Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Untitled


__ADS_3

Shawn nyaris membuat ponselnya rusak jika saja Herman datang ke dalam kantornya tepat waktu. Herman menangkap ponsel yang dilempar Shawn, sempat terkejut sejenak, dan tercengang menatap bosnya.


"Tuan memanggil saya?" Lalu, Herman menghampiri meja Shawn, sekalian meletakkan ponsel itu.


Dengan masih ada kekesalan tersisa, Shawn duduk di kursinya seraya menjawab, "Apa mereka sudah pindah dari rumah itu?"


"Sudah, Tuan. Mereka hanya menyisakan barang-barang mereka."


"Biarkan saja." Tatapan dingin Shawn berubah misterius, lalu beranjak dari kursi. "Siapkan mobil!"


Herman menunduk singkat sementara Shawn berjalan melewatinya, ia menyusul bosnya di belakang setelah itu. Perjalanan kali ini hanya Shawn yang pergi, Herman diperintahkan untuk pulang ke rumah.


Kepalanya panas setiap laju mobil menuju ke sebuah rumah mewah yang berlokasi di daerah sentral ibu kota. Pelayan yang menyambutnya agak terkejut dengan kedatangannya kali ini.


"Mana dia?" tanya Shawn dingin dan dalam seraya berjalan masuk ke ruang tamu.


"Mencariku?" sahut seorang wanita dari arah anak tangga.


Shawn menoleh dengan rahang mengeras pada Renata yang tengah menuruni tangga. Seraya menghampiri, senyum sinis Renata terkembang.


"Sudah lama kau tidak menginjakkan kaki di rumah ini," sapa Renata bernada sarkas.


"Kau yang sengaja mengundangku!" balas Shawn sengit, lalu mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan benda itu ke hadapan Renata. "Apa maksud dari pesan itu? Apa yang telah kau ketahui?"


Renata tersenyum lagi, melirik ponsel itu sejenak. Gerakannya anggun melewati Shawn, dan menghampiri sebuah sofa tunggal, lalu duduk di sana.


"Kau penasaran? Aku juga. Rasa penasaranku begitu besar, bertanya-tanya: kenapa kau menolak Clara untuk memasuki rumahmu? Bahkan aku saja, yang bibimu, tak diperbolehkan."


Buang-buang waktu! Shawn memutar bola matanya, kesal. "Hanya hal ini yang mau kau katakan? Tidak penting!" sergahnya, lalu berbalik.


Namun, Renata berseru ketika Shawn belum sempat berbalik sepenuhnya. "Gaun pengantin!" Shawn mengernyit, melirik sedikit. "Kau memesan banyak gaun pengantin dari sebuah butik. Bukannya kau menolak perjodohanmu dengan Clara? Lantas, untuk apa gaun-gaun itu?"


Shawn memalingkan wajah, diam-diam geram sambil mengepalkan tangannya kuat. Wanita ini suka sekali ikut campur! "Untuk dipakai oleh seseorang nantinya. Dan yang pasti bukan Clara," jawabnya, matanya berkilat marah.


Tubuh Shawn akan kembali bergerak, tetapi Renata mencegahnya dengan berkata, "Lalu, untuk apa kau beli perusahaan yang sudah bangkrut itu."


Mata Shawn terpejam erat, tak tahan lagi dengan tindak-tanduk tantenya itu. Semua hal yang dilakukannya harus diketahui dan diselidikinya.


"Memang kenapa? Sampai saja bisa didaur ulang, perusahaan seperti itu tentu bisa dimanfaatkan kembali," sahut Shawn sinis, menoleh sedikit. "Aku membelinya dengan uangku, Tante tak perlu ikut campur dengan permasalahanku."

__ADS_1


Dirasa cukup untuk membungkam mulut wanita itu. Renata bergeming dengan hati panas dan tangan terkepal. Shawn tersenyum menang, kaki jenjangnya melangkah pergi dari tempat itu.


Namun, Shawn berhenti ketika hampir mencampai ambang pintu, dan Renata saat itu tengah beranjak dari sofa. Tubuh Shawn setengah berbalik, berkata sinis:


"Kau sangat mendambakan berbesanan dengan keluarga Adiputra, 'kan? Kenapa tidak kau jodohkan Dave dengan Clara. Kurasa mereka cocok. Kudengar, Clara dan Dave berteman sejak TK."


Untuk membuatnya semakin terhina, Shawn tersenyum mencemooh pada Renata sebelum pergi. Renata mendesis geram, kepalanya terasa mendidih mendengarnya.


"Seandainya Dave bisa merebut perusahaan dari tanganmu, pasti akan aku lakukan."


...🦋...


Sesudah makan, Kiara dikurung di dalam kamar. Ia cuma bisa termenung murung sembari duduk di ranjang, menghela napas berkali-kali karena sangking bosannya.


Buku-buku yang ada di rak kaca tak menggugah minatnya. Lantas, tablet mahal keluaran terbaru....


Tiba-tiba Kiara tertegun dan menegakkan badan. "Oiya! Kenapa tidak kepikiran?" serunya pelan.


