
"A-apa? Bagaimana kalian bisa berpikir seperti itu?" teriak Vania begitu shock.
"Ya karena selama kami sekelas sama lo, Lo cuma kelihatan dekat sama dua orang yaitu Ve dan Zaki. Jadi kami kira lo pacaran sama si Zaki," papar Fita layaknya seorang detektif.
"Ditambah lagi, waktu gerak jalan kemarin, kita lihat lo jalan berduaan sama Zaki sambil bersenda gurau gitu, ya...kayak orang kasmaran," imbuh Elsa tak kalah kepo.
"Aku sama Zaki enggak pacaran kok. Kalian salah paham," kilah Vania masih shock.
"Benar, dari mana rumor ini berasal, sih?" keluh Ve yang tidak tahu tentang rumor sahabatnya.
"Well, enggak tahu sumbernya. You know lah, rumor has it," tandas Elsa seraya melebarkan kedua tangannya simbol tidak tahu.
"Ya, pokoknya, rumor itu tidak benar. Aku sama Zaki hanya teman biasa enggak lebih," pungkas Vania tegas agar kesalahpahaman berhenti.
"Oke, aku mengerti," putus Fita kurang puas atas kenyataan tentang hubungan mereka.
"Hi! Lagi ngomongin apaan, sih? Kok kayaknya serius banget," tandas Dewa yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka. Mereka berempat menatap ke arah Dewa dan melihat sosok Aydan yang persis ada di sebelah Dewa.
Deg!
"Zaki! Semoga dia enggak dengar pembicaraan kita tadi," batin Vania ketakutan.
"Wah, tokoh yang dibicarakan muncul, nih!" gumam Fita setengah berbisik.
"Ada apa sih bisik-bisik segala?" cecar Dewa.
"Ih, kepo lo, Bang! Enggak usah tahu pembicaraan antar cewek," sergah Ve mencoba mengendalikan situasi.
"Ya, Bro! Ngapain sih lo kepo sama pembicaraan para cewek ini. Paling juga mereka lagi ngegosip," ucap Zaki cuek.
"Ya, gue kepo aja lagi pada ngobrolin apa sama Ade Boncel gue ini!" cibir Dewa diiringi senyuman meremehkan.
"Gue enggak boncel, Bang! Gue itu imut," tegas Ve dengan ekspresi sok imut yang aneh.
"Hahaha, bukan imut, Ade. Tetapi, Amit!" kekeh Dewa diikuti oleh Zaki.
"Huh! Resek lo, Bang! Ngapain, sih, kalian di sini?" desak Ve tak suka kehadiran mereka.
"Kita mampir ke Kantin buat beli minum sebelum ke Studio Musik," papar Dewa.
Saat Dewa menjelaskan soal Studio Musik, mendadak tatapan mata Vania teralihkan kepada benda besar berwarna cokelat yang tergantung di punggung Zaki.
"Zaki bisa main gitar?" gumam Vania kepo.
Zaki refleks memegang gitar cokelat yang ada di punggungnya karena berhasil menarik perhatian dari Vania.
"Ya, bisa sedikit-sedikit," ungkapnya merendah.
"Bohong aja! Lo, kan, jago banget main gitarnya!" tandas Dewa bangga. Zaki menatap tajam ke arah Dewa tanda memintanya diam.
"Wah! Gue baru tahu kalau Abang gue ini ternyata anak band," ujar Ve tak percaya.
"Hahaha, kalau kalian mau, kapan-kapan datang saja ke Studio Musik untuk melihat kita latihan," ajak Dewa percaya diri.
__ADS_1
"Mauuuuu!" Jawab Fita dan Elsa serentak.
"Ya, sudah. Silakan dilanjutkan bergosip, kita pergi ke Studio Musik dulu, Bye Vania," tutur Zaki begitu lembut dengan senyum termanisnya kala berpamitan dengan Vania.
