
Rumah orang kaya selalu dilengkapi rumah kaca sebagai hiburan bagi pecinta tanaman, termasuk Renata. Setiap sore, wanita itu ke sana untuk memeriksa beberapa koleksi tanamannya.
Tante Renata suka sekali pada bunga anggrek yang saat ini sedang disemprotnya dengan air. Seorang pelayan berdiri di sampingnya, yang kadang diajaknya mengobrol.
"Apa tehku sudah siap?" tanyanya tanpa melirik pada sang pelayan. Renata punya kebiasaan yang dibawanya sejak tinggal di London yaitu tea time.
"Sudah, Nyonya," jawab pelayan itu, lalu Renata memberikan botol penyemprot padanya.
Renata berjalan menuju sebuah meja kecil yang hanya ada 2 kursi. Di meja itu tersedia teko teh, sebuah cangkir favorit Renata, dan brownise stroberi sedikit gula.
Pelayan menuangkan teh ke cangkirnya. Aroma teh camomile menguar hingga ke hidung Renata, membuatnya agak rileks. Renata akan menyeruput tehnya, tiba-tiba seorang pelayan datang mengabarkan bahwa dirinya kedatangan seorang tamu.
Renata meletakkan cangkirnya dengan gusar. Siapa pula yang mengganggu waktu terbaiknya?
Kekesalannya memudar kala Clara masuk ke dalam rumah kaca, menghampirinya dengan riang. Renata tersenyum menyambutnya, lalu mempersilakan Clara duduk.
"Pelayan, siapkan teh dan camilan untuk Clara!" perintah Renata, ketika Clara duduk di hadapannya.
Clara tersenyum mendapatkan perhatian hangat dari calon tante masa depannya—walaupun kesempatannya untuk menikah dengan Shawn kurang dari 50%.
Renata kembali menyeruput tehnya, perhatian kembali pada gadis itu setelahnya. "Apa kabar, Clara? Kok nggak ada kabar dua hari ini?"
Wajah cantiknya memperlihatkan ekspresi memelas. "Lagi banyak urusan, Tante. Saya juga masih kecewa dengan perlakuan Shawn waktu. Kenapa sih aku tidak boleh masuk ke dalam."
Celotehan itu memang diperhatikan, tetapi Renata justru kewalahan mencernanya. Akhirnya, ia hanya menangkap salah satu keluh kesah Clara, dan beraksi begini:
"Tante juga tidak mengerti dengan anak itu. Apa yang dia sembunyikan, sampai tidak ada seorang wanita pun yang boleh masuk." Renata bersandar pada punggung kursi, lalu meraih cangkir tehnya.
Pada saat pelayan datang sambil membawa sebuah cangkir, Clara berseru dengan mata membulat. "Apa dia juga tidak memperbolehkan Tante masuk ke dalam rumahnya?"
Renata menggeleng seraya meletakkan cangkir ke meja. "Termasuk aku. Tante jadi penasaran. Ada apa di dalam rumah itu?"
"Tante susupkan saja seseorang ke dalam rumah itu." Clara menyarankan ide yang muncul mendadak.
"Sudah dilakukan." Renata menggeleng. "Tapi tetap ketahuan. Sulit menyembunyikan rahasia darinya, tapi dia hebat menyimpan rahasianya."
Sebegitu misteriuskah? Clara termenung takjub pada kepribadian Shawn. Hasratnya semakin gencar untuk mendapatkannya.
Kedatangan asisten pribadi di tengah-tengah mereka menyela topik pembicaraan. Pria berusia sekitar 40 tahunan itu membungkuk hormat sekejab pada Renata ketika sampai di hadapannya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau laporkan?" tanya Renata, sudah tahu bahwa kedatangan pria itu pasti membawa sebuah berita.
Sambil mengeluarkan ponsel, Doni menjawab, "Orang suruhan saya mengintai di depan rumah tuan muda Shawn. Dia melaporkan, sebuah mobil van berhenti di depan rumah. Mobil itu diketahui milik dari sebuah butik."
Doni memberikan ponsel pada Renata, memperlihatkan beberapa foto. Clara ikut menengok. Dahi kedua wanita itu mengernyit begitu melihat foto-foto itu.
"Butik?" gumam Clara sembari kembali menegak di tempatnya.
Renata juga penasaran, dan berpikir keras. "Dari butik mana? Apa yang mereka kirim?" Pertanyaan itu semakin serius dan tajam.
"Informan saya bilang, butik itu membawa beberapa model gaun pengantin."
"Gaun pengantin?" seru Clara dan Renata berbarengan.
Bukannya Shawn menolak mentah-mentah perjodohannya dengan Clara? Lantas, untuk apa Shawn memesan gaun-gaun itu?
Tentu saja untuk Klara!
Gadis itu dipanggil ke kamar untuk mencoba gaun-gaun itu. Kiara tercengang saat sepuluh pelayan berjejer membawa gaun dari beberapa model ke kamarnya.
Namun, Shawn tidak ada di kamar. Kemungkinan pria itu sedang sibuk bekerja. Tetapi, sepertinya dia memanfaatkan waktu sibuknya untuk mengawasi Kiara. Tak lama setelah semua gaun dipamerkan, tablet milik Kiara berdering.
