
"Hai, cantik. Main, yuk!"
Mata Kiara mendelik. Bahaya! Ia bergegas berlari sekuat tenaga. Namun, ia kalah jumlah dan kekuatan, sehingga para gerombolan preman itu mampu mengejar dan menghadangnya.
Agar tak kabur, mereka mengelilingi Kiara. Tawa mesum mereka membuatnya semakin gemetaran. Tak dinaya, dua orang menyergap tangannya, lalu tubuhnya diseret ke sebuah lorong lain yang tak dilalui oleh kendaraan.
Tubuh rapuhnya dihempas kasar hingga membentur dinding yang tak mulus. Mereka tertawa, tak peduli pada rasa sakit yang dirasakan oleh gadis itu. Lengan kasarnya kembali dipegangi oleh dua pria lainnya.
Kiara memberontak, tapi kemudian bergidik ketika salah seorang pria membuka kancing celana jinsnya yang kotor. Ia akan dirudapaksa!
"Tidaaaaak! Jangaaaan!" teriaknya seraya meronta.
Pria itu berlutut, lalu merobek gaun bagian atas. Kiara menjerit sekuatnya, tapi salah satu dari mereka membekap mulutnya. Ia tak punya kuasa, apalagi ketika tubuhnya ditindih dan lehernya dikecup oleh pria itu sambil meraba dadanya.
Air mata Kiara menggenang. Hidupnya ternyata lebih buruk ketika keluar dari rumah itu. Menyesal? Tentu! Tapi nasi sudah menjadi bubur, maka yang sudah terjadi tak bisa ditarik.
Ia benar-benar tak berdaya. Meskipun terhina, ia terpaksa pasrah ketika tubuhnya dijamah oleh tangan kasar pria itu. Preman-preman yang memegangi tangan dan kakinya menonton sambil tertawa, menambah kepedihan.
Meski pasrah, dalam hati Kiara masih berharap lirih di dalam hati.
"Tuhan, tolong aku...."
"Argghhh!"
Suara pekikan terdengar. Tak terasa lagi sentuhan kasar dari tangan pria itu di tubuhnya. Kiara membuka mata, lalu mendelik kaget melihat para preman tengah dihajar oleh seorang pria berjas hitam yang sangat dikenalnya.
"Beraninya kalian menyentuhnya!" sergah Shawn seraya memukul pria yang hendak merudapaksanya tadi dengan tanpa ampun.
Dalam sekejab, pria itu mampu membuat keempat preman itu terkapar dengan wajah babak belur. Lalu, Shawn menghampiri Kiara yang tengah duduk dengan kedua tangan menutupi dadanya.
Shawn melepaskan jasnya, kemudian mengenakannya untuk menutupi tubuh Kiara. Perlakuan ini membuat hati Kiara menghangat. Ia terpana, tanpa melepaskan tatapannya sedetik pun dalam beberapa saat.
Entah apa yang sedang dipikirkannya, sikap pria itu tak terbaca, bahkan terkesan dingin. Dia menggendong Kiara sampai ke mobil tanpa mengatakan apa pun. Ternyata Shawn mencarinya sendirian. Ia mengemudikan mobilnya tanpa seorang sopir.
__ADS_1
Selama perjalanan, Kiara merasakan hawa yang tak enak di antara mereka. Apalagi, ketika melihat raut wajah pria itu. Alisnya bertaut. Apakah pria itu sedang murka? Jelas saja. Siapa yang tak marah mendengar dirinya kabur?
Kiara mengelus tengkuknya, bulu romanya meremang. Hukuman apa yang akan ia dapatkan darinya setelah ini? Meskipun ia calon tunangannya, pria itu pasti tidak akan segan berbuat kejam. Lihat saja waktu itu! Demi bisa membawanya ke rumah mewah itu, Shawn sampai mengirim para pengawal untuk menculiknya!
Dan tadi. Shawn mampu melumpuhkan empat preman sekaligus! Bukankah itu mengerikan?
Kiara resah, tak ingin rasanya cepat-cepat sampai ke rumah itu. Namun, waktu tak dapat melambat, apalagi Shawn mengemudikan mobil dengan agak mengebut. Ia semakin bergidik.
Ia menghela napas ketika mobil sampai di rumah. Tubuhnya membeku, seakan sedang merekatkan pinggulnya di jok mobil. Ia tak ingin turun dari mobil! Ia tak mau dihukum oleh pria sangar itu!
Pintu mobil dibuka oleh Shawn, Kiara sontak tersentak. Kepalanya menunduk dalam sambil merapatkan matanya. Kegugupan menyergap.
"Turun!" kata Shawn dingin, sampai Kiara merinding mendengarnya.
