Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Hampir


__ADS_3

Setelah membereskan pakaian-pakaian Shawn dan Kiara, kepala pelayan kembali ke kamar Kiara untuk memeriksa kembali ruangan itu.


Pelayan yang bernama Tati itu melihat ke sekitar kamar, menutup lemari dengan rapat, dan merapikan seprai. Namun, ia tertegun melihat sebuah benda tipis tergeletak di atas ranjang.


"Bukannya itu tablet milik nona Kiara?" gumamnya, lalu berputar ke sisi terdekat untuk meraih benda itu.


Namun, ia terkesiap kala layar tablet tiba-tiba menyala. Ada yang menelepon, dari nomor asing. Bi Tati mengernyit, memegang tablet hingga deringnya habis.


Karena tak terkunci, Bi Tati bisa dengan bebas melihat-lihat isi tablet, termasuk daftar nomor yang dihubungi Kiara.


Dahi wanita paruh baya itu mengkerut melihat daftar nomor asing yang ada di sana. Ia menyimpulkan, bahwa selama ini Kiara menghubungi nomor-nomor itu.


Tapi, yang jadi pertanyaan: siapa yang sedang Kiara hubungi?


Alih-alih menghubungi nomor-nomor itu, Bi Tati mengeluarkan ponselnya dari saku, memotret daftar itu, lalu mengirimnya ke sebuah itu. Tidak hanya itu, Bi Tati juga menghubungi nomor yang dikirimi foto tadi.


"Halo, saya mengirimkan sebuah foto. Tolong selidiki nomor-nomor yang ada di foto itu!"


...🦋...


Renita keluar dari kamar mandi sambil memainkan ponselnya. Ia sedang sibuk mencoba mengirimkan pembayaran lewat m-banking. Namun, ia berhenti sejenak dengan dahi mengernyit.


"Lho? Kok nggak bisa?" gumamnya bingung.


Ia mendecak, menurunkan ponselnya dengan jengkel. Kakinya hendak dilangkahkan kembali sambil menatap ke arah kanan tanpa disengaja. Renita melihat dengan jelas sosok Kiara dengan seorang pria yang membeli gadis itu.


Sontak, Renita membalikkan badan, mendelik panik. "Kiara? Kok dia ada di sini? Gawat! Kalau Kelvin sampai melihatnya...."


Benar, anak itu! Renita harus bergegas membawanya pergi dari sini!


Wanita itu terbirit-birit menghampiri anaknya. Kelvin tersentak dan buru-buru memasukkan ponsel milik kakaknya ke dalam tas.

__ADS_1


"Kelvin, yuk, kita pergi!" Renita langsung menarik tangan Kelvin, dan menyambar gagang koper.


Kelvin bingung, menahan helaan Renita. "Kenapa, Ma? Apa Mama udah tahu di mana tempat tinggal kakak?"


Justru Renita ingin menghindari gadis itu. Namun, ia menjawab dengan nada agak jengkel. "Iya! Makanya, kita harus segera ke sana!"


Memang agak janggal, tapi jika memang benar Renita mau membawanya pada Kiara, Kelvin manut saja. Gegas, Kelvin menggemblok ranselnya, lalu Renita menariknya pergi sambil menyeret koper.


Rupanya, Shawn menyeret Kiara di depan bandara, di mana sebuah mobil mewah hitam sudah menunggu. Kebetulan sekali, Renita menunggu taksi di sana juga, tapi bedanya jarak berdiri mereka cukup jauh.


Mata Renita menerawang ke segala arah mencari taksi. Ia bergidik ketika melihat Shawn dan Kiara yang akan masuk ke dalam mobil. Sontak, Renita memutar badan Kelvin ke hadapannya agar tidak melihat sosok kakak tirinya itu.


Kelvin heran, lalu bertanya, "Ada apa, Ma?" Alisnya naik sebelah.


Renita telalu sibuk melihat ke arah mereka, memastikan bahwa Kiara sudah masuk mobil. "Ah, enggak. Nggak apa-apa," jawabnya tak fokus.


Tentu saja ini mencurigakan, seperti ibunya tengah menyembunyikan atau mengalihkannya dari sesuatu. Kelvin penasaran, ingin menoleh ke belakang. Tetapi, Renita buru-buru menghela pipi Kelvin ke hadapanya kembali.


"Kenapa sih, Ma?" sahut Kelvin jengkel. "Mama sembunyikan apa dari aku?"


"Nggak kok, sayang. Tadi itu Mama takut ada renternir yang ngejar-ngejar kita."


"Renternir?" seru Kelvin ketus, lalu tersenyum sinis. "Bukannya semua uang hasil menjual kak Kiara sudah untuk membayar utang-utang kita? Untuk apa lagi mereka mengejar?"


