
"Mama? Kelvin?"
Ketika namanya disebut, keduanya menoleh dengan tercengang. Lalu, senyum Kelvin terkembang, langsung memeluk Kiara.
"Kak Kiara? Apa kabar?" seru Kelvin riang. "Aku kangen sama Kakak."
Kiara tersenyum getir, dan air matanya mengalir. Hal sama juga dirasakannya, Kiara juga merindukan mereka, meskipun ibu tirinya dengan tega menjualnya pada Shawn.
"Silakan duduk lagi," sela Shawn, mengganggu reuni adik dan kakak itu.
Renita menghela Kelvin untuk duduk di tempatnya, sementara Shawn mengarahkan Kiara untuk duduk di sebelahnya. Makanan sudah dihidangkan. Gelas kosong milik Kiara diisi dengan wine oleh seorang pelayan.
Mereka memulai makan malam ini dengan suasana hati yang berbeda. Shawn tersenyum misterius, sulit menebak isi pikirannya. Kelvin tersenyum riang dengan kadang sesekali menatap kakaknya, tanpa tahu bahwa ini makan malam terakhirnya. Renita melahap makanan dengan canggung, masih tak enak pada anak tiri yang telah dijualnya itu.
Lalu, Kiara tak begitu tertarik pada hidangannya. Pikirannya bercabang antara senang dan sedih pada pertemuan yang mengejutkan ini. Namun, ia penasaran dengan apa yang dipikirkan Shawn. Senyuman misteris itu mengandung kecurigaan. Apakah pria itu sedang merencanakan hal lain?
"Oiya, Kiara," panggil Shawn, sontak Kiara menoleh. "Apa kau tidak mau mengatakan rencana yang akan kita lakukan di sini?" Pria itu menatapnya dengan tatapan manis sambil meletakkan jalinan jemarinya di bawah dagu.
Namun, Kiara malah terkejut dan ternganga. Rencana apa yang dimaksudnya? Dia tidak mengatakan apa pun sebelumnya.
Kelvin menunggu dengan mata membulat dan tercengang. "Apa maksudnya, Kak? Rencana apa?" desaknya polos, menatap bergantian pada Kiara dan Shawn.
Shawn mengubah posisinya, senyum misteriusnya terkembang lagi, tatapannya terfokuskan pada remaja itu. "Aku dan kakakmu akan menikah."
"Menikah?" seru Kelvin terkejut, Kiara pun sontak menoleh pada Shawn dengan mata mendelik.
Shawn mengangguk. "Kami akan menikah. Tanya saja pada ibumu. Dia sudah lama tahu."
Pantas saja Renita terlihat tenang. Namun, ketika ucapan itu dilemparkan padanya, Renita baru terkejut. Wanita itu langsung bergidik kala tatapan Kelvin mengarah padanya.
"Iya, mama pernah dengar soal itu." Alih-alih mendesak, Kelvin membela ibunya karena teringat bahwa ibunya pernah mengatakan soal pernikahan Kiara.
Semakin beranglah Kiara, bahkan matanya kini tak sudi melirik pada wanita itu. Jadi, ibunya memang sudah tahu bahwa dirinya dijual dan akan dinikahi oleh Shawn!
__ADS_1
"Tapi," sambung Shawn. "Kalian tidak akan diundang. Ibumu sudah memutuskan hubungan kalian dengan Kiara. Jadi, Kiara bukan kakak kamu lagi."
Pria ini yang jahat atau ibunya? Benarkah yang dikatakan oleh pria itu? Kelvin menatap ibunya dengan geram sambil mengepalkan tangannya sampai jemarinya memutih. Sementara Renita menunduk, tak berani menatap semua orang, terutama pada Kiara.
Tetapi, Kiara tampak tak peduli. Hatinya telah terluka dalam, tak terkejut lagi jika wanita itu melakukan hal demikian. Kiara menahan emosi dan menyembunyikannya dengan menyantap makanannya tanpa bicara, Shawn puas melihat reaksinya itu.
Dan kini, perhatiannya teralihkan pada anak dan ibu yang ada di depannya. Kelvin begitu terluka, air matanya tergenang, menghantam ibunya dengan pertanyaan.
"Benar itu, Ma? Kenapa Mama diam? Berarti itu benar? Kenapa Mama melakukan hal ini?"
Isakan Kelvin membuatnya semakin pedih. Kiara menahan air matanya seraya menunduk dan mengunyah makanannya.
Cukup lama Renita bergeming, menahan perasaan malu, bersalah, dan gusar. Akhirnya, ia tak kuat lagi bertahan. Setelah Kelvin puas memakinya, Renita mengangkat kepalanya, menatap Shawn dengan nanar dan geram.
"Apa Anda sudah puas?" serunya menahan amarah. Shawn memiringkan kepala, menatap remeh. "Anda sengaja mempermalukan saya dengan aib yang saya lakukan. Itu kan yang Anda inginkan?"
