Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Dipaksa mengaku


__ADS_3

"Anda mau apa?" jerit Kiara, dan Shawn mengekang kuat kedua lengan Kiara.


Mata mereka beradu dengan tatapan tajam seakan menunjukkan permusuhan di antara mereka. Meski rasa gugup melanda karena takut dilecehkan, Kiara tak gentar sedikitpun menantang Shawn.


Shawn mengulas senyum sinis, lalu mendekatkan wajahnya pada Kiara, membuat Kiara semakin gemetaran. "Beraninya kau membuat ulah! Apa peringatanku waktu itu tak membuatmu takut, hah?"


Kiara memejamkan matany erat, tersentak oleh ancaman bernada dingin yang meremangkan bulu tengkuknya. Kiara menelan air liurnya, membasahi tenggorokannya yang tercekat.


"A ... apa maksudmu?"


Tangan Shawn berpindah ke leher Kiara, mencengkramnya cukup kuat. Napas Kiara sesak. Tangannya yang bebas menggenggam tangan Shawn, mencoba melepaskan cengkraman di lehernya.


"Siapa yang kau hubungi?" tanya Shawn melunak dulu, tetapi nada suaranya tajam dan dalam.


Dalam keadaan seperti ini Kiara sulit untuk berpikir dan mencerna maksud ucapan Shawn. "Menghubungi? Apa maksudmu?" tanyanya balik, suaranya terputus-putus karena tercekat.


Jawaban yang salah, cengkraman Shawn semakin kuat. "SIAPA YANG KAU HUBUNGI?!" bentaknya murka.


Kiara semakin takut dan sulit bernapas. Air matanya mengalir dari sudut matanya. Apa malam ini, ia akan mati di sini?


Shawn tak tega melihatnya menangis meski tanpa isakan. Lambat laun, ia agak mengalah, melonggarkan sedikit cengkramannya tapi tetap menginterogasinya. Dan ketika ada sedikit ruang di tenggorokkannya, Kiara menghirup napas sebanyak yang dia bisa.


"Di tabletmu terdapat nomor asing yang kau hubungi. Nomor siapa saja itu?" tanya Shawn dengan nada suara merendah.


Nomor yang dihubunginya? Apa yang dia maksud....


Kiara mendelik. Apa sudah ketahuan? Bodoh! Kenapa waktu itu ia tidak menghapus riwayat telepon keluar di tabletnya?


Shawn tersenyum menang. Ia membaca ekspresi wajah Kiara yang menandakan bahwa gadis itu sudah mengerti maksud ucapannya.


"Kau sudah ingat?"


Kiara hening sejenak, melemparkan lirikkan matanya ke arah lain dan gugup. "Nomor itu ... nomor itu adalah nomor rumahku," jawabnya agak takut.


Jawaban yang memuaskan, meskipun kejujuran itu membuat Shawn cukup murka. "Sedangkan nomor yang satunya?"

__ADS_1


Kiara memejamkan mata seraya meringis. Ini akan sulit baginya untuk jujur. Ia khawatir jika pria itu akan marah besar begitu mendengarnya.


"Kenapa diam?" Shawn menggertaknya mengencangkan kembali cengkraman di leher Kiara. Gadis itu menggeliat ketakutan dengan mata terpejam erat.


"Itu ... itu...."


"Itu apa, sayang?" ancam Shawn gemas, mengarahkan bibirnya ke telinga Kiara, lalu menggigitnya pelan.


Kiara mendesis, gigitan itu agak sedikit menyengat. Tapi, gertakan itu bukan hanya itu saja. Shawn melepaskan cengkraman di lehernya, mengekang kedua tangannya lagi. Gaun yang dipakainya memperlihatkan lehernya. Shawn menyiksa Kiara dengan mengecup lehernya hingga mengarah ke dada hingga meninggalkan bekas merah.


Kiara menangis, tak tahan dengan ancaman ini. Pertahanannya runtuh. Pikirnya, jika Kiara mengatakannya, apa Shawn akan berhenti menyiksanya.


"Hentikan ... aku akan jawab ..." mohonnya dengan terisak.


Kecupan itu berhenti, Shawn mendongak, menatap Kiara, dan menunggu jawaban yang keluar dari bibir merah jambunya.


"Itu nomor hp-ku...."


Hening, hanya terdengar isakan Kiara. Shawn menatapnya dengan rahang membeku, sementara Kiara memalingkan wajahnya yang riasannya telah luntur.


"Beraninya kau melakukan hal itu?" gumam Shawn dingin, bernada dalam dan tajam. "Apa kau meremehkan ancamanku? Apa kau pikir ancamanku lelucon?"


Ternyata memang menyeramkan. Mata Shawn melotot bagai binatang buas yang sedang membidik mangsanya. Pria itu semakin mengintimidasinya dengan mendekatkan wajahnya lebih dekat. Kiara sampai memejamkan mata karena tak sanggup lagi menatapnya.


