
Kelvin keluar dari tempat persembunyian kala melihat Shawn masuk ke dalam mobil, lalu pergi. Kelvin merasa ada yang tidak beres, ia mengernyit.
"Pria itu keluar restoran sendirian? Apa berarti kak Kiara masih ada di dalam?" gumam Kelvin menduga.
Kalau memang iya, berarti Kelvin diberi kesempatan untuk bisa berbicara dengan kakaknya. Masih ada sesuatu hal yang mengganjal dalam benaknya, dan ia harus mendapatkan penjelasan langsung dari Kiara.
Maka, Kelvin mengendap masuk ke dalam restoran. Tak ada yang menghalanginya, jadi Kelvin bisa bebas masuk. Meja mereka tadi ada di lantai atas, di dalam sebuah ruangan khusus. Derit pintunya sangat halus, sehingga Kiara tak menyadarinya.
Hatinya mencelus seraya tersenyum haru melihat Kiara tengah mendengak sisa wine yang ada di dalam gelas.
"Kakak!" panggil Kelvin, suara serak karena tangisan.
Kiara melirik dan membeku dengan ujung gelas masih menempel di bibirnya. Perlahan, Kiara menurunkan gelas itu seraya tercengang, tak menyangka melihat sosok Kelvin yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Kelvin?" gumamnya.
Kelvin bergegas menghampiri, kakinya seakan ringan karena hatinya begitu riang bertemu dengan kakaknya. Tanpa mengalihkan tatapannya, Kelvin duduk di kursi yang ada di hadapan Kiara. Senyum Kelvin terkembang, tetapi Kiara justru merasa heran dengan kehadirannya itu.
"Kamu nggak pulang sama mama?" tanya Kiara tercengang tak percaya.
Kelvin menggeleng. "Kalau aku dijinkan, aku ingin ikut denganmu," jawabnya, wajahnya memelas.
Kiara menghela napasnya yang mengendap dalam dada, dan wajahnya muram. Permintaan yang sulit untuk dikabulkan. "Terus, mama gimana? Mama sadar kalau kamu belum sampai di rumah? Kalau mama marah sama kamu gimana?"
"Biarin aja. Aku akan kabur dari rumah. Aku nggak mau tinggal sama ibu pembohong seperti mama." Kelvin menegaskan dengan mata menyala-nyala penuh kebencian mendalam pada sang ibu.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu," tegur Kiara lembut, menepuk pundak Kelvin. "Mama sayang sama kamu. Mama butuh kamu."
"Emang benar kok. Dia catut nama Kakak buat bujuk aku meninggalkan Indonesia. Mama udah keterlaluan! Aku nggak mau tinggal sama dia!"
Kiara menghela napas, menyerah. "Kalau kamu pergi, kasihan mama sendirian. Mama butuh kamu, Dek." Ia memelas demi bisa membujuk Kelvin lagi.
"Dia nggak butuh anak-anaknya! Kalau emang begitu, harusnya dia nggak jual Kakak." Kelvin bahkan lebih keras membenci ibunya.
Itu kenyataan yang menyakitkan. Tapi, setelah merenungkan cukup lama, Kiara memahami satu hal.
Senyum lembutnya terkembang, mengelus lembut pundak Kelvin seraya berkata, "Kakak memang pantas dijual karena memang Kakak harapan keluarga ini. Waktu itu kehidupan kita dalam keadaan sulit, Kakak terpaksa ditumbalkan demi bisa membayar semua utang-utang keluarga kita."
__ADS_1
Mata Kelvin menyipit seraya memiringkan kepala. Heran sekaligus gusar. Bagaimana bisa kakaknya setegar dan masih berbaik hati pada ibu tiri yang telah menjualnya?
"Kakak nggak sedih atau sakit hati sama mama? Kakak dipaksa menikah dengan laki-laki licik tadi," seru Kelvin menggebu-gebu, lalu mendes*ah kecewa.
Kiara menggeleng, tersenyum. "Dek, aku udah bilang sama kamu, 'kan? Don't judge...."
"Oke, aku tahu! Tapi, laki-laki itu kelihatan nggak ramah, dingin ... ah! Aku lebih merestui Kakak sama bang Rama deh!" gerutu Kelvin frustrasi.
Ucapan itu malah terdengar lucu, Kiara sampai tersenyum geli. "Dek, kamu tahu nggak? Pria itu yang membuat pertemuan ini. Kakak yang minta, dan dia menyanggupinya. Dia nggak seburuk yang kamu kira. Kakak bisa aja minta sama Shawn untuk membawa kamu tinggal bersama denganku, tapi aku nggak bisa lakukan itu. Aku memikirkan mama. Mama sangat menyayangi kamu, kamu satu-satunya yang dia punya."
Kelvin menunduk, hatinya sedikit melunak dengan bujukan itu. Harus ia akui, mamanya memang sangat menyayanginya, tapi perlakuannya pada kakaknya ... entah kenapa sulit untuk dimaafkan.
"Kelvin," saat namanya disebut, remaja itu mengangkat wajahnya dan menatap Kiara yang sedang tersenyum, "mama menyayangiku. Dia menjualku bukan cuma demi kebaikan dia. Mama menjualku pada orang yang tepat. Shawn bisa mencukupi kehidupanku."
