Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Sweet Man


__ADS_3

Shawn makin mendekat. Kiara membeku menatap pria itu. Terasa bibirnya disentuh sedikit, Kiara menelan air liurnya. Shawn akan mel*umat bibir ranumnya, tetapi ponsel Shawn berdering.


Shawn mengomel dalam hati. Geram sekali ketika gairahnya memuncak, ada saja gangguannya. Kiara menghela napas panjang, entah kenapa malah menjadi lega, padahal ia juga menunggu momen itu.


Sambil menggerutu Shawn grasak-grusuk mengeluarkan ponselnya dari saku. Henry! Mengganggu saja pria itu! Meski kesal, Shawn tetap mengangkat telepon itu.


"Ya, halo," jawabnya gusar.


"Pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda," sahut Henry ragu karena tahu bahwa Shawn marah jika diganggu.


"Siapa lagi?" decak Shawn sewot. "Kan saya sudah bilang sama kamu kalau mulai sore tadi jadwal saya dikosongkan!"


"Tapi, Pak. Dia mendesak saya untuk segera mempertemukannya dengan Anda."


Tidak pernah ada klien, bahkan tamu seresek ini. Semua koleganya segan dan tunduk padanya, tapi orang ini ... siapa si pengganggu ini?


Shawn menghela napas kencang. "Dia ingin bertemu di mana?"


"Di rumah ... Anda."


Sepertinya firasat Henry benar, Shawn langsung berseru marah sembari beranjak dari kursinya. "Apa? Siapa dia? Bagaimana dia bisa tahu kediamanku di Singapura?"


Henry mengatakan nama itu dengan hati-hati. Tapi kali ini, Shawn tidak lagi berteriak kencang di ujung telepon, yang membuat telinga sekretarisnya itu pengang.


Kiara menunggu, melihat Shawn yang begitu serius menerima telepon itu. Ia penasaran, siapa yang menghubunginya? Kenapa sampai rahang pria itu mengeras dan berteriak marah begitu?


"Oke, aku akan pulang. Jemput aku dengan mobil lain!" pungkas Shawn, nadanya geram dan dingin. Kemudian, ia menutup teleponnya.


Shawn asyik menggerutu tanpa menyadari keberadaan Kiara sesaat. Namun, ketika matanya teralihkan pada gadis itu, Shawn kembali duduk di tempatnya dengan berhadapan padanya.


"Kiara, dengarkan aku," kata Shawn, menatapnya lekat dan serius. "Habiskan makananmu, aku ingin menemui seseorang dulu."


Kiara menganggukkan kepala. "Ada apa? Apa ada yang nggak beres?"


Pertanyaan ini, apa berarti Kiara mengkhawatirkannya? Shawn tersenyum, hatinya bersorak riang. "Nggak kok, cuma aku harus mengusir seekor kecoak pengganggu," jawabnya, meletakkan tangannya di bahu Kiara.

__ADS_1


Tapi, tatapan dan senyuman misterius Shawn saat mengatakannya membuat Kiara semakin penasaran. Apalagi, dia mengatakan "seekor kecoak", itu berarti ada seseorang yang sedang mengusiknya. Siapa?


"Dan, kalau kau sudah selesai makan," Shawn melanjutkan, "telepon Henry, nanti ada sopir yang menjemputmu."


Mata Kiara membulat. "Aku pulang tanpamu?" tanya tertegun.


Shawn melirik ke arah lain, tanda sedang berpikir. "Kalau urusanku sudah selesai, aku akan menemuimu."


Janji itu kenapa terasa manis di telinga Kiara. Apa ia terbuai? Namun, Kiara tak menunjukkan ekspresi apa pun, bahkan tersenyum. Shawn juga tak kecewa jika gadis itu tak beraksi apa pun.


Shawn beranjak setelah mengatakannya. Barulah Kiara menunjukkan ekspresi terkejutnya kala Shawn mengecup singkat bibir. Shawn tersenyum jahil, lalu berkata:


"Sangat manis. Aku pergi, ya."


Kiara mematung sambil mengikuti arah menghilangnya pria itu. Tanpa disadari, perlahan Kiara menyentuh bibirnya dengan jemarinya.


"Pria itu ..." gumamnya, kemudian menggerutu kesal. "Dia semakin kurang ajar!"


...🦋...


Shawn berdiri di ambang pintu, menatap dingin dan geram pada tamu yang sedang berdiri sambil menatap sebuah lukisan. Kemudian, Shawn melesat ke hadapannya dengan derap langkah kencang.


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku berada di sini?" tanya Shawn, nada ucapannya dalam bagai sebuah jurang yang dingin dan membuat siapa pun bergidik.


