Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Secercah Harapan


__ADS_3

Cahaya!


Mata Kiara berbinar dan senyumnya terkembang melihat ada cahaya dari celah pintu yang dibuka itu.


Inikah pintu belakang rumah ini?


Derit pintu terdengar, binar matanya menghilang. Ia mendelik dan menoleh ke arah suara itu.


Ada yang datang!


Cepat-cepat ia menutup pintu, dan menegakkan badannya. Seseorang muncul! Ia gugup ketika seseorang menampakkan diri daru balik pintu yang dilewatinya tadi.


Ternyata si kepala pelayan! Wanita itu heran melihat Kiara berada di tempat ini seraya tersenyum kikuk.


"Nona, sedang apa di sini?" tanyanya heran, sepercik rasa curiga muncul.


"Aaaaa ... itu tadi aku mendengar suara di sini. Terus saya cek, ternyata tidak ada apa-apa," jawab Kiara, berusaha tidak terlihat gugup.


Wanita itu menelitinya cukup lama, sehingga Kiara kesulitan untuk menyembunyikan kegugupan itu.


"Ini kamar-kamar para pelayan. Mungkin Anda mendengar suara seorang pelayan yang ada di salah satu kamar," kata kepala pelayan itu.


Kiara hanya terkekeh, tapi terpaksa. "Oh ... mungkin. Saya tidak tahu soalnya," timpalnya seraya menaikkan kedua bahunya.


"Tuan akan pulang, sebaiknya Anda kembali ke kamar." Tanpa basa-basi wanita itu memberi saran, yang menurut Kiara cukup baik untuk dilakukan.


Pencarian sudah cukup, peluangnya untuk keluar dari rumah ini cukup besar lewat pintu rahasia yang ditemukannya tadi. Kini, ia menuruti kata si pelayan, mengikuti sarannya untuk kembali ke kamar itu.


Ini masuk jam siang, mungkin Shawn pulang untuk makan siang di rumah. Jadi, Kiara tetap terjaga, sebab ia pasti dibutuhkan nanti. Dan benar saja, 20 menit kemudian si kepala pelayan kembali ke kamarnya.


"Nona, Anda dipanggil oleh tuan Shawn untuk makan siang bersama," katanya, setelah Kiara mengijinkannya masuk ke dalam kamar.


Gadis itu beranjak sambil menghela napas panjang. Benar, 'kan? Pria itu pasti ingin makan siang bersamanya? Apa sebegitu sukanya Shawn pada dirinya?


Kepala pelayan berjalan duluan, sementara Kiara mengekor di belakangnya dengan sikap biasa. Shawn sudah duduk meja makan, sementara para pelayan menyiapkan hidangan.


Untuk memperlihatkan kesan baik, Kiara tersenyum pads pria itu. Dan sepertinya Shawn cukup puas dengan sikapnya.


Alih-alih menghampiri, Kiara malah dijemput oleh Shawn. Kiara terkesan dan takjub, apalagi Shawn menghelanya lembut ke arah meja makan dan menggeserkan tempat duduk untuknya.

__ADS_1


Perlakuan istimewa yang cukup mengelitik hatinya sejenak.


Pelayan meletakkan hidangan di depan mereka. Menu hari ini adalah steak daging saus tomat. Shawn mengambil pisau dan garpunya dengan tenang, kemudian ia menatap Kiara sembari tersenyum tipis.


"Silakan dimakan," katanya.


Gadis itu tertegun dan mengangguk canggung. "Baik. Terima kasih."


Kecanggungan di dalam dirinya berlangsung cukup lama. Dalam diam, Kiara melirik Shawn. Namun, pria itu begitu tenang menyantap makanannya.


Apa begini saja? Pria itu kaku sekali. Lalu, apa artinya perhatian tadi? Cuma mau bikin ia terkesan?


Kiara menghela napas. Sudahlah. Ia enyahkan perasaan takjub tadi, dan menyantap makanannya tanpa memedulikan pria itu. Akan tetapi, tiba-tiba pria itu memecahkan keheningan.


"Apa makanannya sesuai dengan seleramu?"


Kiara mendongak, terpaksa menatapnya lagi. "Em ... enak kok," jawabnya agak terbata.


"Baguslah."


Hening lagi, tapi Kiara mencoba mengubah acara makan siang yang membosankan ini. "Kenapa Tuan makan siang di rumah?"


Malu sekali rasanya, sampai Kiara tak sanggup menatapnya. "Ya, boleh," jawabnya tersipu.


