Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Hampir


__ADS_3

"Shawn! Aku kangen banget sama kamu," ucap gadis itu sembari memeluk erat tubuh pria itu.


Namun, Shawn tak peduli. Tatapannya mengarah pada tantenya yang tengah menatapnya sambil tersenyum. Wanita yang berusaha menggeser posisi ayahnya untuk mengatur kehidupannya.


Mau apa lagi wanita itu?


"Herman, singkirkan wanita ini dariku!" perintah Shawn dengan dingin, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


Sang sekretaris menaikkan kacamatanya, lalu menarik lengan gadis yang memeluk bosnya. Namun, gadis itu tak mau melepaskan, malah berteriak dan mengadu pada tantenya Shawn.


"Tante, tolong aku! Iiih! Kamu jadi sekretaris jangan kurang ajar, ya?"


Wanita bernama Renata itu beranjak dari kursi dengan geram. "Herman, lepaskan Clara!"


"Tidak, Herman! Cepat, enyahkan dia dariku!" Shawn memerintah lagi, tak mau kalah.


"Kamu mau dipecat, Herman?" bentak Renata, akhirnya mengeluarkan kata pamungkas, yang perlahan membuat Herman ragu.


"Aku bosnya, tidak ada satu pun yang berhak memerintah ataupun memecatnya!" balas Shawn, melotot pada Renata. Kemudian, dia menatap sekretarisnya lagi. "Herman, cepat singkirkan gadis ini!"


Herman mengangguk mantap. Kekuatan tangan lelaki lebih kuat dibanding perempuan, sehingga pegangan tangan Clara terlepas dari lengan Shawn.


Clara menjauh, mendekati Renata sambil merengek. Renata memeluknya dan mengelusnya dengan lembut sambil menatap Shawn yang sedang mengibas-kibaskan jasnya dengan telapak tangannya.


"Shawn, kenapa kau bersikap kasar begitu pada calon tunanganmu?" omel Renata.


"Calon tunangan?" cemooh Shawn sambil tersenyum sinis. "Sejak kapan aku setuju bertunangan dengan gadis itu?"


"Sejak perusahaan kita menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan keluarga Clara." Renata tersenyum menang, Shawn sama sekali tak berkutik.


Pak tua yang ia sebut "papa" itu sedang terbaring lemah di rumah. Kerjasama itu terjadi sebelum papanya anfal. Shawn geram karena sang papa tak membicarakan soal pertunangan ini padanya.


Tak ada perlawanan, Renata semakin di atas angin. Sambil tersenyum lebar, ia menambahkan, "Jadi, kau harus menerima Clara." Lalu, ia memberi isyarat pada gadis itu untuk mendekati Shawn.


Dengan senang hati Clara melakukannya, tetapi tiba-tiba Shawn mengacungkan telapak tangannya ke depan wajah gadis itu. Sontak, Clara berhenti melangkah.


"Herman, panggil sekuriti!" perintahnya sambil menurunkan telapak tangannya.


Renata melotot berang. Makin kurang ajar anak ini! "Shawn! Apa-apaan ini? Bisa-bisanya kau—"


"Saya masih punya batas kesopanan," potong Shawn. "Jika Anda ingin diperlakukan hormat, silakan pergi dari ruangan ini sendiri. Dan bawa gadis itu bersamamu!"


"Shawn!"


"Jika tidak," Shawn menambahkan, "maka saya yang pergi dari tempat ini."


Shawn mengajak Herman untuk ikut dengannya. Herman mengangguk paham, kemudian kedua pria itu berbalik dan melangkah pergi. Renata dan Clara memekik memanggil Shawn, tapi pria itu tak mengindahkan.


Clara jengkel, berbalik pada Renata. "Tante, bagaimana ini?" rengeknya bagai anak kecil.


Renata menghampiri, lalu mengelus pundak Clara. "Tenang, ya, Clara. Shawn pasti segera luluh padamu. Tante janji."

__ADS_1


Setelah mengatakan ucapan manis, Renata memandang pintu ruangan dengan tatapan murka. Anak durhaka itu, cepat atau lambat akan bertekuk lutut padanya.


🦋


Kantor bukan satu-satunya tempat baginya untuk melakukan pekerjaan. Ia berencana untuk pulang ke rumah dan bekerja di sana. Maka dari itu, sambil melangkah keluar gedung, ia memerintahkan Herman untuk menyiapkan mobil.


"Siapkan berkas-berkas yang harus kukerjakan, aku akan bekerja di rumah," kata Shawn, menambahkan perintah selanjutnya pada Herman.


Pria itu hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah. Setelah menghubungi seorang sopir untuk menyiapkan sebuah mobil untuk bosnya. Sesampainya di tempat parkir dan mobil telah muncul di depannya, Herman berpamitan untuk kembali ke meja kerjanya.


Sementara Shawn menunggu di dalam mobil, teleponnya berdering. Si kepala pelayan menghubungi. Ia mengernyit. Jika wanita itu menelepon, pasti telah terjadi sesuatu di rumah. Apa Kiara kabur?


"Halo." Gegas ia mengangkat teleponnya.


"Halo, Tuan. Begini, nona Kiara meminta sesuatu pada saya."


Shawn menghela napas lega, apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. "Dia minta apa?" tanyanya, kembali dengan nada bicara yang biasa.


"Katanya, nona tidak nyaman jika diikuti ketika berjalan-jalan di sekitar rumah."


Oh, masalah sepele. "Hanya itu? Lakukan saja. Apa pun yang dia minta, kabulkan. Asal, terus perketat penjagaan di sekitar rumah. Kita belum bisa memercayainya 100%," Shawn, suara paraunya terdengar penuh peringatan.


"Baik, Tuan."


