Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Pria aneh dan cewek resek


__ADS_3

Kiara mendelik, terkejut. Tiba-tiba pria ini muncul dan menghalangi pemandangannya. Ia melongok, ingin melihat apa yang terjadi. Bersamaan dengan itu, pria itu menoleh padanya—wajahnya terlihat seperti orang yang tengah menahan rasa sakit.


"Kamu nggak apa-apa, Mbak?" tanyanya.


Kiara mengangguk bingung. Harusnya, yang melontarkan pertanyaan itu adalah Kiara, tapi pria itu malah mencemaskannya. Rasanya ingin tertawa, tapi juga kasihan.


Anak-anak itu menghampirinya. Wajah polos mereka memperlihatkan penyesalan. Namun, pria itu malah tersenyum, berjongkok di depannya sambil memberikan bola itu.


"Maaf, ya, uncle," kata mereka berbarengan.


Pria itu mengusap lembut kepala mereka, lalu berkata, "Tak pe. Lain kali, kalian berdua jage-jage nak main kat sini. Oke?"


Kedua anak itu pergi setelah mengikrarkan janji kecil itu, melompat dengan riang ke arah ruang kosong yang agak jauh dari sisi taman ini. Kemudian, pria itu memutar tubuhnya, tersenyum pada Kiara.


Kiara membalas senyuman itu dengan kikuk. Matanya melirik pada gerakan tangan pria itu yang mengarah perutnya. Apa bola itu mengenai perutnya? Kiara jadi cemas.


"Anda tidak apa-apa?"


Pria itu tersenyum renyah. "Kamu ngajak aku ngobrol, tapi kamu nggak tanya aku ini orang sini atau bukannya."


Aksen dari cara bicaranya sudah jelas kalau dia orang Indonesia. Gemas sih, tapi Kiara juga tak bisa kesal pada orang yang telah rela menghalangi bola demi dirinya. Akhirnya, ia cuma tersenyum geli, pria ini sebenarnya cukup konyol juga.


"Kenapa tersenyum?" tanya pria itu heran dan polos. "Oh! Kamu terpana pada kegantengan saya?"


Tawa Kiara lepas. "Maaf. Sebelumnya, terima kasih karena sudah menghalangi bola itu supaya tak mengenai saya," katanya, alih-alih menyahuti candaan pria itu.


"Cuma ucapan terima kasih? Nggak ada yang lain gitu? Saya kan udah berjasa menghindari wajah cantik kamu dari bola tadi?" goda pria itu, maksudnya cuma jahil.


Kiara terkekeh lagi. "Oke. Imbalan apa yang kamu mau?" tanyanya, tak segan menyanggupi permintaan si penyelamatnya.


Seorang suster mendatangi Kiara, pandangan pria itu langsung teralihkan padanya, memunculkan sebuah ide. "Pertama, berikan aku air minum. Aku haus nih," selorohnya.


Tepat sekali, suster memberikan botol itu pada Kiara, tetapi Kiara menyuruhnya memberikan airnya pada pria itu.


Setelah pria itu menenggak airnya, Kiara bertanya lagi. "Terus, ada lagi permintaan yang lain?"


"Em ..." Pria itu mengelus dagunya, berpikir cukup lama, kemudian mengulurkan tangannya. "Kita impas, kalau kamu mau kenalan sama aku."

__ADS_1


Senyum cemooh Kiara terkembang. "Ah, modus nih! Bilang aja kek dari tadi kalau mau kenalan?" Meski begitu, Kiara tetap mengulurkan tangan seraya menyebutkan namanya.


"Kiara? Cantik namanya," komentar pria itu, menyambut uluran tangan Kiara. "Aku Dave. Cewek cantik kayak kamu ... pasti udah punya pacar?"


Bukan cuma Kiara, suster tadi bahkan lebih terkejut. Tahu siapa gadis yang sedang dijaganya, suster itu menegur. "Maaf, Pak. Tolong jaga ucapan Anda. Nona ini sudah punya calon suami."


Kiara menoleh tercengang, tak menyangka suster itu akan mengatakan hal demikian. Dave terkejut sejenak, kemudian tersenyum canggung.


"Oh, saya sudah menduga hal itu. Maaf, tapi saya bertanya bukan bermaksud untuk menggoda nona ini," balas Dave pada suster, kemudian mengalihkan tatapannya pada Kiara. "Maaf, Puan. Saya permisi, ya. Senang bisa berjumpa dengan Anda."


Kiara tersenyum tipis, merasa tak enak hati pada Dave karena kelancangan suster tadi, yang telah menduganya yang bukan-bukan. Meskipun senyuman renyah Dave terkembang terhadapnya, Kiara menduga jika mungkin pria itu terbesit rasa tersinggung.