Shawn tertawa kecil. "Kiara, aku calon suamimu. Apa kau tidak bisa memanggilku dengan namaku saja?"


Apa ini berlebihan? Kiara terkejut sampai garpu di tangannya terlepas. Ia tercengang menatap pria itu beberapa saat sambil berpikir.


Memanggil namanya? Kenapa ia merasa tak siap?


"Kenapa?" tanya Shawn heran, berhenti memotong dagingnya.


"Nggak apa-apa sih? Saya hanya masih canggung dan tak terbiasa untuk memanggil Anda dengan nama Anda. Saya butuh waktu," jawab Kiara, bergumam karena takutnya pria itu tersinggung.


Shawn menatapnya lamat-lamat, jadi tambah salah tingkah. "Oke, aku tidak akan memaksa. Tapi, kali ini kau tidak boleh menolak sesuatu dariku."


Pria itu merogoh saku jasnya sembari beranjak dari kursinya. Ia mengeluarkan sebuah kotak warna hijau toska, yang kemudian diperlihatkannya di depan Kiara.


Sebuah kalung berbentuk hati berpermata safir. Kiara memandang takjub, bahkan dalam waktu yang lama. Shawn mengeluarkan kalung dari kotak, lalu berjalan ke belakang Kiara. Ia sematkan kalung itu ke leher indahnya, kemudian sebuah dikecupnya lembut leher gadis itu.

__ADS_1


"Ini pemberianku, sebagai tanda bahwa kau milikku. Jangan dilepaskan, kecuali jika aku mengijinkannya," bisik pria itu di telinga Kiara.


"Miliknya"? Seketika Kiara merinding ketika mendengar suara parau itu menghela telinganya. Ia benar-benar kehabisan kata.


"Ini ... seharusnya tidak perlu. Anda sudah memberikan saya banyak kalung," kata Kiara, sekadar basa-basi.


"Kalung ini berbeda. Aku sudah bilang tadi, 'kan?"


Mana mungkin Kiara lupa pada ucapan yang berlangsung beberapa menit yang lalu itu. Ia cuma tidak tahu harus membalas ucapan pria itu. Dan lagi, ia menimpali dengan ucapan basa-basi.


"Terima kasih."


Kiara yang sedang menunduk, tak memperhatikan senyuman nakal Shawn. "Kalau kau mau berterima kasih, kau harus memberikanku imbalannya."


Bulu romanya merinding, padahal pria itu tak berbisik di telinganya. Apa karena nada bicaranya yang sensual? Perasaan Kiara jadi tak enak. Jangan-jangan, dia meminta hal yang aneh darinya.


Kiara menelan air liurnya dengan susah payah. "Apa yang Anda inginkan?" Masih saja ia menanyakannya.


Sebuah undangan bagi Shawn, padahal ia tak sengaja memancing gadis itu. Pria itu kembali mendekati Kiara, dan meraih dagunya. Tatapan matanya turun ke bawah, ibu jarinya mengelus bibir ranum gadis itu.


"Malam ini, tidurlah denganku."


Mata Kiara sontak mendelik, dan sekonyong-konyong mendorong pria itu. Shawn tentu kaget. Tapi alih-alih tersinggung, pria itu malah tertawa kecil.


"Tenanglah, aku hanya bercanda. Kita akan melakukannya nanti, saat malam pertama kita."


Malam pertama? Hanya akan ada dalam mimpimu! umpat Kiara dalam hati, kepalanya menunduk dengan mata menyala murka.


...🦋...


Kiara sudah berniat untuk melakukan rencananya keesokkan harinya. Ketika semua orang sibuk di rumah, ia berpura-pura berkeliling rumah. Dan ketika mereka lengah. Kiara menghampiri lorong kamar para pelayan.


Ia mengendap-endap masuk ke sana, bergegas menghampiri pintu yang diyakininya adalah pintu keluar belakang rumah. Harapannya yang membesar membuatnya tak ingin membuang waktu untuk segera membuka pintu itu.


Namun, ia terlalu naif. Kepala pelayan itu pasti mencurigainya, makanya pintu ini dikunci. Sial! Secercah harapan memudar. Satu-satunya kesempatan untuk kabur sudah tidak ada.


"Kalau seperti ini, aku harus cari cara lain," gumamnya, menghela napas panjang.


Kiara keluar dari tempat itu dengan tubuh melemas. Ketika ia benar-benar meninggalkan area dapur, kepala pelayan keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


"Benar firasatku, nona Kiara pasti berniat kabur lewat pintu itu. Aku harus perketat keamanan rumah ini!" gumam wanita itu.[]


__ADS_2