak mau mengumpulkan PR-nya karena belum selesai," ucap Vania jujur.
"Wah..wah...Dasar tukang ngadu Lo!" ucap Dewa emosi tapi tak membuat Vania gentar.
"Sudah, Ibu tidak mau mendengar alasan kalian. Vania, Zaki, kalian sebagai perangkat utama kelas sudah lalai menjalankan amanah yang diberikan, kalian akan dihukum," putus Bu Meisya tegas.
"A-apa?!" gerutu Vania tak terima dan hanya bisa menatap tajam Zaki dengan wajah merah padam akibat emosi. Zaki hanya bisa menunduk karena bersalah atau mungkin takut.
"Hukuman kalian adalah membawa buku paket IPA dari perpustakaan untuk teman-teman sekelas, kalian boleh pergi sekarang," putus Bu Meisya dan memulai pelajaran hari ini.
***
( Di Perpustakaan SMP Sinar Putih )
Vania terlihat sibuk mencari buku paket IPA kelas 7 di barisan ke 4 rak buku dengan menaiki sebuah kursi kecil karena posisi yang lumayan tinggi.
__ADS_1
"Pokoknya ini semua salah kamu, Zaki. Coba kamu ikutin kata-kata aku dan membiarkan Dewa sendiri, kita mungkin tidak akan di hukum. Gara-gara kamu, aku jadi harus melewatkan materi awal IPA hari ini," gerutu Vania penuh luapan emosi.
"Ya gue tahu, gue salah. Tapi gimanapun, Dewa itu sahabat gue mana tega gue ninggalin dia. Itu namanya nggak solider," kilah Zaki.
"Aku nggak peduli tentang arti solidaritas kalian tapi jangan bawa-bawa aku juga dong. Seumur hidup, baru kali ini aku di hukum sama guru," cecar Vania kembali.
"Gue kira Lo cuma anak cewek yang aneh dan sok pintar. Ternyata Lo juga anak yang cerewet ya. Dan bisa tolong diam nggak? gara-gara ocehan Lo yang kayak kereta itu, gue sampai lupa nih hitungan bukunya buat anak sekelas," protes Zaki.
"Hah? cerewet? sok pintar? enak aja! Aku emang anak pintar kok kata Papa dan Mama aku. Gimana sih hitungan kok bisa lupa? kalau kayak gini kapan kita bisa balik ke kelasnya!" Ucap Vania tak mau kalah.
Vania yang terlalu meluapkan emosinya, tanpa sengaja menggoyahkan kursi kecilnya. Dia kehilangan keseimbangan dan terjerembab jatuh ke lantai perpustakaan.
"Awaaassss!" Teriak Zaki spontan dan langsung berlari untuk menangkap tubuh Vania agar tidak menghantam lantai.
BRUUUUKKKKK!
"Hah? kok nggak sesakit yang aku kira ya?" gumam Vania saat membuka matanya setelah terpejam karena jatuh.
"Ya iyalah, orang lo jatuhnya di atas gue! Cepat bangun," protes Zaki yang sudah ada di bawah tubuh Vania.
"Ahh, maaf, kamu nggak apa-apa, Zaki?" ucap Vania spontan dan menahan malu karena terjatuh seperti itu.
"Makanya, neng. Jangan marah-marah mulu, jadi apes 'kan? Untung aja tubuh gue kuat. Tapi, agak sakit nih bokong gue," balas Zaki.
"Habisnya kamu sih bikin emosi. Waduh, sakit? coba sini lihat bokongnya," ucap Vania spontan.
"Hah? Lo yakin mau lihat bokong indah gue? hahahaha," goda Zaki dengan tawa tengilnya.
"Bu-bukan begitu maksud aku. Tahu ah!" gumam Vania yang langsung berdiri dengan pipi Semerah tomat setelah sadar perkataannya yang tak masuk akal.
"Dih, ngambek! Tapi, gue nggak nyangka, kayaknya kalau dilihat dari jauh lo itu langsing tapi ternyata berat juga ya kayak ban mobil," ejek Zaki dengan santainya.
"Apa kamu bilang!" Teriak Vania dan langsung menggulung salah satu buku paket IPA itu dan memukulkannya ke kepala Zaki.
PLAAAKKK
"Sakit Woi! Lo sengaja mau bikin kepala gue benjol ya!" Teriak Zaki emosi.
Vania hanya menjulurkan lidahnya ke arah Zaki dan pergi membawa 5 tumpukan buku paket IPA yang diminta Bu Meisya.
__ADS_1
"Woi, ini masih ada 10 buku lagi! Udah di tolongin juga malah kabur gitu aja. Dasar cewek aneh!" Teriak Zaki kesal dan membawa sisa buku paket itu sendirian.