
Clara terus keras kepala untuk masuk. Keadaan semakin tak terkendali. Akhirnya, kepala pelayan memutuskan sebuah ide.
"Oke, oke. Nona, tolong tenang," seru wanita itu, kepalanya mulai cenat-cenut. "Pak satpam, lepaskan nona itu!"
Wewenang wanita itu sangat besar, tentu saja kedua satpam itu langsung menurut. Begitu dilepaskan, Clara merengut sambil memegangi lengannya yang memerah.
"Begini saja," lanjut si kepala pelayan. "Saya akan menghubungi tuan Shawn dulu. Soal boleh atau tidaknya Nona masuk ke dalam rumah, itu keputusan tuan, dan Nona harus terima."
Jika semuanya tergantung pada Shawn, itu tak menguntungkan Clara. Tapi, gadis itu terpaksa mengangguk setuju.
"Oke! Aku yakin, kalian semua akan kena marah karena membiarkan calon tunangannya kepanasan di luar rumah dan mendapatkan perlakuan buruk dari kalian!"
"Kita lihat saja nanti, ya, Nona," balas si kepala pelayan dengan nada menyindir sembari mengeluarkan ponselnya dari saku rok.
Cepat ia mencari nomor tuannya, lalu meneleponnya. Dalam waktu singkat, teleponya tersambung. Namun, yang menjawab alih-alih Shawn, melainkan sekretarisnya.
"Halo, Bi. Ada apa?" sahut Herman.
"Saya perlu berbicara dengan tuan Shawn," jawab si kepala pelayan.
Tidak ada suara beberapa saat, sampai terdengar sahutan nada datar dari Shawn. "Halo, Bi."
"Tuan, nona Clara datang ke rumah," cetus si kepala pelayan langsung. "Dia memaksa masuk ke dalam rumah—"
Clara yang tak sabaran main merenggut ponsel wanita itu, dan berkata, "Shawn, satpam dan pelayanmu kurang ajar nih! Masa mereka menghalangiku masuk ke dalam rumahmu—"
"Temui aku di kantor!" potong Shawn gusar. "Jangan pernah ke rumahku lagi!"
"Tapi, Shawn—"
"Berikan kembali ponselnya pada Bi Tati!" bentak pria, menciutlah hati Clara.
Terpaksa gadis itu memberikan ponsel itu kembali pada si kepala pelayan dengan bibir manyun. Wanita paruh baya itu menerimanya dengan senyum kemenangan.
"Halo, Tuan."
"Bi, usir Clara dari rumahku! Awasi dan laporkan keadaan Kiara!" perintah Shawn sebelum menutup pembicaraan.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Kemudian, kepala pelayan memberi isyarat pada satpam untuk mengantarkan Clara ke depan pintu pagar. Kedua satpam akan memengangi kedua lengan Clara. Gadis itu sudah mengerti, jadi ia mengibaskan kedua tangannya, menolak lengannya dipegang oleh kedua pria itu seraya menyergah.
"Nggak usah! Saya akan keluar sendiri!"
Sambil merengut, Clara berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Melihat gadis itu sudah pergi, kepala pelayan pergi, dengan diikuti oleh para pelayan muda lainnya.
"Kerjakan kembali tugas kalian!" perintah wanita itu sambil berjalan memasuki ruang tamu, dan para wanita muda itu menyahuti serentak.
Pelayan muda membubarkan diri, kembali ke tempat masing-masing. Sementara kepala pelayan berjalan menuju kamar Kiara, tanpa tahu bahwa gadis itu sudah pergi dari rumah ini.
Sesampainya di depan kamar, ia mengetuk pintu seraya berseru, "Nona, ini saya kepala pelayan. Boleh saya masuk?"
Tidak ada sahutan, ia mengernyit. Apa gadis itu tak mendengarnya?
Pintu kembali diketuk. "Nona, ini saya. Boleh saya masuk?" serunya lagi.
Semakin bikin was-was, tak ada balasan dari dalam. Mungkin saja gadis itu sedang tidak di kamar?
Ia memutuskan untuk mengeceknya. Dibukanya pintu kamar tanpa berseru atau meminta izin pada si pemilik kamar. Dan benar saja, kamar ini kosong!
Hatinya gelisah, tapi tetap berpikiran positif. Sebelum memerintahkan seluruh seisi rumah untuk mencari, ia memeriksa kamar ini terlebih dahulu. Namun, baik di kamar mandi, tak ditemukan sosok Kiara.
Pelayan itu telah berkumpul, langsung saja ia memberi perintah. "Beberapa pelayan cari nona Kiara ke seluruh rumah! Beritahu orang lain yang kalian temui untuk turut mencari!"
