Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
I love your lips


__ADS_3

Ciuman? Mendengarnya saja pipi Kiara langsung memerah. Apa pria itu sudah kecanduan pada bibirnya?


"Apa ... apa nggak ada yang lain?" Nego Kiara, agak terbata.


Senyum licik Shawn semakin melebar. "Kamu mau pilih ciuman, atau ..." Shawn mendekatkan wajahnya, tapi Kiara beringsut mundur untuk menghindarinya. "Bermain di ranjang?"


Tidak ada pilihan yang bagus. Benar-benar pria m3sum!


Kiara mengernyit, berani menantang balik tatapan Shawn. "Aku tidak mau pilih keduanya," lugasnya tegas.


"Harus salah satunya! Kau tidak bisa memilih kematian karena aku tidak akan mengijinkan kau mati."


Mata Kiara melirik ke arah lain, mulai goyah dan ragu seraya m3ngulum bibirnya rapat. Pilihan yang diberikan tidak ada yang disukainya, walaupun bukan pertama kalinya pria itu menciumnya.


"Jadi, apa pilihanmu?" Shawn mendesak, tak sabar lagi untuk mendapatkan reward dari kebaikan yang telah dilakukannya untuk Kiara.


Kiara terkesiap dan mendongak. Terpaksa matanya kembali bertemu dengan tatapan sensual Shawn. "Em ... kau sudah berjanji untuk tidak menyentuhku sampai aku siap. Jadi...."


Jadi? Sudah jelas jawabannya. Shawn langsung m3mangut bibir Kiara sebelum ucapannya selesai Kiara mendesak, telapak tangannya spontan akan mendorong bahu pria itu. Namun, ia teringat pada janjinya untuk memberikan hadiah pada Shawn apa pun yang dimintanya.


Jadi, Kiara tak kuasa menolak. Kedua tangannya mendekap pundak Shawn. Matanya dipejamkan, membiarkan pria itu *3***** bibirnya sesuka hati.


Shawn semakin bersemangat karena tak ada perlawan dari Kiara. Sentuhan tangan Kiara di pundaknya, menandakan kepasrahan. Shawn tak ragu menghelanya tubuh Kiara perlahan hingga berbaring tanpa melepaskan ciumannya.


Semakin panas ciuman itu. Pria kasar dan dingin itu tahu juga cara membuat gadis itu luluh. Ciuman Shawn memiliki ritme lambat nan lembut, makanya lambat laun Kiara larut dan menikmatinya.


Meski gairahnya memuncak, Shawn tahu batasannya. Tangannya tak serta merta menyentuh bagian tubuh Kiara yang lain, meskipun ia sangat ingin menurunkan resleting gaun Kiara.


Sebagai pria, ia harus menepati janjinya. Ciuman sudah cukup, Shawn akan bersabar sampai waktunya tiba jika Kiara secara sukarela menyerahkan tubuhnya untuk disentuh.


Saat ini, Shawn akan memanfaatkan keadaan. Durasi ciuman itu sedikit lebih lama, sampai mereka hampir kehabisan napas. Kiara tak tahan lagi, dialah yang menyudahi permainan itu dengan mendorong bahu Shawn.


Shawn rela melepaskan pangutan bibirnya. Napas mereka terengah-engah, berada dalam posisi sama sambil mengatur napas. Shawn tersenyum menatap wajah Kiara yang memerah. Permainan yang memuaskan.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kau di atas tubuhku?" tanya Kiara, napasnya belum teratur.


"Beri aku waktu semenit, aku masih belum puas menatapmu," ucap Shawn, membuat Kiara tercengang mencerna maksudnya.


"Kenapa ... hah ... hah ... kau senang menatapku?"


Sinar geli terlihat di mata Shawn, kemudian diselingi oleh tawa kecil. "Tidak bolehkah aku menatap milikku?"


"Milikku"? Kiara sebal mendengarnya. "Ini tubuhku, milikku sendiri, bukan milikmu," protesnya.


"Kau pernah mendengar ucapan begini? 'Jika seorang wanita sudah sah dinikahi, maka seluruh tubuhnya adalah milik suaminya'. Dan itu tidak bisa terbantahkan!" tepis Shawn, ada saja cara menangkis ucapan Kiara.


Shawn sudah melakukan selebrasi duluan dengan senyuman menang. Dia yakin Kiara tak bisa membalik ucapannya. Namun, Shawn salah, Kiara punya balasannya.


"Memang benar, tapi kan kita belum menikah."


Jawaban polos yang mampu membungkam bibir Shawn. Pria itu tak membalasnya lagi karena memang tak ada alasan untuk menepisnya. Dan ia terpaksa mengalah, meskipun tak mau mengaku kalah.


