
Renita mendapat sebuah apartemen yang tak terlalu mahal, tapi cukup nyaman untuk ditempati. Hidupnya terasa ringan karena beban hidup berkurang. Soal pekerjaan, Renita juga sudah mendapatkannya. Berkat temannya, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah hotel sebagai koki.
Kelvin juga sudah didaftarkan ke sebuah sekolah SMA terbaik di dekat apartemen. Namun, senyum anak itu tak tampak, setiap hari merengut, apalagi ketika berhadapan dengan Renita.
Hari ini adalah hari pertama Renita bekerja, Kelvin juga mulai sekolah. Renita sudah bersiap dengan seragamnya, menyiapkan sarapan untuknya dan Kelvin.
Kelvin keluar kamar sambil menenteng tas, lalu menghampiri meja makan.
"Pagi, Kelvin," sapa Renita lembut.
"Pagi," jawab Kelvin dengan dingin dan setengah hati.
Cemberut lagi. Renita menghela napas kecewa, lalu duduk di hadapan Kelvin. Renita menggeser semangkok sereal dan susu di depan Kelvin. Anak itu menerimanya dan mengambil sendok tanpa menatap Renita sedikit pun.
Hati Renita seakan mencelus, begitu sesaknya perlakuan acuh tak acuh anaknya itu padanya. Renita enggan untuk menanyakannya, tapi kali ini ia sudah tak tahan untuk membahasnya.
"Kelvin."
"Em?" sahut Kelvin sambil mengunyah dan tak mengalihkan tatapannya dari mangkok sereal.
"Kamu kenapa sih? Kok kamu mengabaikan Mama, nggak pernah menatap Mama. Ngomong sama Mama juga enggak. Ada apa? Coba bilang sama Mama."
Kelvin berhenti mengunyah, menggenggam pegangan sendok dengan erat. Muak sekali rasanya. Tak tahu kesalahannya apa? Apa orang disebut ibu itu masih tak sadar bahwa dia sudah membohongi anaknya?
Kelvin tak bisa marah pada ibunya, maka rasa kesal itu hanya dipendam. Ia kembali menyuapkan sereal ke dalam mulutnya sesudah berkata dingin.
"Pikir aja sendiri."
Renita terkejut, tambah sakit hati ini rasanya. Tetapi, ia juga menjadi murka. Tak seharusnya seorang anak berkata begitu pada ibunya.
"Kelvin!" tegurnya membentak. "Mama nggak ngerti sama kamu...."
"Kalau nggak ngerti," potong Kelvin gusar, menghempaskan sendok ke mangkok hingga bunyi dentingannya cukup keras. Renita syok dengan mulut ternganga. "Nggak usah ditanya."
"Justru itu, Mama perlu tahu...."
__ADS_1
"Apa Mama lupa sama apa yang Mama bilang waktu itu?" potong Kelvin, suaranya meninggi. "Mama berjanji akan mempertemukan aku sama kak Kiara. Aku ke sini karena kak Kiara. Tapi, mana janji Mama? Tega banget Mama nipu anaknya sendiri demi keegoisan Mama sendiri."
Renita menghela udara yang terendap di dada, sesak sekali mendengar ucapan menyakitkan dari sang anak. Ya, memang ini salahnya, tapi apa harus dengan membentaknya begini?
Kelvin menyadari bahwa tak seharusnya ia sekeras ini. Ia tak mau mendebatnya lagi. Cukup baginya. Dengan perasaan agak bersalah, Kelvin beranjak dari kursinya sambil menenteng tas, lalu meninggalkan Renita tanpa berpamitan.
...🦋...
Shawn tak bisa menemani Kiara karena ada pekerja lain yang harus dilakukan. Jadi, Kiara dititipkan pada suster khusus dan seorang pengawal.
Membosankan! Bibir Kiara manyun, lalu menatap pemandangan di luar jendela sambil menghela napas.
Mau sampai kapan di sini? Apa ia nggak boleh diizinkan keluar?
Kemudian, Kiara melirik pintu dengan memelas. "Ngapain sih pakai nempatin pengawal di depan? Dia nggak percaya sama aku?" rutuk Kiara jengkel.
Kiara melirik ke arah lain seraya berpikir sejenak. Diraihnya botol infus, lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu sambil menenteng botol infus.
Kiara membuka pintu, pengawal itu spontan menoleh dan membungkuk sedikit. "Nona, ada yang bisa saya bantu?"
Kiara menatapnya dengan harap-harap cemas, tapi si pengawal tampak tak yakin dengan permintaan Kiara itu.