Seketika wajah Renita muram. Anak yang biasanya berkata lembut, kini menyahutinya dengan ucapan bernada tajam. Mungkin karena Kelvin kesal sudah dipisahkan oleh Kiara, dan dirinya yang dengan tega menjual gadis itu.


Ini memang salahnya, dan Renita memahaminya. Mungkin, setelah Kelvin tahu bahwa ia sudah menipunya, kekecewaan Kelvin bertambah besar.


Renita menghela napas getir. "Ya udah, kita ke hotel, yuk! Mama panggil taksi dulu, ya."


...🦋...

__ADS_1


Kiara menatap ke luar jendela sementara mobil berjalan. Shawn tidak lagi menggenggam tangannya. Entah sedang apa pria itu sekarang, ia ora urus! Kiara enggan melihat wajahnya, bahkan muak.


Shawn sendiri tengah menatapnya. Tangannya bergeming di atas paha, tetapi jemarinya terus bergerak seakan ingin membelai rambut cokelat panjang dan lurus milik Kiara.


Akhirnya, Shawn enggan, dan memilih mengalihkan perhatiannya pada Herman yang sedang duduk di samping sopir. "Herman, apa kau sudah menyuruh para pelayan mempersiapkan kamar kami?"


Kamar kami? Telinga Kiara menegak, tiba-tiba tertarik dengan percakapan Shawn dan sekretarisnya.


"Sudah, Tuan. Tapi, Anda yakin ingin tidur di kamar yang sama dengan nona Kiara?" tanya Herman ragu seraya melirik Kiara sekilas.


Apa? Sekamar? Sontak Kiara menoleh dengan mata melotot sembari berseru protes. "Nggak! Saya nggak mau tidur sekamar dengan dia!"


Ekspresi yang sudah Shawn duga. Diam-diam Shawn tertawa geli sambil membuang muka. "Memang kenapa?" timpalnya kemudian, kembali menoleh pada Kiara. "Kita akan menikah. Tidak akan masalah jika kita tidur bersama. Lagi pula...." Shawn mengulurkan tangannya, meraih, lalu merem*s dagu Kiara. "Kita pernah tidur bersama, 'kan?"


Remas*an jemari panjang Shawn agak menyakitkan. Kiara menghelanya dengan kasar, menantang pria itu balik meski tanpa kata. Kiara menatap lurus sambil melipat kedua tangannya di dada dengan wajah merengut.


Pria kurang ajar itu, apa tidak malu membeberkan masalah ranjang mereka di hadapan para bawahannya?


Siapa yang peduli? Para bawahan Shawn hanya mendengar, tapi tidak akan membicarakannya. Shawn memakai kekuatan uang untuk membungkam para bawahan agar tak membicarakan semua hal yang diucapkan dan yang dilakukan oleh majikannya.


Jadi, jika Shawn ingin memperk*sa Kiara di dalam mobil, sopir dan sekretarisnya takkan ikut campur, bahkan berpura-pura tidak tahu.


Shawn seorang milyuner yang memiliki rumah pribadi di beberapa negara yang menjadi tempat bisnisnya dibangun. Jadi, ketika ada urusan bisnis, ia bisa tinggal menempatinya. Tidak ada yang tahu, bahkan termasuk ayah dan Renata, bahwa dirinya punya rumah pribadi.


Mobil ini berhenti di salah satu rumah inap Shawn. Rumah ini tak kalah mewah dari rumahnya yang ada di Jakarta. Ciri khas dari rumah yang dibangun adalah pagar kayu yang tinggi.


Kiara heran. Kenapa Shawn suka sekali dengan rumah berpagar tinggi. Seperti petapa saja, yang tinggal di lingkungan tertutup dan terbatas. Tapi, Kiara cukup terpana dengan kemegahan rumah ini.


Bangunan rumah berlantai dua. Ubin rumah terbuat dari marmer yang bersih, sehingga ia bisa melihat bayangan dirinya. Kiara terkesan kala dirinya disambut oleh para pelayan begitu pintu rumah dibuka oleh Herman.


Kiara terkesiap, tangannya kembali digenggam oleh Shawn. Tanpa rasa malu, Shawn terburu-buru membawanya masuk ke dalam rumah. Alih-alih mempersilakan Kiara untuk duduk di ruang tamu seraya disuguhkan minuman dan camilan, Shawn malah menghempaskannya ke ranjang yang sudah disiapkan oleh pelayan.

__ADS_1


Pintu dikunci oleh pria itu. Kiara bergidik, merangkak mundur melihat Shawn membuka kancing kemejanya sambil mendekatinya.


"Nggak! Jangan mendekat! Anda mau apa?!" jerit Kiara gemetaran.[]


__ADS_2