Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Bagaimana aku dijual


__ADS_3

Rumah sepi setelah ayah Kiara dirawat. Kelvin sekolah, sementara Kiara langsung ke rumah sakit setelah dari mengajar.


Meski disuruh istirahat di rumah oleh Kiara, Renita tetap selalu kepikiran pada suaminya. Ia berbelanja, lantas langsung memasak begitu sampai di rumah.


Dalam satu jam tiga masakan telah tersaji. Lalu, ia sajikan dalam rantang makanan berukuran besar.


"Kiara pasti belum makan siang," gumamnya seraya tersenyum senang karena membuatkan makanan kesukaan untuknya. Namun, kemudian raut wajahnya berubah muram, termenung, dan menghela napas. "Kasihan dia. Kepikiran papanya terus. Aku khawatir jika dia sampai sakit nantinya."


Sebelum hal itu terjadi, ia harus bergegas kembali ke rumah sakit. Namun, baru saja akan melewati pintu keluar, beberapa pria berbadan besar dan berwajah sangar memasuki rumahnya.


Seorang pria berbadan gemuk, yang merupakan atasan preman itu, menghampiri Renita sambil tersenyum begis. Kaki Renita yang gemetaran melangkah mundur, ketakutan.


"Mau ke mana Nyonya Rahardi?" tanya pria itu, lalu melirik rantang makanan yang dipegang oleh Renita. "Oh, makanan! Pantas saja baunya enak."


Spontan Renita menyembunyikan rantang itu ke belakang. "Kalian mau apa? Suami saya sedang tidak ada di rumah," katanya terbata-bata.


"Ya, saya tahu. Kami punya banyak telinga, jadi mudah untuk mengetahui hal sereceh itu," timpal pria itu, tawanya menggema kemudian. "Tapi, kami tidak peduli mau pak Rahardi ada di sini atau tidaknya. Kalian harus tetap membayar utang!"


Pria itu merenggut lengan Renita dengan kasar, sehingga rantang yang dipegangnya terlepas. Rantang itu terjatuh di lantai, isinya pun berantakan. Renita menatapnya dengan getir.


Pria itu mendekatinya, lalu menghela dagu Renita supaya dia menatapnya. "Nyonya, selagi saya masih berbaik hati, sebaiknya Anda berikan uangnya pada kami sekarang juga," ucapnya dengan suara parau yang membuat Renita semakin gemetaran. Lalu, ia menghempaskan dagunya dengan kencang.


Tapi, uang dari mana? Saat ini Renita tidak memegang uang banyak. Ia bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Kepasrahan yang membuatnya memilih berlutut di hadapan pria itu sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Pak, saya mohon. Beri kami waktu. Saat ini, saya tidak punya uang sepersen pun untuk...."


"Alasan basi!" bentak pria itu menukas. "Oke, kalau begitu. Anak-anak, obrak-abrik rumah ini! Temukan barang berharga apa pun yang bisa kita ambil!"


Mendengar hal itu, Renita terhenyak. Ia tak bisa membiarkan hal ini. Dengan mengorbankan harga diri, Renita meraih kaki pria itu dan memeluknya seraya memohon.


"Pak, tolong jangan obrak-abrik rumah saya. Saya janji, saya akan melunasi semua utangnya segera."


Pria itu sudah muak menelan semua permohonan dari pengutang macam dia. Tak peduli apakah dia wanita atau bukan, ia bisa tega kepada mereka. Bahkan, ia tak segan menendang Renita sampai tersungkur dan kesakitan.


Keadaan rumah begitu berantakan, beberapa porselen dan barang yang terbuat dari kaca pecah. Sang pemimpin renternir tertawa senang tanpa memedulikan Renata yang tengah menangis pasrah di bawah kakinya.


"Sudah cukup!" serunya pada anak buahnya, setelah puas melihat keadaan rumah yang mirip kapal pecah itu.

__ADS_1


Anak-anak buahnya kembali berkumpul di belakang sang pemimpin dengan tangan kosong. Dia dan bersama pria itu menatap Renata sambil tersenyum bengis.


"Rumah besar, tapi tidak ada barang berharga. Huh, payah! Yuk, kita pergi saja! Tapi ..." Pria itu membungkuk sedikit ke arah Renita yang sedang tertunduk, dan kemudian ia berkata lagi. "Kami akan kembali ke sini besok. Jadi, kami tidak mau tahu, uangnya harus ada besok. Kalau tidak, kami akan melakukan sesuatu hal yang lebih parah dari ini. Paham!"


Dalam keadaan kalut dan ketakutan, Renita mengangguk pelan. Jawaban itu cukup memuaskan, pria itu lantas menyuruh anak buahnya untuk pergi dari tempat ini.