"Oke, Bye Zaki," balas Vania dengan senyum yang tak kalah manis.
Setelah kepergian Zaki dan Dewa, Fita dan Elsa mendadak saling bertatapan lekat. "Kalian yakin tidak pacaran?" selidik mereka curiga.
"Yakin, lah." Jawab Vania tegas. Mereka memutuskan untuk meninggalkan kantin dan kembali ke kelas.
******
Bel pulang sekolah berbunyi, Vania dan ketiga temannya tampak bergegas mengemasi buku pelajaran ke dalam tas mereka.
"Kita jadi, kan, mengerjakan PR Sejarah bareng di Perpustakaan sekarang?" tanya Elsa.
"Jadi, dong!" Jawab Vania semangat.
"Hahaha, lo sepertinya suka banget ya di Perpustakaan?" ungkap Fita ceria.
"Iya, jelas! Si Vania, kan, memang Kutu Buku!" Ejek Ve yang diiringi tawa lepas ketiga temannya yang lain termasuk Vania. Dia tidak marah karena memang faktanya Vania begitu suka membaca buku.
Mereka berempat berjalan menuruni tangga demi tangga ke arah Perpustakaan Sinar Putih dengan penuh semangat. Sesekali, mereka bercanda dan tertawa bersama.
Sesampainya di Perpustakaan, mereka segera mencari buku sejarah yang diperlukan dan mengerjakan tugas sejarah bersama. Dalam waktu dua puluh menit, mereka berhasil menyelesaikan tugas sejarah itu.
"Akhirnya selesai juga tugas sejarahnya! Mumpung masih ada sisa waktu sepuluh menit , gimana kalau kita baca santai aja di sini sebelum pulang?" usul Ve penuh semangat.
"Ya, gue juga mau cari buku komik edisi terbaru," imbuh Elsa tak kalah antusias.
Mereka berempat memutuskan untuk berpencar untuk mencari buku bacaan yang diinginkan termasuk Vania. Ia berjalan menuju rak buku Sastra Indonesia. Dia sadar, kemampuannya kurang di mata pelajaran Bahasa Indonesia yang banyak membahas seputar karya Sastra.
"Hujan Bulan Juni? Sapardi Djoko Damono? Sepertinya buku ini menarik," gumam Vania bahagia kala menemukan buku bersampul abu-abu dan bergambar hujan di rak.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu," tutur seseorang di belakang Vania. Dia segera berbalik untuk melihat siapa yang ada di belakangnya dan mengucapkan cinta itu.
"Ken Fernandez!" Teriak Vania tak percaya akan sosok di belakangnya yang sempat menghilang setelah insiden pertandingan basket itu.
"Akhirnya, kita bertemu lagi, My Angel!" ucap Ken dengan wajah bahagia.
"Ken! Kamu apa-apaan, sih! Bisa-bisanya kamu mengungkapkan cinta ke aku di tempat untuk membaca ini!" gerutu Vania emosi.
"Hahaha, lo semakin manis aja. Siapa yang mengungkapkan cinta ke lo? Gue itu membaca salah satu puisi yang ada di buku 'Hujan Bulan Juni' itu," kilah Ken dengan senyuman manis.
Vania tak percaya begitu saja alasan Ken Fernandez yang sempat mengganggunya di kelas 1 dulu. Ia langsung membuka lembar demi lembar Buku 'Hujan Bulan Juni' untuk mencari puisi yang diucapkan oleh Ken.
Setelah membuka lima halaman buku, Vania akhirnya menemukan puisi yang disebutkan oleh Ken itu. Wajah Vania mendadak bersemu merah menahan malu karena telah menuduh Ken menyatakan cinta kepadanya.
"Gimana? ada, kan, bait puisi itu?" selidik Ken.
__ADS_1
"Hmm," balas Vania singkat seraya memalingkan wajahnya yang Semerah tomat menahan malu.