Serentak mereka menjawab "siap, Bi!", kemudian mereka berpencar melakukan perintah itu. Setelah itu, si kepala pelayan berjalan ke luar rumah untuk bergegas ke pos satpam. Sangking paniknya, ia berlari. Dan begitu sampai di sana, kedua satpam heran melihatnya muncul dengan napas terengah-engah.
"Pak, cepat cek rekaman CCTV!"
Perintah sepotong-sepotong itu membuat mereka heran. Lalu, salah satu dari mereka bertanya.
"Ada apa, Bi?"
"Nona Kiara ..." jawab si kepala pelayan, napasnya belum teratur. "Nona ... dia ... dia kabur...."
Kabur! Wajah kedua pria itu memucat karena terkejut. Buru-buru mereka mengecek rekaman CCTV hari ini. Kepala pelayan ikut nimbrung di depan layar dengan dahi mengernyit.
Sekitar 20 menit kemudian, mereka baru menemukan sebuah bukti bahwa Kiara kabur dari rumah ini. Kamera menangkap sosoknya yang sedang melewati pagar rumah ini sekitar kurang dari satu jam yang lalu.
"Bagaimana ini?" gumam salah satu satpam, bergidik.
__ADS_1
"Iya. Tuan Shawn pasti sangat marah," timpal satpam lain, mendelik ngeri.
Hal itu juga yang dipikirkan oleh kepala pelayan. Hukuman apa yang akan mereka dapatkan atas keteledoran mereka.
"Bi," panggil satpam bertubuh gemuk, menghentakkan lamunan wanita itu. "Apa Anda akan melaporkan hal ini pada tuan Shawn?"
Wanita itu termenung beberapa saat dengan bimbang dan resah. Pilihan yang sulit untuk diputuskan. Jika Shawn diberitahu, pria itu akan mendera para pelayan dan satpam. Tapi, jika tidak diberitahu, pria itu tetap akan marah, apalagi jika dia mengetahuinya dari orang lain.
Apa yang harus ia lakukan?
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia memutuskan. "Kita harus memberitahukannya pada tuan Shawn," gumamnya.
Sebelum kedua pria itu mengubah keputusannya, wanita itu bergegas pergi dari sana sambil menghubungi nomor tuannya.
Lagi, yang mengangkatnya sekretaris Shawn. Agak sedikit lega, tapi kecewa juga. Namun, ia tak bisa apa-apa karena kata Herman bahwa Shawn sedang menemui klien.
Terpaksa! Ia menghela napas panjang terlebih dahulu, kemudian ia berkata, "Tolong sampaikan pada tuan Shawn. Nona Kiara kabur!"
...🦋...
Panas dan lelah. Kiara luntang-lantung di jalan raya yang ramai. Jangankan toko mas, pasar saja tidak ada di sini. Yang ada hanya gedung-gedung tinggi, setelah keluar dari perumahan.
"Aduh, gimana ini?" keluhnya, memutar pandangan ke segala arah. "Ini ada di daerah mana sih?"
Kiara benar-benar buta jalan. Sepertinya, ini bukan jalanan di daerah Jakarta. Hampir setiap sudut daerah ibu kota ia susuri, pasti ia kenal nama jalannya. Mudah baginya untuk mencari jalan pulang. Tapi ini ... entah di mana.
Kaki sudah pegal, tumit juga sakit. Kiara memutuskan untuk duduk di tepi terowongan yang lampunya remang. Ia memegangi perutnya yang lapar. Hari sudah sore, dan ia tidak sempat makan siang sewaktu kabur tadi.
"Cari makan di mana, ya? Aduh, mana capek banget," keluhnya lagi sembari memijat betisnya.
Daripada kelaparan, sebaiknya ia cari makan. Dengan tubuh lemas, diseretnya langkahnya pelan. Dari kejauhan, segerombolan pria berpakaian preman berjalan ke arahnya.
Senyum licik mereka terkembang saat melihat Kiara yang tengah terhunyung menyusuri lorong. Lantas, mereka menghampirinya. Begitu sampai di depannya, mereka menghadangnya.
Kiara tertegun dengan mata sayu menatap mereka. Perasaan takut dan gugup menyergap. Perlahan, ia beringsut mundur.
"Mau apa kalian?" tanyanya, suaranya bergetar.
Pria di tengah maju selangkah seraya tersenyum mesum. Tanpa bisa dihindari, pria itu meraih dan menggenggam pergelangan tangan Kiara.
__ADS_1
"Hai, cantik. Main sama kami, yuk!"[]