Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Koppel sinds kinderjaren


__ADS_3

Tangan Kiara gemetaran memegang pecahan kaca botol parfum itu. Sebenarnya, ia takut mati, tetapi....


"Lebih baik aku mati!"


Kiara menggores pergelangan tangannya, dan darah mengucur.


"TIDAK!"


Jeritan Shawn masih terdengar, sebelum akhirnya kesadaran Kiara menghilang dan jatuh pingsan.


Shawn bersimpuh di sampingnya, lalu meletakkan kepala Kiara di atas pahanya. "Kiara, bangun! Bangun, Kiara!"


Pria itu mematung dengan mata mendelik. Tidak mungkin gadis ini tewas, 'kan? gumamnya syok. Shawn bingung dan kalang kabut. Ia tak bisa membiarkan wanita itu mati.


Hal pertama yang dilakukannya adalah bergegas mencari piyama untuk menutup tubuh Kiara. Lalu, ia menggendongnya keluar kamar. Ia berpapasan dengan Henry, yang panik melihatnya terburu-buru keluar dengan bercak darah.


Henry tak bertanya, tapi Shawn langsung memberi perintah. "Siapkan mobil, cepat!"


Pria itu berlari duluan keluar. Pas ketika Shawn berada di depan pintu, mobil tiba di depannya. Henry datang untuk membantu Shawn membopong tubuh Kiara ke dalam mobil. Kemudian, Henry memberikan sebuah kemeja untuk Shawn sebelum melajukan mobilnya ke rumah sakit.


...🦋...


Seorang pria tampan baru saja keluar dari bandara. Baru akan menggiring kopernya, ponselnya berdering. Sebuah telepon masuk dari kontak yang diberi nama: nenek sihir.


"Halo," jawabnya bermalas-malasan.


"Di mana kau?" cetus wanita di ujung telepon.


Pria itu menghela napas. "Aku bukan anak kecil lagi? Kenapa harus khawatir aku ada di mananya."


"DI MANA KAU!" ulang wanita itu membentak.


Terpaksa mengalah daripada kena omel. Tapi, kalau ia bilang yang sebenarnya bahwa dirinya ada di Singapura, sama aja kena omel juga. Hmm ... jawab apa, ya?


"Em ... aku ada di ... Siwadjandnskfhsndhhsj." Sengaja ia berkata tak jelas.

__ADS_1


"Apa? Kau bicara apa?"


"Ma, kayaknya sinyalnya lagi nggak bagus nih. Aku tutup, ya?"


"Tapi—"


Yup! Ia langsung menekan tombol merah sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya. Supaya tidak mengganggu, ia mengubah mode ponsel menjadi mode pesawat. Senyumnya terkembang nakal, lalu ia kembali berjalan menuju pintu keluar.


Pria itu di sini tak mempunyai kenalan, kecuali sepupunya si pangeran es. Menunggu sebuah taksi kosong agak lama sepertinya, dan ia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sepupunya tersebut.


Nomornya sudah ditemukan, tinggal tekan tombol "dial". Tetapi, jarinya membeku, berpikir ulang akan tindakannya.


"Huft! Mana mungkin Shawn mau mengirimkan sopir dan mobil mewahnya buat menjemputku?" gumamnya jengkel, menebak jawaban apa yang bakal diberikan sepupunya jika ia meminta hal itu. "Nggak jadi deh!"


Ponsel kembali disimpan ke saku celananya. Lebih baik menunggu sebuah taksi daripada kenal semprot sepupunya. Tapi omong-omong, kenapa tidak ada taksi yang menawarkan jasanya? Apa mereka tak memerlukan uang?


Sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Ia tertegun. Apa taksi di negara ini memakai merek mobil mewah? Di mana logo taksi yang ada di atas mobil? Apa mobil ini ditumpangi untuknya?


Ya, ini mungkin sebuah taksi, dan ia menghampirinya untuk meraih gagang pintu. Namun, saat ia akan meraihnya, tiba-tiba ada tangan lain yang meriah gagang pintu itu.


"Clara? Iya kan, Clara?"


Wanita itu tampak bingung sejenak sambil mendekatkan wajahnya ke arah pria itu untuk memperhatikannya dengan jelas. "Apa Anda mengenal saya ...? Ah!" Tiba-tiba ia terhenyak seraya menutup mulutnya.


Pria itu sudah senang karena akhirnya Clara mengingatnya. Ia pikir, Clara akan memperlakukannya dengan ramah, bahkan mungkin memberi tumpangan. Sungguh wanita tega! Dia justru bergegas membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.


