
Renita begitu sibuk memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam koper. Kelvin menghampirinya setelah terdiam dan meratapi penculikan yang terjadi pada kakaknya.
Anak lelaki itu bingung. Mengapa mama melarangnya melapor polisi? Ada apa ini sebenarnya?
Suara derap langkahnya terdengar olehnya, sehingga Renita berhenti sejenak, lalu menoleh. "Sedang apa kamu di sini? Sudah bereskan barang-barangmu?"
"Kenapa aku harus melakukan hal itu?" sahut Kelvin sinis. "Bukannya seharusnya kita mencari kak Kiara?"
Renita yang kembali membereskan barangnya, tanpa sadar keceplosan. "Buat apa? Dia sudah hidup enak di...."
Kelvin mengernyit. Apa maksud ucapan mamanya itu? "Hidup enak di? Apa maksud Mama?"
Wanita itu bungkam, bahkan tak sanggup menatap sang anak. Membereskan pakaian hanya dalih agar dia tak menjawab dan berpura-pura tak mendengar Kelvin.
Namun, Kelvin bukan anak kecil lagi yang mudah dibohongi. Dia terus mendekati mamanya. Kini ia tak peduli jika membentak wanita itu adalah sebuah dosa.
"Katakan, Ma? Apa maksud Mama?" desaknya. Kemudian, otak pintarnya itu menyadari sesuatu dan membuat kesimpulan. "Apa penculikan itu disengaja? Nggak. Maksudnya, apa kak Kiara sebenarnya tidak diculik, dan Mama mengenal mereka?"
Renita memalingkan wajah, hatinya goyah. Menyangkal, itu hanya memperburukāsemua yang dikatakan Kelvin memang benar. Namun, ia masih pada pendiriannya untuk tetap diam.
Justru yang dilakukannya membuat Kelvin meradang dan frustrasi. Kemarahan pada sang ibu tak tertahankan. Ia mendengus beberapa kali, bergeming sambil berpikir dengan otaknya yang kacau. Akhirnya, ia membuat keputusan.
"Oke! Kalau Mama nggak mau bilang, biar aku sendiri yang akan mencari kak Kiara!" gumamnya penuh tekad.
Kelvin melangkah cepat, tapi Renita mengejarnya untuk mencegah perbuatannya.
"Kelvin, berhenti! Kamu nggak akan tahu di mana dia. Kiara sudah hidup bahagia, dia akan menikah!" seru Renita, mulai mempercepat langkahnya.
Menikah. Kata yang membuat langkah Kelvin berhenti. Ia mematung dengan mata mendelik, kemudian perlahan berbalik. Apa lagi ini? Kakaknya akan menikah? Dengan siapa? Kenapa mendadak?
"Apa maksud Mama? Menikah dengan siapa? Penculiknya?" tanyanya Kelvin yang masih syok karena terkejut sambil mendekat pada sang mama.
"Ya, Mama akan menjawabnya," bujuk Renita pelan, meraih tangan Kelvin.
Namun, Kelvin menghelanya. Sejenak, hati Renita terluka. Baru kali ini anaknya tak menurut padanya. Demi meluruhkan hatinya, Renata tak memaksa. Dia akan mengalah jika Kelvin tak mau disentuh, tapi ia tetap mengajaknya berbicara dengan tenang.
__ADS_1
Renita duduk pada salah satu sofa di ruang tamu, sementara Kelvin berdiri agak jauh darinya. Ia memulai dengan menghela napas panjang, kemudian raut wajahnya memelas.
"Maafkan Mama, tapi demi menyelamatkan keluarga kita, Mama terpaksa menjual Kiara pada seorang pengusaha," ucapnya lirih dan penuh penyesalan.
Dengusan kasar Kelvin terdengar. Kemurkaannya bertambah dua kali lipat. Ingin menumpahkan kemarahannya, tapi ia cuma bisa mengeram frustrasi sambil menjambak rambutnya, lalu ia berteriak.
"Kenapa Mama tega melakukan hal itu?" tudingnya agak membentak.
"Mama tidak tahu harus bagaimana lagi. Renternir mendesak Mama untuk...."
Renita tak meneruskan ucapannya karena menyadari bahwa memang dirinya salah. Dulu, suaminya memang menolak tawaran Shawn karena tak memaksa Kiara menikah, meskipun Shawn sangat tampan.
Ketidakkemampuannya yang membuatnya terpaksa memilih tawaran ini. Ia menyesal jika pilihannya membuat Kelvin membencinya.
Kelvin berusaha menenangkan diri. Ucapan Renita tak berguna baginya. "Udah, simpan semua alasan Mama. Sekarang, katakan di mana kak Kiara disekap?" tanyanya dengan geram tertahan.