Air mata yang tertahan, Renita tumpahkan setelah para preman itu pergi. Seorang pelayan yang melihat peristiwa itu keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menghampiri nyonya besarnya itu. Dia berjongkok di sampingnya, merangkulnya sambil mengelus pundaknya.


"Aku harus bagaimana? Kenapa keluarga ini mengalami cobaan seberat ini?" tangisnya.


"Sabar, Nyonya, pasti ada jalan keluar," kata pelayan itu, yang turut merasa bersedih.


Jalan keluar. Yang terpikirkannya adalah tawaran dari seorang pria tampan yang datang beberapa kali ke rumahnya waktu itu. Ia mendengar semua percakapan antara suami dan pria itu, karena saat itu ia tengah mendampingi suaminya.


Pria itu mau membebaskan semua utangnya, tapi dengan sebuah syarat.


Namun, syaratnya itu....


Renita jadi goyah. Tangannya terkepal, tangisannya berhenti sebab tenggelam dalam pikirannya. Lalu, perlahan ia kepalanya terangkat dan menyeka air matanya. Ia sudah membuat keputusan mantap.


Iapun beranjak, bergegas menuju ruang kerja suaminya. Sesampainya di sana, dihampirinya meja kerja, mengobrak-abrik isi sebuah laci. Ia ingat betul bahwa suaminya meletakkan benda itu di sana.


Tanpa buang waktu, Renita meraih gagang telepon, menekan tombol angka yang sama dengan nomor telepon yang tertera pada kartu itu.


Entah ini keberuntungan, teleponnya direspons dengan cukup cepat. Namun, yang mengangkatnya adalah sekretarisnya.


"Halo, saya Renita Rahardi," cetusnya langsung, begitu teleponnya diangkat. "Bisakah saya berbicara dengan tuan Shawn Wiryatama?"


.


.


.


Setelah dihubungi, pria bernama Shawn dan sekretarisnya datang ke kediaman Rahardi sesuai dengan permintaan.


Rumah sudah dibersihkan dan dirapikan. Kedatangan mereka disambut oleh seorang pelayan. Lalu, kedua pria itu dibawa menghadap Renita, yang sudah menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


Kedua pria itu tiba di depannya. Mereka menyapa, tapi Renata hanya bergeming dan membalas sapaan dengan nada datar.


"Jadi, Anda sudah berubah pikiran?" tanya Shawn, senyuman sinisnya terkembang.


Renata tak menjawab, tapi kemudian berkata, "Langsung saja, saya ingin segera menandatangani perjanjian itu."


"Anda yakin ingin menyerahkan Kiara padaku? Pak Freddy kemarin sudah menolak keras syarat itu."


Wanita itu terdiam, goyah lagi. Ini memang keputusan berat, namun ia harus melakukan ini demi keluarganya.


"Ya, saya yakin." Renita mengangguk mantap.


Shawn tersenyum puas. Lalu, ia meminta sekretarisnya untuk mengeluarkan sebuah berkas, yang kemudian diberikan pada Renita.


"Silakan dibaca dulu," saran pria berkacamata itu sambil melekkan sebuah pulpen di samping berkas.


Tak perlu. Renita menandatangani berkas itu tanpa membuang waktu. Setelah selesai membubuhkan tanda tangan, berkas itu diberikan kembali pada sekretarisnya Shawn.


Sebagai tanda sepakat, Shawn mengulurkan tangan ke hadapan Renita, dan wanita itu menjabatnya.


"Uangnya akan saya transfer."


"Tapi, tolong jangan ambil Kiara dulu. Biarkan Kiara berada di sini sampai keadaan ayahnya membaik."


"Tidak masalah," jawab Shawn santai seraya tersenyum simpul.


Dan itulah yang terjadi. Shawn menceritakan dari awal soal perjanjian itu. Kiara syok mendengar semua cerita itu. Ternyata, ibu tirinyalah yang menjualnya.


Kenapa dia setega itu?


"Tidak mungkin. Mama ... dia...," ceracau Kiara, matanya berkaca-kaca.


Shawn tahu akan seperti ini. Cerita tentang kedekatan Kiara dengan ibu tirinya sudah didengarnya. Kiara pasti akan sulit memercayainya.


"Aku tidak memaksamu untuk memercayainya," katanya seraya beranjak. "Aku sudah menceritakan semuanya padamu. Apa sekarang kamu sudah puas?"


Kiara tak mendengar ucapan pria itu, otaknya sudah dipenuhi cerita Shawn dan berusaha membantahnya meski kadang memercayai cerita itu.

__ADS_1


Saat ini, yang diperlukan oleh Kiara adalah kesendirian. Shawn memilih pergi dari tempat ini tanpa mengusiknya, meninggalkannya yang tengah hancur seraya menangis.[]


__ADS_2