Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Overeenkomst


__ADS_3

Kiara sudah bisa duduk di ranjangnya. Dokter memberikan hasil pemeriksaannya setelah siuman, mengatakan bahwa keadaan Kiara agak membaik. Hanya saja, ia masih harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.


Shawn bisa bernapas lega sekarang, tetapi masih ingin berada di samping Kiara. Bahkan, Shawn mau menyuapi Kiara, sekalipun gadis itu menolak.


Begitu suster mengantarkan makan siang untuk Kiara, Shawn memajukan kursinya dan bergegas meraih sendok. Kiara tertegun, lalu akan merenggut sendok itu.


"Tanganmu masih terasa ngilu, 'kan?" debat Shawn seraya mengaduk sup ayam.


Iya, sih. Tapi ... "Aku bisa pakai tangan sebelah kiri kok. Aku kan kidal." Kiara beralasan.


Tanpa diberitahu sekalipun, hal sekecil itu Shawn sudah tahu. Namun, pria itu bersikeras, mengacungkan suapan pertama pada Kiara.


Gadis itu melihat sendok berisi nasi dan sepotong ayam dengan ragu, lalu melirik memelas pada Shawn. Kiara menghela napas, mengalah juga akhirnya. Suapan itu Kiara terima dengan canggung.


Shawn tersenyum senang, kembali menyendokkan nasi dan tahu telur puyuh dikecapin. Namun, bukan Shawn namanya kalau tidak melampiaskan kemarahannya. Pada suapan kedua, omelan Shawn dimulai.


"Apa kau bodoh?" Dan Kiara berhenti mengunyah saat mendengarnya. "Apa kau senang menggodaku dengan cara mempermainkan nyawamu seperti itu?"


Rahang Kiara mengeras, dan dahinya mengernyit. Tadi dia bilang apa? Bodoh? Mempermainkan nyawa? Kiara mendengus. Oh! Ingin rasanya berkata kasar.


"Bukannya Anda yang suka mempermainkan saya? Anda mengancam saya dengan permerkosaan," balas Kiara ketus dan sinis.


"Ancaman?" Shawn mendengus geli.


Shawn meletakkan sendoknya, Kiara terhenyak. Ini alarm bahwa Kiara harus waspada pada pria itu, apalagi Shawn menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, pria itu bisa melakukan hal yang terduga.


Dan sekarang, apa dia mau melakukan hal yang tak senonoh lagi padanya? Shawn beranjak, mendekatkan wajahnya perlahan, membuat Kiara makin gugup seraya beringsut mundur dan salah tingkah.


"Ma ... ma ... mau apa...?" tanya Kiara panik, melirik ke sekitar, mencari sesuatu untuk menggertak Shawn.


"Kau tahu aku bisa berbuat apa saja, 'kan?" ucap Shawn, suaranya yang parau dan dalam terdengar sensual tapi mengancam.


Kiara sangat tahu, dan ucapannya itu menguatkan dugaannya bahwa pria itu pasti akan melakukan hal itu lagi.


"Berhenti, jangan mendekat!" jerit Kiara, menyilangkan kedua lengannya di dada.


Lirikan mata Shawn mengarah ke bibir Kiara. Senyuman sensual terulas lebar. "Aku merindukan bibirmu...."

__ADS_1


"MINGGIR!" Kiara mendorong Shawn kencang dengan kedua tangannya, sehingga pria itu menjauh sedikit darinya.


Shawn malah tertawa geli sambil berkacak pinggang, alis Kiara naik sebelah. Kiara heran, apa yang ditertawakannya? Memangnya ada lucu?


"Kau pikir aku segila itu?" gumam Shawn mencemooh seraya duduk kembali, dan meraih sendok. "Cepat sembuh, supaya kita bisa segera menikah."


Omong-omong soal pernikahan, Kiara jadi terpikirkan sebuah ide. Tetapi, ia ragu untuk mengutarakannya. Pasalnya, ia mengajak bernegosiasi pada orang yang otaknya cuma soal selangk*ngan.


Shawn mengacungkan kembali suapan ke arahnya. Kiara cuma melirik sejenak, kemudian memberanikan diri untuk menyatakan idenya itu.


"Soal pernikahan, aku punya dua syarat," kata Kiara agak gugup, takut jika pria itu tak mau mendengarkannya.


Shawn menurunkan lalu meletakkan sendok di atas piring, menatap fokus pada Kiara, bersiap mendengarkan. "Syarat apa?"


Kegugupan menghilang, Kiara tersenyum simpul, senang karena yang dipikirkan tentang Shawn justru sebaliknya. Kiara mendeham, lalu berkata, "Aku mau kita tidak melakukannya hubungan badan, meskipun kita sudah menikah."


