Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Kesempatan untuk kabur!


__ADS_3

Rama sudah seminggu ini pergi ke Sydney untuk menemui orangtuanya. Ia tidak tahu soal kematian ayah Kiara. Begitu tahu kabar itu, Rama langsung meluncur ke rumah Kiara.


Namun, ketika ia sampai di persimpangan jalan, ia menemukan seseorang yang tampak tak familiar baginya. Ia mengernyit heran pada sosok remaja lelaki yang tengah duduk di samping gapura perumahan.


"Bukannya itu Kelvin?" gumamnya.


Untuk melihat lebih jelas, Rama menepikan mobilnya di dekat anak itu. Setelah memastikan bahwa dirinya tak salah, lantas ia turun dari mobil dan menghampirinya.


"Kelvin? Kamu lagi ngapain di sini?" tanyanya, memperhatikan penampilan Kelvin yang agak acak-acakan dan wajahnya yang pucat.


Awalnya, Kelvin tak mengingat pria yang ada di hadapannya itu. Cukup lama baginya untuk mengenalinya. "Kak Rama, ya? Aku mau cari kak Kiara."


"Lho? Emang Kiara ke mana?"


Melihat wajah Kelvin yang memucat, Rama baru peka. Ia mencetuskan untuk mengobrol di dalam mobilnya. Tadinya, ia ingin membawanya ke rumahnya. Tapi, setelah mendengar bahwa rumah mereka sudah dijual, Rama memutuskan untuk melajukan mobilnya ke sebuah restoran.


Kelvin juga menceritakan sebuah berita yang lebih mengejutkan. Alasannya mencari Kiara adalah, karena gadis itu diculik oleh orang yang menjualnya!


"Apa?" seru Rama kaget, setelah mendengar cerita itu. "Siapa mereka? Apa kamu tahu?"


Kelvin menggeleng sesal. "Nggak tau, Kak. Mama nggak cerita apa-apa. Mama tega banget menjual kak Kiara demi menyelamatkan keluarga."


Rama menghela napas panjang. Sungguh disesalkan hal ini terjadi. Tapi, mau diapakan lagi, semua itu tidak bisa dicegah. Ia sendiri tak bisa ikut campur, meskipun ia ingin sekali mencegah hal itu.


"Tapi, gimana kamu mau mencarinya, sedangkan kamu nggak tahu siapa yang telah membeli kakakmu," lirihnya sedih.


Pemuda itu menghela napas. "Aku juga tidak tahu. Cuma mama yang tahu siapa orang yang membeli kak Kiara. Tapi, aku sedang tak ingin berbicara dengannya."


Susah juga kalau begitu. Rama kehilangan akal. Jika ia yang bertanya pada Renita. Wanita itu pasti juga tidak akan memberitahukannya, dan akan mengusirnya karena menganggap telah turut campur keluarga itu.


"Ya udah, kita makan siang dulu, ya?" cetusnya, akhirnya memutuskan.


...🦋...


Sebuah mobil mewah warna kuning berhenti tepat di depan rumah berpagar tinggi. Seorang wanita berkacamata hitam yang mengendarainya.


Lantas, ia membunyikan klakson beberapa kali. Keluarlah seorang satpam bertubuh tambun dari balik pagar itu.

__ADS_1


Satpam itu menghampiri, lalu mengetuk kaca jendelanya. Tak lama kemudian, jendela itu terbuka, dan si satpam langsung mencercanya.


"Cari siapa, Non?" tanyanya.


"Ya, cari pemilik rumah ini lah!" sahut perempuan itu agak judes. "Cepat, buka pintunya!"


"Tapi, tuan belum pulang. Ada keperluan apa Nona mencari tuan Shawn. Nanti akan saya sampaikan pada tuan."


Wanita itu jengkel bukan kepalang. Ia mendecak, lalu membuka kacamatanya. "Kamu nggak tahu siapa saya?"


Malah dijawab oleh pria itu dengan gelengan polos.


"Ck! Saya ini Clara Adiputra, calon tunangan Shawn!" sahutnya. "Udah, jangan banyak cincong! Bukain pintunya! Saya mau masuk nih!"


Satpam itu berpikir sejenak, tapi tak ada waktu bagi Clara untuk tetap di sini. Maka, ia kembali menghidupkan mesin mobil, akan menerobos masuk.


Cepat-cepat satpam itu menghalanginya sambil merentangkan tangan. "Setop, Nona! Setop! Nona nggak boleh masuk!" serunya.


Clara melongokkan kepalanya keluar dari jendela. "Minggir! Minggir! Atau saya tabrak nih!" gertaknya.


Clara tersenyum senang. Satpam itu berseru sembari mengejarnya. Satpam yang satu lagi datang menyusulnya, lalu menghampiri Clara yang baru saja keluar dari mobilnya.


