
Seorang pelayan menyajikan nasi goreng ayam mentega di hadapan Kiara. Ia langsung takjub. Ini adalah menu sarapan favoritnya. Bagaimana mereka bisa tahu?
Kiara melirik menu makanan Shawn. Breakfast ala Inggris. Kemudian, matanya menyipit tajam. Apa pria itu telah mengetahui semuanya, termasuk menu sarapan kesukaannya?
Seakan menyadari tatapan menduga mengarah padanya, lantas Shawn berkata dengan tenang sambil tanpa menoleh. "Kenapa tidak dimakan?"
Tidak ada jawaban sejenak, Kiara masih menudingnya. "Seberapa banyak yang Anda ketahui tentang saya?" tanyanya.
"Semuanya, bahkan sampai isi kepalamu saja aku tahu," jawab Shawn sambil menusuk sepotong bacon dengan garpu.
Arogan sekali! Kiara memalingkan wajah, dan kemudian mencemooh pelan. "Ih, pria sok!"
"Aku juga tahu lho, apa yang sedang kau ucapkan itu," sahut Shawn, sontak membuat Kiara terhenyak dan menoleh sambil menyeringai malu.
Hening, padahal ada yang ingin Kiara sampaikan. Sejak tadi ia menahan bibirnya karena segan berbicara ketika pria itu sedang menikmati sarapannya. Akhirnya, ia memilih menunggu sampai sarapan usai.
Namun, Shawn menyadari ada sesuatu dari diri gadis ini. Kunyahan santapannya terlihat tak berselera. Apa dia masih tertekan karena pemaksaan yang dilakukannya ini?
"Apa yang kau inginkan?" tanya Shawn sambil mengelap mulutnya. Pilihannya adalah untuk bersikap lunak pada gadis itu.
Kiara mengangkat kepalanya dengan kedua mata membulat. "Em ... maksudnya?" Sungguh, ia masih tidak paham bahwa pertanyaan Shawn adalah tawaran yang baik.
"Maksudku? Apa kau menginginkan sesuatu sebelum kita menikah?"
Oh, paham sekarang! Sebuah tawaran? Kesempatan yang bagus. Apakah ia bisa menukarnya dengan sebuah gagasan yang dipikirkannya tadi malam?
Oh, tidak! Kiara urung ketika mulutnya akan berucap. Ia berpikir ulang. Apa ia meminta untuk bertemu dengan adik dan ibunya? Tapi, berarti ia rela dong dinikahi pria asing ini? Bukannya ia sedang mencoba ingin menghindari pernikahan?
"Kenapa?" tagih Shawn, alisnya naik sebelah begitu melihat Kiara kembali mengunci bibirnya rapat.
Kiara melirik ragu pada kedua pilihan itu. Tapi pada akhirnya, ia telah memilih salah satunya. "Aku merasa tidak bebas di kamar. Jadi, boleh tidak jika aku tidak dikurung di dalam kamar?" Ucapannya agak bergumam karena takut jika pria itu berang pada permintaan lancangnya.
Yang dipikirkan justru sebaliknya. Shawn terlihat berpikir cukup lama, menimbang-nimbang risikonya dan juga psikis Kiara. Melihat ekspresinya itu, harapan Kiara langsung terjun. Wajahnya perlahan berubah muram.
"Oke. Tapi, kau tidak bisa keluar dari rumah ini, kecuali atas izinku."
Pria yang tak terduga, tiba-tiba membuat Kiara heran atas sikapnya itu. Ternyata, tuan si pemaksa punya sisi baik juga. Ekspresi tercengang berubah dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Kiara.
Shawn mengangguk, tapi dalam hati sebenarnya senang melihat Kiara tersenyum.
"Pernikahan akan kita adakan sekitar seminggu lagi. Mungkin, kamu akan punya kesempatan untuk keluar rumah, karena kamu harus mencoba beberapa gaun, lalu melakukan foto prawedding.
Seminggu? Singkat sekali! desis Kiara dalam hati. Waktu yang tak cukup baginya untuk kabur, apalagi jika ia tak kunjung menemukan kesempatan dan celah agar bisa keluar.
Melihatnya berpikir keras, Shawn heran lagi. "Ada apa? Kau tak setuju?"
Sangat! Tapi....
"Ah, enggk kok, Tuan. Soal tanggal pernikahan, Tuan saja yang mengaturnya," sahut Kiara, tersenyum dipaksakan.
Baik, tak ada kendala. Bagus sekali jika gadis itu menurut. Shawn tersenyum puas.
"Oke," katanya seraya beranjak dari kursi. "Ada beberapa pelayan, termasuk kepala pelayan Tati yang bisa kamu perintahkan untuk melakukan sesuatu. Soal ponsel kamu, aku menggantinya dengan yang baru. Mulai saat ini, kamu tidak ada hubungan lagi dengan adik dan ibu tirimu. Keluarga yang kau punya sekarang hanya aku, suamimu."
Suami? Bahkan di dalam hati Kiara takkan sudi memanggilnya begitu. Namun, demi meyakinkannya, Kiara tersenyum simpul di depannya. Pria itu merasa puas dengan reaksinya itu.