Dia tentu tak menyangka akan begitu, tapi ia takkan biarkan Clara menelantarkannya. Maka, sebelum pintu ditutup oleh Clara, dengan sigap ia menahan pintu itu.


Clara tak mau kalah, berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan pria itu. Tapi sia-sia, akhirnya Clara mengalah. Ia menghela napas panjang, menatap pria itu enggan.


"Apa maumu? Bukannya hubungan kita sudah berakhir?"


"Siapa bilang?" Pria itu tersenyum jahil. "Kan kamu udah janji waktu masih TK, kalau kamu akan menjadi pacarku sampai kita dewasa."


"Matamu!" ketus Clara, mendorong kening pria itu dengan ujung jari telunjuknya. "Kapan aku janji? Itu kan kamu yang bilang. Sekarang, aku sudah punya calon tunangan yang jauh lebih keren dari kamu."

__ADS_1


Pria bernama Dave itu mendengus geli seraya memalingkan wajah. "Yakin mau nikah sama cowok es kayak Shawn? Aku yakin, kamu bakal minta cerai setelah 2 hari nikah sama dia."


Bukannya kasih restu, malah disumpahin! Ya, beranglah Clara. Gadis itu tak perlu lagi merasa tega untuk memukul Dave dengan kepalan tangan mungilnya di punggung Dave. "Apa?! Sembarangan aja kamu ngomong! Aku itu cinta banget sama Shawn tau! Seberapa dinginnya dia, aku akan tetap bertahan. Dan aku yakin, aku bisa bikin dia jatuh cinta sama aku!"


Setelah puas menyalurkan kemarahannya, Clara berhenti memukul. Tapi, Dave tak kapok membuatnya jengkel dengan berceletuk pelan seraya mengelus pundaknya yang sakit.


"Jatuh cinta? Aku aja nggak yakin kalau dia itu normal."


"Apa?!" Clara melotot marah, dengar juga dia. Dia kembali memukul Dave beberapa kali.


"Ah! Ah! Hentikan! Sakit tau!" jerit Dave, tak tahan, lantas ia spontan meraih tangan Clara.


Clara tertegun. Pada detik ketiga, aura permusuhan lenyap lewat tatapan. Sebersit masa lalu yang manis saat kecil berputar dalam otak, sehingga mereka sama-sama larut dalam sebuah perasaan.


Namun, Clara keluar dari permukaan lautan perasaan itu. Ia terkesiap, dan menarik lengannya dari genggaman Dave. Rasa canggung menguasai mereka. Clara kikuk dan bingung harus bersikap apa. Untuk menyembunyikannya perasaan itu, Clara berdalih dengan menutup pintu taksi.


Dave tidak mau bergeming terus di bandara. Ketika menyadari Clara akan meninggalkannya, Dave bergegas berputar ke pintu mobil yang satunya. Dia berhasil duduk di samping Clara, padahal mesin mobil sudah menyala.


Dave tersenyum menang, sementara Clara merenggut kesal sebab terlambat mencegah pria itu. Terpaksa, Clara memerintahkan sopir untuk melajukan mobilnya.


...🦋...


Mata Kiara perlahan terbuka. Penglihatannya masih mengabur, tetapi ia bisa melihat secercah cahaya dari sebuah lampu di ruangan bercat putih. Jemarinya bergerak kaku, kemudian sebisa mungkin ia mengangkat tangannya yang ia goreskan dengan pecahan kaca botol parfum.


"Apa aku sudah mati?" gumamnya mendesau lemah.


Tangan itu dijatuhkan. Tapi kemudian, ia terkesiap karena tangannya itu tanpa sengaja mengenai sesuatu. Pelan, Kiara mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat benda apa yang disentuhnya tadi.


Kiara ternganga heran, melihat sosok Shawn yang sedang tertidur dengan kepala direbahkan pada ranjang yang sedang ditempati Kiara.


Sejak kapan pria itu tidur di sini? Apa sejak ia dibawa ke rumah sakit? Tapi, sudah berapa lama ia tidak siuman?


Padahal, tidak ada suara yang mengusik, Shawn tersentak dari tidurnya. Kepalanya terangkat, Kiara spontan terkesiap. Lalu, Shawn menoleh ke arah Kiara. Dan pria itu sontak beranjak, terkejut sekaligus lega melihat Kiara membuka matanya.


"Kau sudah sadar?"[]

__ADS_1


__ADS_2