Shawn kalang kabut. Dominasinya dipatahkan oleh Kiara. Sekarang, gadis itu mulai berani melawannya dan memberinya perintah. Tidak bisa dipercaya!


"Nggak, aku butuh satu menit lagi!" Shawn berusaha berkuasa lagi.


"Nggak! Kau sudah janji hanya satu menit. Tidak ada tambahan waktu! Kau bilang, kau lelaki sejati yang harus memegang janjinya," debat Kiara, entah sadar atau tidak, ucapan polos itu adalah senjata andalan untuk menyerang Shawn.


Shawn syok. Gadis itu benar-benar tahu salah satu kelemahannya. Shawn memang pria yang selalu berprinsip terhadap janjinya, ia tidak pernah ingkar. Jika Shawn tak menepati janji, maka ia harus menelan ludahnya sendiri. Shawn mendengus. Terpaksa, daripada harga dirinya jatuh.


"Baiklah!" sahutnya ketus karena tak rela.


Diam-diam Shawn tersenyum menang. Shawn beranjak dari tubuhnya, lalu duduk dengan raut wajah merengut. Kiara juga kembali duduk di tempatnya. Ciuman itu membuatnya haus. Kiara meraih gelasnya yang berisi cola, lalu meminumnya sampai habis.


...🦋...


Ternyata Kelvin terbangun tadi. Saat Kiara dan Shawn mengobrol, Kelvin mendengar semua percakapan mereka. Namun, kala Kiara dan Shawn berciuman, Kelvin langsung bersembunyi di balik dinding, kemudian ia berjalan mendekati ranjang.

__ADS_1


Kelvin duduk termenung di atas ranjang, terlihat sekali berpikir keras—menimbang sebuah keputusan yang cukup berat untuknya, sampai tidak bisa tidur. Namun, ia terpaksa berbaring dan berpura-pura memejamkan mata, kala Kiara memastikan keadaannya.


Sepertinya, Shawn memesan kamar lain untuknya dan Kiara. Pikiran Kelvin berkecambuk. Apakah kakaknya tidur bersama dengan pria itu di kamar itu?


Teringat akan ucapan Kiara tadi kepadanya. "Pria itu mungkin akan membahagiakannya", begitu yang didengarnya tadi. Apakah kakaknya dan pria itu sudah saling jatuh cinta? Jika memang benar....


Memikirkannya membuat Kelvin susah tidur, sekalipun kantuk menyerang. Pikirannya terganggu oleh pertanyaan dan pertimbangannya yang meragukan.


Akhirnya, pagi menjelang. Kelvin tertidur tanpa disadari. Kiara menghampirinya pada saat jam sarapan. Kelvin sudah bersiap ketika Kiara menemuinya di kamar.


Kiara tertegun, lalu tersenyum menemukan Kelvin sedang duduk termenung di tepi ranjang. "Kelvin, sarapan, yuk!" ajaknya seraya menghampirinya.


Meskipun sudah tinggal bersama dengan pria itu, sikap Kiara tetap tidak berubah. Dia tetaplah seorang kakak yang lembut dan suka merangkul bahunya.


Namun, perlakuan ini membuat Kelvin canggung. Apa ia pantas mendapatkan perlakuan baik ini dari kakak yang bahkan tak sedarah dengannya. Kelvin merasa malu atas perlakukan tak sengaja ibunya pada Kiara. Makanya, ia muram dan tak sanggup menatap Kiara.


Kiara heran melihat reaksinya itu, melongok berusaha melihat wajah Kelvin yang sedang tertunduk dalam. "Kamu kenapa, Kelvin?" tanyanya polos.


Bibir Kelvin seakan berat untuk mengungkapkan semua isi hatinya. Namun, ia tak mau membuat Kiara cemas akan sikapnya ini. Lantas, Kelvin mendongak menatapnya seraya memaksakan senyumnya.


"Nggak apa-apa. Sarapan, ya? Yuk, kita sarapan! Kebetulan aku udah laper."


Perubahan yang cepat ini justru mencengangkan bagi Kiara. Ada apa dengan adiknya? Tapi pertanyaan itu disimpannya dalam hati. Ia akan menunggu Kelvin yang menceritakannya sendiri.


"Ya udah." Kiara tersenyum. "Yuk, turun!"


Kelvin beranjak, bergelayut dalam rangkulan Kiara di pundaknya. Hari ini, Kelvin akan terus tersenyum di depan kakaknya sebagai hadiah perpisahan yang manis.


"Apa kita akan makan bareng dengan pria itu?" tanya Kelvin saat mereka masuk ke dalam lift.


Kiara mengangguk, mengulum senyum simpul. "Iya, katanya sekalian ada yang mau aku katakan."


"Aku jadi penasaran." Kelvin tertegun polos. "Aku juga ingin mengatakan sesuatu padanya."[]

__ADS_1


__ADS_2