Baru kakinya akan melangkah ke arah pintu, kedua satpam itu langsung menangkap kedua tangan gadis itu. Clara meronta sekalian menjerit, membuat para pelayan keluar karena mendengar kegaduhan itu.


"Lepaskan saya! Kalian kurang ajar, ya! Saya akan mengingat wajah kalian, akan saya adukan kalian supaya kalian dipecat! Kalian tidak bisa memperlakukan putri konglomerat seperti ini. Dasar kalian rakyat jelataaaaaaaa!"


Kiara yang sedang berjalan-jalan di taman mendengar teriakan itu. Ia mengintip dari samping rumah, melihat seorang wanita cantik sedang dijegal oleh para satpam dan para pelayan yang tengah berkumpul.


"Siapa, ya? Apa adiknya Shawn? Tapi nggak mirip? Kok mereka menghalanginya begitu?" gumamya menyelidik.


Kepala pelayan muncul, berdiri di depan deretan para pelayan muda. "Lepaskan dia!" perintahnya pada satpam itu.


Akhirnya, ada juga yang waras di rumah ini. Clara tersenyum menang ketika kedua tangannya terbebas dari kekangan tangan-tangan kotor itu.


"Maaf, Nona. Kalau boleh saya tahu, Anda siapa? Dan ada keperluan apa Anda ke sini?" tanya si kepala pelayan.


Ternyata wanita paruh baya itu sama tidak warasnya. Menanyakan hal itu di depan rumah? "Hei! Di mana letak sopan-santunmu? Saya tamu di sini, ya. Atau lebih tepatnya, calon tunangan Shawn. Seharusnya, kalian membiarkan saya masuk dulu ke rumah, tawarin minum, baru deh nanyain hal tadi."

__ADS_1


Kiara mengernyit dan kaget. "Calon tunangan? Kalau dia punya calon, kenapa dia malah mau nikahin aku? Apa dia mau jadikan aku haremnya?" gerutunya sambil mengepalkan tangan.


"Calon tunangan?" Si kepala pelayan menelengkan kepala, heran. "Tapi, setahu saya bukan Anda calon tunangan tuan Shawn."


"Apa? Nggak mungkin!" pekik Clara, tak percaya. "Saya ini sudah dijodohkan dengan Shawn! Minggir! Biarkan saya masuk! Akan saya jelaskan semuanya di dalam."


Clara akan melenggang masuk, tetapi kepala pelayan menghalanginya. Kemudian, wanita itu memerintahkan para satpam untuk menahan kedua lengan Clara tadi.


"Lepaskan! Kurang ajar kalian!" jerit Clara meradang.


"Maafkan kami, Nona. Tapi tuan Shawn memerintahkan kami untuk tidak mengijinkan seorang wanitapun masuk ke dalam rumah," timpal si kepala pelayan.


"Apa?! Peraturan konyol apa itu?"


Suasana riuh, perhatian semua orang tertuju pada Clara. Lalu, Kiara melirik pagar yang terbuka sedikit. Senyum liciknya terkembang. Apa ini kesempatan baginya untuk kabur?


Dengan modal nekat dan tanpa ragu, Kiara mengendap-endap melewati orang-orang itu. Akhirnya, ia berhasil pergi dari rumah ini tanpa disadari oleh mereka.


Kiara berlari sejauh mungkin, dan berhenti di balik sebuah rumah untuk mengatur napasnya yang terengah-engah!


"Huh! Akhirnya bebas juga! Aku harus segera cepat-cepat kembali ke rumah. Tapi...."


Masalahnya ia tak punya uang untuk ongkos naik kendaraan.


Ia menghela napas pasrah. "Terpaksa jalan kaki kayaknya...."


Atau....


Ia tertegun ketika tanpa sengaja menyentuh kalung pemberian Shawn kemarin. Teringat kata-katanya agar jangan melepaskan kalung itu tanpa seizinnya. Tapi....


"Bagaimana ini? Kalau aku jual...," gumamnya ragu. "Ah, untuk apa aku pikir sampai 2 kali? Biar saja. Toh, dia kaya. Kehilangan kalung ini tak pengaruh apa-apa baginya. Dia bisa beli ratusan kalung mahal semaunya. Baiklah, jual saja!"


Tekadnya sudah bulat. Kalung itu ia lepaskan, lalu digenggamnya erat. Tapi, ia tak punya saku. Mau disimpan di mana kalung ini?


Sebuah ide muncul. Kemudian, lirikan matanya jatuh ke bagian dada. "Uh! Masa mau disimpan di dalam BH? Udah kayak nenek jaman dulu?"


Tapi, memang tempat itu yang paling aman. Mau tidak mau, kalung itu disimpan di dalam BH pada akhirnya. Lalu, ia pergi dari tempat itu, sebelum seisi rumah Shawn menyadari kepergiannya.[]

__ADS_1


__ADS_2