"Aku sudah bilang, mulai sekarang keluargamu hanya aku, suamimu. Jangan hubungi ibu dan adikmu. Apa begitu sulit melakukan ITU?!"


Shawn murka, merobek gaun bagian atas sampai ke pinggang, memperlihatkan payudar* yang masih ditutupi oleh bra. Kiara terkejut, spontan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


Shawn semakin keras, menyingkirkan kedua tangan Kiara, dan setelah berhasil, br* itu dilepaskannya. Tangis Kiara semakin keras seraya menjerit putus asa.


"Aku mohon ... jangan, Tuan ... tolong maafkan saya ... jangan perk*sa saya...."


Shawn menjamah payud*ra Kiara dengan sentuhan kasar dan tak sabarnya, mengecup, ******* ****** kecil itu tanpa ampun, tanpa memedulikan tangisan Kiara.


Kiara hanya bisa menggeliat pasrah. Kekuatan Shawn tak sebanding denganya. Meski seberapa kuatnya ia mencoba menghela pria itu dari tubuhnya, Shawn menangkap dan mendera kedua tangannya agar tidak dapat meronta.

__ADS_1


Shawn menghentikan kegiatannya, memberi jeda bagi Kiara. "Karena aku percaya kau akan menurutiku, aku sampai menahan nafsuku untuk menyentuhmu. Tapi, kau sudah melakukan dua kali kesalahan, dan sekarang kau harus menerima hukumanmu," katanya, puas menatap mangsanya terbaring tak berdaya.


"Kau bilang ... kau akan menyentuhku setelah kita resmi menikah," timpal Kiara dengan sisa isakkan. "Apa itu hanya janji palsu belaka?"


Mata Shawn menyalang tajam. Beraninya gadis ini mencemoohnya! Tak ada ampun lagi, habis kesabarannya. Shawn melepaskan kancing kemejanya satu per satu, lalu melemparkannya ke lantai.


Wajah Kiara memucat dengan mata mendelik. Pria itu benar-benar serius memperkosanya? Kiara tak akan membiarkan hal itu! Sebelum Shawn menind*ihnya, Kiara mendorongnya dengan kuat. Gegas, ia turun dari ranjang. Namun, Shawn berhasil mendapatkan ujung gaun Kiara, lalu menariknya.


Kiara bersikeras untuk melepaskan diri. Alhasil, gaunnya robek seutuhnya. Shawn mengulas senyum jahat. Karena tak ada pergerakan dari Shawn, Kiara berpikir bahwa ini kesempatannya untuk segera berlari menuju pintu.


Kiranya akan mudah, nyatanya pintu terkunci! Kiara mendelik, lalu menoleh pada Shawn yang tengah mendekatinya sambil tersenyum menang.


Kiara terpojok, kakinya seakan melemas, perlahan ia jatuh terduduk sambil menatap ngeri pada Shawn yang semakin mendekat.


Hati kecilnya terus memberontak, sehingga rasa tak gentarnya kembali muncul. Kiara mengepalkan tangannya. Tidak! Ia tak bisa menyerah begitu saja! gumamnya penuh tekad dalam hati.


Matanya menelusuri ruangan, lalu berlari acak ke sebelah kiri. Dihampirinya meja rias. Kiara mengambil benda apa pun, lalu melemparkannya ke arah Shawn, meskipun semua sasarannya meleset.


Sia-sia sudah perlawanannya. Tekadnya runtuh, Kiara semakin panik dan terpojok. Sementara itu, Shawn terus melangkah perlahan mendekatinya seraya tersenyum misterius.


Shawn merasa di atas angin. Kiara mengira bahwa apa yang dilakukannya sungguh menggelikan di mata pria itu.


Bagaimana ini? Di meja rias hanya tersisa sebotol parfum.


"Menyerah saja, Kiara," seru Shawn, sontak Kiara mengalihkan tatapannya dari botol parfum. "Kau harus terima kenyataan bahwa malam ini kesucianmu akan terenggut olehku. Nikmati saja. Agak sedikit sakit di awal, tapi aku akan memberikanmu kenikmatan yang tak pernah kau rasakan sebelumnya."


Dikira Kiara akan luluh oleh rayuan itu? Mata Kiara mendengus dan tersenyum sinis. "Lebih baik aku mati, daripada diperk*sa olehmu!" balas Kiara tajam.


Ya, lebih baik mati! Itu keputusan Kiara!


Diraihnya botol parfum itu, lalu membenturkan ujung bawah botol kaca itu ke pinggiran meja rias hingga pecah. Kiara mengarahkan ujung pecahan botol kaca itu ke pergelangan tangannya. Shawn mendelik, berhenti melangkah.


"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!" bentak Shawn, rupanya cukup panik dengan ancaman serius Kiara ini. "Jauhkan benda itu dari tanganmu!"


"Aku ingin menghentikan semua ini!"

__ADS_1


"Tidak! Jangan lakukan hal bodoh!"


Terlambat, Kiara tetap nekat. Bentakan Shawn tak mempan, Kiara menyayat pergelangan tangannya dengan benda itu![]


__ADS_2