"Manis banget sih. Pokoknya, sesuai janji gue dahulu, sudah lewat 1 tahun dari perjanjian gue sama si Zaki itu. Sekarang, gue akan mendekati lo lagi," tutur Ken terus terang yang membuat wajah Vania terkaget-kaget.
"Vania! Ayo kita pulang!" Teriak Ve dari kejauhan disebelah Fita dan Elsa.
"Oke, aku ke sana!" balas Vania senang karena tidak perlu berlama-lama lagi dengan Ken. Ken menatap kepergian Vania dengan senyum.
Setelah keluar dari Perpustakaan, Vania berpisah dengan ketiga temannya yang lain. Ia bergegas menemui Pak Broto yang sudah menantinya di Parkiran. Namun, di tengah jalan agak jauh dari mobilnya terparkir. Dia melihat Sissy bertengkar dengan seorang cowok.
"Dasar cowok brengs*k! Sampai kapanpun gue enggak mau balikan lagi sama Tukang Selingkuh kayak lo!" Teriak Sissy murka.
"Enak aja lo bilang gue cowok brengs*k! Lo harus dikasih pelajaran!" Balas Cowok bertopi itu seraya mendaratkan telapak tangan kanannya ke pipi mulus Sissy hingga merah.
"Astaga! Sissy! Aku harus menolongnya!" ucap Vania panik dan siap berlari ke arah mereka.
"Woi! Ban*i! Beraninya lo menampar cewek!" tandas Zaki yang muncul dari depan parkiran. Ia langsung mendaratkan pukulannya ke wajah pria bertopi itu.
Sissy hanya bisa menangis seraya memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan cowok bertopi yang pernah menjadi kekasihnya. Vania lantas menghampiri Sissy untuk menenangkannya. Sementara, Zaki dan cowok itu masih terlibat perkelahian. Mantan Sissy tampak kewalahan dan memilih kabur.
"Sissy! Kamu enggak apa-apa?" tanya Vania khawatir kepada kondisi teman sekelasnya.
"Hiks..Hiks. Aku enggak apa-apa, terima kasih ya," balas Sissy tetap memegangi pipi merah.
"Lo enggak apa-apa, kan, Sissy? Tenang aja. Cowok itu sudah kabur," pungkas Zaki dengan sudut bibirnya yang sedikit berdarah akibat perkelahian itu.
"Astaga! Zaki! Bibir lo berdarah!" ujar Sissy panik seraya mengusap sudut bibir Zaki yang sedikit berdarah.
"Gue enggak apa-apa kok. Sebentar lagi, darah ini juga hilang," balas Zaki seraya menghentikan usapan lembut tangan Sissy di bibirnya.
"Ah, sorry. Gue sepertinya sudah lancang ya menyentuh wajah Lo di depan pacar Lo, Vania," ucap Sissy dengan raut wajah bersalah.
"Apa? pacar?" ungkap Vania dan Zaki kompak.
"Ya, bukannya kalian pacaran ya," ujar Sissy.
"Kami enggak pacaran!" teriak Zaki dan Vania serempak kembali.
"Ja-jadi, soal kalian berpacaran itu hanya sekadar rumor?" selidik Sissy kepo. Vania dan Zaki kali ini hanya mengangguk tanda benar.
"Syukurlah," gumam Sissy setengah berbisik.
"Ya sudah. Lebih baik kita pulang, apa perlu gue antar, Sissy?" tawar Zaki tulus.
"Boleh, jika kamu tidak keberatan," balas Sissy.
"Sama sekali enggak kok," pungkas Zaki.
"Baiklah jika begitu. Kami pulang duluan ya, Vania. Terima kasih sudah menenangkan gue," ucap Sissy dengan senyuman tulus.
"Oke, hati-hati kalian," balas Vania singkat.
Ada perasaan aneh yang menggelayut di hati Vania kala melihat kebersamaan Zaki dan Sissy. Tapi, dia sendiri tidak tahu apa itu.
__ADS_1