"Eng ... gimana, ya? Masalahnya...."
"Tenang aja kok," sela Kiara langsung untuk mengeyahkan keraguan pria itu. "Saya tidak akan kabur. Saya udah janji pada Shawn. Aman deh pokoknya."
Meski awalnya ragu, si pengawal dengan berat hati mengijinkan. Kiara memberi jaminan padanya dengan membawa suster khusus untuk ikut dengan Kiara. Lagi pula, Kiara hanya ingin berjalan-jalan di sekitar taman depan rumah sakit. Si pengawal pasti memahami betapa suntuknya terkurung di dalam kamar selama 24 jam?
Kursi roda dipersiapkan. Kiara duduk di sana, sementara suster khususnya mendorong kursi roda. Kiara dibawa menyusuri lorong seraya melihat ke arah taman.
Kiara tersenyum, lalu menghirup udara segar pagi ini. Serasa hidup setelah melihat dunia luar. Setelah menikah dengan Shawn, apa Kiara diizinkan keluar untuk sekadar meninggalkan sumpeknya rumah besar pria itu?
"Aku mau ke sana!" tunjuk Kiara di pinggir taman.
Suster menghela kursi roda, lalu menempatkan Kiara sesuai dengan permintaannya. Kiara memperhatikan beberapa pasien yang sedang berjalan-jalan menghilangkan penat dan letihnya karena terbaring lama di tempat tidur. Ada juga beberapa pengunjung rumah sakit yang lalu lalang untuk menemui pasien.
__ADS_1
Sejenak, wajahnya murung. Keluarga, kini Kiara tak memilikinya lagi. Yang ada hanya seorang pria asing yang akan dinikahinya. Itu pun tanpa cinta. Janji untuk kabur sudah diucapkan. Kiara hanya pasrah, sebab percaya bahwa Shawn akan mengabulkan persyaratannya.
"Nona," panggil suster, menghempaskan lamunan Kiara.
"Iya, Sus?" sahut Kiara, terbata-bata.
"Apa ada yang Anda inginkan?"
Apa, ya? Sebenarnya, yang diinginkannya kali ini adalah ingin bertemu dengan adik dan ibu tirinya. Tapi itu tidak mungkin, Shawn sedang mengupayakan untuk mencari mereka.
"Em ... aku ingin minum," jawab Kiara, setelah cukup lama berpikir.
"Baiklah. Nona tunggu di sini dulu, ya, saya akan segera kembali."
Suster itu berlari kecil meninggalkannya. Dia pasti takut pada ancaman Shawn jika sampai gagal menjaga Kiara. Geli memikirkan hal itu. Kiara juga tak ingin mempertaruhkan nyawa orang karena kesalahan yang diperbuatnya. Kesempatannya untuk kabur juga kecil, Kiara yakin bahwa pengawal tadi pasti sedang mengintainya.
Pandangan Kiara teralihkan ketika mendengar suara tawa anak kecil. Di depannya terdapat dua anak lelaki berusia sekitar 5 atau 6 tahun tengah asyik bermain lempar bola.
Kiara tersenyum lembut. Mereka sangat lucu, mengingatkannya pada anak-anak didiknya. Senyumnya perlahan menghilang, lama-lama termenung.
Anak-anak itu, bagaimana kabar mereka? Apa ada guru baru yang mengajari mereka? Ia merindukan tawa riang yang menggema di kelas, bernyanyi bersama, memberikan pengetahuan baru, dan memandangi hasil coretan krayon di buku gambar.
Kiara sangat menyukai anak-anak, oleh karenanya ia mengabdikan diri sebagai guru TK. Ia juga mendambakan menjadi seorang ibu dan memiliki beberapa anak.
Namun, pernikahan ini ... mustahil untuk memiliki anak. Kiara tak sudi. Yang dicemaskannya, anak yang lahir akan memiliki sifat kejam seperti Shawn.
Hiii ... mending sekalian tak punya anak. Kiara akan bergegas memasang KB begitu Shawn memutuskan untuk menyentuhnya.
"Hei, awas!"
Teriakan itu menghentakkannya kembali pada dunia nyata. Matanya mendelik, kaget karena tiba-tiba seorang pria berdiri di depannya sambil merentangkan tangan, dan bola mengenai tepat di perutnya.
Kiara melongok cemas. Pria itu terpaku dengan ekspresi lucu menahan sakitnya. Kemudian, pria itu menoleh padanya.
"Kamu nggak apa-apa, Mbak?"[]
__ADS_1