
Kiara menoleh dengan tertegun sejenak. "Ah? Emang kamu mau ngomong apa? Jadi penasaran?" Senyumnya riang seraya menutup pintu kamar.
Kelvin menyimpan rahasianya dengan senyuman, sengaja ingin membuat Kiara penasaran. Bagusnya Kiara tak mendesak lagi, ia juga menantikan apa yang diucapkannya pada Shaun nanti.
Shaun sudah sampai di restoran lebih dulu. Kiara terpana melihat pria itu tengah duduk di meja yang sudah dipesankan. Shaun sangat tampan hari ini, bahkan lebih bersinar dengan senyum tipisnya ketika Kiara dan Kelvin sampai di sana.
Shaun mengenyahkan pandangannya dari tablet, mempersilakan keduanya duduk dengan sopan. "Pagi, silakan duduk."
Kelvin duduk dengan canggung, sementara Kiara tersenyum membalas sapaan Shaun, baru duduk.
Hidangan langsung disiapkan tanpa meminta Kelvin dan Kiara melihat daftar menu dan memesannya. Shaun meraih roti panggang dan esspresso hangat yang langsung diseruputnya.
Kelvin melirik Shaun yang tengah memotong roti panggang sambil berpikir ragu. Tak sabar rasanya ingin menuangkan segala hal yang ada di dalam pikirannya, tapi urung terus karena takut mengganggu sarapannya. Apalagi, temperamen pria itu dingin, kalau marah pasti sangar.
Kiara merasakan keheningan ini mengganggu. Terlalu terbiasa suasana sarapan yang hangat dengan obrolan ringan ketika keluarganya masih lengkap, jadinya merasa aneh jika suasananya seperti ini.
Teringat bahwa adiknya ingin mengatakan sesuatu. Kiara melirik, lalu mendeham. "Kelvin, katanya ada yang mau kamu omongin? Apa itu?" pancing Kiara, tersenyum lebar penuh harap ada reaksi dari adiknya.
Perhatian Shaun berhasil mengarah pada Kelvin. Namun, remaja itu malah semakin kikuk, apalagi mengetahui Shaun tengah menatapnya.
"Oh, iya? Mau bicara apa?" Respons Shaun, tak mempermasalahkannya, lalu dengan tenang meminum kopinya.
Kelvin terpana menatap Shaun. Pria itu bersedia mendengarkan? Senang sekali rasanya, gumam Kelvin dalam hati, merasa tersanjung.
"Em ... tidak begitu penting sih?" gumam Kelvin, menyengir malu.
"Katakan saja," desak Shaun lembut, tatapannya makin fokus pada Kelvin. "Aku akan mendengarkan."
Tak menyangka sikap Shaun sebaik ini pada adiknya. Diam-diam senyuman memuji terulas dari bibir Kiara. Ia pun turut fokus memandang kedua pria itu secara bergantian.
Kelvin mempersiapkan diri dan mencoba tak gamang menatap Shaun. Setelah dirasa hatinya perlahan tenang dan siap, maka ia berkata, "Aku merestui Tuan Shaun menikahi kakak saya."
Shaun terkesiap, terkejut sejenak. Kiara pun juga terkejut, lalu hatinya menghangat. Entah apa yang membuat hati adiknya melunak dan tak lagi meragukan Shaun.
"Benarkah?" Shaun tersenyum diplomatis. "Saya sangat senang mendengarnya."
"Tapi," sahut Kelvin cepat. "Saya harap Anda menepati janji Anda yang akan selalu membahagiakan kakak saya."
Sinar geli terpancar di mata Shaun. Bukan karena mencemoohnya, tapi karena ucapan dari anak sebesar itu terdengar lucu saja. Namun, ia tak secara terang-terangan menertawakannya.
Shaun hanya tersenyum, dan memajukan tubuhnya sedikit. "Kalau begitu, kita buat janji sesama pria, bagaimana?"
__ADS_1
"Janji sesama pria?" tanya Kelvin ragu, menaikkan alisnya sebelah.
"Iya." Shaun mengangguk. "Bukannya kita sama-sama pria?"
Dan Kelvin mengangguk polos.
Shaun mengacungkan jari telunjuknya pada Kelvin. Lelaki remaja itu tercengang lalu mengernyit. Apa ini? Dikira dia anak kecil disuruh berjanji dengan cara itu?
"Ayo, kita berjanji!" kata Shaun, menggerakkan jari kelingkingnya untuk segera disambut.
Meski ini agak terasa janggal, Kelvin melingkarkan jari kelingkingnya pada jari Shaun.
"Sebagai seorang pria, saya Shaun Enrique berjanji untuk membahagiakan Kiara, kakak kamu, selamanya," ikrarnya, melirik sesekali pada Kiara seraya tersenyum penuh arti.
Lalu, Shaun mengubah gerakan tangannya, menjabat tangan Kelvin seraya berseru, "Deal!"
Janji yang diucapkan Shaun membuat Kelvin terpana beberapa saat, sampai tak menyadari jabatan tangan Shaun. Setelah keterpanaannya menghilang, Kelvin turut berseru juga walaupun kikuk.
"De ... deal!"
Shaun menarik tangannya, tersenyum puas. Kiara menghela napas dan tersenyum lega. Entah mengapa ia merasa tegang kala Shaun mengucapkan ikrarnya. Apa ia merasa antusias?
