Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Hukuman yang menggairahkan


__ADS_3

"Oh Tuhan, aku akan mati...."


Ketika Kiara sudah sampai di titik akan kehilangan kesadaran, terdengar ceburan lain yang tak kalah derasnya di kolam. Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mendekapnya.


Detik-detik terakhir, ia merasakan bibirnya dikecup sesaat. Seseorang yang menolongnya mengangkat tubuhnya, membawanya ke permukaan kolam.


Tubuh lemas Kiara dibaringkan di lantai pinggir kolam, lalu dia merasakan perutnya ditekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan keluar.


Kiara memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati?


Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut Kiara. Matanya mulai buram, kesadarannya semakin hilang ketika suara itu terdengar tenang di atasnya,


“Panggil dokter!”


Itu suara Shawn. Apakah dia yang menyelamatkannya? Lagi pula ... kenapa lelaki itu menyelamatkannya?


...🦋...


Shawn keluar dari kamar mandi dengan masih menyimpan kemarahan. Rambutnya basah kuyup. Dan seluruh pakaiannya yang basah teronggok di lantai.


Ketukan pintu kamar membuatnya menoleh, kemudian ia berseru, "Masuklah!"


Si kepala pelayan muncul dengan agak gemetaran. Dia menunduk hormat, dan pertanyaan bernada dingin langsung tercetus dari bibir Shawn.


"Bagaimana keadaannya?"


“Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan cairan ... Anda sendiri Tuan Shawn, Anda tidak apa-apa, terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkan nona Kiara?” si kepala pelayan melirik cemas.


Shawn melirik pada wanita itu dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk menggosok rambutnya yang basah. “Tadinya aku berniat membunuhnya.”


“Kalau begitu kenapa anda menyelamatkannya?” Alis wanita itu naik sebelah, keheranan.


Shawn membalikkan tubuhnya dan menatap kepala pelayan dengan mata menyala-nyala, “Karena aku memutuskan, belum saatnya dia mati,” Mata cokelat Shawn bagaikan berbinar di kegelapan. “Dan kau ... kenapa kau bisa seteledor itu membiarkannya kabur?"

__ADS_1


Wanita itu menatap Shawn, tampak ada keterkejutan di matanya, kemudian kembali menunduk seraya menjawab, "Maafkan saya, Tuan. Karena kegaduhan yang disebabkan oleh nona Clara—"


"Saya tak mau dengar!" tukas Shawn tajam, setajam tatapannya. "Lain kali, hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi! Kali ini, kalian selamat. Tapi jika terulang lagi, akan saya pastikan kalian tidak akan lolos dari hukuman!"


Tundukkannya semakin dalam sambil menelan ia liurnya. Suara ancaman itu bergema di telinganya, bergidik dalam waktu lama karena sangking mengerikannya. Tuannya memang tampan, tapi dia bisa bertindak lebih kejam kapanpun dia mau.


"Ba ... baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi keluar," katanya, perlahan mundur meninggalkan ruangan ini.


Shawn melempar handuknya ke sofa, begitu murkanya dia. Kiara tak sepolos yang dikiranya, dia begitu nekad dan ceroboh. Jika saja ia tak segera menemukannya, gadis itu sudah dirudrapaksa oleh para bajing*n tadi.


Sepertinya, ia akan memperketat keamanan di rumah ini. Kiara tak boleh kabur lagi!


...🦋...


Ketika Kiara terbangun, yang dirasakannya pertama kali adalah rasa sesak di dadanya, dia menggeliat panik, mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanya mencari oksigen sebanyak-banyaknya.


“Tenang, kau sudah ada di daratan, kau bisa bernafas secara normal.”


Dengan waspada dia menoleh dan mendapati Shawn sedang duduk di tepi ranjangnya. Kiara beringsut sejauh mungkin dari Shawn, dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahaya geli di mata pria itu.


“Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi?” Nada gelipun tersamar dalam suara Shawn.


Kurang ajar! batin Kiara dalam hati. Dia berjuang meregang nyawa, dan lelaki ini malah duduk di sini menertawainya? Tapi, apakah benar Shawn yang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya?