Namun, pria itu malah tersenyum mencemooh seraya menggapai ujung bingkai lukisan. Pria itu adalah Dave. "Sejak dulu, kau tidak pernah bersikap manis pada sepupumu ini, ya? Padahal, aku sangat menyukaimu, lho?"


Shawn mendengus sinis. "Simpan saja basa-basimu yang basi itu. Jawab saja pertanyaanku!" timpalnya ketus tanpa perasaan.


"Oh, Hyung!" Pria itu berbalik ke hadapannya, ekspresinya berpura-pura memelas. "Aku bersusah payah mencarimu, dan aku ke sini untuk healing sekalian menghindari mama sejenak. Apa kau tidak mau menunjukkan sedikit kemurahan hatimu padaku?"


Ucapan manis yang memuakkan, Shawn paham maksudnya. Kemurahan hati? Silakan berharap saja!


"Tidak, aku tidak akan mengijinkanmu tinggal di sini. Tidur saja sana di hotel. Ibumu sangat menyayangimu, 'kan? Mudah bagimu membujuknya mengirimkan banyak uang untuk kau hambur-hamburkan," sembur Shawn sengitnya minta ampun.


"Aduh, Hyung. Kalau itu bisa kulakukan, aku mana mungkin mengemis padamu, 'kan?" Dengan santai, Dave membalikkan semua sindiran Shawn. "Lagi pula, di sini banyak kamar kosong yang bagus. Aku sempat melihat beberapa kamar di rumah ini. Kalau sekretarismu tak menghalangiku, aku sudah memilih salah satunya untuk kutempati."

__ADS_1


Henry terhenyak kala tatapan dingin sekejap Dave padanya. Ia cemas jika perlakuan buruknya pada anak Renata akan membuat kehilangan pekerjaan. Namun, Shawn mengatakan pembelaan yang membuatnya lega.


"Sekretarisku melakukan tugasnya dengan baik." Shawn berkata seraya tersenyum pada Henry sejenak. "Aku akan memberikannya bonus kalau saja dia mau mengusirmu. Karenamu, acara makan malam istimewaku terganggu."


Sebenarnya, Dave sangat tersinggung, tapi disembunyikannya dengan tetap tersenyum khasnya. Dave masih tak gentar. "Oh, Abangku terganteng. Jangan kayak gitulah!" Ia berkata santai seraya menepuk bahu Shawn, tanpa menghiraukan ekspresi gusar sepupunya itu. "Aku nggak tahu minta bantuan pada siapa lagi di negara asing ini."


"Kalau begitu, kenapa kau ke sini?" sela Shawn, tatapan dinginnya semakin menusuk.


"Kan aku bilang, aku merindukanmu dan om Surya. Tadinya, aku ingin tidur ke hotel, tapi mama malah membekukan kartu kreditku."


Tak tahan dengar ucapannya, Shawn bergegas mengeluarkan dompet dan menyodorkan sebuah kartu kreditnya. "Pakailah sesukamu! Puas? Enyahlah! Aku tidak mau melihatmu lagi!"


Pada akhirnya Dave malah gagal menyusup ke dalam rumah ini. Tidak akan ada bonus dari mamanya. Black card miliknya terancam dibekukan oleh wanita itu.


Terpaksa, Dave menerima kartu dari Shawn. Ia sudah terusir, jadi mau tidak mau ia menginap di hotel dengan menggunakan kartu itu. Dave menyeret kopernya dengan berat hati dan tanpa mengucapkan terima kasih pada Shawn.


Suasana hening sampai Dave benar-benar keluar dari rumah ini. Diam-diam Shawn menghela napas lega, lalu mengatur sebuah rencana dadakan.


Tak lama kemudian, Shawn berbalik menghadap sekretarisnya. "Henry, jual rumah ini secepatnya! Cari rumah baru yang tidak mudah terlacak keberadaanya. Aku akan tinggal di hotel untuk sementara waktu bersama dengan Kiara. Pindahkan semua barang-barang kami."


"Baik, Pak," sahut Henry seraya menunduk hormat.


...🦋...


Kiara termenung seraya memandangi kursi kosong yang tadi ditempati oleh Kelvin. Hidangan makan malamnya tidak habis. Kiara tak berselera sejak pertemuan yang menyayat hatinya berlangsung beberapa menit yang lalu.


Hari ini, hari terakhir dirinya bertemu dengan sang adiknya. Caranya juga memilukan.


Hmm ... air mata tergenang lagi.


Kiara meraih gelasnya, menenggak sisa wine yang hanya tinggal sedikit. Setelah habis, ia mendengar sebuah suara memanggilnya.


"Kakak!" Begitulah suara itu yang terdengar olehnya.


Kiara menoleh ke arah suara itu, terkesiap melihat sosok seseorang yang ada di ambang pintu.

__ADS_1


"Kelvin?"[]


__ADS_2