"Mama nggak tahu." Renita menggeleng sesal. "Udahlah, Kelvin. Relakan Kiara, dia akan menjadi istri pria itu. Hidupnya akan bahagia. Pengusaha itu sangat kaya, dia akan menjamin semua kehidupan Kiara."
Dan setelah melakukan hal itu ibunya masih tega bicara begitu? Kelvin menyipit tajam, kini kebencian pada ibunya mencuat.
"Bahagia? Apa Mama pikir semua kekayaan yang dimiliki pria itu bisa membahagiakannya? Ma, kak Kiara menikah dengan orang yang tidak dicintainya!"
"Tidak akan!"
"Kelvin!" teriak Renita meradang, tetapi Kelvin tetap pergi meninggalkanya, keluar dari rumah ini meski malam telah larut.
...š„...
Kiara tak bisa tidur setelah mendengar cerita Shawn. Kadang, ia ragu jika ibu tirinya sampai setega itu. Bukankah, Renita sangat menyayanginya? Ia harus mencari tahu kebenarannya.
Tapi, ia harus cari cara untuk keluar dari tempat ini dulu.
Kiara merenungkannya sambil duduk di depan kaca hias. Ia sudah selesai mandi, dengan rambut dililiti handuk dan tubuhnya masih memakai piyama handuk warna merah muda.
Baru akan beranjak, pintu kamarnya diketuk. Seruan kepala pelayan terdengar.
__ADS_1
"Nona, ini saya. Boleh saya masuk?"
Apa-apaan wanita itu? Kiara belum mengijinkannya, tapi dia langsung membuka kunci pintu kamar. Entah apa lagi, wanita itu datang dengan beberapa pelayan muda sambil membawa satu rak gaun, beberapa model sepatu, dan perhiasan ke hadapan Kiara.
"Silakan pakai yang manapun Anda suka. Tuan ingin mengajak Anda sarapan bersama," kata si kepala pelayan, setelah para pembantu menjejerkan barang-barang bawaannya di atas ranjang.
Hah? Telinganya tak salah dengar, 'kan? Ini kesempatan bagus buatnya. Mungkin, ia bisa membuat perjanjian dengan pria itu?
Senyumnya terkembang. "Baiklah, saya akan segera berganti pakaian," katanya, lalu semua pelayan keluar dari kamar itu.
Kiara menghampiri rak pakaian, memilah model gaun yang menurutnya cocok untuk dipakainya.
Oke, kita akan buat pria itu terkesan!
Dan gaun pilihannya jatuh pada dress polos warna kuning, sepatu heels rendah warna putih, lalu menghiasi lehernya dengan kalung berliontin safir mungil.
Wajahnya juga dirias dengan make-up natural. Kiara berdiri di depan cermin dengan senyum puas. Poni depannya diselipkan ke belakang telinga sambil tersenyum.
"Saya sudah selesai!" serunya, maka si kepala pelayan membuka pintu kamar itu.
"Silakan, Nona. Saya akan mengantarkan Anda ke meja makan," kata si pelayan dengan agak membungkuk.
Kiara berjalan duluan, lalu para pelayan mengikutinya. Si kepala pelayan memberikan arah sambil berjalan di belakang Kiara. Ruang makan ada di samping ruang tamu. Tempatnya begitu luas, menghadap ke arah taman belakang.
Pria itu tengah duduk menunggu sambil membaca sebuah berkas. Kiara mematung di ambang pintu, terpana melihat pria itu. Dia sangat tampan. Auranya semakin terpancar ketika sinar matahari menerpanya.
Menyadari kedatangannya, Shawn menoleh. Sontak Kiara terhenyak dan salah tingkah. Aduh, apa pria itu menyadari bahwa dirinya diam-diam terpesona padanya?
Supaya tidak ketahuan, ia berdalih dengan berjalan menghampiri meja makan. Ia memilih sebuah kursi yang berseberangan dari Shawn.
Shawn memiringkan kepala, meletakkan berkas itu di meja, lalu beranjak dari kursi menuju Kiara.
Gadis itu tertegun, spontan beringsut. Mau apa lagi dia? gumamnya dalam hati, menatap waspada.
Apa dia tidak bisa lembut sedikit? Main menarik lengan Kiara dengan kasar, lalu menyeretnya ke sebuah kursi di dekat samping kanan tempat Shawn duduk.
__ADS_1
Sambil menggeser kursi dan menghela Kiara untuk duduk, Shawn berkata, "Aku tidak menggigit. Kenapa duduknya jauh-jauh begitu?"
Memang tidak. Tapi, Kiara tetap canggung berdekatan dengan pria asing. Ini saja, posisi duduknya tidak nyaman.[]