Tapi, Kiara tetap bergeming, menekan pinggulnya pada jok mobil.
Shawn mendecak, terpaksa pakai cara kasar. Pria itu menggenggam kuat pergelangan tangannya, lalu menariknya keluar dari mobil. Kiara kalah kuat, sehingga pertahanannya runtuh. Mau tidak mau ia keluar dari mobil.
Ia dibawa sampai ke ruang tamu. Di sana para pelayan, termasuk kepala pelayan, dua satpam, dan tiga pengawal berkumpul dengan kepala tertunduk.
Shawn menghempaskan tubuhnya hingga tersungkur di lantai. Ia menghampiri salah satu satpam, meraih kerah bajunya, lalu menyeretnya ke hadapan Kiara.
Gadis itu mendelik was-was. Mau diapakan satpam itu?
"Saya menyuruh kalian untuk menjaganya, tapi kenapa kalian membiarkannya kabur!" Satu pukulan disematkan ke pipi satpam itu sambil membentak.
Darah mengucur sedikit di sudut bibir satpam itu. Kuat juga pukulan Shawn. Semua orang semakin gemetaran, begitu pula dengan Kiara. Ia ngeri sekaligus kasihan pada satpam itu. Gara-gara dirinya, orang lain yang menjadi korban.
Tak puas, Shawn menyeret satpam yang satunya. Kiara merangkak ke hadapan Shawn, ketika tangan pria itu mulai terangkat hendak mengarahkan tinjunya pada satpam itu.
"Please, Shawn, jangan pukul mereka. Ini salahku! Aku yang kabur dari rumah ini. Mereka tak tahu apa-apa," mohonnya dengan memelas dan agak terisak.
Shawn menoleh padanya dengan wajah sangar. "Ya, ini memang salahmu. Tapi, mereka juga bersalah. Mereka juga harus dapat HUKUMAN!"
__ADS_1
Permohonan Kiara tak mempan, Shawn tetap menghajar satpam itu. Bahkan, kemurkaannya semakin menjadi, satpam itu mendapatkan pukulan lebih parah dari yang tadi sampai tersungkur dan tak berdaya.
Tangis Kiara semakin keras. Ia beranjak, mencoba menahan Shawn untuk menginjak-injak tubuh sang satpam yang sudah melemah.
"Tolong hentikan! Marah saja padaku! Hukum saja aku, jangan mereka. Mereka tak bersalah. Aku mohon, hentikan...."
Demi menyudahinya, Kiara sampai berlutut di kaki Shawn. Pria itu terdiam sembari berkacak pinggang, mendengus kencang.
"Kau mau dihukum?" tanya Shawn, suara dinginnya berat, bagai iblis meminta nyawa.
Kiara mendongak, menelan air liurnya untuk membasahi tenggorokannya yang tercekat. Ia siap menerimanya, sekalipun hukuman itu dapat merenggut nyawanya.
"Iya, aku akan menerima semua hukuman darimu, meskipun sampai membunuhku," ucap Kiara bersungguh-sungguh, walaupun rasa takut masih menyelimuti hatinya.
Shawn bergeming cukup lama, rahangnya mengeras. "Baik kalau kau menginginkannya."
Pasrah, Kiara membiarkan pria itu merenggut tubuhnya paksa dan menariknya ke ujung lorong, ke jendela kaca yang mengarah langsung ke balkon. Dengan kasar Shawn menghela lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala Kiara mengarah ke bawah.
Kiara bergidik melihat pemandangan di bawahnya. Terjatuh dari atas sana bisa terjadi dua kemungkinan: tercebur di kolam, atau mati membentur lantai di tepi kolam.
"Ini hukumanmu. Apa kau siap menerimanya?" tanya Shawn, senyum sinisnya terkembang.
Kiara menelan air liurnya. Komitmen sudah diucapkan, tak mungkin ditarik kembali. Kalaupun ia harus mati, ia rela, daripada para pelayan dan satpam yang menjadi korban atas kesalahannya.
Setidaknya, kematian tidaklah buruk. Ia akan terbebas dari pernikahan paksa dengan pria kejam itu!
"Aku siap," jawab Kiara seraya menatap lirih kolam yang ada di bawahnya.
Rahang Shawn mengeras, semakin murka. "Baik. Apa ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan?"
Kiara mengalihkan tatapannya pada Shawn. Senyuman sinisnya terkembang. "Terima kasih karena telah melepaskan saya."
Lalu, tubuh Kiara terlempar, melayang di udara, kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang yang dalam itu. Sedetik kemudian, tubuh Kiara terbanting menembus permukaan kolam, lalu tenggelam.
__ADS_1
Ia tak mencoba menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu. Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya, napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.
"Oh Tuhan, aku akan mati...."[]