Si kepala pelayan menutup teleponnya sambil tersenyum. Hal ini harus segera diberitahukan pada Kiara. Gadis itu pasti sangat senang mendengarnya.


Kiara sedang berada di kamarnya sambil berjalan mondar-mandir, resah menunggu.


Pintu kamar tiba-tiba diketuk, ia menoleh seraya terhenyak. Terdengar suara seruan si kepala pelayan.


Apa dia membawa kabar baik untuknya?


Kiara tak mau kentara kalau dirinya sedang menunggu dan berharap. Gegas ia duduk di atas ranjang, mengambil sikap tenang, lalu berseru.


"Masuklah!"


Kepala pelayan masuk ke kamar, Kiara menunggu dengan sikap seolah-olah tida tahu apa-apa. Lantas, wanita itu melenggang masuk dan menghampirinya.


"Nona, saya tadi sudah bicara dengan tuan, dia sudah membuat keputusan," kata wanita itu kemudian.


Wajah Kiara seketika berseri, tapi hanya sekejab karena tak ingin wanita itu menaruh dugaan padanya. "Keputusan apa?"


"Anda diperbolehkan jalan-jalan di sekitar rumah tanpa pengawasan," sahut si kepala pelayan, senyumnya merekah.


Sudah ia duga! Kiara melompat girang sambil menahan senyum. "Oh, terima kasih."


"Sama-sama, Nona." Si kepala pelayan mengangguk sopan. "Kalau begitu, saya pamit permisi dulu."


"Bagus!" serunya pelan, sontak beranjak dari tempat duduk. "Kalau gitu, aku harus bergerak cepat."


Meski rasanya ingin terburu-buru, sebisa mungkin ia berjalan seperti biasa, apalagi di lorong yang terdapat spot CCTV dan ketika bertemu dengan beberapa pelayan.

__ADS_1


Ia langsung memulai di halaman. Ia tercengang, betapa luasnya halaman rumah ini. Ada air mancur, taman bunga, dan halaman berumput.


Kiara mencari pintu belakang rumah ini. Namun, ia malah mentok di pagar besi yang tinggi.


Ia mendengus. "Gimana mau kabur kalau kayak gini?" gerutunya sambil berkacak pinggang.


Tenggorokan terasa kering. Apa saatnya untuk berhenti sejenak? Melepas dahaga sangat penting. Lagi pula, sudah waktunya makan siang.


Kiara kembali masuk ke dalam rumah, lalu menuju dapur yang sepi. Pada ke mana para pelayan? gumamnya dalam hati.


Ada satu, dan dia muncul dari sebuah pintu di samping dapur. Pandangan mereka saling bertemu. Kiara tercengang, sementara si pelayan mematung dengan raut wajah tertegun.


"Siang, Nona," sapanya kemudian seraya menundukkan kepala sedikit.


Kiara tersenyum kikuk. "Ya, siang."


Kemudian, pelayan itu pergi dari hadapannya. Kiara berpura-pura meneguk minumannya ketika pelayan itu melangkah keluar dari dapur.


Entah mengapa, ia jadi penasaran pada pintu yang ada di samping dapur. Pintu menuju ke mana itu? Apa ada pintu rahasia yang menuju ke tempat lain? Mungkin saja ada pintu keluar lain di sana?


Gelas bekas minumnya diletakkan di atas meja. Sambil mengendap dan memperhatikan ke sekitar, Kiara melangkah ke arah pintu tempat munculnya si pelayan tadi.


Diraihnya gagang pintu, lalu perlahan menekan knop pintu dengan hati-hati dan was-was.


Klik! Pintu terbuka dengan suara pelan. Lantas, Kiara menariknya perlahan, dan mengintip.


"Lorong?" gumamnya mengernyit. "Tapi ada beberapa pintu. Pintu apa itu?"


Rasa penasaran semakin besar. Kiara melihat ke sekitar sekali lagi, barulah ia masuk ke dalam lorong, dan tak lupa menutup pintunya lagi.


"Lorong apa ini?" gumamnya takjub.


Coba ia buka, mungkin saja ada pintu keluar. Namun, dari keenam pintu, tak ada satu pun yang bisa dibukanya. Semuanya terkunci!


Kiara mendengus kesal. Percuma saja pencariannya. Lorong ini buntu, tak ada apa pun, bahkan jalan keluar. Sepertinya, jalan satu-satunya bisa kabur dari sini hanya lewat pintu depan. Tapi, mustahil untuk dilewati.


Dengan kekecewaan yang besar, Kiara memutuskan untuk keluar dari sini. Namun, pada saat ia akan berbalik, tanpa sengaja ia melihat sebuah jalan di sebelah kanan.


Apa ada lorong lainnya?


Kiara bergegas ke sana, dan menemukan sebuah pintu lainnya. Apa ini pintu keluar?


"Ah, enggak! Nanti di-PHP-in lagi! Pasti ini juga terkunci," gerutunya. "Udah, nggak usah berharap apa pun pada semua pintu di sini!"


Tekad bulat itu ternyata mudah runtuh. Tetap saja ia mengalah pada rasa penasaran. Lagi, ia percaya bahwa mungkin saja ada sebuah keberuntungan untuknya kali ini.


Setelah berpikir beberapa saat, Kiara memutuskan. Maka, diraihnya gagang pintu itu, lalu menekan knop pintunya dengan harapan yang sangat besar.


Suara klik terdengar, dan pintu terbuka sedikit. Ia tersenyum semringah, begitu senang bahwa keberuntungan sedang berpihak padanya. Ia akan membuka lebih lebar pintu itu, tetapi ia mendengar derit pintu lain. Ia mendelik dan menoleh.


Seseorang sedang membuka sebuah pintu! Gawat![]

__ADS_1


__ADS_2