Kelvin menatapnya lamat-lamat, mencari dan menyimpulkan arti dari raut wajah Kiara. "Apa Kakak bahagia dengannya?"
Senyum Kiara memudar, tatapannya goyah dan terlihat ragu. "Mungkin sekarang belum, tapi nanti Kakak akan bahagia. Meskipun dia terlihat dingin, tapi dia punya sisi baik yang tidak diperlihatkan."
Lalu, keduanya hening. Tampaknya, Kelvin tengah bergumul dengan batinnya. Kiara membiarkannya dulu sampai perasaan Kelvin stabil. Setelah melihat seulas senyuman di bibirnya, Kiara menawarkan makanan pada Kelvin. Tadi Kelvin belum menyentuh makanannya sedikit pun.
...🦋...
Shawn tersenyum puas dengan hasil kerja Henry itu. Setelah menyelesaikan urusan dengan Dave, Shawn mengendarai mobil sendirian ke hotel itu. Senyumnya terkembang, memikirkan sesuatu yang ingin dilakukannya dengan Kiara.
Apa gadis itu akan menginjinkannya tidur seranjang dengannya?
Pikiran Shawn sudah melayang jauh ke sana, gegas berjalan ke kamar yang ditempati Kiara. Namun, sebelum menggetuk pintu, Shawn memperbaiki sikapnya. Dibetulkan letak jasnya, lalu mendeham. Barulah ia mengetuk pintu kamar itu.
Tak butuh lama bagi Kiara untuk membuka pintu. Kiara tertegun begitu melihat sosoknya. "Anda ke sini? Saya pikir...."
"Boleh aku masuk dulu? Aku akan ceritakan semuanya," kata Shawn, tidak lupa bergaya sok dingin.
Kiara bergeser sedikit, memberi jalan untuk Shawn. Mereka berjalan bersama menuju bilik tempat tidur. Namun, Shawn mengernyit saat melihat seseorang tertidur di ranjang yang akan ditempatinya bersama dengan Kiara.
Shawn menoleh tercengang pada Kiara, menunjuk sosok itu. "Dia ... bukannya adikmu?"
Kiara menyengir ragu. Tadinya, ia ingin menjawab, tapi Kiara memilih untuk menarik Shawn sampai ke sofa di ruang samping. Pria itu diajaknya untuk duduk di salah satu sofa, lalu menawarkannya minum.
__ADS_1
Shawn menyipit. Sikap baik ini, apakah Kiara sedang berusaha mengambil hatinya? Gadis ini pasti ingin meminta sesuatu lagi padanya.
"Aku nggak mau minum," jawab Shawn, setelah menghela napas panjang. "Katakan, apa yang ingin kau minta dariku?"
Ketahuan juga! Tapi, Kiara tak mau mengatakannya dulu, tetap pada rencana awal. "Nanti aku katakan, tapi kita bicarakannya sambil minum."
"Oke. Tapi, aku yang siapkan," sahut Shawn, tanpa pikir panjang setuju.
"Kamu nggak percaya aku?" tanya Kiara, tersinggung.
"Aku yakin, kau tidak mungkin sempat membeli racun, tapi kau akan membuatku mabuk, lalu melakukan sesuatu," tuding Shawn seraya menghampiri dapur. "Ingat, Kiara. Kau tidak bisa kabur dariku."
"Aku tahu!" sahut Kiara ketus. "Tapi, aku tidak akan sepicik itu tahu!"
Shawn mencemoohnya dengan terkekeh sambil membawa dua buah gelas dan sebotol cola, lalu meletakkan di atas meja. Kiara menyipit, lalu tersenyum meledek.
"Tumben. Aku pikir, kau akan mengambil wine enak yang ada di rak sana?" komentar Kiara.
Shawn menuangkan segelas cola dan memasukkan beberapa buah es kristal seraya tersenyum. "Aku sudah bilang, aku tidak mau sampai mabuk malam ini."
Pria itu memberikan segelas cola pertama pada Kiara sambil tersenyum simpul, lalu menuangkan cola untuknya. Kiara tersanjung, tak menyangka pria itu menuangkan minuman untuknya tanpa diminta. Dan ia menerimanya dengan agak canggung dan ragu.
"Mulailah bercerita."
Setelah menyeruput cola sedikit, Kiara berkata, "Sebenarnya aku tidak meminta apa pun. Cuma ... bisakah kau mengijinkan Kelvin tidur di sini malam ini?"
Wajah memelas Kiara sangat menggemaskan. Shawn tersenyum lagi, dan Kiara terpana lagi. Seperti yang dikatakannya pada Kelvin tadi, Shawn memiliki sisi berbeda yang tidak pernah diperlihatkan.
"Em ... kalau aku mengijinkannya, imbalan apa yang akan kudapatkan?" goda Shawn, kebiasaan sekali jadi manusia!
Kiara mencibir. "Dasar otak bisnis! Dikit-dikit cuan," balasnya berseru bernada meledek.
"Iyalah! Aku nggak mau rugi dong." Shawn tak mau kalah menimpali.
Tantangan diterima! Lagi pula, Kiara memang harus memberikan balasan selain ucapan terima kasih karena kebaikannya.
"Oke, kamu mau apa?"
__ADS_1
Sebuah undangan yang ditunggunya. Tak disangka Kiara mau saja menyetujuinya. "Em ... apa, ya? Ciuman?"[]