Sinar geli di matanya terpantul, Shawn memajukan tubuhnya seraya tertawa kecil. "Saya membuat acara ini sebagai tanda perpisahan kalian dengan calon istriku. Kiara memintaku untuk mempertemukan kalian, dan sekalian saja aku mengumumkan soal rencana pernikahan kami."
"Ayo, kita pergi Kelvin." Renita beranjak dari kursi, marah, mengenggam tangan anaknya.
Kelvin menolak dengan menarik kasar genggaman tangan Renita. Kelvin beranjak, menatap murka pada ibunya, lalu pergi dari tempat itu tanpa sepatah kata pun.
"Kelvin! Kelvin!" seru Renita memanggil.
Renita pun pergi tanpa berpamitan pada Shawn dan Kiara. Masa bodo, Shawn sendiri tidak peduli, tetapi ini sangat memengaruhi suasana hati Kiara.
Nafsu makannya benar hilang. Garpu dan pisau diletakkan di atas piring, Kiara bergeming, menunduk dalam, diam-diam terisak. Shawn memperhatikannya dengan heran, bahkan lebih dekat. Ujung mata Kiara menangkap bayangan di sampingnya, dan ia menoleh pada bayangan itu.
Tangisannya jeda sesaat, tertegun melihat dari dekat wajah tampan pria itu. Kemudian, Shawn tersenyum, tapi kali ini terlihat manis, bukan senyuman begis ataupun misterius seperti tadi. Kiara jadi terpana, melupakan tangisannya.
"Aku tidak menyentuhmu, tapi boleh kan menciummu?" tanya Shawn, tanpa aba-aba mengecup bibir Kiara.
Terkejut? Iya. Tapi, kenapa jantungnya berdebar? Kiara masih tertegun, bahkan setelah kecupan.
__ADS_1
Pria ini, apa maksudnya melakukan hal ini?
Shawn mengeluarkan sehelai sapu tangan dari sakunya. Ia mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Kiara. Sapu tangan itu begitu harum, aroma parfum khas pria tercium olehnya.
"Mereka tak pantas untuk ditangisi. Kamu pantas untuk bahagia," ucap Shawn, lirikan matanya terfokus pada mata indah Kiara yang membulat.
"Yang membuangku adalah mama, adikku tidak tahu apa-apa." Kemudian, matanya menyendu dan perlahan melirik ke bawah. "Kelvin pasti sangat sedih dan marah pada mama. Aku dan Kelvin sangat dekat."
Gerakan mengusap Shawn terhenti, ditatapnya Kiara lamat-lamat. Namun, ia tak menyadari bahwa dirinya mudah larut dalam mata Kiara. Ia memang menyukai mata cokelat Kiara sejak pertama kali berpapasan dulu.
"Aku tidak bisa membawanya, ibumu hanya ingin kau yang pergi," kata Shawn. Ini bukan provokasi, Shawn memang mengutarakan yang sebenarnya.
"Aku tak memintamu untuk itu," sahut Kiara, cepat mengangkat kepalanya dan menatap Shawn. "Aku tahu bagaimana rasanya jika seseorang yang disayangi direnggut, apalagi itu adalah anaknya."
Shawn memiringkan kepala, ekspresinya polos seperti anak kecil. "Berarti kau paham dengan perasaanku, jika kau terenggut dari sisiku?"
Pertanyaan apa itu? Jantung Kiara dibuat berdetak kencang lagi, dan ia jadi salah tingkah, sampai tak sadar bahwa pipinya memerah.
"A ... apa maksudmu?" tanya Kiara, terbata-bata karena gugup.
Shawn menjauhkan tubuhnya seraya tertawa kecil. Kiara mendesis kesal, tersinggung karena menganggap bahwa Shawn pasti sedang menertawakannya.
"Kenapa ketawa? Apa yang lucu?" serunya agak kesal.
Dengan sisa tawa, Shawn menoleh pada Kiara seraya menggeleng. "Wajahmu. Lucu banget." Tak tahan, kemudian Shawn tertawa lagi.
Kiara benar-benar merajuk. Ia beranjak dari kursi dan menyambar tas kecilnya, akan pergi meninggalkan pria itu. Namun, Shawn begitu cepat meraih lengannya, lalu menghelanya di atas pangkuannya.
Kiara terkejut. Wajah mereka dekat lagi, Kiara gugup. Apa akan ada ciuman kedua?
"Aku belum selesai." Shawn menggoda dengan suara serak yang sensual sambil memajukan wajahnya lebih dekat lagi.
Rasa gugup ini sampai membuat Kiara sesak. Sulit mengatur diri agar bersikap tenang. Pria itu memikatnya dengan pendekatan s*ksual yang tak mampu menahan gairah untuk mencuat.[]
__ADS_1