"Baiklah, aku pergi ke kantor dulu." Pria itu mendekat, kemudian seulas kecupan disematkan pada pipi Kiara.
"Apa-apaan dia?" rutuknya, setelah Shawn lenyap dari pandangan. Lalu, ia seka bekas kecupan di keningnya dengan kasar dan jijik. "Siapa juga yang mau nikah sama dia?"
Tiba-tiba, ia terhenyak dan hening. Ia lupa kalau saat ini dirinya berada di rumah yang memiliki banyak telinga. Di sudut ruangan ini saja ada beberapa pelayan yang mengawasi.
Ia tadi menggerutu. Apa para pelayan itu mendengarnya? Semoga tidak.
Kiara mengambil sikap natural dengan kembali duduk di tempatnya, lalu menghabiskan hidangannya. Meskipun nafsu makannya berkurang, ia akan tetap menyantapnya sampai habis, karena negosiasinya dengan pria itu berhasil. Sekarang, tinggal cari cara untuk kabur dari tempat ini.
Setelah sarapan, ia berkeliling rumah sambil berpikir dan melihat situasi rumah. Namun, ia tetap saja tidak bebas, kepala pelayan mengekor di belakangnya.
"Kalau kayak gini, gimana mau bisa cari celah di rumah ini?" gumamnya dalam hati, sesekali melirik dari sudut ekor matanya.
Sesampainya di lorong, Kiara menghentikan langkahnya tanpa diduga. Sontak, si kepala pelayan turut berhenti beberapa meter dari gadis itu. Dia tak menyangka Kiara akan berbalik. Walaupun tak terduga, si kepala pelayan menunduk sambil menunggu reaksi Kiara selanjutnya.
"Apa Bibi tidak punya kerjaan lain yang harus diselesaikan?" tanya Kiara menahan jengkel.
__ADS_1
Pertanyaan yang terdengar aneh. Si kepala pelayan terdiam sejenak untuk mencari arti di balik pertanyaan itu. "Saya sudah mengatur tugas untuk masing-masing pelayan, jadi mereka bisa mengerjakan semuanya," jawabnya lugas.
Kiara tambah jengkel karena tak ada alasan lagi untuk membantahnya. Apa perlu membicarakannya dengan nada lebih lunak?
"Bi, sejujurnya saya tidak nyaman diikuti terus. Saya tahu, ini bagian tugas yang diberikan tuan Shawn untuk Bibi, tapi percayalah, saya tidak akan kabur. Di rumah ini ada banyak CCTV, 'kan? Saya rasa cukup untuk mengawasi saya."
Si pelayan berpikir keras. Pernyataan Kiara ada benarnya, tetapi tugas tetaplah tugas, ia tak bisa sembarangan mengambil keputusan yang bukan wewenangnya.
"Saya paham maksud Nona. Tapi, saya tetap tidak bisa menuruti Anda," jawabnya, membuat Kiara menghela napas kecewa.
Tak tega juga sebenarnya, tapi apa mau dikata, kepala pelayan itu harus tetap pada prinsip. Namun, entah mengapa ia tak bisa melihat wajah cantik gadis itu muram. Makanya, ia segera menambahkan.
"Bagaimana kalau saya tanyakan dulu pada tuan Shawn?"
Muka memelasnya berhasil juga menyentuh hati terhalus wanita paruh baya itu. Kiara bersorak dalam hati, diam-diam tersenyum sambil memalingkan wajah.
Kiara mengangguk. "Terima kasih. Kalau begitu, saya ke kamar dulu, ya."
"Baik. Mari, saya antar," sahut si pelayan sambil merentangkan tangannya dan agak menunduk untuk mempersilakan Kiara berjalan duluan menuju kamar yang ada di lantai atas.
...🦋...
Rapat selesai. Shawn dengan dikawal oleh sekretarisnya berjalan keluat dari ruang rapat.
"Apa jadwalku selanjutnya?" tanya Shawn, melirik sedikit pada pria bertubuh kecil itu.
Sang sekretaris menggulir layar ponselnya pelan, membacakan jadwal Shawn seharian ini. Shawn mengangguk paham, tapi dalam hati agak kecewa karena tak ada waktu baginya untuk berduaan dengan calon istrinya.
"Oh, ya, Tuan," kata sang sekretaris, ketika mereka mencapai ruang kerja Shawn. "Sejak tadi, nyonya besar menghubungi ponsel Anda."
Berita yang menjengkelkan. Shawn mendengus. Mau apalagi wanita itu? Pasti membicarakan soal perjodohan?
Shawn tak menggubris, meraih gagang pintu ruang kerjanya dengan raut wajah gusar. Namun, ketika ia membuka pintu, tiba-tiba ia disambut oleh sebuah pelukan manja dari seorang wanita.
"Shawn!" seru gadis itu, riang.
Ini mengejutkan, tapi hanya sekejab. Ketika ia melihat seorang wanita paruh baya tengah duduk di kursi kebesarannya sambil tersenyum lebar, ekspresi Shawn berubah dingin.
__ADS_1
Wanita itu, apa yang sedang direncanakannya?[]