Kenapa? Bukankah jelas-jelas dalam kemarahannya Shawn sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki itu berubah pikiran?


“Ya aku memang menyelamatkanmu," Shawn bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran Kiara, “tetapi itu bukan demi dirimu, itu demi kepuasanku.”


Kiara menatap Shawn geram. “Apa maksudmu?”


Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar Kiara bergidik dan beringsut menjauh.


“Aku sudah membayarmu, dan aku tidak mau menikah dengan mayat.” Senyum di bibir Shawn tampak kejam, “Kau lebih nikmat kalau hidup dan bernafas.”

__ADS_1


Ketika Kiara menyadari maksud Shawn, sudah terlambat, lelaki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan Kiara tidak sebanding dengan kekuatan tubuh Shawn yang besar dan kuat di atasnya, dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ikatan mati yang sangat rapi, lalu menalikannya di kepala ranjang.


“Kau ... kau mau apa?” Kiara mulai panik ketika Shawn yang setengah duduk di atasnya membuka kancing kemejanya.


Senyum Shawn tampak penuh kepuasan melihat kondisi Kiara yang tidak berdaya, Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat.


Sejenak Kiara terpana melihat kulit berwarna perungggu yang berkilauan bagai satin itu, tetapi kemudian dia sadar bahwa dia ada dalam kondisi genting.


Dengan panik Kiara mulai meronta dan menendang, sedapat mungkin bergerak untuk melepaskan diri. Tapi percuma, ikatan Shawn ke tangannya sangat kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, Kiara benar-benar tak berdaya.


"Para bajing*n itu sudah meraba tubuhmu. Tapi, aku yang membayarmu, belum pernah menjamahmu sama sekali. Rugi dong." Suara Shawn merendah, penuh gairah.


Apa maksudnya? Kiara semakin bergidik. "Bukannya kau sudah memperkosaku waktu itu?"


Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, Kiara melihat Shawn melepas kancing kemejanya dan setengah menindihnya. "Apa kau percaya kalau aku sudah melakukannya?" ucap pria itu, senyum gelinya terkembang. "Aku berniat untuk melakukannya nanti setelah kita menikah. Tapi, melihat kau hampir diperkosa oleh mereka, aku merasa marah. Harusnya, akulah yang pertama kali menikmati wanitaku."


Wanitaku? Terdengar menjijikkan bagi Kiara. "Aku bukan wanitamu! Kau sudah punya tunangan. Jangan mempermainkanku seperti barang!" jeritnya, wajahnya memerah karena kesal.


Alih-alih gentar, Shawn semakin mendekatkan wajahnya. Mulutnya sangat dekat dengan bibir Kiara, hingga napas mereka beradu, Shawn menundukkan kepalanya, mencium sisi leher Kiara, membuat Kiara berjingkat dan berusaha meronta lagi.


Namun, pria itu kembali menjauhkan bibirnya sedikit, lalu naik ke telinga Kiara, dan berbisik, "Apa kau cemburu?"


Tidak sudi! Bahkan hal itu tidak pernah terpikirkan olehnya. Tak ada jawaban darinya, Shawn kembali menggodanya. Bibir Shawn merayap dan mendarat di bibir Kiara.


Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir Kiara, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir Kiara yang lembut, mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Kiara yang hangat dan panas. Lidahnya mengait lidah Kiara dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.


Ketika Shawn melepaskan bibirnya, napas Kiara terengah-engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah di rasakannya.


"Kau menyukainya, 'kan?" Shawn berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga Kiara. “Aku sangat menyukai bibirmu, dan sensasi kelembutannya di bibirku...” Tangan Shawn merayap ke bawah, meraba kulit leher Kiara. “Seluruh tubuhmu hangat, sayang, seakan menggodaku...” Jemari Shawn menyingkap rok Kiara dan menelusup ke dalam sana, menggoda pusat gairahnya, “Di sini ...yang paling panas.”


Kiara menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat Shawn yang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas, apalagi tangannya yang terikat di atas, membuat lengannya terasa kram dan pergelangan tangannya ngilu ketika dia menggerak-gerakkannya.


"Tidak! Jangan!" jeritnya dengan napas terengah-engah.[]

__ADS_1


__ADS_2