Dave berpamitan pergi, lalu menghilang dari pandangannya. Kiara terdiam dengan perasaan jengkel, enggan menatap sang suster yang tengah membeku di belakangnya.


...🦋...


Kedatangan Dave bukan hanya untuk sekadar singgah dan berjalan-jalan di Singapura. Ia ke rumah sakit untuk mengunjungi seseorang.


Setelah menemui Kiara, Dave masuk ke dalam sebuah ruangan khusus pasien VIP. Saat ia masuk ke dalam, seorang suster sedang menemani pasien itu, mengelap telapak tangannya.


Suster beranjak dari kursi, menundukkan kepala, lalu pergi setelah Dave memberi isyarat. Dave berjalan menghampiri pasien pria paruh baya. Tatapan sendu terus mengarah padanya, sampai akhirnya ia sampai di samping ranjang, lalu duduk di dekat kursi.


...🦋...


Menemukan orang di negara sebesar ini tak mudah. Clara mati bosan terjebak di sini. Rasanya menyerah dan ingin pulang. Tapi, sudah kepalang tanggung, mau berapa lama pun ia akan bertahan di sini.


Hanya saja, berada di sini tak ada ruginya juga. Setidaknya Clara bisa melakukan apa yang dikatakan orang-orang jaman sekarang: healing. Tempat-tempat di Singapura mengalihkan sejenak dari stress. Ia juga tak perlu mencari Shawn sendirian, ada orang suruhan yang mau melakukannya demi sejumlah uang yang dijanjikannya.


Saat ini, Clara tengah bersantai di sebuah restoran yang ada di dekat hotel. Pemandangannya mengarah pada sebuah sungai yang airnya berkilat-kilat seperti permata ketika terkena sinar matahari. Sore yang sempurna, dengan ditemani kopi dan roti lapis.


Clara menyeruput kopinya dengan tenang. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering. Ia terkesiap, senyumnya riangnya terkembang. Bergegas disambarnya ponsel itu, buru-buru menjawab teleponnya.


"Halo, apa kau sudah mendapatkan informasinya?"


"Iya, tuan Shawn ada di sini."


Clara mendengus, mukanya masam. "Itu aku udah tahu! Tapi, kamu udah cari tahu alamat rumahnya?" sahutnya ketus.

__ADS_1


Pria itu terdiam beberapa saat. Clara merenggut. Orang tak berguna itu pasti tak menemukan alamat rumah Shawn. Dasar tak becus! Percuma saja dibayar mahal!


"Ah, sudahlah! Mulai saat ini, kau dipecat!" omel Clara judes sekali, hingga pria itu memucat.


"Tunggu, Nona. Saya masih punya informasi lain," seru pria itu cepat, sebelum Clara mematikan ponselnya.


Sebenarnya Clara malas mendengarkan, tapi akhirnya diberi kesempatan juga pria itu. "Em ... cepat katakan!"


Pria itu menelan air liurnya, mencoba menenangkan diri. "Beberapa hari yang lalu, saya melihat tuan Shawn," ucapnya masih gugup dan tergesa-gesa.


"Di mana?" timpal Clara jengkel.


"Di rumah sakit."


Tubuh Clara menegak, dan matanya mendelik. "Di rumah sakit? Yang benar aja kamu!"


"Benar, Nona. Saya yakin."


"Terus," sela Clara tak sabar. "Kamu tahu ngapain dia di sana? Apa dia sakit? Atau membesuk orang lain?"


"Yang saya dengar, dia...."


Tiba-tiba matanya teralihkan tanpa sengaja pada sesosok pria yang tengah berjalan masuk ke dalam restoran bersama dengan beberapa pria berpakaian rapi lainnya.


Clara beranjak dari kursi dengan terpana dan tak percaya. Pria yang dilihatnya itu apakah....


"Halo? Halo, Nona. Apa Anda masih tersambung dengan saya?" seru si penelepon, heran.


"Ah, iya, halo?" sahut Clara, terhenyak. "Terima kasih atas infonya. Aku akan segera mentransfer uangnya," tutup Clara, langsung mematikan ponsel.


Sebelum kehilangan pria itu, Clara harus bergegas menghampiri. Barang-barang ada di meja dibereskan, menyeruput kopinya—sayang dong kalau tidak dihabiskan, kopinya enak—sebelum tergegesa-gesa menghampiri sebuah meja.


Beberapa meter lagi ia sampai di meja itu, dan Clara malah melakukan hal yang membuat banyak pasang mata mengarah padanya.


"Shawn!" serunya.


Clara menahan napas, berharap pria bertuksedo hijau yang sedang duduk membelakanginya menoleh.

__ADS_1


Dan ya! Harapannya terkabul. Pria itu menoleh! Clara tersenyum lebar, berlari menghampirinya dengan langkah riang, sementara Shawn mendelik dengan mulut setengah terbuka.[]


__ADS_2