Shaun mengambil pisau dan garpunya, lalu memotong rotinya seraya berkata, "Dan jangan lupa datang ke akad nikah kami. Kau di undang, Kelvin."
"Baik, Tuan."
"Jangan panggil aku 'tuan', tapi kakak. Bisa?"
Hubungan ini belum terlalu akrab, jadi agak aneh dan canggung untuk mengubah panggilan itu pada Shaun. Tapi setidaknya, Kelvin mengangguk setuju. Bukan sekarang, mungkin akan ada waktunya ia memanggil Shaun dengan panggilan "kakak".
Seusai sarapan, Shaun berangkat ke kantor, untuk sekalian mengantarkan Kelvin ke tempat tinggalnya bersama dengan Renita. Kiara mengantarkan kedua pria itu sampai ke mobil.
Kelvin masuk duluan ke dalam mobil. Tiba-tiba, Kiara merasakan pinggangnya dipeluk oleh satu tangan dari belakang. Ia menoleh terkejut, melihat wajah Shaun menyandarkannya ke bahunya. Shaun mengecup lehernya, membuat Kiara bergelinjang.
"Aku sangat senang mendengar ucapan adikmu. Entah apa yang kau bicarakan untuk membujuknya," bisik Shaun, menggelitik hasrat Kiara.
"Aku tak mengatakan apa pun," jawab Kiara, agak berbisik. "Lepaskan aku. Semua orang melihat ke arah kita."
Shaun mengusap telinga Kiara, sehingga gadis itu merasakan sensasi geli. "Kenapa? Kau malu pada orang atau pada adikmu?" Lirikan nakal pria itu mengarah sejenak pada Kelvin yang sempat melihat kemesraan itu, lalu membuang muka ketika kepergok.
"Keduanya!" seru Kiara lirih. "Jadi, lepaskan aku."
__ADS_1
Kiara berusaha melepaskan gelungan lengan Shaun di pinggangnya, tetapi pria itu semakin kuat memeluknya. Senyuman terkembang lebih lebar, menelurkan ide cabul dalam benaknya.
"Baik, aku akan melepaskanmu," bisik Shaun, suaranya bagai desau angin yang mengelitik telinganya. "Kau harus janji dulu untuk menepatinya."
Apa lagi ini? Kiara menghela napas pasrah, terpaksa mengalah supaya pria itu mau menghentikan hal ini. "Oke, aku janji."
Hati Shaun bersorak girang, memperlihatkan kemenangannya dengan senyum lebar yang licik bagai serigala yang berhasil menjerat mangsanya.
"Oke, kalau gitu. Nanti malam kita bermain di ranjang lagi."
Kiara mendelik dan menoleh cepat. "APA?!" serunya kaget.
"Oke, deal!" kata Shaun, langsung melepaskan pelukan dan masuk ke dalam mobil sebelum Kiara memprotesnya.
Ya, Kiara memang mau protes, tapi terlambat karena Shaun keburu masuk ke dalam mobil. Kiara hanya dapat merengut dengan mulut ternganga ketika melihat Shaun tersenyum meledek ke arah sebelum masuk ke dalam mobil.
Dia sengaja melakukan itu? Kenapa ia mudah sekali terjerat oleh pria itu? Dan sekarang, Shaun menginginkan permainan ranjang? Mereka kan belum menikah?
Sontak Kiara mendelik dengan pipi memerah sesaat sebuah pemikiran muncul. Jangan-jangan yang dimaksud Shaun itu ... permainan yang tadi malam?
Kalau begini terus, Shaun semakin sewenang-wenang melakukan hal itu. Kiara takut perasaannya akan terpengaruh karena permainan yang membangkitkan hasratnya itu.
...🦋...
Dave mendecak. Mobilnya baru terparkir di seberang kediaman Shaun yang waktu itu didatangi. Ibunya bawel sangat, terus menerus menanyakan soal penyelidikan Shaun. Padahal, ia tak berniat melakukannya, kalau saja tidak diiming-imingi membuka blokir kartu kreditnya.
"Iya, iya, aku selidiki dia," rutuknya ketus, lalu menggerutu pelan. "Bawel banget emak-emak."
"Apa katamu?" bentak ibunya di seberang telepon, sontak Dave tersentak.
"Eng ... enggak! Ya udah, ya, Ma. Aku udah sampai di depan rumah Shaun nih." Sebelum kena semprot, buru-buru Dave mematikan telepon.
Nah, sekarang giliran mengerjakan tugas! Dave turun dari mobil setelah mematikan ponsel. Ia menyebrang, lalu berlari kecil menuju rumah Shaun di Singapura.
Dave mengernyit melihat sebuah kertas tertempel di depan pagar rumah. Larinya dipercepat, membaca tulisan pada kertas putih itu adalah hal yang pertama dilakukan sesampainya di sana.
"Dijual?" gumamnya melongo. "Cepat banget nih rumah ganti status? Baru kemarin menginjakkan kaki di sini?"
Dave gusar bukan main, memukul pahanya karena sangking kesal. Kalau seperti ini, bagaimana mau menyelidikinya? Untuk mencari rumah Shaun saja butuh berhari-hari.
"Bisa-bisa Shaun sudah balik duluan ke Jakarta sebelum aku...."
__ADS_1
Dave ternganga sebab sebuah ide cemerlang melesat di benaknya. Kemudian, senyumnya terkembang. Ide ini bahkan lebih bagus, daripada mencari rumah persinggahan baru Shaun.[]