Hatinya melompat riang. Idenya bagai sebuah harta karun yang baru ditemukannya. Kiara baru ingat kalau ponselnya tertinggal di rumah. Ia juga masih mengingat nomor telepon rumah.


"Mudah-mudahan Kelvin yang angkat." Jemarinya mengetik cepat sebuah nomor telepon di atas layar tablet.


Tubuhnya melemas, tangan yang memegang tablet terjatuh di atas paha. Luka yang tergores oleh perbuatan tak terduga dari ibu tirinya terasa ngilu. Masih saja Kiara mempertanyakan: "Kenapa mama melakukan itu? Kenapa mama tega menjualnya?"


Air mata menggenang, ia jadi kesal. "Kenapa aku lemah begini sih?" gerutu Kiara seraya mengibas-kibasnya matanya dengan maksud agar air matanya mengering. "Aku nggak boleh nangis! Aku harus kuat!"


Setelah agak sedikit membaik, Kiara menghela napasnya kencang. Semangatnya kembali lagi. Oke! Sekarang waktunya untuk mencoba. Pertama, Kiara menghubungi nomor telepon rumah.


Nada tunggu terdengar. Tersambung! Kiara menegak tegang, menunggu penuh harap. "Please, angkat Kelvin. Angkaaat."


Namun, tidak ada yang mengangkatnya. Rasa optimis Kiara tak surut, ia tetap berpikir positif. Mungkin tidak ada seorang pun yang mendengar suara telepon itu. Jadi, ia kembali mencoba.


Percobaan kedua semangatnya agak surut. Dan ketika kembali mencoba ketiga kali, ia benar-benar menyerah. Kiara menghela napas kecewa.


"Apa mama ada di sana, makanya nggak ada yang angkat?" duganya berbicara sendiri.


Kiara berpikir sejenak, lalu mengangkat tablet dan menatapnya. Apa ponselnya masih menyala? Jika Kiara meneleponnya, apa ada yang mengangkatnya?


Ragu. Rasa optimisnya luntur. Kiara pikir, akan percuma jika mencoba. Tapi, tanpa ia tahu, bahwa Kelvin tengah menyimpan ponselnya di dalam ransel yang tengah digendongnya. Ponselnya juga masih menyala.

__ADS_1


Kelvin dan Renita tengah berada di bandara untuk melakukan perjalanan malam ke Singapura.


Seandainya Kiara tak menyerah, mungkin masih sempat baginya untuk mendengar suara Kelvin. Tapi, Kiara memilih mengenyahkan tablet itu ke sampingnya, lalu ia berbaring.


Ditatapnya langit-langit kamar bercat putih itu, termenung dengan mata berair tanpa isakan. Sesak, Kiara menghela napas panjang.


"Kelvin, kamu sedang apa? Kakak menderita di sini...."


Telinganya menegak waspada ketika mendengar suara knop pintu ditekan. Pintu terbuka, sontak Kiara beranjak seraya menoleh, ekspresinya menegang.


Shawn muncul, wajah dinginnya dan ekspresi tak terbaca membuat Kiara was-was. Yang lebih membuat Kiara gugup, Shawn melepaskan dasi dan membuka kancing teratas kemejanya seraya menghampiri Kiara.


Kiara mendelik, spontan beringsut mundur. Mau apa dia? Apa dia mau mengulangi perbuatannya malam itu?


Pria itu sudah sampai di hadapannya, Kiara menegang. Tangan Shawn bergerak meraih pergelangan tangan Kiara dengan cepat. Kiara yang ketakutan menarik tangannya dengan dahi mengernyit.


"Kau mau apa?" pekiknya.


Shawn kembali meraih tangan Kiara, menggenggamnya lebih erat, lalu menariknya berdiri, dan membawanya keluar dari kamar.


"Ayo, ikut denganku!" gumamnya, nada dingin dan dalamnya membuat Kiara semakin gugup.


"Ke mana? Aku tidak mau ikut!" Kiara melawan, berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu.


Shawn tidak menjawab. Mereka berpapasan dengan kepala pelayan di lorong, berhenti sejenak hanya untuk memerintahnya.


"Bi, kemaskan pakai kami. Dan jangan lupa, masukkan gaun pengantinnya!"


Kiara mendelik. Gaun pengantin dibawa? Apa pria itu merencanakan pernikahan di tempat lain?


"Baik, Tuan," jawab si kepala pelayan seraya mengangguk pelan.


Shawn kembali menarik Kiara yang tengah menatap si kepala pelayan dengan ekspresi tak rela, tetapi Kiara pasrah dibawa Shawn sampai ke mobil.


Seorang sopir yang sejak tadi menunggu, membukakan pintu mobil di belakang. Yang benar saja, Shawn main menghempaskan tubuh Kiara ke dalam mobil. Kiara memekik pelan, kepalanya hampir membentur jendela mobil.


Setelah itu, Shawn masuk, duduk di samping Kiara. Sopir menyusul masuk, dan mulai menghidupkan mesin mobil.


"Ke bandara, cepat!" perintah Shawn keras.[]

__ADS_1


__ADS_2