Shawn melirik ke arah lain, terlihat sedang berpikir. "Oke, jika kamu belum siap, aku tidak akan menyentuhmu," jawabnya enteng, ternyata pria itu bukanlah orang yang otaknya soal selangk*ngan doang.


Tapi, mungkin Kiara tidak akan pernah siap untuk disentuh oleh pria ini. Hanya saja, ia cukup terpesona karena Shawn mau menerimanya. Tapi tetap saja, Kiara penasaran pada alasan di baliknya.


"Apa kau yakin bisa menahannya? Bagaimana kalau aku tidak pernah siap?"


"Aku akan memperkosamu." Lagi, mudah sekali kata itu terucap dari bibirnya. Dasar lelaki!


"Mana bisa gitu dong?" seru Kiara protes.


"Kau mau bercerai?" tukas Shawn. "Boleh. Tapi, kau harus membayar kompensasinya."


Ancaman, selalu dipakainya untuk membuat Kiara diam. Cara itu berhasil, Kiara hanya mendengus sebagai tanda kepasrahannya.


1:0, Shawn tersenyum senang. Sekarang, gilirannya yang memberi syarat. "Tapi jangan lama-lama." Dan Kiara kembali menoleh, mencerna maksud ucapannya. "Setidaknya, selama hanya selama satu bulan, setelah itu kau harus siap jika aku minta berhubungan badan."


Mata Kiara melotot tajam, langsung menolak. "Nggak bisa!"


"Oke, 3 bulan." Shawn membuka tawaran.


Kiara kalang kabut, menjawab asal. "Setahun!"

__ADS_1


"Fix 6 bulan, tidak ada tawar menawar!" pungkas Shawn tegas, penawaran ditutup.


"Nggak bisa gitu dong?" Kiara masih berusaha membujuk.


"Terima atau membayar kompensasi?" serang Shawn, tetap tenang meskipun merasa gemas dengan perdebatan ini.


Kiara mengumpat dalam hati, menepuk pahanya kesal. Opsi yang diberikan Shawn sama-sama merugikannya. Berhubungan badan dengan pria yang tak dicintainya? Sangat berat untuk dilakukan. Tapi, ia tidak sanggup membayar kompensasi.


Di tengah kebimbangannya, Shawn mendesak dengan mengulurkan tangan ke arahnya. Kiara melirik sangsi, lama baginya untuk membuat keputusan.


Baiklah, tak ada pilihan lain. Perlahan, Kiara mengulurkan tangan ke arah Shawn. Dengan berat hati, dijabatnya tangan pria itu.


"Oke, deal!" Shawn tersenyum menang, menari-nari di atas penderitaan yang menyiksa Kiara atas keputusannya itu.


Setelah itu, Shawn akan menyuapinya lagi. Namun, tiba-tiba Kiara berkata:


"Masih ada satu syarat."


"Baiklah, cepat katakan," sahut Shawn santai, tanpa meliriknya.


"Aku mau bertemu dengan adik dan ibu tiriku," lanjut Kiara, nada ucapannya lebih tegas dari yang tadi.


Sebegitu penginnya dia bertemu dengan mereka? Syarat awal Shawn bisa menolelir karena hal itu tidak perlu dirisaukan, tapi untuk syarat kedua sepertinya pria itu agak keberatan. Bahkan, Shawn terlihat tak senang begitu mendengarnya.


Kiara gugup, hatinya gelisah sebab cemas jika pria itu akan memakinya. Entah mengapa pria itu ingin sekali Kiara putus hubungan dengan ibu dan adik tirinya.


"Kenapa kau ingin bertemu dengan mereka?" tanya Shawn, agak ketus sambil berkacak pinggang.


"Aku ..." Kiara menundukkan kepala, muram. "Aku cuma ingin bertemu dengan mereka sekali saja untuk terakhir kalinya. Setelah itu, aku akan melupakan mereka."


Shawn memiringkan kepala, heran. "Kau itu manusia atau malaikat? Ibu tirimu sudah menjualmu demi uang."


"Aku tidak ingin mendengar alasannya, apa pun itu," timpal Kiara, mengangkat kepala. "Adikku tidak bersalah, dan ibu tiriku pasti punya alasan. Aku yakin, kasih sayangnya dulu padaku sama sekali tidak palsu."


Shawn tidak tahu berkata apa. Di sisi lain, ia terenyuh dengan kebaikan hati Kiara. Tetapi, ia tetap menganggap bahwa Kiara terlalu polos dan bod*h. Ia bingung.


Namun, setelah dipikirkan cukup lama—menimbang konsekuensi karena tak ingin Kiara berbuat nekat mengakhiri hidupnya lagi, Shawn terpaksa menyetujuinya.

__ADS_1


Ditatapnya Kiara lamat-lamat, lalu Shawn berkata, "Baiklah. Aku setuju dengan syaratmu."[]


__ADS_2