"Halo."
"Kiara, apa gaun pesananku sudah sampai?" cetus Shawn.
Kiara menekan sebuah tombol untuk mengalihkan tampilan kamera belakang. Sorotan kamera mengarah pada jejeran gaun yang sedang dipegang oleh pelayan seraya Kiara berkata, "Apa maksudnya ini?"
Tampilan kamera kembali ke depan, Kiara melihat Shawn tengah tersenyum geli. "Pake nanya. Ya, buat kamu coba satu per satu. Aku tidak percaya dengan pilihanmu, makanya biar aku yang memilihkannya. Sekarang, ganti bajumu dengan gaun paling ujung kiri."
Ini bakal memakan waktu yang lama. Kiara mendengus. Terpaksa, ia melakukan perintah itu. Tablet diberikan pada kepala pelayan. Seorang pelayan maju ke hadapannya, memberikan gaun yang dipegangnya pada Kiara.
Kiara menerimanya dengan malas, langkahnya enggan menuju kamar mandi. Di dalam sana, ia mengganti pakaiannya sambil menggerutu. Dan begitu selesai, Kiara keluar dengan wajah cemberut.
Kini, ia berdiri di depan tablet yang sedang dipegang oleh kepala pelayan. "Hmm ... gimana?" kata Kiara bersungut-sungut.
"Hmm ... kayaknya kurang bagus? Ganti dengan gaun yang ujung sebelah kanan."
Kiara menepuk jidatnya. Lagi, ia melakukan perintah itu dengan wajah cemberutnya. Letih rasanya melakukan semua itu. Rasanya seperti sedang dikerjai. Apa pria itu memang sengaja?
__ADS_1
Kapan ini akan berakhir? Baru 5 gaun yang dicobanya, tapi Kiara sudah tak tahan seperti ini terus.
Sudah cukup! Habis sudah kesabarannya. Pada saat mencoba gaun untuk ketujuh kalinya, Kiara memutuskan untuk meraih sebuah gaun berwarna hijau, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Kiara keluar dengan sudah memakai gaun pilihannya. Kakinya dihentak-hentakkan menuju ke depan tablet, dan mendengus kencang.
"Aku suka dengan gaun ini! Cukup! Tidak boleh menginterupsi!"
Kiara rasa, memang pria itu sengaja menjahilinya. Shawn tertawa cukup keras, puas melihat kekesalan Kiara yang telah memuncak. Kiara mengernyit, bukan karena heran, melainkan karena semakin geram.
"Kau ini benar-benar tidak penurut, ya?" kata Shawn setelah tawanya reda. "Ganti! Aku rasa yang gaun yang merah muda bagus untukmu."
"Bukannya kau bilang kalau gaun itu tak cocok?" protes Kiara ketus. Apa maunya pria ini?
"Aku berubah pikiran setelah melihat pilihanmu yang payah."
Benar-benar! Kiara mendengus seraya berkacak pinggang dan memalingkan wajah sejenak. "Kau sengaja melakukan ini?"
Memang! Tapi Shawn tak mengakuinya. Shawn menujukkan dominasinya bahwa dirinya tak boleh dibantah dengan mengatakan, "Tugasmu adalah menurutiku. Apa kau mau kupaksa seperti kemarin? Sepertinya, kau sengaja melawanku. Kau menikmati hukumanmu itu?"
Ancaman bernada sensual itu justru terdengar menjijikkan. Bibir mungil Kiara semakin manyun, tapi terlihat menggemaskan bagi Shawn.
Shawn menang, Kiara tak mampu menyanggah. Sebelum menutup video call, Shawn masih sempat tersenyum mencemooh Kiara. Tablet diletakkan kepala pelayan di nakas, lalu ia memerintahkan para pelayan untuk mengembalikan gaun-gaun itu ke dalam mobil van.
...🦋...
Baru saja diletakkan, ponsel Shawn berdering. Shawn menatap layar ponselnya sejenak, lalu meletakkannya kembali dengan kasar seraya mendengus.
"Ngapain lagi dia menelepon?" rutuknya.
Tante Renata tak menyerah, Shawn diteleponnya berkali-kali, sampai Shawn mengubah mode dering ke mode silent. Shawn mengabaikannya dengan termenung di depan jendela besar yang ada di belakang meja kebesarannya.
Entah berapa lama Shawn mendiamkannya, Renata sudah tak menghubunginya ketika ia kembali ke tempat duduknya. Shawn meraih ponselnya, terkejut melihat 20 panggilan tak terjawab dari Renata.
Wanita gila! Ada hal penting apa dia menelepon, sampai menerornya begini?
Dari puluhan notifikasi itu, terdapat sebuah pesan yang dikirimkan oleh Renata. Dengan tidak niat, Shawn membuka pesan itu. Perlahan, ia menegak dengan mata mendelik, membaca pesan yang berbunyi begini:
"Shawn, apa pun yang kau sembunyikan, aku sudah mengertahuinya."[]
__ADS_1